Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Diriku Yang Seutuhnya


__ADS_3

"Aaaaa!!" teriak Shafira yang sedang melihat Edward hanya mengenakan handuk di sekitar pinggang sampai lututnya sambil tangan kirinya memegang gagang pintu kamar tamu di rumahnya Shafira.


Ya Allah, sungguh keren sekali bodynya. Perut sixpacknya sungguh keren. Otot - ototnya memperjelas dia sebagai lelaki yang menjaga kebugarannya.


Batin Shafira.


"Ada apa, Dokter Shafira?" tanya Edward dengan raut wajah yang polos sambil menoleh ke Shafira.


"Eh, nggak ada apa - apa," jawab Shafira yang sedikit kebingungan.


"Kenapa kamu datang ke sini?"


"A — ku, mau ngobrol sama kamu," ucap Shafira sedikit gugup.


"Oh, silakan masuk," ucap Edward.


Kemudian Sofia melepaskan handle pintu kamar, lalu menutup pintu kamar itu. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sambil membawa tiga buah buku. Menghentikan langkahnya di pinggiran sebelah kanan tempat tidur, lalu menduduki tubuhnya di atas tempat tidur. Sedangkan Edward membuka pintu lemari untuk mengambil pakaiannya.


"Aaaa!!!" teriak Shafira ketika melihat Edward melepaskan handuknya, sontak buku - buku yang dipegang Shafira berjatuhan.


Brakkk ... brakkk ... brakkk ...


Dalam waktu yang bersamaan, sontak Boy menoleh ke Sofia yang sedang menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Edward tertawa kecil melihat reaksi Shafira setelah dia membuka handuknya. Edward berjalan pelan menghampiri Shafira. Edward menurunkan badannya sehingga dia berjongkok di depan Shafira, lalu mengambil tiga buah buku milik Shafira.


Mimpi apa aku semalam, melihat tubuh keren milik Boy.


batin Sofia.


"Kamu pakai bajunya di kamar mandi aja, kamu jangan telanjang bulat di sini."


"Aku nggak telanjang bulat, aku udah pakai celana pendek," ujar Edward.


Hah? Dia pakai celana pendek? Aku kira dia telanjang bulat, hehehe. Bodohnya aku. Jadi malu sendiri.


Batin Shafira.


"Kamu kira aku telanjang bulat?" ucap Boy sambil beranjak berdiri.


"E — nggak."


"Kalau enggak, kenapa muka kamu ditutupi?" kata Edward.


Kemudian Shafira melepaskan kedua telapak tangannya dari wajah cantiknya. Dia tercengang melihat Edward berdiri di hadapannya. Dia melihat roti sobek milik Edward dari jarak yang dekat. Dia ingin menyentuhnya, tapi dia malu untuk melakukannya.


Aihhh, pemandangan yang menyegarkan.


Batin Shafira.


"Ini buku - buku kamu yang tadi jatuh," ujar Edward sambil memberikan tiga buah buku ke Shafira.


"Eh, iya terima kasih," ucap Shafira sambil mendongakkan kepalanya dan menerima tiga buku itu.


"Muka kamu kenapa merah begitu?" tanya Edward polos.


Waduh, tambah malu dech aku, bisa ketahuan muka aku merah karena gugup dan malu.


Batin Shafira.


"A – ku lagi alergi," jawab Shafira berbohong sambil memalingkan mukanya.


"Alergi apa?"


"Tadi aku habis makan sea food," jawab Shafira asal.


"Ooo, aku ke kamar mandi dulu, mau pakai baju dulu. Tunggu sebentar ya."


"Iya, cepatan ya pakai bajunya, soalnya sudah malam."


"Iya."


Kemudian Edward berbalik dan berjalan ke lemari untuk mengambil pakaian. Shafira tersenyum geli mengingat betapa bodohnya dia karena mengira Edward telanjang bulat di depannya. Setelah mengambil pakaiannya dan menutup pintu lemari, Edward berjalan ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi. Sofia menaruh ketiga bukunya di samping kirinya.


"Huhhh," Shafira menghembuskan nafas panjang. "Akhirnya godaan imanku sudah nggak ada di sini," ucap Shafira sambil mengelus dadanya.


Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau sentuh


Aku ingin kau tahu bahwa 'ku selalu memujamu


Tanpamu sepinya waktu merantai hati


Oh, bayangmu seakan-akan


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu


Seperti udara yang kuhela kau selalu ada


Kau selalu ada


Kau selalu ada

__ADS_1


Smartphone milik Sofia berdering. Spontan, Shafira merogoh kantong celananya untuk mengambil smartphone miliknya. Setelah mengambil smartphonenya, dia melihat nama Maryam tertera di layar smartphonenya. Dia menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan dari Maryam dan mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Assalamu'alaikum Shafira," sapa Maryam ramah.


"Wa'alaikumsalam. Ada apa Kak Maryam?" ucap Shafira sopan.


"Besok malam kamu jadi ke acara resepsi pernikahan Dokter Louis?"


"Jadi Kak. Kakak datang kan ke sana?"


"Maaf, Kakak nggak bisa datang."


"Kenapa Kak?"


"Aku harus ke Ujung Pandang."


"Memangnya ada apa Kak?" tanya Shafira dengan nada cemas.


"Ayahku aku lagi sakit parah. Dia sekarang berada di ruang ICU. Besok pagi aku ke rumah sakit dulu minta izin cuti, sekalian aku nitip hadiah untuk Dokter Louis sama kamu. Kamu nggak apa - apa kan, aku titip hadiah untuk Dokter Louis?"


"Iya nggak apa - apa Kak. Semoga lekas sembuh ya ayahnya Kak Maryam."


"Aamiin Ya Robbal Alamiin. Terima kasih Shafira. Udah dulu ya, aku mau beres - beres dulu."


"Iya, Kak."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Tut ... tut ... tut ...


Panggilan telepon diputus oleh Maryam. Shafira menaruh smartphonenya di samping kanannya. Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok Edward. Edward berjalan keluar dari kamar mandi. Dia melanjutkan langkahnya ke Shafira. Dia duduk di samping kanan Shafira.


Deg


MasyaAllah, makin ganteng aja si Boy. Ya Allah, detak jantungku tak beraturan.


Batin Shafira.


"Kamu mau mengobrol apa?" tanya Edward sambil menoleh ke Sofia.


"Maaf ya malam ini aku tidak bisa menemani kamu makan malam di sini."


"Iya, nggak apa - apa."


"Gimana makan malamnya?"


"Tapi kenapa?"


"Aku kesepian karena nggak ada kamu. Kalau ada kamu kan suasana jadi rame."


"Hehehe, aku jadi nggak enak, cuekin tamu di rumah. Soalnya tadi, teman - teman kerja aku ngajakin hang outnya dadakan. Jadi aku nggak sempat ngajakin kamu."


Edward hanya tersenyum manis merespon ucapan Sofia. Seketika, Shafira merasakan desiran lembut di hatinya lagi. Shafira berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan perasaan di hatinya. Shafira memalingkan mukanya dari tatapan Edward. Shafira menengok ke sebelah kirinya. Shafira melihat di sebelah kirinya ada tiga buah buku.


"Oh ya, aku mau nanya sesuatu ke kamu," ujar Shafira sambil mengambil ketiga bukunya.


"Kamu mau nanya apa?"


"Boy, apakah agama kamu Islam?" tanya Shafira sambil menoleh ke Edward.


Edward mengerutkan dahinya seperti lagi berfikir, lalu dia berkata, "Aku nggak ingat. Kamu tahu itu dari mana?"


"Beberapa kali, aku pernah mendengar kamu mengucapkan Astaghfirullah. Jadi aku pikir kamu seorang muslim. Kamu ingat ka'bah?"


"Ka'bah?" tanya Edward sambil menyatukan kedua halisnya karena bingung


"Iya, Ka'bah."


"Aku nggak tahu," ucap Edward sambil menggelengkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu," ucap Shafira, lalu dia mengambil handphonenya, membuka passwordnya dan searching tentang ka'bah.


"Memangnya ka'bah apaan?"


"Kiblat para umat muslim. Kamu ingat ini?" ucap Shafira sambil menunjukkan gambar ka'bah ke Edward.


"Aku nggak ingat," ucap Edward sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa suka mengucapkan Astaghfirullah?"


"Aku nggak tahu, aku spontan mengucapkannya."


"Kamu ingat sholat?"


"Maaf, aku nggak ingat," ucap Edward dengan raut wajah yang bingung.


Ya Allah, bagaimana lagi caranya supaya dia mengingat masa lalu dan jati dirinya?


Batin Shafira.

__ADS_1


"Kamu ingat Tuhan kamu?"


"Iya, Tuhanku adalah Allah."


Alhamdulillah ternyata Boy seorang muslim.


Batin Shafira.


"Berarti kamu adalah seorang muslim. Agama kamu adalah Islam. Kamu tinggal mengingat kembali tentang agama Islam, ilmu agama Islam dan ajaran - ajaran agama Islam. Aku pinjamkan buku - buku ini untuk kamu baca dan pelajari," ucap Shafira, lalu Shafira memberikan ketiga buku itu ke Edward.


"Buku - buku ini tentang apa?" tanya Edward bingung.


"Semua buku itu tentang agama Islam. Kamu pelajari ya, nanti ada ujiannya."


"Ujian?" ucap Edward bingung.


"Semacam tanya jawab tentang isi ketiga buku itu."


"Ooo, kamu dapat dari mana buku - buku?" tanya Edward sambil melihat - lihat sampul ketiga buku itu.


"Dari perpustakaan milik mendiang Daddy."


"Daddy kamu seorang muslim juga?"


"Iya."


"Kalau kamu seorang muslim juga?"


"Iya."


"Berarti kamu sudah paham tentang agama Islam?"


"Nggak juga, aku juga masih belajar."


"Belajar?"


"Iya, aku masih belajar untuk memahami lebih jauh tentang agama Islam."


"Siapa yang mengajari kamu?"


"Kak Maryam."


"Dokter spesialis neurologi yang memeriksa aku waktu di rumah sakit?"


"Iya. Ilmu agamanya lebih tinggi daripada aku. Kamu mau belajar juga sama dia?"


"Nggak, aku ingin belajar sama kamu aja."


"Iya, nanti aku akan mengajarkan kamu sholat dan mengaji aja."


"Mulai sekarang aja belajarnya," ujar Edward antusias.


"Boy, boy, kamu semangat sekali jika berurusan dengan belajar."


"Iya, aku harus semangat untuk belajar supaya aku bisa mengingat kembali tentang diriku yang seutuhnya. Apalagi yang ngajarin adalah kamu, orang yang sangat baik kepadaku dan juga cantik."


"Aiihhh, bisa aja ngegombalnya."


"Eh, aku nggak ngegombal ya, tapi ini realita. Kalau tidak percaya, tanya aja pada anak - anak yang ada di sini. Pasti mereka membenarkan ucapan aku."


"Husss, udah - udah jangan diperbuas lagi."


"Apa itu diperbuas?"


"Dilebih - lebihkan. Oh ya, besok malam kamu ikut aku ya."


"Ke mana?"


"Ke acara pesta resepsi pernikahan temanku."


"Iya. Teman kerja kamu?"


"Iya."


"Ayo belajar agama Islam sekarang," ucap Edward semangat.


"Kamu yakin ingin belajar sekarang?"


"Iya, supaya aku bisa mengetahui diriku yang seutuhnya."


💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐


Terima kasih sudah membaca novelku yang ini 😊😊😊🥰🥰🥰.


Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna 😊😊😊.


Di like ya 🥰🥰


Di komen ya 🥰🥰


Di vote ya

__ADS_1


Love you all


__ADS_2