
"Kami akan bercerai," ucap Agni sendu.
"Kamu harus kuat Ni, aku yakin kamu bisa melewatinya. Tunjuki ke dia bahwa kamu tidak selingkuh dan kamu bisa hidup mandiri tanpa dirinya. Sudahlah Ni, kamu nggak usah bersedih hati lagi. Sangat disayangkan air matamu untuk seorang laki - laki yang tak punya adab terhadap wanita. Semangat Agni!"
"Iya Jenny."
"Kamu sudah kasih tahu hal itu ke Tante Sri?" tanya Jennifer.
"Sudah."
"Apakah Tante Sri mendukung kalian untuk bercerai?"
"Iya, Tante Sri sangat marah dan kecewa sama Hardi."
"Sekarang kamu tinggal di mana?"
"Di rumahnya Tante Sri."
"Kamu pakai jasa pengacara untuk mengurusi perceraianmu dengan Hardi?"
"Iya, soalnya tiga hari lagi aku harus balik ke Oxford."
"Agni, ayo sarapan Sayang," ucap Sri sambil menoleh ke Agni yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Iya, Tante," ucap Agni sopan sambil menoleh ke Sri. "Jenny, aku mau sarapan dulu," lanjut Agni.
"Ok, bye Agni."
"Bye Jenny."
Tak lama kemudian sambungan telepon itu terputus. Agni menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menaruh smartphone miliknya di atas sofa. Agni beranjak berdiri, lalu berjalan pelan menuju ke meja makan. Sri tersenyum lembut ke Agni ketika Agni menghentikan langkah kakinya di depan Sri. Agni tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya ke Sri.
"Bagaimana keadaan Shabrina Tante?" ucap Agni sambil menarik salah satu kursi di meja makan.
"Alhamdulillah sudah lebih baik dari kemarin," ucap Sri sambil menduduki tubuhnya di hadapan Agni.
"Mana Helena Tante?" tanya Agni sambil mengambil kentang tumbuk.
__ADS_1
"Masih di dalam kamarnya, sebentar lagi turun," ucap Sri sambil mengambil satu potong buah pir. "Kamu sudah yakin dengan keputusan kalian yang ingin bercerai?" lanjut Sri sambil mengangkat potongan pir itu.
"Iya Tante."
"Apakah kamu akan menikah lagi dengan Edward?" tanya Sri sambil mengunyah potongan pir itu.
"Aku tidak tahu Tante."
"Setelah nanti kamu lulus kuliah, kamu pulang kan ke sini? Soalnya Tante butuh banget kamu untuk mengurusi perusahaan keluarga."
"Memangnya Bi Mitha dan Mang Boy udah nggak bantuin Tante ngurus perusahaan?"
"Yah ... mereka mah cuma bisa andalin Tante. Lagi pula yang lebih berhak atas perusahaan itu adalah kamu Sayang. Tante nggak mau saham orang tua kamu di Bratadikara Jaya Sentosa Corporation."
"Iya Tante, nanti aku balik ke sini."
"Gitu dong Sayang. By the way hari ini kamu jadi ke kantor pengacara yang Tante rekomendasikan ke kamu?"
"Jadi Tante. Oh ya Tante, berapa tahun Ryan dipenjara?"
"Tujuh tahun, memangnya kenapa kamu menanyakan hal itu?"
"Bagus juga idemu Sayang. Memangnya rencana kamu mau bikin rumah di mana?"
"Aku rencananya mau bikin rumah di perumahan Britania village Sentul Tante."
"Wah, kamu harus cepat - cepat DP rumah itu, soalnya banyak orang yang mau beli rumah di situ Sayang. Perumahan yang diproduksi dan yang dikembangkan oleh perusahaan kita, banyak peminatnya," ucap Sri antusias.
"Kira - kira berapa DP rumah di situ Tante?"
"Tergantung type rumahnya Sayang. Yang paling bagus, type vintage London, DPnya lima ratus juta rupiah Sayang."
"Baiklah besok aku transfer untuk bayar DP satu unit rumah type itu ya Tante."
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
__ADS_1
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Kau selalu ada
Kau selalu ada
Kau selalu ada
Kau selalu ada
Smartphone milik Agni berbunyi. Agni membuka resleting tas selempangnya. Mengambil smartphone miliknya. Ekspresi wajahnya Agni berubah menjadi kesal ketika melihat tulisan mas Hardi di layar smartphone miliknya. Mau tak mau dia harus mengangkat panggilan telepon itu. Agni menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo, assalamu'alaikum Mas. Ada apa ya?"
"Wa'alaikumussalam. Kamu ngapain pergi dari rumah Mbah?" ucap Hardi kesal.
"Buat apa aku tinggal di situ, sedangkan kamu sudah talak aku Mas," ucap Agni datar.
"Aku kan hanya ngomong akan menceraikan kamu! Bulan menalak kamu!"
"Itu sama aja Mas. Udahlah jangan dibahas lagi, pagi ini aku akan mengurus perceraian kita Mas."
"Wah! Lancang sekali kamu ya! Sudah bergerak untuk mengurus perceraian kita! Berarti sebelum aku mengucapkan itu, kamu sudah berencana ingin kita bercerai. Kamu sudah ngebet ingin balikan sama si Ee?!"
"Kamu jangan asal nuduh dong Mas! Sebelum kamu ngomong kata cerai, aku belum punya niat untuk bercerai!!"
"Bullsihit!!! Mana mungkin kamu mengakui itu! Dasar wanita murahan!!"
"Jangan memfitnah aku lagi Mas!!!" bentak Agni.
Sambungan panggilan telepon itu terputus karena Agni sengaja memutuskan sambungan telepon itu. Hardi sangat marah karena panggilan itu terputus. Hardi menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Agni, namun nomor handphone milik Agni tidak aktif. Hardi melemparkan smartphone miliknya ke kasur dengan kasar.
__ADS_1
"****!!! Dasar wanita murahan!!!"