
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Sang surya perlahan bersinar merah kekuningan warna pendar di ufuk timur cakrawala. Tersepuh mentari yang datang mengecup lembut nan santun. Bersit menyebar di celah - celah embun pagi yang bertaburan bagai berlian yang berkilauan di rerumputan dan di dedaunan. Semilir angin menari berhembus bersama cahaya matahari. Kicauan yang merdu dari kawanan burung memagut indah dalam lantunan.
Pagi menyambut kini, mengawali aktivitas manusia di kota London termasuk aktivitas Agni dan satu orang bodyguard Agni yang bernama Nick. Mereka saat ini sedang melakukan lari pagi di Queen's Walk. Jogging di jalan tepi Sungai Thames, London. Menelusuri jalan kecil yang terletak tepat di tepi sungai Thames di sisi South Bank. Dari kejauhan Agni dapat melihat London Eye. Agni menghentikan langkahnya. Menduduki tubuhnya di salah bangku yang terbuat dari kayu.
Dia menoleh ke seberang sungai. Melihat Big Ben dan Houses of Parliament. Bangunan yang megah dan bergaya klasik kuno. Bangunan-bangunan indah yang menjadi landmark kota London. Mengedarkan pandangannya ke jalan ini yang juga dihiasi dengan deretan pohon rindang dan tiang lampu cantik yang menciptakan pemandangan yang romantis. Agni menoleh ke Nick yang sedang berdiri di sebelah kirinya.
"Nick," ucap Agni ramah.
"Yes Miss, what's wrong?" ucap Nick sambil menoleh ke Agni dengan mengbungkukkan badannya.
"Please sit next to me," ucap Agni sambil menepuk sisa bangku di sebelah kanan yang masih kosong.
"Sorry miss, I can't sit next to you if you don't have an emergency."
"Why?"
"Because the rules are like that."
"Okay. May I ask a favor?"
"Can. Miss what do you want to ask for help?"
"Please take my photo."
"Yes Miss."
"Thank you."
"You're welcome."
Sedetik kemudian Agni beranjak berdiri. Membuka reselting tas pinggangnya untuk mengambil smartphone miliknya. Menyentuh beberapa ikon untuk menyalakan kamera di smartphone itu. Memberikan smartphone itu ke Nick sambil tersenyum ramah. Nick menerima smartphone itu sambil tersenyum sopan. Agni menutup reselting tas pinggangnya. Berjalan pelan menuju pagar pembatas sungai. Agni bergaya elegan di seberang sungai yang berlatarkan dua bangunan yang menjadi landmark di kota London.
"Three, two, one," ucap Nick memberikan kode.
Cekrek ... cekrek ... cekrek ...
Nick berhasil membidik Agni yang sedang bergaya. Menyentuh beberapa ikon untuk menyimpan tiga buah foto di dalam memori smartphone itu. Nick memberikan tanda 'ok' ke Agni sebagai kode bahwa foto-foto itu sudah tersimpan di smartphone milik Agni. Agni berjalan pelan menghampiri Nick. Nick memberikan benda pipih itu ke Agni sambil tersenyum sopan. Agni menerima smartphone itu sambil tersenyum ramah. Agni menyentuh beberapa ikon untuk menyalakan kamera lagi, lalu membalikkan badannya.
"Let's take a photo together," ucap Agni sambil mengambil posisi foto selfi.
"No need miss."
__ADS_1
"It's okay, Nick. Consider me your friend, you don't have to be shy."
Cekrek ... cekrek ... cekrek ...
Agni berhasil membidik tiga foto selfi mereka di Queen's Walk. Agni menyentuh beberapa ikon untuk menyimpan tiga buah foto itu di memori smartphone miliknya. Memasuki smartphone itu ke dalam tas pinggangnya. Menutup reselting tas pinggangnya. Agni melanjutkan lari santainya. Langkah kakinya Agni diikuti oleh langkah kakinya Nick. Langkah kaki mereka menyusuri jalan yang menyajikan pemandangan yang indah sepanjang jalan. Pepohonan tumbuh subur di tepi jalan ini sehingga memberikan kesejukan.
Menelusuri jalan khusus pejalan kaki ini yang membentang sepanjang beberapa mil dari Lambeth Bridge hingga Tower Bridge dan merupakan bagian dari Thames Path di South Bank, London. Melewati sejumlah tempat wisata dan bangunan terkenal di London yang lainnya seperti Westminster Bridge, London Eye, Southbank Centre, Millenium Bridge, St Paulβs Cathedral, Tower of London, Tower Bridge.
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Lagu dering dari smartphone milik Agni berbunyi. Sontak Agni menghentikan langkahnya. Nick juga menghentikan langkahnya setelah Agni menghentikan langkahnya. Membuka reselting tas pinggangnya. Mengambil smartphone miliknya. Agni mengerutkan dahinya ketika melihat nomor asing tertera di layar smartphonenya karena dia tidak tahu siapa yang menelponnya. Dia hanya memberi tahu nomor barunya ke Sri, Batara dan Jennifer. Karena penasaran, akhirnya Agni menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo, ini siapa ya?" ucap Agni datar.
"Mas Hardi!? Kok Mas Hardi tahu ada aku di sini? Mas Hardi jadi nerusin kuliah di Oxford?" rentetan pertanyaan Agni yang sedikit kaget.
"Iya Sayang. Lagipula aku sudah daftar kok. Aku samperin kamu ya Sayang."
"Tunggu, kenapa kamu bisa tahu aku ada di sini?"
"Apa pun tentangmu aku tahu."
Agni malas menanggapi ucapan Hardi. Dia menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya, lalu menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menaruh smartphone miliknya di tempat semula. Menutup reselting tas pinggangnya. Dia membalikkan badannya. Sedetik kemudian melanjutkan lari santainya. Nick mengikuti langkah kakinya Agni.
Dari jarak tiga meter, Hardi melihat Agni berlari menjauh dari dirinya. Hardi melanjutkan lari paginya menyusul Agni. Menelusuri jalan yang dihiasi dengan deretan tiang lampu klasik dan pepohonan di tepinya yang semakin mempercantik pemandangan jalan ini. Hardi mempercepat langkah kakinya sehingga bisa menyusul Agni. Akhirnya Hardi bisa mensejajarkan langkahnya dengan langkah Agni. Tak disangka kaki kanan Agni keseleo.
"Aauuww!" pekik Agni kesakitan sehingga dia menghentikan langkah kakinya.
Sontak Hardi menggendong Agni setelah dia menghentikan langkah kakinya, lalu Agni berucap, "Kamu mau bawa aku ke mana Mas?"
"Ke apartemen Om Bernard," ucap Hardi sambil berjalan dan menggendong Agni.
"Emangnya kamu tahu apartemen milik Om Bernard?"
"Tahu. Semalam kan aku tidur di sana."
"Masa sich Mas? Padahal pas makan malam, aku tidak lihat kamu."
__ADS_1
"Aku sampai di apartemen jam sebelas malam, kamu sudah tidur."
"Kamu tahu dari mana kata sandi kunci pintu apartemen itu?"
"Dari Om Bernard. Dia mengizinkan aku menginap di apartemennya."
"Kapan kamu ke Oxfordnya?"
"Bareng kamu, nanti di Oxford kita tinggal satu atap."
"Kok satu atap dich?" ucap Agni dengan nada suara yang kesal.
"Kita kan calon pasangan suami istri. Ingat janjimu sayang."
"Janji yang mana?" ucap Agni yang suka melupakan janjinya kepada Hardi.
"Kamu minta aku untuk mencari Edward, dan aku minta syarat. Syaratnya itu kamu mau menikah denganku. Mau hasilnya dia ditemukan atau tidak, kamu harus mau menikah denganku. Kamu berjanji menyanggupinya. Aku sudah bantu kamu mencari Edward dan nanti kamu harus mau menikah denganku."
"Memangnya kapan kamu mau menikahi diriku?" ucap Agni datar sambil memasang wajah yang bete
"Awal bulan November."
"What?? Kok cepat banget!? ucap Agni sedikit protes.
"Lebih cepat lebih baik."
"Tapi kan Mas, Mas Edward itu masih hidup, aku ingin bertemu dengan dia. Aku masih ingin menjadi istrinya," ucap Agni yang suka plin-plan
" Sayang, Edward itu sudah meninggal. Kalau dia masih hidup dia pasti mendatangi dirimu. Tapi sampai sekarang dia tidak menghampiri dirimu. Itu berarti bahwa dia sudah meninggal. Lagipula dari hasil pencarian Edward, aku juga tidak mendapatkan bukti -bukti yang menyatakan bahwa Edward masih hidup. Kamu harus mengikhlaskan kepergiannya dan harus bisa move on."
"Mas tolong lepaskan aku," ucap Agni sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Tidak akan aku lepaskan."
ππ·πΉππ·πΉππ·πΉππ·πΉππ·πΉ
Terima kasih sudah membaca novelku yang ini ππππ₯°π₯°π₯°.
Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna πππ.
Di like ya
Di komen ya
Di vote ya
Di kasih bintang lima ya
Di kasih hadiah ya
Love you all ππππππππ
__ADS_1