Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Pernikahan Kami


__ADS_3

Agni membuka tirai jendela. Melihat kilatan petir yang telah menyambar dan membelah langit malam yang gelap. Hujan deras turun menghantam bumi diiringi dengan bunyi petir yang gelegar kencang sehingga terdengar dari dalam mansion Batara. Termenung menyendiri untuk menenangkan pikiran dan hatinya yang masih terbelenggu oleh kesedihan. Entah apa yang harus Agni lakukan lagi untuk menghilangkan rasa sedih di dalam dirinya.


Agni sudah dua minggu menjalankan psikoterapi, mencurahkan isi hati dan pikirannya ke salah satu ustadz, sholat sunnah, berdoa, shopping sama para sahabatnya, refreshing sama para sahabatnya, minum obat, makan cokelat, mengikuti latihan yoga dan meditasi agar dirinya kembali normal. Tapi semua usaha itu sampai sekarang tidak membuahkan hasil. Agni masih terhanyut di dalam pusaran kesedihan. Tiba - tiba Agni menangis tanpa bersuara ketika mengingat janin yang dia kandung. Dia mengelus perutnya yang datar.


"Nyonya, hari sudah malam, waktunya untuk istirahat lagipula anda harus masih bed rest, tidak boleh kecapean," ucap Linda lembut, salah satu bodyguard Agni sekaligus pengasuh Agni sejak dia mengalami gangguan mental.


"Saya masih belum mengantuk," lirih Agni.


"Tapi Nyo β€”."


"Berikan saya waktu sebentar untuk melihat langit," lirih Agni yang memotong ucapan Linda.


Linda melangkahkan kakinya menghampiri sosok Agni yang sedang berdiri menghadap jendela besar di dalam kamar. Linda menyandarkan kepalanya Agni ke bahu kanannya dengan penuh kasih sayang. Linda mengusap bahu kanannya Agni dengan lembut. Linda ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Agni.


"Dulu saya juga kehilangan seorang putra," ucap Linda lembut sambil memandang langit yang sangat mendung.


"Putra anda meninggal?"


"Iya, dia meninggal karena dibunuh sama sekelompok mafia."


"Anak anda seorang polisi?"


"Iya. Waktu itu saya merasa sangat kehilangan dan sedih, tapi saya ikhlas menerima cobaan itu sehingga saya bisa menjalankan hidup dengan semestinya. Dan saya yakin, ada pelangi setelah badai menghujam diri kita."


Agni tidak merespon ucapan Linda, dia malah melamun. Seketika suasana menjadi hening, hanya terdengar suara kilatan petir. Beberapa menit kemudian, Linda menyadari keadaan Agni yang sedang melamun. Mukanya Linda menoleh ke wajahnya Agni. Linda melihat tatapan kosong dari kedua matanya Agni yang sedang mengeluarkan air mata kesedihan. Linda menggendong tubuhnya Agni, lalu membawanya ke tempat tidur.


Selama digendong, Agni masih tetap melamun dengan tatapan mata yang kosong. Linda membaringkan tubuhnya Agni di atas tidur. Menyelimuti tubuhnya Agni yang tergulai tak berdaya seperti mayat hidup. Mengusap puncak kepalanya Agni dengan penuh kasih sayang. Linda menegakkan badannya, lalu berbalik. Linda sedikit terkejut melihat sosok Hardi yang sedang berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata yang mencurigakan.


"Sedang apa Bu Linda di sini?" tanya Hardi menyelidik.


"Saya disuruh Tuan Barata nemenin Nona Agni selama dia berada di dalam kamar," ucap Linda sopan.


"Mbah sudah tidur?" tanya Hardi sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


"Tuan besar Batara sudah tidur, Den Hardi."


"Apakah Agni sudah tidur?"


"Belum Tuan. Dari tadi sampai sekarang Nona Agni melamun terus. Akhirnya saya berinisiatif untuk membawanya ke sini, lagipula sudah malam waktunya Nona Agni istirahat."


"Kenapa dia melamun?" tanya Hardi sambil menatap kasihan ke Liza.


"Sebelum melamun dia teringat sama janin anaknya."


Kalau seperti ini terus, aku tidak bisa menikahi Agni. Aku harus cari cara lain untuk menyembuhkan Agni.


Batin Hardi.

__ADS_1


"Besok ada jadwal terapinya?"


"Ada Den."


"Jam berapa?"


"Jam sepuluh pagi Den."


"Oh ya, besok Bu Linda tidak usah mengantarkan Agni terapi, biar pergi terapinya sama saya saja."


"Baik Tuan. Tapi Tuan Muda harus minta izin sama Tuan Besar Batara," ucap Linda sopan.


"Iya, nanti saya minta izin sama Mbah. Saya mau ngajak dia ngobrol berdua, tolong tinggalkan kami."


"Baik Tuan Muda."


Tak lama kemudian, Linda berjalan ke pintu kamar. Melangkahkan kakinya keluar, lalu menutup pintu kamar. Hardi mendekati Agni, lalu duduk di tepian ranjang sebelah kanan. Hardi mengecup keningnya Agni yang mampu membuyarkan lamunan Agni. Agni menoleh ke Hardi dengan wajah yang datar. Hardi tersenyum manis ke Agni.


"Kamu sudah pulang?" tanya Agni pelan.


"Sudah. Kenapa kamu belum tidur?"


"Aku nggak bisa tidur."


"Kenapa nggak bisa tidur?"


"Aku teringat sama anakku Mas," ucap Agni sendu.


"Kenapa semua ini terjadi padaku? Setelah kehilangan ayah, Eyang, para saudara kandung aku, suami yang akhirnya tidak ada informasi apa pun tentang keberadaannya. Benar yang kamu ucapkan bahwa Mas Edward sudah meninggal dan sekarang harus kehilangan kedua anakku," ucap Agni yang ingin menangis.


Seketika suasana menjadi terharu. Tak terasa air matanya Agni mengalir lembut di pipinya. Hardi terenyuh melihat kesedihan yang dialami oleh Agni. Sontak Hardi mendekap tubuh Agni. Agni menangis terisak-isak di dalam dekapan Hardi. Hardi mengusap punggung Agni dengan lembut berulang kali untuk menenangkan Agni. Tak lama kemudian, Agni melepaskan pelukan Hardi sambil menangis. Merebahkan tubuhnya, lalu membelakangi Hardi. Hardi mendengar suara tangisan Agni dan melihat punggung Agni turun naik.


"Besok pagi aku yang menemani kamu ke psikolog, setelah itu kita pergi jalan - jalan," ucap Hardi lembut sambil mengusap punggungnya Agni dengan pelan.


"Hiks ... hiks ... tak perlu Mas, aku biasanya juga sama Bu Linda hiks ... hiks ... kamu kan lagi sibuk hiks ... hiks ... hiks ...."


"Baiklah kalau itu maumu."


"Hiks ... hiks ... hiks .... Mas, tolong tinggalkan aku sendiri hiks ... hiks ... hiks ...."


"Aku akan pergi dari sini asalkan kamu berhenti menangis."


"Hiks ... hiks ... hiks .... Tolong tinggalkan aku, Mas. Hiks ... hiks ... hiks ... aku lagi ingin sendiri hiks ... hiks ... hiks ...."


"Baiklah."


Tak lama kemudian Hardi beranjak berdiri. Melangkahkan kakinya menuju pintu kamar yang masih terbuka. Berjalan santai keluar dari kamar melewati pintu yang terbuka. Menutup pintu kamar itu. Melanjutkan langkahnya menuju pantry. Menyusuri ruang keluarga yang megah. Melewati aquarium ikan laut hingga dirinya berada di pantry. Menghentikan langkahnya di depan kulkas yang berada di pantry. Membuka pintu kulkas, lalu mengambil botol yang berisi air putih.

__ADS_1


"Kamu mau tidur di mansion Mbah?" ucap Batara yang membuat Hardi kaget.


Sontak Hardi menoleh ke Batara, "Iya, Mbah."


"Kamu sudah menjenguk Agni?" tanya Batara ketika Hardi mengambil gelas, lalu menaruh gelas di atas meja pantry.


"Sudah," ucap Hardi sambil menuangkan air putih ke gelasnya.


"Mbah jadi kasihan melihat Agni seperti itu," ucap Batara ketika Hardi meminum air putih.


"Aku juga kasihan, Mbah," ucap Hardi setelah meminum air putih.


"Apakah kamu sudah jatuh cinta lagi kepadanya?" tanya Batara ketika Hardi menaruh gelas di atas meja pantry.


"Sudah Mbah," ucap Hardi berbohong sambil menoleh ke Batara.


"Apakah Agni sudah jatuh cinta lagi kepadamu?" ucap Batara.


"Setahuku dia belum mencintaiku lagi, Mbah."


"Sepertinya tidak ada peluang kamu untuk berada di hatinya Agni."


"Aku yakin masih ada peluang itu Mbah, yang penting Agni sudah mau menikah dengan diriku."


"Apakah itu benar?" tanya Batara antara percaya dan nggak percaya.


"Benar Mbah."


"Jika kalian ingin menikah cepat, sebaiknya pada bulan November," ucap Batara antusias.


"Kami belum sempat membicarakan secara detail tentang pernikahan kami, Mbah."


"Bagaimana kalau awal bulan Januari? Bertepatan dengan hari ulang tahun induk perusahaan Mbah."


"Boleh."


"Baiklah nanti Mbah bicarakan hal ini dengan Agni."


"Tidak usah Mbah yang bilang, biar aku aja yang bilang mengenai pernikahan kami."


🌺🌷🌹🌺🌷🌹🌺🌷🌹🌺🌷🌹🌺🌷🌹🌺


Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁

__ADS_1


Happy reading πŸ€—


Terima kasih sudah mau membaca novel saya πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2