
Langit biru sangat cerah dengan arak - arakan awan tipis pada siang hari ini. Cahaya matahari terang benderang yang menyilaukan bumi dan isinya. Teriknya sinar matahari menembus lembut masuk ke dalam kamar utama di kapal pesiar milik Cipto melalui kaca jendela sehingga pencahayaan di kamar menjadi terang. Silaunya sinar matahari telah mengusik tidur lelapnya Agni.
Posisi tidurnya Agni meringkuk menghadap Edward yang sedang memeluk tubuhnya dengan erat di bawah selimut tebal. Dengan pelan - pelan kedua kelopak netra milik Agni mulai terbuka kemudian mengerjapkan kedua kelopak matanya beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya terang di dalam kamar itu
Tok ... tok ... tok ...
"Tuan dan Nyonya, makanannya sudah siap dari tadi," ucap seseorang dengan volume yang sangat keras.
Terdengar suara manusia dengan volume keras dan bunyi ketukan pintu kamar yang berisik. Dengan penglihatan yang belum sempurna, Agni menggosokkan kasar daun telinga sebelah kirinya untuk mengurangi suara yang ditangkap oleh gendang telinganya. Agni merasakan sesuatu yang menindihi pinggang dan kedua kakinya. Dia mengucek - ngucek kedua kelopak matanya yang masih mengantuk supaya dapat melihat dengan sempurna. Dia melihat wajahnya Edward berada di hadapannya.
Tok ... tok ... tok ...
"Tuan, Nyonya, makan siangnya sudah siap dari tadi di meja makan," ucap orang itu dengan volume suara yang keras.
"Iya, nanti kami ke sana," ucap Agni sambil menatap intens wajah tampan suaminya.
"Baik Nyonya," ucap orang itu.
Sekujur tubuhnya Agni terasa pegal - pegal karena habis berhubungan suami istri di atas ranjang dari semalam sampai besok paginya. Edward ketagihan dengan tubuhnya Agni sehingga setelah sarapan mereka melakukannya lagi sebanyak dua ronde, bahkan semalam mereka bergumul di atas tempat tidur sampai jam dua malam. Agni menggeser tangan dan kakinya Edward.
Agni merenggangkan otot - otot tubuhnya yang tegang untuk menghilangkan rasa pegal di seluruh badannya. Saat Agni menguletkan tubuhnya, dia merasakan sakit dan perih di area inti tubuhnya. Dia menggantikan posisi badannya dari posisi tidur meringkuk ke posisi duduk menyandarkan punggungnya di headboard.
"Ooaahhmm," Agni menguap sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Tak lama kemudian Agni mengedarkan pandangannya. Dia melihat pemandangan laut biru dengan lukisan langit biru yang cerah, sebuah perpaduan yang sempurna. Dia menoleh ke sebuah pintu kamar mandi yang terbuka sedikit. Kemudian mengalihkan pandangan ke wajah suaminya. Orang yang sangat dia cintai dan yang sangat dia sayangi. Agni sangat bahagia bisa menikah dengan Edward.
Menelisik wajah suaminya yang memiliki bulu alis yang tebal, rahang muka yang tegas, hidung mancung, bibir yang tipis dan tatapan mata yang tajam. Agni membelai rambut suaminya yang berwarna cokelat tua. Jemari tangan kanannya menelusuri setiap lekuk wajahnya Edward. Membelai bibir suaminya. Tiba - tiba Edward mencaplok jari telunjuk tangan kanannya Agni.
"Ahhh ... Mas bikin kaget aja," ucap Agni manja sambil melepaskan jari telunjuknya dari mulutnya Edward.
"Sudah puas memperhatikan wajah gantengku?" ucap Edward narsis sambil menengok ke Agni.
"Makan siang sudah siap dari tadi," ucap Agni sambil mengalihkan pandangannya. "Aauuww!" pekik Agni yang merasakan sakit sekali di area inti tubuhnya ketika dia hendak berdiri.
"Masih sakit sayang?" tanya Edward khawatir sambil memberingsutkan tubuhnya.
"Malah tambah sakit Mas," ucap Agni sambil menahan rasa sakit di area inti tubuhnya.
Sedetik kemudian Edward menyingkap selimut sehingga memperlihatkan tubuh telanjang mereka. Edward tergiur lagi melihat tubuhnya Agni yang telanjang bulat sehingga membuat hawa nafsunya bergelora kembali. Sedangkan Jane masih meringis kesakitan di area sensitifnya. Karena khawatir akan kesehatan Agni, Edward melebarkan kedua kakinya Agni. Edward menelan salivanya ketika melihat gua milik Agni. Gua itu sedikit bengkak dan memerah.
"Coba kamu berendam air hangat," ucap Edward sambil menyentuh bibir gua.
__ADS_1
Sedetik kemudian Edward berdiri dari tempat tidur. Melangkahkan kakinya menuju kamar mandi tanpa mengenakan sehelai benang apa pun. Masuk ke dalam kamar mandi melalui pintu yang sudah terbuka. Samar - samar terdengar suara kucuran air yang keluar dari keran.
Kringgg ... kringgg ...
Bunyi dering interkom di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Agni bersusah payah meraih gagang telepon itu karena merasakan rasa sakit yang luar biasa di area inti tubuhnya. Setiap bergerak walaupun bergerak sedikit dia selalu meringis kesakitan. Akhirnya dia mampu meraih gagang telepon itu. Mendekatkan gagang telepon itu ke telinga kirinya.
"Hallo," sapa Agni sopan.
"Hallo sayangnya Tante, bagaimana kabarmu Nak?" ucap Sri ceria.
"Alhamdulillah baik Tante."
"Bagaimana belah durennya?"
"Ihhh, Tante, masih pagi udah mesum aja."
"Neng yang cantik, sekarang udah siang sayang. Wah ... jangan - jangan kamu baru bangun tidur ya?" ledek Sri.
"Oh my God, aku nggak ngeh kalau sekarang udah siang. Iya aku baru bangun tidur Tante," ucap Agni.
"Emangnya kalian habis berapa ronde?"
"Maksud Tante apa ya?" tanya Agni bingung dan polos.
"Ooo ... dalam semalam sampai tadi pagi."
"Ajib banget kalian berdua, maklum dah masih pengantin baru. Badan kamu pegal nggak?"
"Iya Tante, bahkan area **** * ku sakit dan perih sampai sedikit bengkak dan memerah," ucap Agni polos.
"What!?? Nafsu sekali rupanya si Edward. Dia melakukan itu lembut atau kasar sayang?"
"Maksud Tante apa ya?" tanya Agni polos sambil melihat Edward keluar dari dalam kamar mandi tanpa mengenakan pakaian.
"Waktu kalian bercinta dia memperlakukan kamu lembut atau kasar?" ucap Sri ketika Edward naik ke atas tempat tidur lalu mendekati wajahnya ke lehernya Agni.
"Ehm ... lembut Tante," ucap Agni sambil merasakan hembusan nafas yang memburu di leher jenjangnya.
"Apakah dia menciumi sekujur tubuhmu Nak?"
"Iya Tante, bahkan sampai ujung jariku juga dia cium, ah ...," ucap Agni sambil merasakan ******* di lehernya.
__ADS_1
"Kalian berdua lagi pemanasan ya?" tanya Sri setelah mendengar ******* Agni.
"Masnya lagi bikin kissmark lagi di leher," ucap Agni polos yang membuat Edward menghentikan perbuatannya.
"Hahaha, polosnya sayangku. Ya udah kalian lanjuti lagi ya, maaf Tante udah ganggu kalian. See you again, mmmuuuaaahhh."
"Mmmuuuaaahhh."
Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. Agni menaruh gagang telepon itu ke tempat semula. Edward menggeserkan tubuhnya ke tepian ranjang. Turun dari tempat tidur. Berjalan ke sebelah kanan tempat tidur. Membungkukkan badannya untuk mengambil tubuhnya Agni. Saat membungkuk untuk mengambil tubuhnya Agni, tak sengaja James melihat bercak darah di seprai ranjang. James tersenyum tipis melihat itu karena dia bangga menjadi pria yang memiliki mahkota kehormatan Agni.
Edward menggendong Agni ala bride style. Agni mengalungkan kedua tangannya di leher kekar milik Edward. Kedua manik biru milik Edward bertemu dengan kedua manik hitam milik Agni saling bertemu dan saling mengunci. Mengecup kening Agni sebentar. Lalu Edward melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Edward berjalan melewati pintu kamar mandi yang sudah terbuka. Menurunkan Jane di depan wastafel. Agni memutarkan badannya menghadap kaca wastafel.
"Mas ih, parah banget. Masa kamu bikin tubuhku belang - belang gini?" ucap Agni terkejut melihat banyak sekali kissmark di sekujur tubuh idealnya.
"Itu menandakan bahwa kamu adalah milikku sepenuhnya sayang," bisik Edward sambil mengambil botol sabun cair.
"Emangnya harus seperti ini?" ucap Agni bingung ketika Edward menaruh botol sabun itu di pinggir bathtub.
"Iya, karena itu keinginan diriku dan aku adalah suamimu," ucap Edward, lalu dia menggendong Agni lagi.
"Aahhh, kamu bikin kaget aja," ucap Agni kaget sambil mengalungkan kedua tangannya di leher kokohnya Edward.
"Kita mandi berdua ya," ucap Edward sambil menurunkan tubuhnya Agni di dalam bathtub sehingga tubuhnya Agni kerendam di dalam air hangat.
Sedetik kemudian Edward masuk ke dalam bathtub. Menduduki tubuhnya di belakang Agni. Merasakan kehangatan di antara mereka berdua. Membasuh punggungnya Agni, kedua tangannya dan dadanya. Tak sengaja Edward menyentuh buah dadanya Agni sehingga membuat gejolak cinta dan nafsunya membuncah. Tidak hanya itu saja, dede kecilnya juga terbangun. Memegang kedua buah itu, lalu memerasnya dengan lembut.
"Aahh ... Mas, nanti aja lagi, tadi pagi kan kita sudah melakukan hubungan intim di dalam kamar mandi, masa sekarang lagi, aku mau mandi benaran," ucap Agni sambil menahan desiran lembut bergejolak lagi di relung hatinya.
"Sayang aku mau lagi, setelah itu kita baru mandi. Mau ya Sayang?" bisik Edward dengan nada suara yang menggoda.
"Iya, aku juga mau lagi."
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Terima kasih sudah membaca novelku ini 😁
Dikasih bintang lima ya 😁.
Dilike ya guys 😁.
Divote ya guys 😁.
__ADS_1
Dikomen ya guys 😁.
Happy reading 🤗.