
Gumpalan awan berbentuk tipis transparan dengan tampilan filamen seperti sutra membentang di langit senja. Cahaya sang mentari sore bersinar redup menyinari kota Yogyakarta. Angin berhembus cukup kencang menyelimuti setiap orang yang melakukan aktivitas, termasuk Hardi dan supir mobil sewaan yang sedang melakukan perjalanan.
Waktu terus berputar mengiringi perjalanan tugas yang dilakukan Hardi dari bandara Adisutjipto menuju sebuah hotel di kota Yogyakarta dengan menggunakan mobil yang disewa oleh perusahaan Hardi. Mobil mercedes-benz berwarna hitam yang ditumpangi oleh Hardi menembus keramaian kota Yogyakarta.
Setelah memakan waktu lima puluh lima menit di perjalanan, akhirnya mereka berhenti di depan pintu lobby sebuah hotel yang mempunyai eksterior, interior, furnitur, dekorasi dan seninya klasik dan elegan dilengkapi dengan sentuhan kemewahan klasik Perancis. Hardi turun dari mobil setelah seorang porter hotel membukakan pintunya.
"Tolong bawakan koper data," ucap Hardi ramah ke pemuda itu sambil keluar dari dalam mobil.
"Baik Tuan," ucap pemuda itu sambil menutup pintu mobil, lalu pemuda itu berjalan ke arah bagasi mobil.
Hardi masuk ke dalam hotel yang terletak di Ring Road Utara, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Langkah kakinya Hardi diikuti porter itu. Hardi berjalan menghampiri meja resepsionis untuk check in. Sekilas melihat Valerie yang sedari tadi menunggu kedatangannya. Valerie tersenyum menggoda ke Hardi. Hardi pun membalas senyuman Valerie dengan senyuman sinis.
Hardi mengalihkan pandangannya ke meja resepsionis. Hardi menghentikan langkahnya di depan meja resepsionis, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar lobby. Lobby hotel di desain dengan gaya klasik yang sangat elegan. Warna putih yang mendominasi ruangan itu. Di lobby terdapat beberapa sofa, pajangan klasik dan sebuah tangga melingkar berwarna.
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu Tuan?" ucap salah satu resepsionis ramah dan sopan ketika Hardi berhenti di depannya.
"Saya ingin check in kamar yang sudah saya booking," ucap Hardi, lalu Hardi mengambil smartphone miliknya.
"Atas nama siapa ya Pak?"
"Raden Mas Hardiyanta Kusuma Kartanegara," ucap Hardi sambil menyentuh beberapa ikon untuk mencari bukti transferan lewat M - Banking.
"Mohon tunggu sebentar ya Tuan," ucap resepsionis itu, lalu dia mengalihkan pandangannya ke layar laptop untuk mencari data yang sudah ngebooking kamar.
Tak lama kemudian resepsionis itu mengambil key card, lalu memberikan kartu kunci itu ke Hardi dan berucap, "Ini kunci kamarnya Tuan. Kamar Tuan berada di lantai dua puluh lima."
"Terima kasih," ucap Hardi ramah sambil menerima kartu kunci itu.
Tak lama kemudian Hardi berjalan menghampiri lift. Langkah kakinya Hardi diikuti oleh seorang porter dan Valerie. Valerie sengaja mensejajarkan langkahnya dengan langkah kakinya Hardi. Mereka menghentikan langkahnya di depan pintu lift. Hardi memencet salah satu tombol gambar panah ke atas di dinding dekat pintu lift. Tiba - tiba Valerie menggandeng tangan kanannya Hardi, tapi Hardi menepisnya.
"Jangan sekarang, nanti aja, nanti dilihat sama mata - matanya Mbah. Sebaiknya kamu duduk dulu di lobby, nanti aku kirim pesan ke kamu, pertemuan kita ini jangan sampai ketahuan sama Mbah," bisik Hardi tanpa menoleh ke Valerie.
__ADS_1
"Huh ... dasar menyebalkan," gerutu Valerie.
Sedetik kemudian Valerie memutarkan badannya. Melangkahkan kakinya ke salah satu sofa yang berada di lobby. Pintu lift terbuka. Hardi dan porter itu masuk ke dalam lift. Di dalam lift ada petugas lift dan satu orang perempuan dengan paras wajah yang cantik. Salah satu perempuan itu tersenyum menggoda ke Hardi. Hardi tersenyum manis ke perempuan itu sehingga menimbulkan jiwa kenakalan perempuan itu.
"Mau ke lantai berapa ya Pak?" ucap petugas lift itu dengan ramah.
"Dua puluh lima," ucap Hardi sambil membalikkan badannya sehingga dia berhadapan dengan pintu lift.
"Baik Tuan," ucap petugas lift itu.
Tak lama kemudian pintu lift ketutup. Perempuan yang tadi tersenyum menggoda ke Hardi sengaja menjatuhkan clutchnya. Di depan Hardi. Perempuan itu membungkukkan badannya untuk mengambil clutchnya. Hardi menoleh ke wanita itu. Melihat pemandangan yang menggiurkan di depannya membuat gairah nafsunya Hardi keluar, namun ditahan sama Hardi.
"Maaf clutchku jatuh," ucap perempuan itu dengan sensual.
Hardi menelan salivanya, lalu berkata, "Iya, nggak apa - apa."
Dengan sengaja perempuan itu menyenggol benda pusaka milik Hardi ketika beranjak berdiri. Sekilas Hardi memejamkan kedua matanya untuk menahan hasrat nafsu yang bergejolak di jiwanya. Hardi fokuskan pikirannya ke Valerie. Tak sampai di situ, perempuan itu sengaja menempelkan balon sebelah kirinya menyentuh bahu kanannya Hardi. Hardi memejamkan kedua matanya lagi untuk menahan nafsu yang hampir membuncah.
"Aku tunggu di kamar dua ratus empat puluh delapan," bisik perempuan itu dengan sensual.
"Kalau nggak bisa, lain kali aja, ini kartu namaku," bisik perempuan itu sensual sambil memasukkan kartu namanya di kantung celananya Hardi.
Dengan sengaja wanita itu meremas lembut benda pusaka milik Hardi sehingga membuat Hardi mematung. Hardi menoleh ke bagian atas pintu lift yang menunjukkan angka dua puluh empat. Perempuan itu menghentikan kegiatannya yang membuat Hardi bernafsu ketika pintu lift terbuka. Wanita itu melangkahkan kakinya keluar dari lift sambil menoleh ke Hardi dengan tatapan mata yang menggoda.
Gairah nafsunya tambah terangsang, dia ingin mengikuti langkah kakinya wanita itu. Namun dia tahan karena ada kehadiran Valerie di hotel ini. Pintu lift ketutup, lalu Hardi menghembuskan nafasnya dengan kasar. Hardi mengalihkan pandangannya ke bagian atas lift yang menunjukkan angka dua puluh lima.
"Ayo Tuan kita keluar dari sini," ucap porter itu.
Hardi menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ucapan porter itu. Hardi dan porter itu berjalan keluar dari dalam lift. Pintu lift ketutup. Hardi melihat kartu kunci yang bertuliskan dua ratus lima puluh satu sambil berjalan menyusuri koridor kamar. Di menoleh ke kiri, lalu dia melihat nomor kamar dua ratus lima puluh satu. Menempelkan kartu kunci di layar pemindai. Setelah bunyi bip bip bip, Hardi menekan handle pintu ke bawah, lalu mendorongnya sehingga pintu terbuka.
Hardi dan porter itu masuk ke dalam kamar yang bernuansa klasik, dilengkapi dengan jendela - jendela yang besar dan didominasi dengan warna putih. Hardi memancarkan kartu kunci itu di tempatnya. Hardi memencet sakelar listrik sehingga semua lampu kamar menyala. Melanjutkan langkahnya menghampiri bagian ruang ruang tamu. Sedangkan porter itu berjalan menuju lemari pakaian ketika Hardi membuka reselting tas ranselnya. Porter itu menaruh kopernya Hardi di samping lemari ketika Hardi mengambil smartphone miliknya dari tas ranselnya.
__ADS_1
Porter itu berjalan menghampiri tempat tidur ketika Hardi menyentuh beberapa ikon di layar smartphonenya untuk menghubungi Valerie. Porter itu membuka gorden besar kamar sehingga cahaya jingga masuk ke dalam kamar melalui kaca jendela ketika Hardi mendekatkan benda pipih yang ke telinga kirinya. Porter itu berjalan ke jendela - jendela di ruang tamu untuk membuka gordennya ketika Hardi sedang menunggu panggilan teleponnya dijawab sama Valerie.
"Terima kasih banyak ya Mas," ucap Hardi sopan ketika porter itu menghentikan langkahnya di depan Hardi.
"Iya sama - sama Tuan, saya permisi dulu, silakan menikmati keindahan, ketenangan, keamanan dan kenyamanan selama menginap di hotel ini. Selamat sore," ucap porter itu sopan dan ramah.
Tak lama kemudian porter itu berjalan menuju pintu kamar hotel yang masih terbuka. Keluar dari dalam kamar. Menutup pintu kamar ketika Hardi menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu dengan kesal. Melemparnya ke sofa panjang yang ada di ruang tamu. Menduduki tubuhnya di sofa single. Memandang panorama keindahan alam dari gunung Merapi.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Hardi menoleh ke smartphone miliknya yang sedang berdering. Mengambil smartphone miliknya. Membaca tulisan Mbah di layar
smartphonenya. Dengan malas Hardi menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya. Mendengar suara berisik dari tempat Mbahnya berada. Samar - samar ada suara teriakan dan tangisan yang menderu dari tempat Mbahnya berada.
"Hallo assalamu'alaikum Mbah, Mbah baik - baik aja kan," ucap Hardi sedikit panik.
"Hallo assalamu'alaikum Har, kamu cepatan ke rumahnya Tante Sri sekarang!"
"Tapi Mbah aku sudah sampai di Jogja, besok pagi aku kan mau meninjau proyek pembangunan mall di sini Mbah."
"Udah cepatan pulang ke sini!" titah Batara.
"Nanti siapa yang gantiin aku Mbah?"
"Lain kali aja meninjaunya."
"Memangnya ada apa Mbah?"
"Pesawat jet pribadi milik Pak Cipto dinyatakan hilang, udah cepatan pulang ke sini, kita bantu Tante Sri dan Om Hendra mencari orang - orang yang ada di dalam pesawat itu. Kamu kan waktu kemarin ngomong mau balikan lagi sama Agni dan ingin meninggalkan wanita bule itu, ini adalah kesempatan untuk mendapatkan hatinya Agni lagi."
"Iya, aku ke sana sekarang," ucap Hardi.
__ADS_1
Tiba - tiba sambungan telepon itu terputus. Hardi menaruh smartphone miliknya di tempat semula. Menatap kembali pemandangan dari keindahan alam gunung Merapi. Hardi mendengus kesal karena rencana dia dan Valerie bisa gagal jika Agni sudah tiada. Hardi mengambil smartphone miliknya untuk menghubungi Valerie. Mendekatkan lagi benda persegi panjang itu ke telinga kirinya lagi. Sambungan telepon itu belum dijawab juga oleh Valerie yang membuat Hardi bertambah kesal.
"Aku harus pulang sekarang supaya bisa mengatasi masalah ini," gumam Hardi bermonolog.