
Shafira sedang merias wajahnya di depan cermin. Sofia sangat lihai mengaplikasi alat - alat make up ke wajah. Sebenarnya dia ingin menjadi seorang make up artis terkenal. Tapi dilarang oleh almarhum ayah dan ibunya. Shafira tersenyum manis setelah memulas lipstick ke bibirnya yang merupakan sentuhan terakhir untuk wajahnya malam ini. Polesan make up flawless memperjelas kecantikan yang dimiliki oleh Shafira.
Malam ini dia mengenakan baju pesta klasik dan timeless berwarna hitam dengan panjang yang menjuntai hingga ke bawah. Leher jenjangnyanya memakai kalung batu safir biru dan berlian. Rambut panjang cokelat tua miliknya dikepang waterfall dengan hiasan bunga - bunga kecil. Dia berjalan lenggak - lenggok di depan cermin untuk memastikan penampilannya sempurna malam ini.
"Saat ini aku sangat senang," kata Shafira bermonolog.
Tok ... tok ... tok ...
Bunyi ketukan di daun pintu kamar tidurnya Shafira, lalu Shafira berucap dengan volume suara yang kencang, "Masuk."
Ceklek
Pintu itu terbuka, menampilkan sosok Edward yang mengenai setelan jas tuxedo yang sedang memegang handle pintu. Malam ini penampilan Edward sangat memperlihatkan ketampanan wajahnya. Edward terkesima melihat Shafira yang sangat cantik. Shafira berbalik dan melihat Edward yang terpaku di ambang pintu kamar. Shafira tertegun melihat sosok Edward yang sangat tampan pada malam ini dengan tatapan mata yang berbinar. Dia merasakan lagi desiran lembut di hatinya.
"Kamu cantik sekali, Shafira," ucap Edward dengan tatapan mata yang tajam.
Ucapan Edward itu menimbulkan rona merah di pipinya Shafira. Sofia tertunduk malu sambil meremas jari - jarinya. Tak lama berselang, Shafira berjalan menuju ke pintu kamar sambil menundukkan kepalanya. Dia masih tersipu malu karena ucapan Edward yang mengatakan bahwa dia cantik sekali. Edward tersenyum tipis melihat tingkahnya Shafira.
"Tuan Putri tidak usah menundukkan kepalanya seperti itu, nanti orang - orang tidak bisa melihat kecantikan yang dimiliki oleh Tuan Putri," goda Edward.
"Ah, kamu Boy, bisa aja ngegombal."
"Aku tidak ngegombal tapi menggoda Tuan Putri yang cantik jelita."
"Au ah gelap."
"Siapa bilang kalau sekarang terang, hehehe."
"Udah ah bercandanya," ujar Shafira sambil melewati Edward.
Tiba - tiba Edward menarik pelan tangan kanannya Shafira hingga Shafira berbalik dan tatapan mata mereka bertemu saling menyelami hati mereka berdua. Shafira tidak bisa menahan gejolak rasa di hatinya sehingga dia memalingkan mukanya.
"Aku gandeng tangan kamu ya," ucap Edward dengan suara yang lembut.
Shafira hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari ucapan Edward. Kemudian Edward menggandeng tangan kanannya Shafira. Edward menutup pintu kamar Shafira. Mereka berdua berjalan ke pintu utama rumah itu.
"Wajah kamu mirip banget sama ibu kamu," ujar Edward yang mencairkan suasana.
"Semua orang juga mengatakan hal itu," ucap Shafira yang sudah berani menatap Boy.
"Ibu kamu orang bule ya?"
"Iya."
"Kalau ayah kamu orang Indonesia?"
"Iya."
"Berarti kamu blasteran dong?"
"Iya."
"Kakak mau ke mana?" tanya Shakila yang tiba - tiba datang menghampiri mereka berdua.
Shafira melepaskan tangan kanannya dari tangan Edward, berbalik dan berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Shakila. Edward ikut berbalik. Edward melihat keakraban Shafira dengan Shakila. Shafira menjadi orang tua angkat dari lima belas anak yatim piatu. Edward sangat menyukai kepribadian Shafira yang lembut, baik, ceria, tidak sombong, tidak ria, ramah, tidak pelit dan penyayang.
"Kakak mau pergi sebentar cantik. Kok cantik nggak belajar?" ucap Shafira dengan suara yang lembut sambil mengelus puncak kepala Shakila.
"Aku haus, mau minum. Kakak mau pergi ke mana?"
"Kakak mau pergi ke pesta. Setelah minum, kamu tidur lagi ya, karena hari sudah malam. Besok kita main lagi, ok cantik."
"Ok."
Lalu Shakila berbalik dan berjalan menuju ke dapur. Sofia beranjak berdiri dan berbalik. Edward ikut berbalik. Edward menoleh ke Shafira, lalu tersenyum manis yang membuat detak jantung Shafira seakan berhenti seketika. Edward menggandeng tangan kanannya Shafira. Merasakan gejolak desiran di relung hatinya sehingga Shafira menundukkan kepalanya untuk menahan gejolak desiran di relung hatinya.
__ADS_1
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka ke pintu utama rumah itu. Berjalan melewati ruang keluarga dan ruang tamu. Melangkahkan kakinya melewati pintu utama rumah itu yang sudah terbuka. Di depan teras depan rumah sudah ada mobi Mercedes Benz CLS - Class. Pintu penumpang sudah dibukain oleh supir pribadi.
"Terima kasih ya Pak Widi," ucap Shafira sambil melepaskan tangannya dari tangan Edward setelah menghentikan langkahnya di depan Widi.
"Sama - sama Nona," ucap Widi dengan sopan ketika Shafira masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih Pak Widi," ucap Edward, lalu masuk ke dalam mobil.
"Sama - sama Tuan Muda," ucap Widi dengan sopan, lalu menutup pintu mobil itu
Tak lama kemudian Agni dan Edward memakai seat belt ketika Widi sedang berlari kecil ke bagian pengemudi. Widi membuka pintu bagian pengemudi mobil, lalu masuk ke dalam mobil. Menutup pintu mobil, lalu mengunci semua pintu mobil itu. Widi menyalakan mesin mobil. Menarik tuas rem tangan, lalu memasang gigi dan menjalankan mobil itu keluar dari pekarangan rumah milik Shafira. Seketika suasana hening.
"Pak, tolong nyalakan radio," ujar Shafira ramah yang membuyarkan keheningan.
"Baik Nona," ucap Widi sopan, lalu dia menyalakan radio.
Kau begitu sempurna, dimata ku kau begitu indah
Kau membuat diri ku, akan s'lalu memuja mu
Disetiap langkah ku, ku 'kan s'lalu memikirkan, diri mu
Tak bisa ku bayangkan hidup ku tanpa cinta mu
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Batin Edward.
"Kamu suka dengarin lagu?" tanya Edward sambil menoleh ke Shafira ketika terdengar interlude lagu.
"Suka, ini salah satu lagu favorit saya," ucap Shafira lembut.
Kau genggam tangan ku, saat diri ku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata, dan hapus semua sesal ku
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
__ADS_1
"Siapa penyanyi yang membawakan lagu ini?"
"Andra And The BackBone. Kamu suka lagu ini?"
"Sepertinya aku pernah dengar lagu ini, tapi di mana?"
"Kamu ingat sesuatu?"
"Aakkhh," ucap Edward kesakitan sambil memijat pelipisnya.
"Jangan dipaksakan," ucap Shafira sambil mengusap punggung telapak tangan kanannya Edward.
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
"Pesta pernikahannya di mana?" tanya Edward sambil mendengarkan siaran radio.
"Di ballroom prajurit balai Sudirman."
"Apa itu Jakarta?"
"Jakarta adalah ibu kota negara Indonesia."
"Lagu yang tadi judulnya apa?"
"Sempurna."
"Sama seperti dirimu yang sempurna bagiku," ucap Edward lembut yang membuat hati Shafira bertambah luluh.
💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐
Terima kasih sudah membaca novelku yang ini 😊😊😊🥰🥰🥰.
Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna 😊😊😊.
Di like ya 🥰🥰
Di komen ya 🥰🥰
Di vote ya 🥰🥰
__ADS_1
Love you all