
"Buka matamu sayang," bisik Edward.
Agni membuka kedua matanya. Tercengang melihat pemandangan yang sangat indah di mata. Perpaduan aliran air terjun yang jernih dengan aliran sungai yang bening digabungkan dengan dekorasi hiasan lampu warna - warni, lilin, karangan bunga anggrek hutan dan tikar. Di bawah naungan cahaya bulan purnama dan para bintang dengan formasi yang indah, Edward telah membuat tempat yang sangat romantis di pinggir sungai dan air terjun.
Sebuah tikar yang digelar di pinggir sungai. Di depan tikar ada api unggun yang nyala. Sisi kanan kiri tikar dihiasi dengan lilin yang beralaskan bambu dan karangan bunga anggrek. Di atas tikar dipasang lampu warna - warni. Di atas tikar ada selembar daun pisang yang berisikan berbagai macam ikan yang sudah dibakar, satu gelas air putih dan beberapa lobster yang sudah dibakar. Terdengar suara - suara yang menenangkan jiwa seperti suara air terjun dan suara gemercik air sungai yang telah melengkapi keindahan di dirinya Agni.
Edward menggandeng tangan kirinya Agni, lalu membimbing Agni ke tikar. Membuka alas kaki yang mereka dapatkan dari dalam koper. Edward melepaskan gandengan tangannya. Mereka menduduki tubuh mereka menghadap air terjun dan aliran sungai ditemani oleh komposisi keindahan alam di langit dan dekorasi yang dirancang dengan apik dan indah. Edward mengambil salah satu lobster yang berada atas daun pisang, lalu membelahnya.
"Kamu habiskan semuanya ya," ucap Edward lembut sambil memberikan badannya lobster ke Agni.
"Kamu nggak makan Mas?" tanya Agni sambil menerima badan lobster itu.
"Aku tadi sudah makan sayang," ucap Edward hangat sambil membuang bagian kepalanya lobster ke tempat sampah yang sudah disiapkan oleh dirinya sendiri.
"Terima kasih atas semuanya ya Mas, aku sangat menyukainya," ucap Agni bahagia sambil memegang badan lobster itu, lalu memakan badan lobster itu dengan lahap.
Edward tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ucapan Agni. Edward mengalihkan pandangannya ke gugusan bintang yang sangat indah dipandang. Agni membuang kulit lobster ke tempat sampah setelah dia menghabiskan lobster. Agni mengambil salah satu lobster yang tersisa di atas daun pisang. Memotong tubuhnya lobster, lalu membuang bagian kepala lobster ke tempat sampah. Memakan badan lobster itu dengan lahap.
Waktu terus berputar mengiringi Agni yang sedang makan malam. Agni mengambil gelas yang berisi air putih setelah menghabiskan semua makanan dengan lahap, lalu meminumnya sampai tandas. Menaruh gelas itu di tempat semula. Mengikuti arah pandang Edward yang sedang melihat bintang - bintang dengan formasi yang sangat memanjakan mata. Melihat keindahan alami di langi gelap mereka juga mendengar suara - suara dari aliran sungai dan air terjun yang sangat enak didengar.
"Mas, persediaan beras di rumah habis. Bagaimana kalau besok kita pergi dari sini, mencari bahan makanan, sebuah perkampungan dan seorang ustadz?" ucap Agni yang mengalihkan perhatian Edward.
"Kamu jangan khawatir sayang. Persediaan beras masih ada di gudang sayang. Kamu jangan plin - plan sayang, kemarin kamu mau kita menetap sementara di sini sampai pemilik rumah itu kembali bahkan sebelum kamu ngomong gitu, kamu juga ngomong mau mencari sebuah perkampungan dan ustadz. Kamu harus punya komitmen sama ucapanmu sayang supaya kamu punya prinsip," ucap Edward lembut sambil menengok ke Agni
"Kalau menurutmu bagaimana Mas?" ucap Agni sambil menengok ke Edward.
"Kita tetap di sini sampai pemilik rumah kembali," ucap Edward yakin.
"Menurut Mas siapa ya pemilik area sini? Bahkan orang itu memiliki senjata api, bubuk mesiu, bom dan alat - alat yang berhubungan dengan persenjataan. Apakah dia seorang konglomerat atau seorang makar?"
"Bisa jadi atau bisa juga ini lahan milik pemerintah yang dijaga sama tentara."
"Udah ah omongin orang, lebih baik kita main tebak - tebakan."
"Ok, kamu duluan yang kasih tebak - tebakannya."
__ADS_1
"Apakah aku? Di tengah malam, di belakang mobil di depan lemari."
"Ehm ... kuntilanak."
"Bukan, tapi huruf L. Aku lagi ya. Apakah aku? Di tengah makam, di belakang bak di depan kucing."
"Huruf K."
"Yup benar. Sekarang giliran Mas yang ngasih tebak - tebakan."
"Ok. Apakah aku? Bentukku lonjong, berbulu, berkutit, berbatang dan berbiji."
"Ehm ... apa ya? Aku nggak tahu Mas."
"Jagung. Aku lagi ya, buah - buah apa yang bikin merem melek?"
"Buah asem."
"Yup benar, sekarang giliran kamu sayang."
"Kancing."
"Benar, sekarang giliran Mas."
"Susu, susu apa yang harganya naik terus dan tidak ada harga promosi?"
"Ehm ... aku nggak tahu Mas."
"Susu cap nona seperti punyamu," ledek Edward yang membuat rona merah di pipinya Agni karena malu.
"Ah Mas mah mesum," ucap Agni datar.
"Hehehe. Sayang, bolehkah aku minta kamu menutup kedua matamu?"
"Boleh," ucap Agni.
__ADS_1
Sedetik kemudian Agni memejamkan kedua matanya. Edward mengambil salah satu bucket beraneka macam bunga anggrek yang berada di pinggir sebelah kanan tikar. Anggrek larat atau nama lainnya adalah Dendrobium phalaenopsis, Anggrek albert atau nama lainnya adalah Dendrobium d’albertisii, Anggrek jamrud atau nama lainnya adalah Dendrobium macrophyllum, Anggrek hitam atau nama lainnya adalah Coelogyne pandurata dan Anggrek bulan atau nama lainnya adalah Phalaenopsis amabilis. Sedetik kemudian Edward menggeser tubuhnya sehingga duduk di depan Agni.
"Sekarang buka kedua matamu," ucap Edward lembut sambil menyodorkan bucket bunga anggrek itu ke Agni.
"Wow bagus banget bucket bunga anggreknya," ucap Agni senang sambil menerima bucket bunga anggrek yang berwarna - warni, lalu menciumi bucket bunga anggrek itu.
"Sayang, maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Edward sangat lembut.
Agni mengalihkan pandangannya ke Edward sambil merasakan hatinya yang berbunga - bunga. Edward membelai wajahnya Agni sehingga desiran di relung hati mereka bergejolak. Agni menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Edward. Edward tersenyum sumringah karena merasa sangat bahagia. Rasa bahagia menyelimuti jiwa mereka. Rona merah menyeruak di pipinya Agni karena malu mengakui untuk menjadi kekasihnya Edward sehingga dia menutup mukanya dengan bucket bunga.
"Kamu tak perlu malu sayang," ucap Edward sambil menangkup pipinya Agni.
"Mas tolong lepaskan kedua tanganmu
Udah malam, aku mau tidur," ucap Agni malu - malu.
"Ok," ucap Edward.
Tak lama kemudian Edward melepaskan kedua tangannya dari pipinya Agni. Agni berdiri sambil menutupi wajahnya dengan bucket bunga anggrek. Edward tertawa kecil melihat kelakuan gadis mungil miliknya. Agni memutarkan badannya sambil menghempaskan bucket bunga anggrek dari wajahnya. Memakai sendal ketika Edward beranjak berdiri.
Agni menjadi salah tingkah ketika Edward berdiri di belakangnya. Karena itu Agni keserimpet sama sandalnya sehingga tubuhnya terhuyung ke depan. Dengan sigap Edward menarik pinggang rampingnya Agni. Agni merasakan hembusan nafasnya Edward yang hangat di atas kepalanya. Edward mengecup puncak kepalanya Agni.
"Hati - hati sayang," ucap Edward lembut.
Edward memutarkan tubuhnya Agni sehingga wajah mereka saling berhadapan. Tatapan kedua mata mereka saling memaku. Desiran yang bergejolak di hati mereka membuncah. Edward mendekatkan wajahnya ke wajahnya Agni. Mencium bibirnya Agni dengan lembut. Agni membalas ciuman Edward sambil mengalungkan kedua tangannya di leher kokohnya Edward. Mereka saling me lu mat, meng hi sap, menukar saliva, mengabsen setiap deretan gigi mereka, dan saling membelitkan lidah mereka.
Ciuman mereka memanas. Edward menggiring Agni masuk ke dalam rumah tanpa melepaskan ciuman mereka. Mereka menghentikan ciuman mereka sambil menghentikan langkah kakinya mereka ketika mereka berada di ruang tamu. Nafas mereka tersengal - sengal. Mereka mengatur nafas mereka supaya kembali normal. Mereka tersenyum senang sambil melepaskan pelukan mereka. Karena kegerahan Edward membuka kaosnya, sedangkan Agni membuka kimono satinnya sehingga memperlihatkan tubuh idealnya dibalik lingerie hitam.
Agni melempar kimono ke sembarang tempat ketika Edward menelan salivanya berulang kali sambil menahan gairah nafsunya. Mereka saling menatap intens lagi. Edward merapikan beberapa anak rambut di wajahnya Agni. Membelai wajah cantiknya Agni. Agni tak kuasa menahan desiran yang sedari tadi membuncah sehingga dia mencium bibirnya Edward. Dengan senang hati Edward membalas ciuman Agni. Mereka kembali berciuman dengan penuh gairah sambil saling berpelukan.
"Siapa kalian??" ucap seseorang yang mengejutkan mereka.
Sontak mereka menghentikan ciuman mereka, lalu melepaskan ciuman mereka. Mereka melepaskan pelukan mereka. Edward memutarkan badannya, sedangkan Agni bersembunyi di belakang tubuh kekarnya Edward. Edward mengangkat kedua tangannya ketika ditodong senjata api oleh empat orang laki - laki yang memakai baju tentara. Agni mengintip dari balik tubuhnya Edward.
"Kami adalah sepasang kekasih."
__ADS_1