Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Secepatnya Bercerai Dengan Mas Hardi


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading πŸ€—


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Secara perlahan kelopak matanya Agni mulai terbuka karena kehilangan daya rekat yang sempat mengunci dengan kuat. Lily mengerjakan matanya agar bisa menyesuaikan bias sinar lampu yang menyeruak masuk menembus kornea matanya. Agni pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Terkejut melihat kamar yang bernuansa putih ketika kedua kelopak matanya terbuka setelah terkatup dalam waktu yang dia sendiri tidak tahu sudah berapa lama.


Kepalanya pusing dan nafasnya kembali memburu ketika teringat kejadian yang menimpanya. Agni memijat keningnya supaya rasa pusingnya hilang. Pintu ruangan itu terbuka. Menampilkan sosok Edward sambil membawa paper bag yang berisi pakaian. Edward berjalan menghampiri Agni yang sedang berada di atas ranjang king size. Edward mempercepat langkah kakinya ketika melihat Agni sedang memijat keningnya. Edward menduduki tubuhnya di samping kirinya Agni setelah menaruh paper bag di atas nakas.


"Kamu kenapa?" tanya Edward khawatir sambil mengelus puncak kepalanya Agni.


"Mas, aku takut ...," lirih Agni, lalu Agni menduduki tubuhnya dan memeluk Edward. "Aku takut Mas ...."


"Tenang ya, kamu sudah aman sekarang," ucap Edward sambil memeluk dan mengusap lembut punggungnya Lily.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?"


Agni melepaskan dirinya dari pelukan Edward. Tangannya masih memperlihatkan tremor yang cukup kuat. Melihat hal itu, Edward langsung menggenggam telapak tangan Agni. Tangan kanannya Edward langsung menekan tombol darurat berulang kali untuk memanggil perawat maupun dokter.


"Kamu tidak perlu mengingat kejadian itu. Sekarang kamu tenangkan saja dirimu. Di sini kamu aman karena ada Aku," ucap Edward dengan nada suara yang lembut sambil mengelus lembut punggung tangan Agni.


Ceklek


Pintu kamar rawat inap Agni terbuka. Tak lama kemudian suara derap langkah memasuki ruang rawat inap Agni. Seorang dokter dan seorang perawat datang menghampiri tempat tidur Agni. Perawat itu memasangkan tensimeter di tangan kanannya Agni dan memeriksa tekanan darahnya Agni dengan menggunakan tensimeter.


"Bagaimana kabar kamu? Baik - baik aja kan?" tanya dokter itu dengan ramah sambil memasangkan stetoskop ke telinganya.


"Kabar aku baik Dok, cuma tangan saya gemetaran dan saya masih takut dan pusing, Dok, " jawab Agni sambil membukakan beberapa kancing piyamanya.

__ADS_1


"Hebat kamu! Bisa melampaui masa pingsan kamu," ucap dokter sambil memeriksa kesehatan Agnu. "Saya akan meresepkan obatnya," lanjutnya sambil melepaskan stetoskop dari kedua telinganya.


"Dokter bagaimana keadaan Agni?"


"Dia sudah membaik Pak."


"Bagaimana hasil CT Scan dan visum dia Dok?"


"Hasil CT Scan Nona Lily normal semua, Bu. Keadaan fisiknya tidak perlu dikhawatirkan, Bu. Menurut hasil visum ya, Nyonya Agni mengalami kekerasan, banyak luka lebam di sekujur tubuh Nyonya Agni. Kita masih pantau keadaan Nyonya Agnu selama delapan jam kedepan, ya Pak. Kalau tidak ada masalah nanti malam pasien sudah boleh pulang."


"Baik Pak dokter."


"Kami permisi dulu, jika perlu bantuan bisa panggil kami," pamit pak dokter.


Kemudian dokter dan perawat itu keluar dari kamar rawat inap. Ketika berada di depan kamar, perawat itu menutup pintu kamar. Agni merebahkan tubuhnya di atas branka. Edward beranjak berdiri, lalu mengambil paper bag itu. Berjalan menghampiri sebuah lemari kaca. Membuka salah satu pintu lemari itu. Membuka paper bag, lalu membuka beberapa pakaian baru untuk Agni.


"Pakaian siapa Mas?" tanya Agni yang sedari tadi memperhatikan gerak - geriknya Hardi Edward.


"Pakaian baru untukmu," ucap Edward sambil memasuki beberapa pakaian ke dalam lemari.


"Your welcome."


Tok... tok... tok...


"Iya, masuk aja," teriak Edward.


Ceklek


Pintu kamar rawat inap Agni terbuka lagi. Bernard dan Edgar masuk ke dalam dan menghampiri mereka. Edgar dan Bernard berjabat tangan dengan Edward dan Agni secara bergantian.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Bernard sambil menggenggam telapak tangannya Agni.


"Aku sudah baikan, Om. Om Bernard dan Om Edgar terima kasih ya karena sudah mau menjengukku," ucap Agnu sambil menatap Bernard dan Edgar secara bergantian.

__ADS_1


"Your welcome," ucap Bernard.


"Ada apa dengan Agni sampai dia dirawat di rumah sakit?" tanya Edgar ketika berada di hadapan Agni.


"Dad, Agni mengalami kekerasan dalam rumah tangga," jawab Edward.


"Wah, kurang ajar sekali di Hardi! Harus dilaporkan ke pihak berwajib!" ucap Bernard kesal.


"Aku tidak mau melaporkan itu ke pihak berwajib Om," ujar Agni pelan.


"Kenapa?" tanya Bernard heran.


"Aku nggak enak sama keluarga besar almarhum Mbah, Om."


"Terus tindakan kamu selanjutnya apa?"


"Aku sudah menggugat cerai, Om."


"Bagus."


"Sebaiknya kamu dan Edward menikah lagi," ujar Edgar tiba - tiba.


"Yup, benar sekali, aku setuju denganmu Edgar."


"Aku belum siap menikah lagi Om, walaupun aku dan Mas Hardi sudah resmi bercerai."


"Kenapa? Edward kan bisa menjaga kamu dan dia masih mencintaimu," ucap Bernard.


"Aku masih trauma Om."


"Kamu sudah memberi tahu soal ini ke Tante Sri?"


"Belum Om, tapi nanti aku kasih tahu soal ini ke Tante Sri."

__ADS_1


"Apakah keinginan kamu sekarang?"


"Aku ingin secepatnya bercerai dengan Mas Hardi."


__ADS_2