
Benda kenyal milik Hendra masih terus menelusuri wajah dan leher jenjangnya Marina. Kedua tangan Hendra masih menjamah dua gundukan milik Rebecca yang sintal. Peluh yang bercucuran di sekujur tubuh mereka membasahi gairah mereka. Jiwa mereka sudah dikuasai oleh gairah hawa nafsu yang membuncah sehingga membuat mereka merasa sulit sekali untuk menolak kenikmatan tiada tara yang sesaat.
"Aakkhhh ...."
"Mmmppphhh ...."
"Faster Bee ... aaakkkhhh ...."
Menambahkan kecepatan hentakan demi hentakan penyatuan inti tubuh mereka yang menyalurkan birahi mereka hingga tubuh mereka bergetar hebat. Suara decitan tempat tidur yang besar di dalam kamar hotel menggema karena getaran dahsyat dari penyatuan inti dua orang yang sedang memuaskan nafsu mereka. Hendra mempercepat tempo gerakan pinggulnya di liang senggama milik Marina hingga mencapai puncak kenikmatan.
"Aaakkkhhh ...."
"Aaakkkhhh ...."
Erangan mendesah dengan sensual dari bibir mereka secara bersamaan telah menandakan pencapaian yang sangat nikmat dengan sesuatu yang hangat mengalir di sana. Tubuh Hendra yang masih kekar menindih tubuh biolanya Marina dengan menggunakan kedua tangannya yang menekuk sebagai penyanggah. Helaan nafas mereka terengah - engah saling bersahutan. Ketika mereka sedang mengatur nafas yang belum stabil, smartphone milik Hendra berbunyi.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
"Siapa sich yang nelpon? Bikin ganggu kesenangan orang aja," ujar Hendra sambil melepaskan penyatuan mereka.
Tak berselang lama Hendra mengambil blackberry miliknya yang berada di atas nakas sebelah kiri ranjang. Dia melihat nama Sri yang tertera di layar blackberry itu sambil menduduki tubuhnya di pinggir tempat tidur. Menyentuh ikon hijau untuk menerima panggilan itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo assalamu'alaikum, ada apa Mah?" ucap Hendra datar.
"Mas, pesawat yang ditumpangi sama Bapak, Mas Cipto, Agni, Adi, dan Aya dinyatakan hilang Mas. Urusan kantor sudah selesai kan Mas?" ucap Sri sendu.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun," ucap Hendra pura - pura kaget. "Belum Mah, besok masih ada meeting lagi Mah. Terus sudah lapor ke polisi belum?"
"Sudah Mas. Polisi sedang melacak keberadaan pesawat itu, kalau sudah ketemu keberadaannya, baru mengirim tim penyelidikan dan tim penyelamatan ke tempat kejadian perkara. Besok setelah meeting langsung pulang ya."
"Iya Mamah yang cantik."
Tak lama kemudian Sri menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya. Menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Barata beranjak berdiri dari sofa, lalu berjalan menghampiri Sri. Menepuk pelan bahu kanannya Sri untuk memberikan kekuatan. Barata melihat cucunya sedang berjalan terburu - buru menghampiri mereka.
"Assalamu'alaikum," salam Hardi sopan.
"Wa'alaikumussalam," ucap Sri sedih ketika Hardi menyalim tangan kanannya Barata.
"Apakah pesawat itu sudah ditemukan Tante?" tanya Hardi, lalu dia menyalim tangan kanannya Sri.
"Belum Nak, terima kasih ya sudah datang ke sini."
"Sama - sama Tante, boleh saya ke kamarnya Agni Tante?"
"Boleh Nak."
"Permisi Mbah, permisi Tante," ucap Hardi sopan.
__ADS_1
Tak lama kemudian Hardi berjalan cepat ke arah tangga yang melingkar melewati beberapa orang yang sedang mengobrol. Menaiki beberapa anak tangga dengan langkah kaki yang cepat. Melanjutkan langkahnya menyusuri koridor kamar sampai di ujung koridor. Hardi berdiri di depan pintu kamarnya Agni yang berada di dalam mansion milik Brijaya.
Hardi menekan handle pintu ke bawah. Mendorong pintu sehingga pintu kamar itu terbuka. Hardi masuk ke dalam, lalu menutup pintu kamar itu. Melanjutkan langkahnya menuju tempat tidur. Menduduki tubuhnya di tepian sebelah kanan tempat tidur. Menghembuskan nafasnya dengan kasar karena merasa lelah.
"Sebaiknya aku nelpon Vale, mumpung di sini nggak ada CCTV," ucap Hardi sambil mengambil smartphone miliknya di kantong dalam jasnya.
Hardi menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Valerie yang sedang marah sama dirinya. Mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya. Tak sengaja Hardi melihat gaun model vintage warna merah maroon sedang digantung sambil menunggu panggilan teleponnya diangkat oleh Valerie. Mengingatkan dirinya dengan hari pertunangan yang sudah dibatalkan.
Hardi menoleh ke kiri. Dia melihat sebuah buku harian yang dia hadiahkan untuk Agni. Beranjak berdiri sambil menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya karena panggilan telepon itu tidak diangkat sama Valerie. Menaruh smartphone miliknya ke dalam kantong jasnya sambil berjalan pelan menuju buku diary. Mengambil buku diary itu yang berada di atas nakas sebelah kanan tempat tidur, lalu membukanya.
"Hai my new book diary, hari ini aku senang sekali karena kamu adalah hadiah ulang tahunku yang ke enam belas tahun. Kamu adalah salah satu hadiah dari Mas Hardi dan hadiah yang terindah karena aku bisa menuangkan curahan hatiku yang paling rahasia di sini. Tadi Mas Hardi mencium bibirku setelah kita tiga bulan jadian. Itu adalah ciuman pertamaku. Aku sangat senang karena baru merasakan ciuman dengan pacarku. Sebuah pengalaman terindah yang tak bisa lupakan. Semakin ke sini, aku semakin mencintai Mas Hardi. Semoga dia adalah jodohku, Aamiin Ya Robbal Alamiin," gumam Hardi yang sedang membaca halaman pertama buku diary milik Agni. "Ternyata Agni benar - benar mencintaiku," lanjut Hardi sambil membuka halaman berikutnya secara acak.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Tiba - tiba smartphone milik Hardi berbunyi. Hardi menutup diary di tempat semula. Mengambil smartphone miliknya yang berada di dalam saku dalam jasnya. Menduduki lagi tubuhnya yang lelah. Hardi tersenyum senang ketika melihat sebuah tulisan my sweet heart di layar smartphonenya. Dengan senang hati Hardi menggeser ikon hijau di layar smartphonenya udah menjawab panggilan telepon itu.
"Hallo sayang kamu sudah sampai?" ucap Valerie lembut.
"Sudah sayang. Kamu masih di kamar hotel yang aku booking?"
"Masih dong, sayang kalau nggak digunakan. Sayang aku sangat menginginkan dirimu di sini," ucap Valerie sensual.
"Maaf Sayang, aku nggak bisa."
"Huh, sangat menyebalkan. Semoga Agni mati."
"Habisnya aku sebal banget, gara - gara dia menghilang, kita nggak bisa intens berduaan," ucap Valerie datar.
"Sabar ya Sayang, ini demi kebaikan masa depan kita."
"Iya Sayang. Besok aku mau pulang ke Jakarta naik pesawat yang paling bagus, tolong transfer uang untuk beli tiketnya," ucap Valerie dengan nada suara yang menggoda.
"Iya nanti aku transfer, mau ditransfer berapa?"
"Lima juta ya," ucap Valerie lembut.
"Ok. Udah dulu ya, see you tomorrow, I love you mmmuuuaaahhhh."
"Thanks my honey, I love you too mmmuuuaaahhhh."
"Bye my sweet heart."
"Bye my honey."
Tak lama kemudian Hardi menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinga kirinya. Menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menaruh smartphone miliknya di tempat semula. Menoleh ke buku diary itu lagi. Mengambilnya, lalu membuka lagi buku diary itu secara acak.
"Hello my diary, hari ini aku sebal karena wanita itu lagi. Ternyata wanita yang pernah ngebentakku adalah ibunya Ryan. Namanya Marina Koesnaedi. Pantesan kelakuannya sama, sama - sama menyebalkan. Bahkan sekarang - sekarang ini Ryan sangat menyebalkan. Masa sepatuku diumpetin, untung Valerie ngasih tahu aku. Dasar manusia tidak punya akhlak!" gumam Hardi yang sedang membaca salah satu isi buku diary milik Agni.
__ADS_1
"Sedang apa kamu di sini?" ucap Batara dingin sambil berdiri di ambang pintu kamar.
Hardi menoleh ke Mbahnya, lalu berkata asal, "Aku sedang mencari bukti untuk menemukan dalang dari kecelakaan pesawat yang ditumpangi oleh Agni dan keluarganya Mbah."
"Apakah kamu sudah menemukannya?" tanya Batara serius sambil berjalan menghampiri Hardi.
"Sudah Mbah," jawab Hardi ketika Batara menutup pintu kamar itu.
"Menurutmu siapa?" tanya Batara lebih serius lagi sambil menduduki tubuhnya di samping kanan Hardi.
"Tante Marina Koesnaedi," jawab Hardi asal.
"Mbah mau baca buku itu," ucap Batara sambil menoleh ke Hardi.
"Ini Mbah," ucap Hardi sopan sambil memberikan buku diary itu ke Mbahnya.
"Terima kasih," ucap Batara sambil menerima buku diary itu, lalu membukanya. "Ternyata buku ini hadiah darimu, ciyeee aku sudah menciumnya," ledek Batara sambil membaca salah satu isi buku diary itu.
"Sudahlah Mbah, baca yang yang serius," ucap Hardi datar ketika Batara membuka halaman berikutnya.
"Bisa jadi anaknya Tante Marina yang bernama Ryan," ucap Batara setelah membaca salah satu isi buku diary itu.
"Tolong dibaca sampai selesai Mbah, di situ Agni menceritakan sikap buruk Tante Marina terhadap dirinya."
Tak lama kemudian Batara membuka halaman berikutnya. Batara membuka satu persatu halaman buku diary itu waktu yang lumayan singkat. Tiba - tiba Batara tertawa kecil ketika membaca salah satu isi buku diary itu. Hardi mengerutkan keningnya karena bingung melihat Mbahnya tertawa setelah sekian beberapa tahun dia tidak pernah melihat Mbahnya tertawa.
"Ada apa Mbah?" ucap Hardi bingung.
"Ternyata kamu pernah ditamparnya gara - gara kamu menyentuh area sensitifnya. Area apa itu?" ledek Batara tanpa menoleh ke Hardi.
"Area pegunungan milik Agni, wajarlah Mbah aku menyentuhnya Mbah."
"Wajar bagimu, tapi tidak wajar bagi dirinya. Ingat dia itu seorang wanita yang baik - baik, bukan seorang wanita seperti Valerie yang suka mengobral tubuhnya," ucap Batara serius yang membuat Hardi menelan salivanya.
"Menurut Mbah siapa dalangnya setelah membaca buku diary itu?" tanya Hardi serius ketika Batara menutup diary itu dengan pelan.
"Marina dan Hendra," jawab Batara serius sambil menoleh ke Hardi.
"Om Hendra suaminya Tante Sri?" ucap Hardi kaget.
"Iya. Kamu harus menemukan kotak hitam pesawat itu, menyadap nomor handphonenya Hendra dan Marina, serta mencari orang - orang yang berada di dalam pesawat itu."
"Gimana kalau aku tidak bisa menemukan semua itu Mbah?"
"Kamu hanya mendapatkan lima persen dari kekayaan Mbah," ucap Batara serius.
"Kalau begitu aku harus menemukannya."
__ADS_1
.