Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Pasti Ada Hikmahnya


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading πŸ€—


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Agni membuka dua kelopak matanya dengan perlahan. Mengerjapkannya beberapa kali untuk menyesuaikan bias sinar matahari yang menembus melalui kaca jendela kamar. Liza melihat sosok Sri yang sedang tersenyum hangat ke dirinya sambil mengelus tangan kanannya Agni. Agni membalas senyuman wanita itu.


"Sayang," lirih Sri sambil menatap Agni dengan tatapan mata yang khawatir dan sedih.


"Tante, aku takut kehilangan janin bayiku," lirih Agni sambil menatap sendu ke Sri dan memegang erat pergelangan tangan kanannya Sri.


"Kamu harus lebih sabar lagi ya, semua cobaan pasti ada hikmahnya. Tuch lihat, Hardi mengirimkan puluhan karangan bunga untuk kamu," ucap Sri yang berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Agni mengerutkan keningnya karena merasa antara percaya dan tidak percaya, lalu berucap, "Karangan bunga Tante?"


"Iya, coba kamu lihat. Sini Tante bantu kamu untuk duduk," ucap Sri, lalu membimbing Agni untuk duduk bersandar.


Reaksi kaget yang diperlihatkan oleh Agni ketika dia melihat puluhan karangan bunga untuk dirinya dari Hardi sehingga memenuhi sebagian kamar rawat inapnya. Liza menutup mulutnya yang ternganga - nganga dengan dua telapak tangannya sambil menggelengkan kepalanya melihat apa yang telah dilakukan oleh Hardi terhadap dirinya yang membuatnya terkejut.


"Kamu senang?" ucap Sri lembut.


"Iya Tante," ucap Agni setelah dia melepaskan dua telapak tangannya dari mulutnya.


Ceklek


Pintu kamar rawat inap Agni terbuka, memperlihatkan seorang dokter wanita yang tua dan seorang suster. Mereka berjalan hati-hati menghampiri Sri dan Agni karena sebagian ruangan itu dipenuhi oleh aneka bucket bunga. Suster itu memasangkan tensimeter di tangan kanannya Agni dengan telaten untuk memeriksa tekanan darahnya Agni, lalu memeriksa tekanan darahnya Agni.


"Wahhh..., Nak Agni sudah baikan. Kamu hebat bisa melampaui masa kritis kamu. Bagaimana kabar kamu? Bagian mana yang masih terasa sakit?" tanya dokter itu dengan nada suara yang ramah, lalu memasangkan dua ujung stetoskop ke telinganya ketika suster selesai memeriksa tekanan darah Agni.


"Kabar aku sudah lebih baik dari kemarin Dok, cuma saya masih khawatir dengan keadaan janin anak saya. Apakah dia baik - baik saja?" ucap Agni sambil membukakan beberapa kancing piyamanya.


"Sebelumnya kami minta maaf, karena janin anak kamu tidak bisa diselamatkan setelah kami berusaha seoptimal mungkin untuk mempertahankan janin anak kamu. Kamu harus sabar ya," ucap dokter itu sambil memeriksa Agni dengan menggunakan stetoskop.


"Itu tidak mungkin! Kemarin Mas Edward menghilang, sekarang anak-anak kami meninggal!" teriak Agni tiba - tiba.


Sontak Sri, dokter dan suster terkejut. Air mata Agni mengalir lagi tanpa diminta. Agni menangis terisak - isak. Dokter itu melepaskan stetoskopnya dari dada Agni dan dokter merapihkan stetoskopnya. Sri langsung memeluk erat tubuh Agni. Agni menangis menderu - deru di dalam pelukan Agni. Sri mengusap punggungnya Agni dengan lembut untuk menenangkan Agni.


"Nak Agni, saya mohon anda harus tulus menerima takdir ini supaya kesehatanmu cepat pulih," ucap dokter lembut.

__ADS_1


"Kamu harus ikhlas ya, sayang," bisik Clara lembut.


Agni tidak merespon ucapan Sri dan dokter itu. Dia masih terhanyut di dalam kesedihannya. Menangis menderu - menderu. Sri melepaskan pelukannya ketika melihat dokter dan suster itu berjalan ke arah pintu kamar rawat inap. Sri berlari kecil mengejar dokter dan suster itu. Sri menepuk pelan pundak dokter itu ketika berada di belakang dokter sehingga dokter menghentikan langkahnya dan menoleh ke dirinya.


"Boleh kita bicara sebentar?" ucap Sri sopan.


"Boleh."


"Dok, bagaimana keadaan keponakan saya?"


"Dia sudah lebih baik dari kemarin. Tekanan darahnya masih sedikit tinggi, banyaki istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran."


"Bagaimana hasil pemeriksaan keponakan saya, Dok?"


"Keadaan fisiknya tidak perlu dikhawatirkan, Bu. Kita pantau terus keadaannya selama delapan jam ke depan, ya Bu. Kalau tidak ada masalah nanti malam pasien sudah boleh pulang."


"Keponakan saya tak perlu dikuret Dok?"


"Tidak perlu."


"Kenapa Dok?"


"Karena Nak Agni mengalami keguguran abortus komplit, di mana semua isi kandungan sudah keluar dan tidak ada jaringan janin atau plasenta yang tertinggal di dalam rahim Nak Agni. Maaf sebelumnya, bolehkah nanti psikolog memeriksa psikis Nak Agni? Soalnya tadi dia histeris setelah mengetahui bahwa dirinya mengalami keguguran."


"Boleh Dok."


"Terima kasih banyak ya Dok."


"Kami permisi dulu, jika perlu sesuatu bisa panggil kami," pamit Bu dokter.


Kemudian dokter dan suster itu membuka pintu kamar rawat inap, lalu keluar dari kamar rawat inap setelah pintu kamar tertutup secara otomatis. Sri berjalan lunglai menghampiri Agni yang masih menangis tersedu - sedu. Sri menjadi sedih dan kasihan melihat kondisi Agni. Sri duduk di tepian ranjang sebelah kanan. Mendekap Agni dengan kasih sayang. Menit demi menit Wgni masih terbelenggu di dalam kesedihannya karena harus kehilangan janin anaknya.


Ceklek


Pintu kamar terbuka lagi. Jennifer berjalan masuk ke dalam kamar untuk menghampiri Agni setelah pintu tertutup secara otomatis. Jennifer membawa parcel buah untuk Agni. Jennifer melongo melihat karangan bunga yang memenuhi sebagian besar kamar rawat inap Agni sambil berjalan. Jennifer bertambah kaget ketika melihat Agni menangis tersedu - sedu di dalam dekapan Sri. Dia mempercepat langkahnya menuju Agni. Jennifer turut bersedih melihat Agni menangis.


"Selamat malam Tante, Agni," sapa Jennifer sopan dan ramah.


Sontak Sri melepaskan dekapannya, lalu menoleh ke Jennifer dan berucap, "Selamat sore Nak Jenny."


"Kenapa Agni menangis, Tante?" ucap Jennifer khawatir sambil menaruh parcel buah di atas nakas sebelah kanan tempat tidur.


"Dia harus kehilangan janin bayinya," ucap Sri sendu.

__ADS_1


"Ya Tuhan," ucap Jennifer sedih, lalu dia mendekap tubuh Agni. "Kamu harus yang sabar ya sayang," bisik Jennifer lembut.


"Sayang, kamu harus makan dulu, setelah itu minum obat," ucap Sri sendu.


Jennifer melepaskan dekapannya, lalu menoleh ke Sri dan berujar, "Biar aku yang siapin dia, Tante."


"Ok, oh ya tolong temani Agni ya Jenny, soalnya Tante mau pulang ke rumah, nanti kamu boleh pulang setelah Hardi sudah datang ya Jenny," ucap Sri lembut sambil berjalan pelan ke nakas sebelah kiri tempat tidur.


"Iya, Tante. Tante tenang aja. Titip salam untuk Sabrina dan Helena ya Tante," ucap Jennifer sopan.


"Iya, terima kasih banyak ya Jenny," ucap Sri sambil mengambil nampan yang berisi makanan untuk makan malam Agni.


"Tadi Agni jatuh sampai dia keguguran, Tante?"


"Nggak Nak Jenny, dia didorong sama Ryan," ucap Sri sambil berjalan menghampiri Jennifer.


"Kurang ajar sekali tuch bocah tak punya adab!" ucap Jennifer marah.


"Kamu kenal dia?" ucap Sri sambil memberikan nampan makan malam milik Agni ke Jennifer.


"Iya, Tante. Aku pernah berkelahi dengannya karena sering ngebully Agni di sekolah, kejadian itu sudah dilaporkan ke pihak berwajib, Tante?" ucap Jennifer sambil menerima nampan makan malam milik Agni.


"Sudah Nak Jenny. Tante titip Agni ya," ucap Sri lembut.


"Iya Tante."


Sri hanya tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya untuk merespon ucapan Jennifer. Tak lama kemudian, Sri mengambil tas kerjanya. Melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar rawat inap ketika Jennifer menoleh ke Agni. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu terbuka secara perlahan ketika Jennifer memotong daging. Melangkah keluar sambil memegang handle pintu ketika Jennifer memotong wortel. Melepaskan handle pintu sehingga pintu tertutup otomatis ketika Jennifer menuangkan capcay ke nasi.


"Agni kamu harus ikhlas menerima takdirmu ini, aku yakin ada hikmah dibalik semua yang terjadi pada dirimu. Kalau kamu begini terus, kasihan anak kamu, dia akan ikut sedih melihat ibunya menangis terus," ucap Jennifer lembut sambil mengambil nasi, lalu menyodorkan sendok yang berisi nasi plus lauknya ke Agni.


Agni menolak makan. Dia mengalihkan pandangannya ke salah satu bucket bunga anggrek bulan warna putih. Jennifer menaruh sendok yang berisi nadi plus lauknya ke piring karena dia tidak mau memaksa. Jennifer memperhatikan arah pandang kedua matanya Agni yang sedang melihat sebuah bucket bunga anggrek bulan warna putih, lalu dia melihat bucket yang sangat indah itu.


"Wah, karangan bunganya bagus semua," ucap Jennifer yang ingin mencairkan keadaan dengan nada suara yang ceria sambil menatap takjub ke sekeliling kamar. "Siapa yang ngirim semua karangan bunga itu?"


"Huhuhu ... Mas Hadi huhuhu ....."


"So sweet ... romantis juga Mas Hardi," celetuk Jennifer.


Ceklek


Pintu kamar terbuka lagi. Jennifer menoleh ke pintu yang memperlihatkan sosok Hardi. Sedangkan Agni masih terpaku melihat bucket bunga anggrek bulan putih itu. Hardi berjalan menghampiri mereka. Hardi terenyuh melihat Agni dengan aura kesedihan yang mendalam. Hardi menoleh ke bucket bunga anggrek bulan yang sedang ditatap oleh Agni. Hardi menghentikan langkahnya di samping kiri tempat tidur.


"Tolong tinggali kami berdua," ucap Hardi tegas.

__ADS_1


Sontak Jennifer menaruh nampan makan malam milik Agni di atas kasur, lalu beranjak berdiri. Jennifer melangkahkan kakinya ke pintu kamar. Jennifer menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya hingga pintu terbuka secara perlahan. Jennifer keluar dari dalam kamar, lalu Jennifer melepaskan gagang pintu sehingga pintu tertutup secara otomatis. Hardi tersenyum manis ke Agni. Agni sempat terpana melihat senyuman manis dari Hardi yang baru pertama kali dia lihat di dalam tangisannya. Hardi mendekap tubuhnya Agni.


"Tidak baik terlalu sedih, sebaiknya kamu hentikan tangisanmu. Semua cobaan yang telah terjadi pasti ada hikmahnya."


__ADS_2