
Diklik like ya guys π.
Divote ya guys π.
Dikasih hadiah ya guys π.
Dikasih bintang lima ya guys π.
Dikomentari ya guys π.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Warna Keemasan cahaya mentari di cakrawala. Arakan awan menutupi sang surya di ufuk barat bersiap untuk tenggelam. Hari mulai senja menjemput mesra ketenangan malam. Angin semilir berhembus dengan lembut, melambai di penghujung hari. Burung camar beterbangan di langit senja. Menaungi lautan luas. Ombak bergulung-gulung dari lautan, memecah jua di bibir pantai. Deburan ombak saling bersahutan, suaranya terdengar begitu renyah.
Pasir pantai yang lembut tempat memijak telapak kaki Agni dan Edward. Mereka sedang berjalan menuju bibir pantai saling berpegangan tangan menikmati keindahan alam kalau senja di tepi pantai. Saat ini Agni hanya memakai bikini, sedangkan Edward hanya mengenakan celana renang. Saat ini mereka sedang menikmati hari terakhir bulan madu di pulau pribadi milik Cipto di kepulauan Mentawai.
Agni melepaskan genggaman tangannya Edward. Berjalan satu langkah, lalu merentangkan kedua lengannya sambil mendongakkan kepalanya. Edward tersenyum manis melihat kelakuan Agni yang sedang menikmati keindahan alam. Edward memeluk erat pinggang ramping milik Agni. Mencium leher jenjangnya Agni. Sejak menikah dengan Edward, Agni selalu merasakan ketenangan dan kenyamanan saat berada di dalam pelukan Edward.
"Kita berenang sekarang yuk!" ajak Edward.
"Ayo!"
Tak lama kemudian, Agni menyemburkan tubuhnya ke pantai yang dalam. Edward membuka celana renangnya, lalu menyusul Agni ke pantai yang lebih dalam. Agni menghentikan kegiatan berenangnya yang di pantai yang tidak terlalu dalam, dalamnya hanya sedada. Dia merubah posisinya, dari telentang ke berdiri. Mengedarkan pandangannya untuk mencari sosoknya Edward.
"Kemana suamiku ya?" gumam Jane bermonolog.
Hap
Tiba - tiba Edward nongol dari bawah permukaan air yang berada di belakang Agni sehingga membuat Agni terkesiap. Edward langsung membalikkan badannya Agni, lalu memeluk Agni dengan erat. Mencium benda kenyal milik Agni dengan lembut dan intens. Agni membalas ciuman Edward sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Edward. Ciuman mereka memanas dan menuntut.
Tangan kirinya Edward bergerilya ke bagian bawah lehernya Agni. Ciuman Edward beralih ke leher jenjangnya Agni sehingga Agni mendesah. Tangan kiri James menggeserkan kain kacamata, lalu meremas lembut dua gundukan milik Jane secara bergantian, sedangkan tangan kanannya merangkul erat pinggangnya Agni. Edward meninggalkan jejak kemerahan di lehernya Agni.
Tangan kirinya Edward beralih ke bagian inti tubuhnya Agni. Jari - jarinya menggeserkan kain segitiga, lalu bermain - main gila di bawah sana sehingga ******* Agni menjadi kencang. Di pusat tubuhnya Edward sudah mengeras karena aksi mereka. Edward menggendong tubuhnya Agni tanpa melepaskan ciuman mereka. Sontak Agni mengalungkan kedua tangannya di leher kokohnya Edward. Edward mengarahkan alat tempurnya ke gua milik Agni.
Alat tempur milik Edward sudah masuk sempurna ke gua milik Agni. Edward melakukan aksi membombardir guanya Agni dengan perlahan. Berbagai gaya dilakukan dengan apik dan lembut sehingga tidak bisa dilupakan. Suara deburan ombak mengiringi ******* dan lenguhan dari mulut mereka. Gerakan mereka menimbulkan gelembung - gelembung riak air di sekitar mereka.
Kegiatan mereka berhenti setelah mereka mengeluarkan erangan yang kencang dan panjang namun sensual. Melepaskan pelukannya dari tubuhnya Agni. Setelah itu Edward merapihkan kain segitiga dan kain penutup milik Agni. Agni mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka untuk memastikan di sekitar mereka. Agni tidak melihat seorang pun di sekitar mereka.
Untung nggak ada orang, coba kalau ada orang, bikin malu aja.
Batin Agni.
"Mas kamu gimana sich? Masa begituan di tempat terbuka," protes Agni.
"Kan nggak ada orang sayang, lagipula kan ini pulau pribadi milik keluargamu, pasti tidak ada orang yang berani datang ke sini."
"Tapi kan ada karyawan villa."
"Mereka kan sekarang lagi sibuk kerja sayang. Mana mungkin mereka memperhatikan kita sayang."
"Ya udah kalau begitu, kita berenang ke tepian pantai yuk!" ajak Agni.
__ADS_1
Tak lama kemudian Agni berenang ke mulut pantai. Edward menyusul Agni berenang ke tepian pantai. Agni dan Edward menghentikan kegiatan berenangnya ketika di pantai dangkal, lalu berjalan ke bibir pantai. Agni melebarkan kedua matanya melihat Edward telanjang bulat. Sontak Agni menutup kedua matanya dengan telapak tangan kanannya. Edward hanya tertawa kecil melihat kelakuan Agni.
"Mas, pakai celanamu dong!" protes Agni yang masih menutupi kedua matanya ketika Edward berjalan pelan ke celana renangnya yang teronggok di atas pasir putih.
"Nggak perlu, kamu kan setiap hari lihat aku telanjang, kenapa kamu jadi seperti itu," ledek Edward sambil mengambil celana renangnya, lalu memakainya.
"Tapi kan nanti ada karyawan villa," ucap Agni yang masih menutupi kedua matanya.
Edward berjalan menghampiri Agni. Menghentikan langkahnya di depan Agni. Mengangkat tubuhnya Agni, lalu menggendongnya ala bride style. Sontak Agni membuka kedua matanya. Tatapan mata mereka saling beradu sambil menahan gejolak rasa cinta dikombinasi dengan nafsu sehingga saling menghipnotis. Edward membaringkan tubuhnya Agni di atas pasir putih dengan lembut.
Deburan ombak kecil mengenai tubuhnya Agni. Jiwa lelakinya Edward bergelora ketika menatap intens tubuh idealnya Agni yang hanya dibaluti dengan bikini warna merah sedang berbaring pasrah. Edward menurunkan tubuhnya sehingga menindih tubuhnya Agni dengan menggunakan kedua tangan sebagai tumpuan. Jutaan deburan ombak kecil mengenai tubuh mereka.
"Aku mau lagi," ucap Edward bergairah.
Agni menganggukkan kepalanya sebagai respon ucapan Edward. Edward mendekatkan wajahnya ke wajahnya Agni. Edward me lu mat bibirnya Agni dengan lembut. Agni membalas ciumannya Edward. Edward memulai lagi berpetualang dari dataran indah, lembah, bukit, lembah, hutan sabana yang menggiurkan sehingga bertualang di dalam gua dengan penuh kelembutan.
Suara semangat bertualang menggema saling bersahutan sehingga terdengar suara lengkingan lenguhan. Kebahagiaan batin yang hakiki mereka terpenuhi pada sore hari ini setelah melakukan dua kali petualangan di pantai. Edward mengecup keningnya Agni dengan lembut. Merapikan beberapa anak rambut Agni yang menutupi wajah cantik alaminya.
"Terima kasih banyak sayang," bisik Edward lembut.
"Sama - sama Mas," ucap Agni dengan suara yang serak.
Sedetik kemudian Edward melepaskan penyatuan mereka. Menaikan celana renangnya yang tadi dia turunkan sampai setengah paha. Berdiri dari tubuhnya Agni yang terbaring tak berdaya. Berjalan untuk mengambil celana bikininya Agni yang tadi dia buka dan dia buang ke tempat yang kering. Mengambil celana bikini warna merah itu, lalu berjalan menghampiri Agni. Memakaikan celana bikini merah itu di tubuhnya Agni.
Mengangkat tubuhnya Agni dengan lembut. Menggendongnya lagi dengan bride style. Agni mengalungkan kedua tangannya di leher kokohnya Edward. Edward berjalan santai menyusuri garis bibir pantai sambil menggendong Agni menuju villa milik Agni. Menaiki beberapa anak tangga yang terbuat dari batu karang yang tersusun dengan apik.
Setelah menaiki ratusan batu karang, Edward berjalan melewati area kolam renang di villa menuju kamar utama di villa. Menggeser pintu kamar utama di villa yang menghadap kolam renang sekaligus lautan luas. Edward masuk ke dalam kamar. Menutup pintu kamar utama itu. Merebahkan Agni di sofa panjang dengan hati - hati.
"Iya, tapi di dalam kamar mandi jangan belah duren lagi ya," ucap Agni lembut.
"Iya sayangku. Kamu istirahat dulu sebentar di sini ya."
"Iya Mas.
Sedetik kemudian Edward berjalan ke kamar mandi yang berada di dalam kamar utama itu. Masuk ke dalam kamar mandi melewati pintu yang sudah terbuka. Menutup pintu kamar mandi itu. Agni mengalihkan pandangannya ke televisi. Tak sengaja Agni melihat sebuah foto kedua orangtuanya dengan pose yang mesra. Hatinya Agni terenyuh setelah melihat foto itu.
Tok ...
"Nyonya Agni!" panggil salah satu petugas villa.
"Iya ada apa?"
"Ada telepon dari Nyonya Sri untuk Nyonya Agni."
"Iya, tolong bawa aja gagang teleponnya ke sini."
"Baik Nyonya."
Tak lama kemudian pintu kamar utama yang lainnya terbuka. Menampilkan sosok seorang wanita paruh baya sambil membawa gagang telepon wireless warna hitam. Wanita baya itu bernama Tukinem. Tukinem masuk ke dalam kamar. Melangkahkan kakinya dengan sopan. Memberikan gagang telepon itu ke Agni dengan sopan. Agni menerimanya dengan sopan juga.
"Terima kasih ya Mbok," ucap Agni sopan.
__ADS_1
"Sama - sama Nyonya. Saya pamit keluar Nyonya.
"Iya Mbok."
"Permisi," ucap Tukinem sopan, lalu dia memutarkan badannya.
"Hallo assalamu'alaikum Tante," sapa Agni sopan.
"Wa'alaikumussalam anak Tante yang cantik. Kamu lagi ngapain sayang?"
"Lagi rebahan aja Tante."
"Emangnya kalian habis ngapain?"
"Habis bercinta di pantai Tante," jawab Agni sopan.
"Widihhh, sepertinya Edward telah memberikan petualangan yang baru lagi buat kamu sayang."
"Iya Tante," ucap Agni malu - malu."
"Pasti pengalaman bercinta di dalam kapal, sungai, di bawah air terjun , di dalam tenda, dan di pantai tidak bisa dilupakan," ledek Sri.
"Ah Tante bisa aja," ucap Agni malu - malu.
"Oh ya, besok pagi kamu jadinya pulang naik kapal pesiar?"
"Iya Tante."
"Pasti biar bisa berduaan terus supaya bisa bikin anak," ledek Sri.
"Iya Tante, Edward pengen kami berduaan terus supaya bisa bikin anak."
"Ya udah kalau gitu, udah dulu ya sayang.
"Bye Tante."
"Bye keponakan Tante yang cantik."
Sedetik kemudian Sri menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinga kirinya. Menyentuh ikon merah untuk mematikan sambungan telepon itu. Menaruh smartphone miliknya di atas nakas sebelah kanan tempat tidurnya. Melihat Hendra yang keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk. Sri tersenyum bahagia melihat sosok Hendra yang masih kelihatan ganteng di usia yang cukup tua.
"Mas, ternyata dugaan kamu benar, Agni mau pulang ke Jakarta naik kapal pesiar," ucap Sri sambil menyingkap selimutnya.
Yes, rencanaku yang ini harus berhasil, tak boleh gagal.
Batin Hendra.
"Tuch benar kan ucapanku," ucap Hendra lembut sambil menoleh Sri yang sedang tidak memakai sehelai benang apa pun.
Sri memeluk pinggangnya Hendra, lalu berucap, "Mas aku pengen lagi, tapi dengan posisi yang belum pernah kita lakukan."
"Sri yang kusayangi, malam ini aku sudah ada janji dengan klien perusahaan kita, aku mohon kamu mengerti ya sayang. Kita kan sudah melakukan itu hampir seharian, masa dalam sehari belah duren melulu."
__ADS_1