
Di like ya guys 😁
Di vote ya guys 😁
Di komen ya guys 😁
Happy reading 🤗
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
"Ibu Mahiswara Agnibrata Candrawati Soerjosoemarno," ucap perawat yang sedang memanggil Agni dengan suara yang lantang sambil mengedarkan pandangannya.
Sontak Agni dan Hardi berdiri dari salah satu bangku yang berada di ruang tunggu poliklinik dokter spesialis ahli kandungan dan alat kelamin. Mereka berjalan menghampiri perawat itu. Langkah kaki mereka diikuti oleh para bodyguardnya Agni. Agni dan Hardi serta para bodyguard berhenti di depan perawat itu.
"Saya Bu Mahiswara Agnibrata Candrawati Soerjosoemarno," ucap Agni lemas.
"Silakan masuk Bu, tapi para bodyguard Ibu nggak boleh masuk ya," ucap perawat itu dengan ramah.
"Iya Sus," ucap Hardi.
Tak lama kemudian perawat itu melebarkan pintu ruang poliklinik supaya Agni dan Hardi bisa masuk ke dalam. Mereka masuk ke dalam ruangan itu. Sontak dokter yang sedang berdinas berdiri, lalu tersenyum sopan ke mereka. Mereka membalas senyuman dari dokter itu. Mereka menghentikan langkahnya di depan meja kerja dokter itu.
"Selamat pagi pak Hardi," ucap dokter itu sambil mengulurkan tangan kanannya ke Hardi.
"Selamat pagi Bu Dokter Silvia," ucap Hardi sambil membalas uluran tangan kanannya dokter itu, lalu mereka berjabat tangan.
"Bagaimana kabar Tuan Batara?" ucap dokter itu sambil melepaskan genggaman tangan kanannya.
"Baik," ucap Hardi sambil menurunkan tangan kanannya.
"Ini pasti tunangan anda ya Pak Hardi?" tanya dokter Silvia dengan sopan sambil menoleh ke Agni.
"Iya Dok," ucap Hardi tegas, sontak Agni menoleh ke Hardi.
"Perkenalkan, nama saya Silvia Notonegoro," ucap Silvia sambil mengulurkan tangan kanannya ke Agni.
"Mahiswara Agnibrata Candrawati Soerjosoemarno, panggil Agni aja Bu dokter," ucap Agni lembut sambil membalasnya uluran tangan kanannya dokter Silvia, lalu mereka berjabat tangan.
"Cantik sekali tunangan anda Pak Hardi," ucap Silvia dengan sopan sambil melepaskan genggaman tangan kanannya.
"Terima kasih atas pujiannya Dok," ucap Agni sopan sambil menurunkan tangan kanannya.
"Silakan duduk," ucap dokter Silvia dengan sopan sambil menduduki tubuhnya di kursi kerja.
Kemudian mereka duduk di kursi masing - masing. Dokter Silvia membuka arsip data riwayat kesehatan Agni dalam waktu sekejap. Lalu dia menoleh ke Agni dan Hardi dengan wajah yang bahagia. Mereka pun ikut tersenyum walaupun belum tahu maksud dari senyuman dokter Silvia.
"Kamu telat datang bulan sudah berapa hari?" ucap dokter Silvia ramah
"Sudah seminggu minggu lebih dari jadwal rutinitas menstruasi saya, Dok. Biasanya saya menstruasi setiap tanggal tiga, tapi di bulan ini sampai tanggal tiga belas belum menstruasi. Sudah tiga hari saya muntah-muntah di pagi hari, badan pegal semua dan terasa lemas, Dok. Kemarin saya sudah diperiksa oleh Tante Pratistha menurut hasil pemeriksaannya, saya sedang hamil muda. Saya datang ke sini untuk memastikannya."
"Berarti kamu terakhir menstruasi tanggal tiga bulan kemarin?"
__ADS_1
"Iya."
"Kamu selesai menstruasinya tanggal berapa?"
"Tanggal sepuluh."
"Kalian terakhir berhubungan intim kapan?" ucap Silvia yang membuat Agni menelan salivanya.
"Kami —."
"Tanggal dua puluh empat bulan kemarin," ucap Hardi yang memotong ucapan Agni.
Sontak Agni menoleh ke Hardi dengan tatapan mata yang bingung. Hardi menoleh ke Agni sambil menggenggam erat telapak tangan kanannya Agni. Hardi menganggukkan kepalanya yang memberikan kode bahwa tidak usah mempermasalahkan soal ucapan dia yang tadi. Dokter Silvia tertawa kecil melihat reaksi mereka.
"Mari ikut saya!" ajak dokter Silvia sambil beranjak berdiri, lalu berjalan menuju ke tempat tidur pasien.
Tak lama kemudian Agni dan Hardi beranjak berdiri dan mengikuti langkah kaki dokter itu. Dokter itu menyiapkan alat - alatnya bersama seorang suster. Agni naik ke tempat tidur pasien. Sedangkan Hardi berdiri di sebelah kiri tempat tidur pasien. Ketika Agni membaringkan badannya di atas tempat tidur, dia merasakan gugup sampai tangannya basah karena keringat dingin. Ini pertama kalinya dia diperiksa oleh dokter kandungan. Dokter itu menghampiri Agni dengan membawa stetoskop. Kaosnya disingkap, dadanya diperiksa oleh dokter itu dengan menggunakan stetoskop.
Kemudian seorang suster membawa proben USG dan sebuah salep. Dokter itu membuka tutup tube salep itu untuk mengeluarkan isinya. Setelah salepnya yang berupa gel dikeluarkan, perut bagian bawah Agni dibaluri oleh gel itu. Tak lama kemudian, dokter itu memberikan tube gel itu ke suster. Kini dokter meletakkan proben USG di bagian bawah perut Lily, lalu menggerakkan proben itu.
Hardi bisa melihat dengan jelas semburat kebahagiaan di raut wajah Agni. Seulas senyuman kebahagiaan ketika Agni melihat layar monitor yang menampilkan gambar yang tak dimengerti oleh mereka. Tubuh Agni seketika menghangat saat tangan Hardi menggenggam telapak tangan kiri Agni untuk memberikan rasa nyaman yang Hardi sendiri tahu bahwa saat ini Agni sedang gugup.
Saatnya beraksi untuk mengambil hatinya Agni supaya dia jatuh cinta kepadaku lagi.
Batin Hardi.
"Bagaimana hasilnya, Dok? Kekasih saya benar-benar hamil kan?" tanya Hardi pura-pura senang.
Mendengar ucapan dokter, kedua mata Agni seketika berbinar sambil mendongakkan sedikit wajahnya, lalu berkata, "Saya benar - benar hamil Dok?"
"Iya Agni," ucap dokter membenarkan. "Dan kemungkinan Nona akan melahirkan bayi kembar karena ada dua kantung yang tumbuh di rahim anda," ucap dokter sambil menunjukkan dua kantung kecil yang tertera di layar monitor tersebut.
"Bayi kembar?" tanya Agni dengan detakan jantung yang berdegup cepat karena terkejut mendengar ucapan dokter tersebut.
"Iya. Kalian akan memiliki bayi kembar. Dari ukuran janin, usia kehamilan Agni saat ini berusia satu bulan dan keadaan bayi kembar kalian sehat. Selamat ya," ucap dokter itu sambil menjauhkan proben USG itu dari perut Agni, lalu dia merapihkan peralatannya.
Hari ini adalah hari yang sangat berkesan dalam hidup Agni. Sesuatu menggetarkan dadanya saat mengetahui bahwa dirinya akan menjadi seorang ibu. Tiba-tiba Agni teringat Edward sehingga membuat raut wajahnya menjadi sedih. Tak sengaja Hardi melihat kesedihan di wajahnya Agni sehingga membuatnya terenyuh. Hardi mempererat genggaman tangannya, tapi kemudian Agni menepisnya. Agni menghentakkan telapak tangan kirinya sehingga Hardi melepaskan genggaman tangannya.
"Terima kasih Dok," ucap Agni sambil menurunkan kaosnya yang tersingkap.
Sedetik kemudian Agni dituntun turun dari tempat tidur pasien oleh Hardi. Agni melepaskan kedua tangannya Hardi dari tubuhnya. Agni melengos jalan tempat duduk yang tadi mereka duduki. Hardi menyusul langkah kakinya Agni. Agni menduduki tubuhnya di tempat semula. Sedangkan Hardi menduduki tubuhnya di kursi samping kirinya Agni.
"Di trimester pertama kehamilan, mungkin sangat rentan, apalagi jika mengandung anak kembar. Jadi saya harap, Agni lebih bisa memperhatikan kesehatan dan jangan terlalu capek. Selain itu di trimester awal ada proses terjadinya pembentukan organ inti dari tubuh manusia. Seperti otak, organ tubuh dan tulang belakang. Karena itu saya harap Agni untuk memenuhi asupan nutrisi maupun gizi yang cukup."
"Baik, Dok," ucap Agni senang.
"Saya kasih resep vitamin terlebih dahulu ya, Agni," ucap dokter Silvia, lalu menulis resep itu.
"Iya, dok," ucap Agni dengan nada suara yang bahagia.
"Ini resep dan foto hasil USG nya," ucap dokter Silvia sambil memberikan resep dan selembar foto ke Agni.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Dok," ucap Agni sambil menerima resep dan foto itu, lalu dia membuka reselting tas selempangnya untuk menaruh resep obat dan foto hasil USG.
"Kami pamit pulang, selamat pagi Dok," pamit Hardi dengan sopan sambil mengulurkan tangan kanannya ke dokter ketika Agni menaruh foto dan resep vitamin.
"Iya, selamat pagi juga Pak Hardi," ucap dokter Silvia sambil membalas uluran tangan kanannya Hardi, lalu mereka berjabat tangan ketika Agni menutup reselting tas selempangnya. "Jaga kekasihmu dan bayi kalian dengan extra hati-hati," ucap dokter Silvia sambil melepaskan genggaman tangan kanannya.
"Iya Dokter Silvia," ucap Hardi sambil menurunkan tangan kanannya.
"Jangan lupa minum vitaminnya ya Agni," ujar dokter Silvia sambil mengulurkan tangan kanannya ke Agni.
"Iya Bu Dokter," ucap Agni sopan sambil membalas uluran tangan kanannya dokter Silvia, lalu mereka berjabat tangan.
Tak lama Agni, Silvia dan Hardi beranjak berdiri setelah Agni dan Silvia berjabat tangan. Silvia tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya. Agni dan Hardi membalas senyuman Silvia. Agni dan Hardi berbalik ketika Silvia menduduki tubuhnya di kursi kerjanya. Agni dan Hardi melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan itu. Pintu ruangan itu dibuka oleh suster. Suster itu memegang handle sambil tersenyum sopan kepada mereka ketika tatapan mata mereka bertemu.
"Terima kasih Suster," ucap Agni ramah ketika berhadapan dengan suster.
"Sama - sama," kata suster sopan.
Tak berselang lama Hardi dan Agni berjalan keluar dari ruangan itu. Ketika mereka berada di depan pintu ruang praktek dokter spesialis kandungan, mereka melihat sosok Batara sedang duduk santai di ruang tunggu depan ruang praktek sambil menatap ke arah mereka dengan tatapan mata yang penasaran. Mereka melangkahkan kakinya menghampiri Batara.
"Bagaimana? Apakah kamu positif hamil?" ucap Batara ketika Agni dan Hardi menghentikan langkah kaki mereka di depan Barata.
"Iya, aku positif hamil, Mbah," ucap Agni sopan sambil menduduki tubuhnya di samping kiri Barata.
"Bagaimana keadaan bayinya?" tanya Batara sambil menoleh ke Agni.
"Keadaan bayi sehat dan aku akan mendapatkan bayi kembar."
"Hah!? Bayi kembar?" ucap Batara sedikit kaget.
"Iya kembar," ucap Agni membenarkan.
"Ya udah kamu harus jaga kesehatan. Jangan terlalu banyak bergerak dan harus banyak istirahat. Kamu dikasih resep vitamin untuk wanita hamil?"
"Dikasih, Mbah."
"Boleh Mbah minta?"
Agni menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ucapan Barata. Membuka reselting tas selempangnya. Mengambil resep vitamin dari dokter. Memberikan resep vitamin itu ke Barata. Barata menerimanya, lalu menaruhnya di saku kemejanya ketika Agni menutup reselting tas selempangnya.
"Kamu tetap jadi melanjutkan sekolahmu di Oxford University?" ucap Batara serius.
"Jadi, Mbah."
"Terus kamu bisa kuliah sambil mengurus anak-anakmu? Dan siapa yang akan menjagamu selama berada di sana?"
"Aku yang akan menjaganya, Mbah, dan aku yang akan membantu dia mengurus anak-anaknya, aku akan menikahi Agni supaya dia nyaman menjalani kehidupannya," samber Hardi serius yang membuat Agni terkejut.
Batara menoleh ke Hardi, lalu bertanya, "Apakah kamu sudah yakin ingin menikahi Agni? Kalau kamu sudah yakin ingin menikahi Agni, kalian bisa menikah setelah anak-anaknya Agni lahir.,"
"Iya, aku sudah yakin."
__ADS_1