Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Dia Sebagai Suamiku


__ADS_3

Menatap sang surya enggan bersinar di siang hari ini. Langit mendung menurunkan jutaan buliran air dengan derasnya. Mendengar bunyi dari beberapa guntur yang menggelegar saling bersahutan. Mengkhawatirkan Edward yang sedari tadi pagi pergi untuk mencari sebuah perkampungan dan ustadz sambil menelusuri lingkungan sekitar rumah yang mereka tempati sementara. Saat ini Agni merasakan sesuatu yang hilang di hatinya sehingga gundah gulana menyelimuti dirinya menanti kepulangan Edward.


Sebenarnya Agni telah jatuh cinta kepada Edward pada pandangan pertama dan dia sangat membutuhkan sosoknya Edward sehingga dia merindukan Edward walaupun baru beberapa jam Edward berada jauh dari dirinya. Agni menutup jendela rumah. Mengunci jendela rumah itu. Menoleh ke sebuah laras panjang yang kemarin ditemukan oleh Edward. Kemarin Edward berhasil masuk ke dalam salah satu rumah yang berada di belakang rumah yang mereka tempati. Ternyata rumah itu adalah gudang bahan makanan, tempat penyimpanan alat pertukangan, gudang senjata dan tempat dua genset yang digunakan untuk sebagai sumber listrik rumah yang mereka tempati dan kedua rumah yang berada di belakang rumah yang mereka tempati.


Senjata itu sengaja diambil oleh Edward untuk berjaga - jaga. Agni diajarkan menggunakan senjata laras panjang supaya bisa menembak ke hewan liar atau orang yang bisa membahayakan nyawa. Setelah menoleh ke senjata yang berada di atas bangku kayu, Agni melangkahkan kakinya menuju ruang makan karena dia sudah lapar. Sebenarnya Agni ingin makan siang bersama Edward. Tapi apa daya, sampai sekarang Edward belum kunjung datang.


Membuka tudung saji, lalu melihat ada nasi, lauk ikan mas goreng dan tumis daun singkong yang dimasak oleh Edward. Selain menemukan gudang, Edward menemukan juga menemukan sebuah kebun liar yang berisi pohon singkong, pohon pepaya, pohon mangga, pohon pisang, pohon jahe dan pohon sawo di sekitar rumah yang mereka tempati. Agni menarik salah satu kursi yang berada di meja makan. Menduduki kursi itu, lalu mengambil nasi. Menuangkan nasi ke piringnya. Mengambil ikan mas goreng, lalu menaruhnya.


Tok ... tok ... tok ...


Bunyi ketukan pintu yang membuat hatinya Agni senang. Sedetik kemudian Agni berdiri, lalu berjalan cepat ke pintu rumah itu tanpa mengambil senjata karena dia yakin yang mengetuk pintu itu adalah Edward. Membuka kunci rumah, lalu menekan handle pintu ke bawah. Menarik pintu sehingga pintu rumah terbuka. Kedua matanya Agni berbinar melihat sosok Edward yang dia rindukan. Sontak Agni memeluk Edward dengan sangat erat. Edward membalas pelukan Agni sambil tersenyum bahagia karena Agni telah memeluknya.


"Mas kamu baik - baik aja kan?" ucap Agni lembut.


"Iya sayang aku baik - baik aja. Apakah kamu merindukan diriku?" ucap Edward senang.


"Nggak, aku cuma bosan sendirian di sini," ucap Agni berbohong sambil melepaskan pelukannya.


"Masa sich?" ledek Edward sambil menurunkan kedua tangannya dari pinggang ramping milik Agni.


"Yah, pakaianku jadi basah," ucap Agni mengalihkan pembicaraan dengan wajah yang memerah karena malu sambil melihat kaos crop dan hotpants yang dia pakai.


Sedetik kemudian Agni memutarkan badannya, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar. Edward menggeleng - gelengkan kepalanya sambil tersenyum senang melihat reaksi Agni ketika dia pulang dari penjelajahan menyusuri lingkungan sekitar rumah yang mereka tempati. Edward masuk ke dalam rumah. Menutup pintu rumah, lalu menguncinya ketika Agni masuk ke dalam kamar. Membuka pakaiannya yang basah kuyup kecuali celana boxernya.


"Sayang, tolong ambilkan handukku ya," ucap Edward dengan volume suara yang tinggi, ketika Agni masih berada di dalam kamar.


"Iya," ucap Agni dengan volume suara yang tinggi.


Edward melihat Agni yang memakai lingerie merah cabe sedang berjalan menghampiri dirinya melewati pintu kamar yang sedari tadi terbuka sambil membawa handuknya Edward yang ketinggalan di dalam kamar. Akhirnya Agni sudah terbiasa melihat orang lain memakai pakaian seksi dan juga sudah terbiasa memakai pakaian seksi di depan orang lain. Agni berjalan menundukkan kepalanya karena Edward menatap dirinya dengan intens. Agni menghentikan langkahnya di depan Edward sambil menundukkan kepalanya. Memberikan handuk itu ke Edward sambil menundukkan kepalanya.


"Kamu masih malu - malu melihat aku hanya memakai celana boxer?" tanya Edward sambil menerima handuk itu.

__ADS_1


"Nggak," jawab Agni ketika Edward melilitkan handuk itu di pinggangnya.


"Lalu kenapa kamu menundukkan kepalamu?" tanya Edward sambil menautkan ujung handuk.


"Nggak kenapa - kenapa. Oh ya Mas, bagaimana hasil pencarian kamu hari ini?" Apakah berhasil?"


"Sayang kalau nanya atau ngobrol sama orang, tatap wajah orang yang kamu ajak bicara," ucap Edward lembut.


"Iya Mas," ucap Agni lembut, lalu dia mengangkat wajahnya sehingga tatapan mata mereka bertemu.


"Maaf aku belum menemukan apa pun yang kamu mau. Aku menyusuri jalanan tanah itu sampai jauh, tapi aku hanya menemukan hutan di samping kanan kiri jalanan itu. Bagaimana kalau besok kita pergi mencari dari sini sambil membawa barang - barang kita untuk mendapatkan yang kamu mau?"


"Untuk sekarang ini nggak usah Mas. Aku sudah menemukan mukena dan sajadah."


"Kamu menemukan itu di mana?"


"Di tumpukan seprai. Aku juga menemukan sarung dan peci. Jadi kita sekarang bisa sholat. Untuk mencari seorang ustadz nanti aja."


"Setelah pemilik rumah ini pulang ke sini. Siapa tahu dia ingin menolong kita untuk mengantarkan kita ke sebuah perkampungan dan menghubungi keluarga kita yang berada di Jakarta. Jadi kita nggak perlu capek - capek mencari sebuah perkampungan dan seorang ustadz. Dan aku yakin dia memiliki beberapa mobil."


"Baiklah kalau itu maumu, aku ikut aja asalkan kamu senang," ucap Edward lembut.


"Kamu kenapa buka pakaianmu di sini?"


"Biar lantai rumah ini tidak basah semua, sayang."


"Kamu mau air jahe?"


"Iya."


"Ok, aku bikinin buat kamu ya."

__ADS_1


"Terima kasih sayang, tapi memangnya kamu bisa bikin air jahe?"


"Bisa. Aku kan pernah lihatin kamu bikin air jahe. Kamu tenang aja, air jahenya pasti enak seperti air jahe buatanmu."


"Apapun yang kamu masak, aku pasti menyukainya."


"Gombal."


"Aku nggak gombal sayang."


"Ya udah sana cepetan mandi," ucap Agni.


"Biar bisa dipeluk lagi sama kamu ya," ledek Edward yang membuat rona merah menyeruak lagi di pipinya Agni.


"Au ah gelap," ucap Agni malu - malu.


Sedetik kemudian Agni memutarkan badannya. Melangkahkan kakinya menuju dapur rumah itu. Menghentikan langkahnya di depan meja kitchen set. Mengambil salah satu jahe yang sudah ada di atas meja kitchen set. Mengambil salah satu pisau yang berada di tempat sendok. Mengerok kulit jahe, lalu memotongnya. Mengambil panci gayung, lalu membuka kran air yang berada di tempat cucian piring sehingga air pengalir. Menuangkan air yang mengalir dengan menggunakan panci gayung.


Mematikan kran air, lalu menaruh panci gayung di atas kompor listrik. Menyalakan kompor listrik untuk memasak air jahe. Memasuki jahe ke dalam panci. Agni kepikiran mau makan sambal ketika melihat cabe dan bawang merah di atas meja kitchen set. Agni berjalan menuju kamar mandi. Agni menghentikan langkahnya ketika Edward membuka pintu kamar mandi yang hanya memakai lilitan handuk di area pinggul dan atas dengkul.


Edward tersenyum manis ke Agni, lalu berkata, "Ada apa sayang?"


"Aku mau sambal, tolong buatkan sambal ya," ucap Agni lembut.


"Iya sayang."


Telak berselang lama Agni memutarkan badannya, lalu melangkahkan kakinya ke dapur. Edward mengikuti langkahnya Agni. Mereka menghentikan langkah kaki mereka. Edward mengambil beberapa siung bawang merah, lalu mengambil pisau yang masih tersisa di tempat sendok. Membuka kulit bawang merah yang dia pegang. Agni menengok ke Edward yang sedang mengelupas kulit bawang. Karena ingin membantu Edward membuat sambal akhirnya Agni mengambil salah satu siung bawang merah. Mengambil pisau, lalu membuka kulit bawang merah. Tiba - tiba jari telunjuk tangan kirinya Agni kena sayatan pisau hingga mengeluarkan darah.


"Aauwww!" teriak Agni spontan sambil melemparkan bawang merah dan pisau yang dia pegang.


Sontak Edward menaruh beberapa siung bawang merah dan pisau ke meja kitchen set. Mengambil tangan kirinya Agni. Menyedot darah yang keluar dari jari telunjuknya sambil merasakan gelayar lembut yang bergejolak di relung hatinya. Sedangkan Agni terpana melihat reaksi Edward ketika dia mengalami luka sambil menahan gejolak rasa cinta di hatinya yang sedari tadi muncul sejak kedatangan Edward dari penjelajahan mencari apa yang diinginkan oleh Agni.

__ADS_1


Ya Allah, aku sangat menginginkan dia sebagai suamiku.


__ADS_2