
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
ππππππππππππππππ
Sebenarnya sebuah pernikahan bagi seorang Raden Ajeng Mahiswara Agnibrata Candrawati Soerjosoemarno adalah mengikat dua hati yang saling mencintai dan yang saling menyayangi dengan janji suci di hadapan Tuhan untuk selalu menjaga hati, sikap, lisan, toleransi, kerja sama rasa saling mencintai dan rasa saling menyayangi agar menjadi rumah tangga yang bahagia lahir batin sampai maut memisahkan.
Bukan karena menepati janji atas kesepakatan bersama. Tapi mau bagaimana lagi, nasib nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Mau tak mau dia harus melakoni takdir ini dengan tulus. Mau tak mau dia harus bersanding dengan Raden Hardiyanta Kusuma Kartanegara mulai hari ini sebagai pasangan suami istri yang sah di depan Tuhan dan negara.
Agni berada di samping Hardi, suaminya. Mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri setelah akad nikah. Mereka merayakan pesta pernikahan di ballroom salah hotel yang resmi dibuka sejak 1906. Sebuah pesta pernikahan yang mewah dan elegan. Desain interior mewah nan klasik dipadukan dengan beberapa rangkaian bunga, pepohonan, lampu - lampu hias dan patung - patung yang terbuat dari es batu sehingga menambah kesan mewah.
Hari ini Agni terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantin yang bagian atas gaunnya berpotongan off-shoulderΒ berwarna putih gading yang dirancang oleh desainer terkenal di dunia. Gaun itu dihiasi taburan mutiara asli yang mengikuti pola bentuk bunga - bunga di bagian rok, hiasan rumbai - rumbai di bagian depan maupun belakang rok.
Hiasan kepala dipercantik dengan sebuah mahkota berlian yang bertengger di atas kepalanya sehingga sangat cocok sama gaunnya dan rambut Agni yang panjang bermodel loose waves diuraikan begitu saja. Polesan make up bernuansa bronze natural di wajahnya merupakan hasil karya make up artists profesional dan terkenal. Wajahnya selalu tersenyum manis, sungguh dia sangat pintar berakting.
Padahal di dalam hatinya, dia melanda keterpaksaan menikah dengan Hardi karena dia harus menetapi janjinya kepada Hardi. Walaupun pesta pernikahannya meriah dan mewah, tapi itu tidak menjadi jaminan kebahagiaan Agni yang berada di dalam pesta pernikahannya. Di samping Agni ada sosok Hardi yang terlihat sangat tampan dengan memakai setelan jas tuxedo. Wajahnya Hardi nampak sangat santai dan bahagia.
Bahagia karena dia sudah berhasil menikahi Agni demi mendapatkan sebagian besar harta dari Batara. Mereka mengelilingi ballroom hotel itu untuk menyambut para tamu. Para wanita yang datang ke acara pernikahan ini, tak henti - hentinya memuji penampilan Hardi. Sedangkan para tamu pria, tak henti-hentinya memuji penampilan Agni. Agni mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Jennifer karena dia sudah jenuh berada di antara teman-teman kuliahnya Hardi. Agni hanya mengundang Jennifer, keluarga, dan rekan bisnis perusahaan ayahnya yang berada di London.
"Aku mau ke Jenny," bisik Agni setelah menemukan sosok Jennifer yang sedang termenung karena habis putus cinta.
Hardi hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ucapan Agni. Hardi masih asyik mendengarkan salah satu omongan teman kuliahnya. Agni melepaskan gandengan tangan kanannya. Berjalan terburu-buru sambil memegang bucket bunga mawar dan Lily. Menerobos kerumunan orang yang sedang bercengkrama. Tak sengaja Agni menabrak Pratistha yang sedang mengobrol dengan Shafira.
"Ops, Maaf Tante," ucap Agni merasa bersalah sambil menoleh ke Pratistha.
"Nggak apa-apa sayang. Hardinya ke mana?" ucap Pratistha sambil menoleh ke Agni.
"Lagi ngobrol sama teman kuliahnya Tante."
"Oh ya Ni, kenalin, ini dokter termuda di salah satu rumah sakit Bahtera," ucap Pratistha ramah sambil memegang bahu kanannya Shafira.
Agni mengulurkan tangan kanannya ke Shafira, lalu berkata dengan sopan, "Agni."
"Shafira," ucap Shafira sambil membalas uluran tangan kanannya Agni, lalu mereka berjabat tangan.
"Senang berkenalan dengan anda," ucap Agni ramah sambil melepaskan genggaman tangan kanannya Shafira.
"Saya juga senang berkenalan dengan anda," ucap Shafira sambil menurunkan tangan kanannya.
"Maaf, saya mau jamu tamu yang lain, permisi," ucap Agni sopan.
"Iya, hati-hati ya," ucap Pratistha lembut.
Tak lama kemudian Agni melanjutkan langkahnya menghampiri Jennifer di meja pojok kanan ruangan. Memilih jalur yang sepi dari kerumunan orang. Menduduki tubuhnya di samping kirinya Jennifer. Agni melihat raut kesedihan dari sahabatnya itu. Agni mengelus punggung Jennifer dengan lembut. Jennifer menoleh ke Agni, lalu tersenyum manis karena dia tidak mau terlalu memperlihatkan kesedihannya di depan Agni. Agni membalas senyuman Jennifer.
__ADS_1
"Jangan terlalu memikirkan cowok bangsat itu, Jenny. Masih banyak cowok yang baik di dunia ini," ucap Agni lembut.
"Iya, makanya mulai sekarang aku sedang mencari cowok yang baik supaya tidak terlalu mengganggu acara bulan madu kalian," ucap Jennifer yang bersandiwara ceria. "Apakah kamu sudah mulai mengikhlaskan kepergian Edward?
"Iya, aku sudah mengikhlaskan kepergian Mas Edward yang telah meninggalkanku di dunia ini."
"Apakah kamu sudah mulai mencintai Hardi?" ucap Jennifer ingin tahu.
"Belum, tapi cinta akan tumbuh dengan sendirinya jika kami sering berinteraksi secara intens."
"Bukannya selama kalian kuliah di Oxford sudah sering berinteraksi?"
"Selama ini kami hanya berinteraksi di pagi hari aja."
"Memangnya setiap pulang kuliah kalian tidak pernah bertemu?"
"Nggak, setelah pulang kuliah, aku langsung masuk kamar. Kalau lapar baru keluar kamar."
"Kita kapan berangkat ke Lumley Castle?"
"Besok jam sepuluh."
"Ni, aku perhatiin salah satu teman kuliahnya Hardi sering melirik aku."
"Udah sana kenalan, siapa tahu kalian jodoh."
"Tapi Ni, aku belum siap membuka hati."
"Ok, sekalian ajak tidur bareng di kamar hotel."
"Kalau ngajak tidur bareng janganlah say."
"Nggaklah," ucap Jennifer, lalu dia beranjak berdiri dari kursi.
"Good luck," ucap Agni semangat.
Tak lama kemudian Jennifer berjalan menghampiri gerombolan teman kuliahnya Hardi. Agni mengalihkan pandangannya ke yang lain. Tak sengaja dia melihat Shafira sedang telepon sambil berjalan menghampiri dirinya. Shafira menduduki tubuhnya di salah satu kursi depan Agni. Shafira tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya tanpa bersuara ke Agni. Agni mengulas senyum juga ke Shafira.
"Ya udah, kalau gitu tunggu aku pulang dari London ya," ucap Shafira ke Edward yang sedang menelpon Shafira.
"Ok, aku tunggu," ucap Edward yang masih lupa ingatan.
"Udah dulu ya, aku masih di acara pesta. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Sambungan telepon itu terputus. Shafira menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinga kirinya. Menaruh smartphone miliknya di dalam tas pestanya. Shafira melebarkan kedua matanya ketika Hardi tiba-tiba ******* bibirnya Agni di hadapannya. Dari dulu Shafira merasa risih melihat orang yang sedang berciuman di depan umum. Shafira langsung mengalihkan pandangannya ke sebuah taman. Hardi menduduki tubuhnya di samping kirinya Agni sambil melihat Shafira.
"Assalamu'alaikum Shafira," sapa Hardi ramah.
__ADS_1
Sontak Shafira menoleh ke Hardi, lalu berucap, "Wa'alaikumussalam."
"Kamu ke sini sendirian?"
"Iya."
"Ke mana Dokter Sulaiman?"
"Ada urusan keluarga dan bisnis."
"Ternyata ada keberanian juga kamu datang ke acara pernikahanku. Aku kira kamu nggak datang karena sedih melihat aku menikah," ledek Hardi.
"Nggak sedih, ngapain juga sedih karena orang yang nggak jelas kayak kamu," ucap Shafira santai.
"Berarti kamu sudah move on dong," ledek Hardi.
"Udahlah, bahkan aku sekarang sudah punya gebetan."
"Kalau boleh tahu siapa gebetan kamu?"
"Boy."
"Kenalan di mana?"
"Ehm ... di pinggir kali Ciliwung."
"Hahaha, ngapain kenalan di pinggir kali Ciliwung? Waktu itu kalian laki ngorek sampah?" ledek Hardi.
"Mas! Nggak boleh gitu sama tamu," tegur Agni tegas sambil menoleh ke Hardi karena merasa nggak enak hati.
"Kamu tenang aja, dia orangnya nggak bakal sakit hati kalau diledekin."
"Tapi kan dia tamu kita Mas," ucap Agni serius.
"Agniku sayang, dua itu teman kecilku. Sudah kuanggap sebagai adikku. Dia itu sering aku isengi. Bahkan dulu dia sempat naksir berat sama aku. Tapi aku tolak karena aku sudah menganggapnya sebagai adik."
"Pede banget, dulu aku nggak naksir berat kok sama kamu," gerutu Shafira.
"Mas, aku permisi dulu," ucap Agni sopan.
"Kamu mau pergi ke mana lagi? Kalau ku mau ke Jenny lagi, sebaiknya jangan. Soalnya dia lagi ngedeketin si Albert."
"Aku mau ke toilet."
"Aku temani ya sayang."
"Nggak perlu."
"Harus mau ditemani, nanti ada yang culik kamu lagi, sayang."
__ADS_1
_________