
Dilike ya guys π
Divote ya guys π
Dikasih bintang lima ya guys π
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Sang fajar menyembul di antara tumpukan di ufuk timur memancarkan sinarnya yang berwarna kuning ke merahan. Cahayanya menembus lembut celah - celah gorden dan ventilasi udara ke dalam kamar Agni sehingga pencahayaan di kamarnya Agni tampak temaram. Silaunya sinar matahari tidak mengusik tidur lelap Agni yang masih betah berada di alam mimpinya. Tubuhnya Agni dengan posisi terlentang berada di bawah selimut tebal.
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Kau selalu ada
Kau selalu ada
Kau selalu ada
Kau selalu ada
Terdengar bunyi berisik yang memekakkan gendang telinga dari smartphone milik Agni yang berada di atas nakas samping kanan tempat tidur. Kedua kelopak matanya Agni mulai bergerak sayup - sayup. Kemudian mengerjap secara perlahan untuk menyesuaikan dengan cahaya temaram di dalam kamarnya. Agni menggeliatkan tubuhnya dengan mata yang masih belum terbuka sempurna.
Tangan kanannya meraba - raba untuk menggapai smartphone itu yang sudah berdering sejak tadi hingga hampir terjatuh dari atas nakas. Agni berhasil mendapatkan benda pipih itu. Dia bangun dari posisi terlentang ke posisi duduk menyandarkan punggungnya di headboard. Kelopak matanya yang masih terkantuk - kantuk, dan tangannya mengusap - usap daun telinganya yang terasa berdenging karena bisingnya bunyi smartphone tadi.
"Whoammm," Agni menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Tanpa melihat siapa yang menelepon, Agni menggeser ikon hijau, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya dan berucap, "Assalamu'alaikum, hallo."
"Ni, Mbah Batara telah meninggal dunia," lirih Sri.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un, kapan meninggalnya Tante?" ucap Agni sedih.
"Tadi pagi, malam ini mau dimakamkan. Hardi sudah kasih tahu kabar ini ke kamu?"
"Belum Tante."
"Mungkin dia sedang sibuk ngurusin pemakaman kakeknya. Kamu mau pulang ke Indonesia?"
"Iya Tante, aku mau ke makamnya Mbah dan ingin menghadiri acara tahlilan Mbah Tante."
"Kapan kamu pulang ke Indonesia?"
__ADS_1
"Sedapatnya tiket Tante, aku minta izin dulu sama para dosenku. Tante sekarang lagi di mana?"
"Lagi on the way ke rumah Mbah Batara."
"Tolong sampaikan turut berdukacita saya ke Mas Hardi, Tante."
"Iya. ya udah kalo gitu, sampai ketemu di Indonesia."
Tiba - tiba sambungan telepon itu terputus. Agni menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menaruhnya di tempat semula. Menyibak selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Beranjak dari tempat tidur. Berjalan pelan menuju ke kamar mandi. Sedetik kemudian terdengar suara ketukan pintu kamarnya.
Tok... tok... tok...
"Agni! Tolong bukakan pintunya!" teriak Jennifer yang berada di depan pintu kamarnya Agni
"Iya, tunggu sebentar!" teriak Agni sambil membalikkan tubuhnya.
Tak lama kemudian Agni berjalan pelan menuju ke pintu kamarnya. Membuka kunci pintunya dan menekan ke bawah handle pintunya. Pintu terbuka secara perlahan. Jennifer langsung masuk nyelonong ke dalam kamarnya Agni setelah pintu kamar terbuka lebar. Kemudian, Agni menutup dan mengunci lagi pintu kamarnya. Lalu Agni membalikkan badannya dan berjalan pelan.
"Ni, ada berita duka, Pak Batara telah meninggal dunia," ucap Jennifer sambil memutarkan tubuhnya untuk menghadap ke Julia.
"Iya aku sudah tahu, barusan Tante Sri yang kasih tahu," ucap Agni sedih sambil berjalan pelan ke pinggiran tempat tidur.
"Kok bukan Hardi yang kasih tahu kamu sich?" tanya Jennifer heran sambil mengikuti langkah kakinya Agni.
"Mungkin dia sedang sedih dan sibuk ngurusin pemakaman Mbahnya," ucap Agni sambil menduduki tubuhnya di pinggiran tempat tidur sebelah kanan.
"Yah nggak bisa gitu juga sich Ni, dia kan suami kamu, seharusnya dia yang menyampaikan berita duka itu ke kamu, bukannya Tante Sri," ucap Jennifer sambil menduduki tubuhnya di sebelah kirinya Agni. "Kamu mau pulang ke Indonesia?"
"Iya Jenny, aku mau ke makamnya Mbah dan ingin menghadiri acara tahlilan Mbah," ucap Agni sambil menoleh ke Jennifer.
"Belum tahu. Aku belum kasih tahu ke Mas Hardi soal itu."
"Kasih tahulah dan minta dijemput sama dia. Telepon dia sekarang aja, kasih tahu bahwa kamu mau pulang ke Indonesia dan sekalian ucapi belasungkawa ke dia."
Agni menuruti ucapan Jennifer. Agni mengambil smartphone miliknya di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Menyentuh beberapa ikon di layar smartphone miliknya untuk menghubungi Hardi. Mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya.
"Assalamu'alaikum, hallo Mas."
"Wa'alaikumussalam," ucap Hardi dengan suara yang serak.
"Aku turut berdukacita atas meninggalnya Mbah. Innalilahi wa innailaihi roji'un," ucap Agni sedih.
"Ehm."
"Kamu habis bangun tidur ya Mas?"
"Ehm."
"Aku mau pulang ke Indonesia, nanti tolong dijemput di bandara Soekarno Hatta ya."
"Ehm."
__ADS_1
"Kapan Mbah dimakamkan?"
"Nanti malam" jawab Hardi datar.
"Ya udah kalo gitu. Sampai ketemu di Indonesia ya Mas."
"Ehm."
"Assalamu'alaikum, bye Mas."
"Wa'alaikumussalam, bye."
Sedetik kemudian Hardi menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menaruhnya di atas nakas sebelah kiri tempat tidurnya. Hardi menoleh ke Valerie yang sedang tertidur pulas setelah satu ronde dibombardir oleh Hardi. Hardi mengusap puncak kepalanya Valerie, lalu mencium keningnya Valerie dengan lembut.
"Terima kasih Honey," ucap Valerie dengan suara yang surau.
"Sama - sama Sayang, karena dirimu di sisiku, diriku menjadi tenang."
"Apakah Agni akan pulang ke sini?"
"Iyalah, dia itu masih menjadi istriku walaupun orangnya telah berkhianat."
"Terus kita berpisah dong?"
"Untuk sementara iya sayang. Setelah aku menyelesaikan perceraian kamu, kita akan selalu bersama Sayang."
"Apakah kamu akan menceraikan Agni?"
"Tentu saja Sayang. Setelah itu aku akan menikahimu Sayang."
"Aku sangat senang Honey, akhirnya kita bisa bersatu selamanya," ucap Valerie senang karena keinginan dia akan terwujud.
Sedetik kemudian Hardi menyibak selimut yang telah menutupi tubuh telanjang mereka. Begitu juga dengan Valerie. Valerie mengikuti langkah kakinya Hardi. Hardi dan Valerie masuk ke dalam kamar mandi. Hardi membalikkan badannya hendak menutup pintu kamar mandi. Valerie langsung menyambar bibirnya Hardi sehingga mereka berciuman. Hardi menggendong Valerie tanpa melepaskan ciuman mereka. Hardi menaruh tubuhnya Valerie di atas westafel kamar mandi.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan dari pintu kamarnya Hardi yang berada di dalam mansion milik Batara. Sontak mereka menghentikan kegiatan panas mereka. Hardi melepaskan bibirnya dari tautan bibirnya Valerie. Valerie cemberut karena cumbuan panas mereka terganggu. Valerie turun dari westafel ketika hardi berjalan pelan ke walking in the closet.
"Hardi, ada Tante Ayu, dia ingin menemuimu," teriak Pratistha yang ternyata telah menggangu mereka.
"Iya, nanti aku temui dia," ucap Hardi dengan volume suara yang kencang.
Sedetik kemudian sudah tidak ada suara Pratistha. Valerie mengikuti langkah kakinya Hardi. Hardi membuka salah satu pintu lemari. Mengambil celana boxer, lalu memakainya, celana pendek lalu memakainya dan kaos lalu memakainya. Hardi menutup pintu lemari itu. Membalikkan badannya untuk segera menemui Ayu.
"Ayu siapa?"
"Dia ibu tiriku, istri kedua pipiku."
"Kalau nggak salah kamu pernah menceritakan tentang dia ke aku ya?"
"Iya."
__ADS_1
"Ngapain dia ke sini, Honey?"
"Mau minta jatah warisan dari Mbah. Dia pasti datang ke sini setelah mendengar kabar Mbah meninggal dunia."