
Dilike ya guys π
Divote ya guys π
Dikomen ya guys π
Dikasih bintang lima ya π.
Dikasih hadiah ya π.
Dimasukin ke daftar favorit ya π.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Menatap jutaan rintik - rintik hujan turun dengan lemah gemulai yang berasal dari gumpalan awan hitam cumulonimbus menghiasi cakrawala telah membasahi kota Jakarta dan kilatan petir telah menyambar langit pada siang hari yang mendung. Semendung dengan suasana hatinya Agni yang sedang kalut karena besok dia harus meninggalkan Indonesia secara dadakan.
Karena itu dia tidak bisa mencari Edward bersama Jenny. Tujuan Agni datang ke coffee shop ini adalah untuk menemui Jenny. Agni ingin memberi tahu tentang kepergian dirinya dan batalnya pencarian Edward ke Jenny. Namun sudah satu jam menunggu, tak ada batang hidung orang itu, apalagi di luar sana sedang hujan. Agni memayunkan bibirnya karena bete menunggu kedatangan Jenny.
"Maaf telah menunggu lama," ujar seseorang yang Agni kenal suaranya sambil berdiri di belakang Agni.
Sontak Agni menoleh ke belakang. Ia sangat kaget melihat sosok sahabatnya yang bernama Jennifer, tapi Agni sering menyebutnya dengan nama Jenny. Agni langsung mengalihkan pandangannya sambil memasang wajah yang bete ketika Jennifer berjalan mengitari meja. Agni menopang dagu ketika Jenny menarik kursi di hadapan Agni, lalu mendudukinya.
"Sorry ya telat," ucap Jenny memelas.
"Kebiasaan telat," ucap Agni bete.
"By the way ada apa kamu ngajak aku ketemuan di sini?" ucap Jennifer to the point.
"Lusa kIta tidak jadi mencari Mas Edward."
"Wow, bagus itu, berarti kamu sudah mengikhlaskan kepergiannya," ucap Jennifer spontan.
"Jenny, dia masih hidup!"
"Come on Ni, kamu harus bisa move on dari takdir hidupmu. Kalau aku mengiyakan feeling kamu yang tidak realita, sama aja aku tidak mendukung kamu untuk bisa move on. Percayalah pada takdir sayang," ucap Jenny lembut.
Agni mengalihkan pandangannya ke jendela coffee shop itu, lalu berucap, "Feelingku tidak pernah salah."
"Itu kan cuma perasaan kamu aja, coba kamu berfikir jernih dan berfikir realistis supaya kamu bisa mengikhlaskan kepergian Mas Edward. Ayolah Ni, kamu pasti bisa mengikhlaskannya."
"Aku nggak tahu, karena keyakinanku mengatakan bahwa Mas Edward masih hidup."
"Kamu masih menjalani terapi?"
"Sudah nggak, aku sudah malas mengikuti terapi, lagipula kalau terapinya diterusin bisa bentrok dengan impianku yang ingin menjadi mahasiswi di universitas Oxford dan besok aku harus berangkat ke Oxford."
"What!? Kok dicepati?" ucap Jenny terkejut.
__ADS_1
"Karena semalam aku dan Hardi berhubungan intim," ucap Agni malu-malu sambil menundukkan kepalanya.
"What!? Itu tidak mungkin!? Kamu kan selalu menjaga nilai-nilai adat ketimuran. Pasti kamu diapa-apain sama Hardi."
"Kami melakukan itu mengalir begitu saja, aku juga nggak tahu kenapa mau berhubungan intim sama dia."
"Waktu itu kamu merasa kegerahan nggak?"
"Iya, selain itu bawaannya gelisah melulu dan ingin melakukan itu," ucap Agni sambil menoleh ke Jenny.
"Wah ... kurang ajar sekali si Hardi, dia ngasih obat perangsang ke kamu Ni."
"Masa sich!?" ucap Agni antara percaya dan tidak percaya.
"Sebelum kejadian itu kamu dikasih minuman atau makanan dari dia?"
"Nggak, malah yang ngasih minuman ke aku, Mas Richard."
"Siapa Richard?"
"Temannya Mas Hardi. Dia itu yang punya wedding organizer yang dipakai oleh Dokter Louis untuk acara pesta pernikahan Dokter Louis dengan Gabby."
"Richard ngasih minuman itu saat acara pesta pernikahan Dokter Louis masih berlangsung?"
"Iya, setelah aku meminum itu, aku merasa kegerahan dan gelisah. Lalu, Mas Hardi mengajak aku pulang. Pas kami berada di dalam mobil, kami memulai melakukan hubungan intim, lalu berlanjut melakukan itu di dalam kamar tidurku."
"Wah ... benar-benar licik tuch Mas Hardi. Kalian melakukan itu berapa kali?"
"Waktu itu dia pakai pengaman nggak?"
"Nggak."
"Gawat, kamu bisa hamil. Kamu minum pil kontrasepsi sekarang biar nggak hamil," ucap Jenny yang membuat Agni kaget.
"Ya udah kalau gitu, temani aku beli obat itu fi apotik."
"Ok, tapi setelah aku belanja pakaian di Mango, sekalian aku beliin sesuatu buat kamu sebagai kenang-kenangan dariku," ucap Jenny.
Agni menoleh ke Jenny, lalu berucap dengan semangat, "Ayo!"
Tak lama kemudian mereka beranjak berdiri dari kursi masing-masing. Agni, Jenny dan para bodyguardnya Agni melangkahkan kakinya menuju ke pintu coffee shop itu. Berjalan melewati pintu itu membelok kaki mereka ke arah kanan jalanan. Menyusuri koridor mal yang memiliki luas 130,000 meter persegi. Jennifer dan Agni mengedarkan pandangannya mencari store Mango. Akhirnya mereka menemukan store itu. Masuk ke dalam toko itu.
Menyusuri toko baju itu sambil melewati beberapa gantungan pakaian pria dan beberapa etalase barang-barang khusus pria yang merupakan produk dari toko itu. Tak sengaja Agni melihat sosoknya Edward yang masih lupa ingatan sambil berjalan dan membawa beberapa pakaian. Sontak Agni menghentikan langkahnya, lalu memperhatikan gerak-geriknya Edward.
Aku yakin itu Mas Edward.
Batin Agni sambil menelisik wajahnya Edward dari jarak lima meter.
__ADS_1
"Mas Edward!" teriak Agni yang membuat Jenny menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke Agni yang berada jauh di belakangnya.
Yang dipanggil tidak menoleh, malah asyik melangkahkan kakinya ke salah satu etalase di dalam toko itu. Sedangkan Jenny berlari kecil menghampiri Agni. Karena kesal, Agni langsung berlari kecil menghampiri Edward. Yang dikejar malah menerobos keramaian kumpulan beberapa orang. Tiba-tiba Agni tersandung salah satu kaki gantung pakaian di dalam toko itu.
"Aauww!" pekik Agni kesakitan.
Sontak salah satu bodyguard Agni membantu Agni untuk berdiri, lalu berucap, "Nona, baik-baik aja?"
"Iya."
"Kamu kenapa Ni?" ucap Jenny khawatir setelah menghentikan langkahnya di samping kanannya Agni.
"Hanya kesandung. Jenny, tadi aku melihat Mas Edward. Aku meneriakkan namanya, tapi dia tidak menengok ke aku. Lalu aku mengejarnya, tapi dia malah menjauh sampai aku terjatuh," ucap Agni sedih.
"Berarti dia itu bukan Edward Ni."
"Aku yakin orang itu adalah Mas Edwardku Jenny."
"Kalau dia Edward, dia pasti nengok Ni."
"Mungkin dia lagi hilang ingatan."
"Kamu ada-ada aja, udah ah, ayo belanja."
"Kamu aja duluan, nanti aku nyusul."
"Terus kamu mau ngapain?"
"Aku mau cari orang itu."
"Astaga naga, sudah cukup kamu berkhayal Edward masih hidup, sekarang waktunya kamu harus move on sayang."
"Mas Edward masih hidup Jenny."
"Kalau begitu terserah kamu aja," ucap Jenny bete sambil memutarkan kedua bola matanya.
Tak lama kemudian Jenny membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya meninggalkan Agni. Sedetik kemudian Agni dan para bodyguardnya melanjutkan langkah kaki mereka. Menyusuri jalanan di dalam toko itu. Agni sudah tidak melihat keramaian lagi yang dilalui oleh Edward. Agni mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Edward, tapi Edward tidak ditemukan. Agni masih terus melanjutkan langkahnya ke bagian rak celana untuk cowok.
Tak sengaja dia melihat dokter Shafira yang sedang memilih celana. Tapi sayangnya, Agni tidak tahu dan tidak kenal sama Shafira. Maka itu Agni melewati Shafira begitu saja. Sekilas Shafira melihat Agni sedang berjalan melewatinya. Shafira hanya menoleh sebentar ke Agni yang sedang celingukan. Shafira melanjutkan aktivitasnya untuk mencari beberapa celana yang cocok untuk Edward. Setelah mengambil lima buah celana, Shafira melangkahkan kakinya menuju salah satu kamar pas di toko itu. Diketuk pintu kamar pas itu.
Tok ... tok ... tok ...
"Boy, coba pakai celana-celana ini, kalau ada yang cocok beli aja lagi," ucap Shafira.
Tak lama kemudian pintu kamar pas itu terbuka. Shafira menelan salivanya berulang kali melihat sosok Edward yang sedang bertelanjang dada dan tersenyum manis. Rona merah menyeruak di pipinya Shafira. Shafira langsung menundukkan kepalanya karena tak kuasa melihat Edward. Shafira memberikan lima celana itu ke Edward. Tiba-tiba ada orang yang tidak sengaja menabrak Shafira sehingga Shafira terhuyung ke depan dan menabrak Edward.
Sontak Edward memeluk pinggang rampingnya Shafira. Bibirnya Shafira tak sengaja menyentuh ****** dada Edward sehingga membuat jiwa Casanova Edward terangsang. Edward menarik tubuhnya Shafira ke dalam kamar pas, lalu melepaskan pelukannya. Menutup, lalu mengunci pintu kamar pas itu. Edward membalikkan badannya sehingga berhadapan dengan Shafira. Tubuhnya Shafira terhimpit oleh badan Edward dan tembok kamar pas.
__ADS_1
Shafira merasakan gejolak desiran di rongga hatinya dan detakan jantungnya yang bertambah cepat ketika Edward mendekatkan wajahnya ke wajah Shafira. Shafira memejamkan kedua matanya karena tak kuasa menahan rasa cintanya kepada Edward. Edward mengecup puncak kepalanya Shafira dengan lembut. Edward tidak berani untuk berbuat lebih jauh lagi karena Shafira merupakan seorang wanita yang baik hati dan dia tidak mau melukai hati wanita itu."
"Bagiku semuanya sudah cukup."