Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Di Kantor Polisi


__ADS_3

Dilike ya guys 😁


Dikomen ya guys 😊


Divote ya guys 😁


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Arakan awan cumulus yang berbentuk seperti gumpalan kapas yang menghampar secar horizontal di langit biru sehingga menampilkan pemandangan yang indah dan menawan. Cahaya sang surya di pagi hari bersinar cerah menyinari kota Jakarta. Udara hangat di musim panas menyelimuti segala kegiatan masyarakat kota Jakarta, termasuk Agni, supir mobilnya dan para bodyguardnya.l


Mereka melakukan perjalanan menuju kantor polisi tempat Hendra dan Marina dipenjara untuk sementara waktu. Roda - roda dari mobil Mercedes Benz warna hitam menggilas aspal jalan raya yang mulai berputar mengikuti arah setiran pengemudinya. Mobil yang dikendarai oleh Agni dan para bodyguardnya terjebak macet. Suara bising dari bunyi klakson beberapa kendaraan yang ditekan oleh para pengemudinya mengudara.


Kemacetan di jalan raya telah memacu emosi para pengguna jalan raya sehingga membunyikan klakson. Antrian kendaraan berada di wilayah ini membuat kemacetan yang panjang. Ada sesuatu yang membuat jalan raya macet. Agni melewati sebuah mobil yang rusak di pinggir jalan. Mobil yang menjadi penyebab kemacetan lalu lintas. Sekilas dia melirik mobil itu. Agni kembali menoleh ke depan, lalu memikirkan sesuatu.


Sepertinya aku pernah lihat mobil itu, tapi di mana ya?


Batin Agni.


Setelah menelusuri jalan raya yang penuh dengan kendaraan, mobil yang ditumpangi oleh Agni berhenti di lahan parkiran mobil depan kantor polisi. Agni membuka seat belt setelah supir mematikan mesin mobil. Membuka pintu mobil setelah supir membuka kunci pintu mobil. Membuka pintu mobil, lalu turun dari mobilnya. Berjalan menuju ke dalam kantor polisi. Langkah kakinya diikuti oleh langkah kaki para bodyguardnya. Menyusuri tempat parkiran yang lumayan penuh diisi oleh beberapa kendaraan roda empat.


Tujuan Agni ke kantor polisi untuk menemui Hendra. Dia ingin berbicara dengan Hendra mengenai alasan Hendra membunuh ayah, eyang, dia dan saudara-saudaranya. Agni dan para bodyguardnya berjalan ke pos penjaga yang berada di depan pintu masuk untuk menulis tentang identitas diri dan tujuan datang di daftar buku tamu. Agni menghampiri dua orang polisi yang berada di dalam pos. Kedua polisi itu tersenyum ramah ke Agni dan Agni membalas senyuman itu.


"Selamat pagi Nyonya, ada yang bisa dibantu?" tanya salah satu polisi dengan nada suara yang ramah setelah Agni menulis buku tamu.


"Selamat pagi, di mana saya bisa bertemu dengan Paman saya yang bernama Hendra Kurniawan? Beberapa hari yang lalu dia ditangkap dan langsung dibawa ke sini."


"Coba anda tanyakan ke bagian informasi," ujar polisi itu dengan sopan.


"Ok, terima kasih ya Pak," ucap Agni dengan sopan.


Tak lama kemudian, Agni melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam kantor polisi dan menghampiri kedua polisi wanita yang berada di bagian informasi. Harus menunggu dua antrian untuk menanyakan keberadaan Hendra di dalam kantor polisi ini. Agni mengedarkan pandangannya ke sekeliling lobby kantor polisi. Pandangannya menangkap sosok wanita yang bernama Sabrina, dia adalah sepupunya Agni dan anaknya Sri dengan Hendra.


"Nyonya, silakan maju," ucap salah satu polisi wanita yang ramah dan mengalihkan pandangan Agni. "Ada yang bisa dibantu," ucap polisi itu lagi setelah Agni maju ke depan.


"Saya ingin bertemu dengan Paman saya, namanya Hendra Kurniawan."


"Baiklah. Mohon diisi buku daftar tamunya dan tolong berikan kartu tanda pengenal anda," ucap polisi wanita itu sambil menyodorkan buku berukuran besar dan sebuah pulpen.


"Ok," ucap Agni.


Tak berselang lama, Agni menulis nama, alamat rumahnya, nomor handphonenya dan tujuan kedatangan dirinya ke kantor polisi itu di atas salah satu kertas buku itu. Lalu dia merogoh tasnya, mengambil dompetnya dan kartu tanda pengenal dirinya. Agni memberikan kartu tanda pengenal itu ke polisi wanita itu dan dia mengambil kartu pengunjung yang disodorkan oleh polisi wanita itu.


"Terima kasih," kata polisi wanita itu sambil menyimpan kartu tanda pengenal Agni ke dalam box kaca.


"Sama - sama," kata Agni sambil mengalungkan tali kartu itu.

__ADS_1


"Nanti setelah selesai berkunjung, tolong kartu pengunjungnya dibawa kesini lagi supaya bisa ditukar dengan kartu tanda pengenal anda."


"Ok."


"Mohon tunggu sebentar, nanti ada yang akan mengantarkan anda untuk bertemu dengan Paman anda, silakan duduk."


Agni berjalan ke tengah ruangan, lalu duduk di salah satu kursi yang kosong di lobby kantor polisi itu. Agni mengedarkan pandangannya lagi ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok Sabrina. Agni terkesiap karena tak sengaja dia melihat sosok Ryan, anaknya Marina yang suka ngebully dia masuk ke dalam kantor polisi bersama Sabrina.


Kau adalah darah ku


Kau adalah jantung ku


Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku


Oh sayangku kau begitu


Sempurna, sempurna


Kau genggam tangan ku, saat diri ku lemah dan terjatuh


Kau bisikkan kata, dan hapus semua sesal ku


Smartphone Agni berdering. Membuka reselting tas jinjingnya. Merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Setelah mendapatkan smartphonenya, dia melihat tulisan Mas Hardi tertera di layar smartphonenya. Kemudian dia menggeser ikon warna hijau untuk menerima panggilan telepon itu. Dia mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo Mas, ada apa?" tanya Agni sambil beranjak berdiri.


"Aku udah sampai di kantor polisi, kamu sekarang di mana?" ujar Agni sambil berjalan cepat ke lorong yang sepi.


"Aku masih di kantor klienku. Kamu nggak usah nungguin aku karena di sini aku masih lama. Nanti kita ketemu di mansion Mbah aja."


"Ok."


"Baiklah. Udah dulu ya. Bye Agni."


"Bye Mas."


Tut ... tut ... tut ...


Tiba-tiba panggilan telepon itu terputus. Agni menjauhkan benda pipih itu dari daun telinga kirinya. Disimpan lagi smartphonenya di dalam tas, lalu menutup reselting tas jinjingnya. Agni membalikkan badannya untuk kembali ke lobby kantor polisi sambil mengedarkan pandangannya untuk melihat keadaan sekitarnya supaya dia tidak bertatap muka sama Ryan. Ada seseorang yang menepuk bahu kirinya Agni. Agni menoleh, lalu terkesiap melihat Ryan sehingga dia sedikit gemetaran.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Ryan sinis.


"Itu bukan urusan kamu karena kamu bukan siapa-siapa saya," jawab Agni ketus.


"Belum puaskah kamu memenjarakan ibuku dengan beberapa bukti palsu sampai kamu datang ke sini untuk memaki-makinya?" ucap Ryan marah yang membuat Agni kesal.

__ADS_1


"Aku tak akan melaporkan ke pihak berwajib jika aku tidak mempunyai bukti-bukti yang akurat!"


"Bullshit!!" ujar Ryan sambil mendorong kedua bahu Agni dengan keras dan kasar sehingga Agni terjatuh duduk tak berdaya.


"Aauuww!!" pekik Agni kesakitan.


Tiba-tiba keluar darah segar dari ************ Agni. Ryan terkejut melihat darah segar mengalir di kakinya Agni. Ryan langsung dicegat ketika hendak kabur oleh dua orang pengawal Agni. Yang satunya mengangkat tubuh Agni, lalu menggendongnya ala bride style. Sedangkan Agni memegang perutnya karena menahan sakit di bagian perutnya. Kedua orang pengawal Agni membawa Ryan ke ruang pelaporan. Agni dibawa ke rumah sakit.


Mereka menyusuri lorong di kantor polisi. Sebagian besar orang yang berada di dalam kantor polisi melihat Agni yang sedang digendong oleh salah satu bodyguardnya. Tapi Agni masa bodo dengan tatapan mata dari orang-orang yang sedang melihatnya. Berjalan keluar dari kantor polisi melewati pintu utama kantor polisi. Melewati pos penjagaan kantor polisi itu. Menelusuri tempat parkiran mobil. Supir mobil yang sedang merokok, langsung mematikan rokoknya.


Membuka pintu mobil bagian penumpang belakang. Agni direbahkan di atas jok mobil itu. Supir menutup pintu mobil itu sambil melihat darah segar di kedua kakinya Agni. Bodyguard yang tadi membawa Agni membuka pintu penumpang bagian depan, lalu masuk ke dalam mobil. Supir berlari kecil ke tempat pengemudi. Membuka pintu pengemudi mobil, lalu masuk ke dalam. Menutup pintu mobil. Mengunci semua pintu pintu mobil. Menghidupkan mesin mobil.


"Mau dibawa ke rumah sakit mana?" tanya supir itu sambil menarik rem tangan.


"Yang terdekat aja," jawab bodyguard yang tadi menggendong Agni.


Kau adalah darah ku


Kau adalah jantung ku


Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku


Oh sayangku kau begitu


Sempurna, sempurna


Kau genggam tangan ku, saat diri ku lemah dan terjatuh


Kau bisikkan kata, dan hapus semua sesal ku


Bunyi dering dari smartphone milik Agni. Dengan susah payah Agni membuka reselting tas selempangnya. Merogoh isi tasnya untuk mencari smartphone miliknya. Mengambil smartphone itu. Mengerutkan keningnya ketika melihat nomor asing yang tertera di layar smartphonenya. Mau tak mau Agni menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya.


"Hallo, ini dengan siapa ya?" tanya Agni bingung.


"Ini Mbah, kamu masih di kantor polisi."


"Eee, lagi ke rumah sakit, Mbah," ucap Agni lemas sambil menahan sakit di bagian perutnya.


"Memangnya ada apa?" tanya Barata panik.


"Ada darah di kedua kakiku."


"Kamu terjatuh atau ada yang mencelakakan dirimu?" ucap Barata panik.


"Aku di dorong oleh Ryan."

__ADS_1


"Di mana kejadiannya?"


"Di kantor polisi."


__ADS_2