Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Edward Masih Hidup


__ADS_3

Sang surya memancarkan cahayanya yang syahdu menerangi kota Oxford beserta para penghuninya. Sinarnya menembus kaca jendela kedai teh yang sedang dikunjungi oleh Agni. Sore hari ini Agni sedang melakukan kebiasaan sebagian orang Inggris yang menikmati teh dan snack di sore hari. Di dalam sebuah bangunan yang bergaya klasik, Agni memakan sebuah sandwich salt beef yang dicampur dengan melted cheese, dill pickles, rocket, mustard dan saus tomat. Setelah menghabiskan makanannya, Agni menaruh garpu dan pisau kue di atas piring.


Mengambil tisu yang sudah disediakan untuk membersihkan area bibirnya. Mengambil secangkir teh Chamomile yang berada di samping kanan piring, lalu menyesapnya secara perlahan. Menaruh cangkir teh itu setelah dia menghabiskan teh di tempat semula. Agni mengalihkan pandangannya ke pemandangan yang berada di luar tea house itu. Melihat deretan bangunan yang bergaya kolonial klasik dan tertata rapih.


Janganlah kau tinggalkan diri ku


Tak 'kan mampu menghadapi semua


Hanya bersama mu ku akan bisa


Kau adalah darah ku


Kau adalah jantung ku


Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku


Oh sayangku kau begitu


Sempurna, sempurna


Terdengar bunyi nyaring dari smartphone milik Agni yang berada di dalam tas ranselnya yang menandakan adanya panggilan telepon. Agni membuka reselting tas ranselnya yang berada di sebelah kirinya. Mengambil smartphone miliknya yang dia taruh di kantung dalam tas ranselnya. Mengerutkan keningnya ketika melihat tulisan mertuaku di layar smartphonenya karena dia bingung. Menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu, lalu mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya.


"Hallo assalamu'alaikum Bu, ada apa ya?"


"Nak Agni ternyata Edward masih hidup. Feeling kamu benar Nak. Maafkan Ibu ya yang sempat tidak percaya dengan feelingmu."


"Benar Bu??" ucap Agni terkejut sampai dia melebarkan kedua matanya.


"Iya Sayang, barusan dia telepon ke Ibu. Besok jam sembilan dia ke rumah Ibu."


"Dia di mana sekarang, Bu?" ucap Agni bahagia karena pujaan hatinya masih hidup.


"Di rumah Dokter Shafira. Dokter itu yang telah menolong Edward. Apakah nanti kamu ingin bicara sama dia?"


"Ehmmm ... sebenarnya aku ingin ngobrol sama dia Bu, tapi suamiku melarangnya."


"Ya udah kalau gitu, sebaiknya kamu mengikuti ucapan suamimu," ucap Wardani lembut.


"Apakah dia menanyakan diriku, Bu?"


"Iya Sayang, tapi sebaiknya kamu jaga pernikahan kamu dengan Hardi dan jangan memikirkan tentang Edward lagi. Sayang, udah dulu ya, Ibu mau melanjutkan tidur lagi. See you, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. Agni menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinga kirinya. Menaruhnya di atas meja. Gundah gulana menyelimuti hatinya karena dia ingin sekali bicara maupun bertemu dengan Edward, tapi di lain sisi dia harus menepati janjinya sebagai seorang istri ke suaminya dan dia harus mempertahankan kehormatan sebuah pernikahan. Mau tak mau dia memilih untuk menepati janjinya sebagai seorang istri.


"Hallo sayang," sapa Hardi yang sedang berdiri di samping kirinya Agni, lalu Hardi mencium pipi kirinya Agni.


"Lama banget persentasinya," gerutu Agni ketika Hardi menduduki tubuhnya di kursi sebelah kiri Agni.


"Tadi ada sedikit perdebatan. Kamu mau pesan teh atau kue lagi sayang?"


"Nggak, aku kenyang."

__ADS_1


"Bagaimana kuliah semester pendeknya?"


"Alhamdulillah berjalan lancar. Kamu nggak pesan minuman atau makanan?"


"Nggak, aku masih kenyang. Kita pulang yuk!"


"Kok nggak jadi ke perpustakaan?"


"Nggak ah."


"Memangnya kenapa nggak jadi ke sana?"


"Aku ingin makan kamu," ucap Hardi sensual.


"Ih kamu Mas, masih siang udah mesum."


"Ayo kita pulang!" ajak Hardi nggak sabaran sambil beranjak berdiri dari kursinya.


Agni langsung menuruti permintaan Hardi. Berdiri dari tempat duduknya. Hardi mengulurkan tangan kanannya ke Agni. Agni menerima uluran tangan kanannya Hardi. Hardi menggenggam erat telapak tangan kirinya Agni. Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar kedai teh itu sambil bergandengan tangan. Agni berusaha menutupi kegelisahan dirinya saat ini. Dia tidak mau mengecewakan Hardi.


"Thank you," ucap Agni ramah ketika mereka berjalan melewati pintu kedai teh itu yang sudah dibukain oleh salah satu pegawai kedai itu.


"You're welcome," ucap pegawai itu dengan sopan.


"Kamu parkir mobil di mana?" ucap Agni sambil berjalan beriringan dengan Hardi di trotoar.


"Di ujung jalan ini," ucap Hardi senang. "Besok kita ke London."


"Refreshing."


"Dua Minggu yang lalu kan kita udah refreshing Mas. Jangan terlalu menghamburkan uang Mas."


"Selain refreshing, kita akan bekerja."


"Kerja di mana Mas?" ucap Agni bingung.


"Bekerja di perusahaan pencetak anak milik kita."


"Memangnya Mas benaran mau punya anak?"


"Iyalah."


"Tapi Mas, aku kan masih kuliah. Bagaimana kalau kita punya anaknya setelah aku lulus kuliah?"


Tiba-tiba Hardi menghentikan langkahnya, lalu wajahnya menoleh ke Agni dan berkata dengan serius, "Aku ingin segera punya anak."


Waduh gimana nich? Sedangkan aku masih ingin fokus kuliah.


"Kamu tenang aja, aku pasti membantu kamu untuk tetap kuliah ketika kita sudah memiliki anak dan pasti ada yang bantu kita untuk mengurus anak kita."


"Aku tak ingin menitipkan anak ke orang lain Mas. Lagipula seingatku, kita telah menyetujui tentang penundaan kehamilanku sampai aku lulus kuliah Mas," ucap Agni yang ingin mempertahankan prinsipnya.


"Agni, sekarang-sekarang ini kan Mbah sering sakit, dia ingin sekali kita memiliki seorang anak."

__ADS_1


"Mbah sering sakit? Kok kamu nggak kasih tahu aku? Terus kenapa Mbah nggak pernah kasih tahu ke aku tentang hal itu?"


"Aku tidak mau kamu terganggu sama berita seperti itu."


"Nggak mungkin lah aku terganggu dengan hal seperti itu! Kamu gimana sich Mas, hal penting seperti itu tidak kamu katakan?! Sekarang gimana kabarnya Mbah?" ucap Agni kesal.


"Sudah lebih baik dari kemarin. Kamu mau kan kita segera punya anak?"


"Ehm ... baiklah."


Sedetik kemudian Hardi menarik tangan kirinya Agni, lalu membimbing Agni untuk berlari kecil menuju mobilnya. Hardi mengambil kunci matic mobilnya dari saku celana jinsnya, lalu membuka kunci semua pintu mobilnya ketika mereka berada di samping mobil. Membuka pintu mobil bagian penumpang belakang. Agni mengerutkan keningnya sambil menatap bingung ke Hardi.


"Masuk aja dulu," ucap Hardi lembut.


Agni melepaskan genggaman tangan kanannya Hardi. Berjalan pelan masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian Hardi menyusul masuk ke dalam mobil. Menutup pintu mobil itu. Hardi langsung menarik tengkuk lehernya Agni, lalu mencium bibirnya Agni dengan lembut. Mau tak mau Agni membalas ciuman itu. Ciuman mereka memanas. Tangan kanannya Hardi bergerilya bebas di bagian dada Agni.


Kringgg ... kringgg ... kringgg ...


Bunyi dering dari smartphone milik Hardi yang telah menganggu kegiatan panas mereka. Agni menghentikan pergerakan bibirnya setelah mendengar jelas bunyi dering dari smartphone milik Hardi. Dengan terpaksa Hardi menghentikan gerakan bibirnya, lalu melepaskan bibirnya. Mengambil smartphone miliknya dari saku celananya. Melihat tulisan Mbah di layar smartphonenya. Menyentuh ikon hijau untuk menerima panggilan telepon itu.


"Tunggu sebentar," ucap Hardi lembut sambil mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. "Hallo Mbah."


"Assalamu'alaikum, kamu lagi ngapain?"


"Lagi mau buat cicit buat Mbah. Bagaimana hasil labnya?"


"Alhamdulillah sudah bagus. Kapan kamu pulang ke Indonesia?"


"Ehm ... belum ada rencana untuk pulang ke Indonesia. Memangnya ada apa Mbah?"


"Mbah ingin bicara serius sama kamu. Mbah pengen kamu secepatnya mengambil ahli perusahaan induk Mbah."


"Baiklah Mbah, liburan semester depan aku balik ke Indo."


"Kalau bisa sekalian ajak Agni."


"Iya, nanti aku ajak Agni."


"Boleh Mbah bicara sebentar sama Agni?"


"Tentu boleh dong Mbah, tunggu sebentar," ucap Hardi, lalu dia menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. "Mbah ingin ngomong sama kamu," ucap Hardi sambil menyodorkan smartphone miliknya ke Agni.


Agni menerima smartphone itu, lalu mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya dan berucap, "Assalamu'alaikum, bagaimana kabarnya Mbah?"


"Wa'alaikumussalam, Alhamdulillah baik Nak. Bagaimana kuliah semester pendek kamu Nak?"


"Alhamdulillah lancar Mbah, aku dengar Mbah sakit, sakit apa?"


"Biasa, penyakit orang tua. Nak Agni tahu Mbah sakit dari siapa?"


"Dari Mas Hardi. Mbah harus semangat ya untuk berjuang melawan penyakit Mbah."


"Iya Nak. Nak Agni, tolong jaga pernikahan kalian ya walaupun Mbah sudah meninggal dan Edward masih hidup."

__ADS_1


__ADS_2