Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Ke Apartemenku


__ADS_3

Hardi terpana melihat Valerie yang mengenakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya terbuka dengan rok model klop sepaha. Rambut pirangnya yang bergelombang sengaja diurai. Hiasan jepitan rambut yang ada mutiaranya menghiasi kepalanya Valarie. Make up flawless menambahkan kecantikan yang dimiliki oleh Valerie. Valerie tersenyum menggoda sambil berjalan pelan menuju meja kerjanya Hardi.


"Silakan duduk nona Valerie," ucap Hardi ramah ketika Valerie berada di hadapannya.


Tapi Valerie tidak mengindahkan ucapan Hardi. Dia melanjutkan langkahnya ke Hardi. Valerie menduduki tubuhnya diatas pangkuan Hardi. Tanpa sengaja Hardi melihat dua buah gundukan dari balik kemeja yang dikenakan oleh Valerie karena dua kancing kancing kemeja teratas terbuka. Hingga menampakkan dua gundukan yang membuat Hardi panas dalam, ingin segera merasakannya. Hardi smirk sambil menatap tajam ke Valerie, lalu dia menarik pinggang ramping milik Valerie dan langsung memeluk erat pinggangnya Valerie.


"Kamu punya maksud terselubung sebagai model iklan salah satu klien perusahaan advertising milikku?" bisik Hardi dengan nada suara yang sensual sambil menaikan rok Valerie yang tersingkap, lalu mengelus p*h* kanannya Valerie yang mulus.


"Kamu tahu aja Mas, dengan begitu, kita bisa sering ketemu dan bermesraan lagi," bisik Valerie sensual.


"Hari ini kamu sangat cantik memakai pakaian ini, apalagi ditambah dengan dua kancing kemeja yang terbuka. Sangat seksi. Aku sangat suka kamu berdandan seperti ini," bisik Hardi lagi dengan nada suara yang menggoda sambil membuka satu persatu kancing kemeja yang dipakai Valerie hingga semua kancing kemeja terbuka dan memperlihatkan dua gundukan yang menyembul dari kain berenda.


Tak mau membuang waktu, Hardi langsung m*l*m*t benda kenyal milik Valerie dengan lembut. Valerie membalas l*m*t*n itu. Tangan kirinya Hardi menahan tengkuk lehernya Valerie, sedangkan tangan kanannya Hardi bebas menyusuri dua gundukan milik Valerie. Tangan kanannya Valerie memeluk pinggangnya Hardi dengan erat.


Ciuman mereka semakin lama semakin menuntut. Mereka saling bertukar saliva, saling menautkan lidah dan saling menelusuri rongga mulut. Tubuhnya Valerie menggeliat pelan hingga adanya gesekan lembut yang mengenai benda pusaka milik Hardi. Tak hanya itu, benda kenyal Hardi turun menyusuri leher jenjangnya Valerie. ******* dan lenguhan mereka saling bersahutan. Mereka terlena dengan cumbuan mereka.


Kringgg ...


Kringgg ...


Kringgg ...


Suara panggilan interkom dari pesawat telepon yang tidak mampu mengganggu kegiatan dua sejoli yang sedang asyik bermesraan. Mereka tidak mendengar suara panggilan itu. Suara panggilan itu dikalahkan oleh suara ******* dan lenguhan dari mulut mereka berdua yang menikmati kegiatan mereka. Tangan kanannya Hardi bergerilya liar menyusuri kedua p*h*nya Valerie hingga pangkal p*h* dan menyentuh area inti dari tubuhnya Valerie.


Kringgg ...


Kringgg ...


Kringgg ...


Suara panggilan interkom menggema di ruang kerjanya Hardi. Valerie sadar dari buaian kemesraan mereka karena suara panggilan interkom dari pesawat telepon. Valerie menghentikan kelakuan mesumnya. Spontan Hardi juga berhenti melakukan perbuatannya.


"Mas, ada suara panggilan telepon," ujar Valerie dengan lembut sambil melepaskan tangannya dari pinggang milik Hardi.


"Biarin aja. Kita lanjuti lagi yuk!" ajak Hardi yang tak rela kemesraan mereka terganggu.


"Nanti aja kita lanjuti di apartemenku," ucap Valerie sambil beranjak berdiri. "Sepertinya Pak Joseph sudah datang," lanjut Valerie sambil mengancingkan kemejanya, lalu merapihkan pakaiannya yang berantakan.


"Baiklah kalau itu maumu," ucap Hardi sambil merapihkan jasnya, lalu dia mengangkat gagang telepon untuk menjawab panggilan interkom itu.


"Iya ada apa Mia?"


"Pak Joseph sudah datang, Pak."


"Suruh masuk aja sekarang."

__ADS_1


"Baik Pak."


Tak lama kemudian Hardi meletakkan gagang telepon itu di tempat semula. Valerie berjalan pelan ke salah satu kursi kosong yang berada di hadapan Hardi. Pintu ruang kerja Hardi terbuka sehingga memperlihatkan pria paruh baya yang masih kelihatan ganteng. Hardi berdiri ketika Joseph berjalan gagah menghampiri dirinya. Joseph menyodorkan tangan kanannya ke Hardi. Begitu juga dengan Hardi, Hardi menyodorkan tangan kanannya ke Joseph ketika Joseph berada di samping kanannya Valerie.


"Selamat siang Pak Joseph," ucap Hardi ramah sambil berjabat tangan dengan Joseph.


"Selamat siang juga Pak Hardi," ucap Joseph sambil melepaskan genggaman tangannya.


"Pak, perkenalkan ini model yang anda pilih untuk iklan produk perusahaan anda," ucap Hardi ramah.


Joseph menoleh ke Valerie, lalu menyodorkan tangan kanannya ke Valerie sambil merasakan getaran halus di relung hatinya dan berucap, "Joseph."


"Valerie," ucap Valerie sambil mengulurkan tangan kanannya ke Joseph, lalu mereka berjabat tangan.


"Aslinya cantik sekali," puji Joseph sambil mempererat jabat tangan mereka.


Sepertinya orang itu naksir aku. Bisa aku manfaati nich.


Batin Valerie.


"Terima kasih," ucap Valerie manja.


"Silakan duduk Pak Joseph," ucap Hardi ramah.


"Pak Joseph bisa kita mulai pembicaraan kerja sama perusahaan kita?" ucap Hardi berwibawa.


Kringgg ... kringgg ... kringgg ...


Tiba - tiba bunyi dering dari smartphone milik Hardi. Hardi menghela nafas berat karena merasa terganggu. Hardi mengambil smartphone miliknya di atas meja kerjanya. Hardi tersenyum miring ketika melihat tulisan bodyguard Agni 3. Hardi berdiri dari tempat duduknya ketika Joseph menoleh ke Hardi. Hardi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah untuk pamit sebentar. Berjalan ke sebuah jendela besar. Menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo, ada apa?" ucap Hardi datar.


"Nyonya sedang berjalan dengan Edward di taman kampus Nyonya, Tuan."


"Fotoin setiap kegiatan mereka, lalu kirimin ke email aku," titah Hardi.


"Baik Tuan."


Sedetik kemudian sambungan telepon itu terputus. Salah satu bodyguardnya Agni menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Tak lama kemudian menaruhnya di saku jaket kulitnya. Menyeruput kopi sambil melihat Agni yang sedang mengobrol dengan Edward. Edward menatap Agni dengan intens sehingga membuat Agni grogi.


"Mas, tolong jangan lihat aku seperti itu," ucap Agni sambil menundukkan kepalanya.


"Baiklah," ucap Edward kecewa lalu dia mengalihkan pandangannya ke area taman.


"Kapan kamu mulai kuliah di sini Mas?"

__ADS_1


"Bulan September tahun depan."


"Hai!" sapa Jennifer riang.


Agni mengalihkan pandangannya ke Jennifer, lalu berucap, "Kamu ke mana aja?"


"Sorry, tadi pagi aku nggak pamitan pergi ke kamu. Tadi aku jalan-jalan ke taman South Park."


"Ayo kita pulang!" ajak Agni sambil beranjak berdiri.


"Ngapain kita pulang?"


"Makan."


"Kamu sudah masak?"


"Iyalah."


"Masak apa?"


"Semur jengkol."


"Wah asyik, semur jengkol buatan kamu makyus. Benar kan Edward?"


"Iya benar, masakan dia yang tidak bisa aku lupakan kelezatannya," ucap Edward sambil beranjak berdiri.


"Ayo kita makan bersama, kamu ikut juga Edward."


"Wah, ayo."


Tak lama kemudian mereka berjalan menuju rumahnya Agni. Jennifer sengaja berjalan cepat mendahului Edward dan Agni. Agni berjalan dengan hati yang gundah gulana, dia tidak mau ajakan Jennifer membuat hatinya Hardi kecewa. Tapi jika melarangnya, dia akan melukai hati sahabatnya dan Edward. Saking gelisahnya, Agni tidak melihat ada batu di depannya sehingga dia tersandung."


"Aaauuww!" jerit Agni.


Dengan sigap Edward menghentikan langkah kakinya, lalu menarik tubuhnya Agni sehingga tubuhnya Agni tidak terjatuh. Edward mengangkat, lalu menggendong tubuhnya Agni ala bride style. Tatapan mata merem saling bertemu dan memaku. Agni memejamkan kedua matanya agar dia tidak terpesona dengan wajahnya Edward yang ganteng. Tak lama kemudian Edward melanjutkan langkah kakinya.


"Kita pergi ke apartemenku aja," ucap Edward sambil berjalan.


"Ngapain kita ke sana?" protes Agni.


"Supaya lebih cepat mengobati cederamu karena jarak apartemen lebih dari sini," ucap Edward teduh.


Jennifer menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badannya dan berucap, "Kenapa dengan Agni?"


"Dia ke sandung. Jenny kita ke apartemenku."

__ADS_1


__ADS_2