Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Mas Hardi


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading 🤗


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


"Mas Hardi," ucap Agni dengan nada suara yang merdu.


"Iya sayang," ucap Hardi lembut sambil membimbing Agni berjalan dari belakang.


"Terima kasih atas perhatian yang spesial dari Mas Hardi ketika aku berulang tahun. Mas, nggak pernah melupakan hari ulang tahunku."


"Tentu saja aku tidak pernah melupakan hari ulang tahunmu. Kita berhenti di sini," ucap Hardi sambil menghentikan langkah kakinya dan menahan badannya Agni.


"Pasti kita berada di tempat yang sangat romantis," ucap Agni excited ketika Hardi membuka tutupan matanya Agni.


"Sayang, buka matamu sekarang," bisik Hardi setelah membuka ikatan mata di kepalanya Agni, lalu menaruh ikatan itu di dalam kantong celana sebelah kanan.


Ddduuuaaarrr ...


Ddduuuaaarrr ...


Ddduuuaaarrr ...


Tiba - tiba bunyi beberapa kembang api warna - warni yang membahana dan memeriahkan gelapnya malam. Agni masih terkesima melihat pesta kembang api yang sangat indah walaupun dia pernah melihat pesta kembang api. Hardi memeluk pinggang rampingnya Agni. Mencium tengkuk leher Agni dengan penuh kelembutan.


"Selamat ulang tahun, kami ucapkan.


Selamat panjang umur, kita 'kan doakan. selamat sejahtera, sehat sentosa. Selamat panjang umur dan bahagia," bisik Hardi.


Agni membalikkan badannya. Wajahnya Agni tersenyum sumringah mendapatkan kejutan lagi dari Hardi dengan tatapan mata yang berbinar. Hatinya Agni berbunga - bunga karena perhatian Hardi terhadap dirinya. Agni membelai rahang mukanya Hardi sambil menatap intens ke dua matanya Hardi.


"Selamat ulang tahun sayangku," ucap Hardi dengan lembut.

__ADS_1


"Terima kasih sayang," ucap Agni.


"Coba sekarang kamu lihat sekeliling kita dan tebak sekarang kita berada di mana?" ucap Hardi sambil melepaskan pelukannya.


Agni menurunkan tangan kanannya, lalu membalikkan badannya untuk melihat pemandangan alam yang sangat indah. Syahdunya sinar rembulan dan kerlap - kerlip bintang bertaburan membentang di langit malam. Lembutnya air aliran sungai Thames yang panjang ditemani oleh sinar lampu warna - warni yang menerangi kota London dan indahnya gedung - gedung pencakar langit yang tertata rapih sehingga membuat kota London begitu ciamik dilihat.


Agni melihat perpaduan antara gemerlapnya cahaya lampu warna - warni yang menyinari kota London dengan keindahan alam pada malam hari ini di dalam koridor Tower bridge yang didesain oleh Horace Jones dan Wolfe Barry. Dari sisi yang lain, dia melihat gereja Katedral St. Paul, pusat usaha dagang atau jasa dan belanja Canary Wharf, dan London Eye. Tak hanya itu, dia juga bisa melihat dua menara yang memiliki arsitektur unik dan klasik dengan ketinggian enam puluh lima meter.


Dia menelusuri pinggiran koridor Tower bridge yang memiliki tinggi empat puluh dua meter di atas permukaan Sungai Thames. Agni menelisik koridor jembatan yang sangat sepi, hanya ada dia dan Hardi. Dia menoleh pada sebuah meja makan yang berada di tengah - tengah koridor dalam pencahayaan yang temaram.


Ternyata koridor Tower bridge hanya disinari oleh ribuan lilin yang ditata dengan sangat apik. Selain lilin, ada juga aneka bunga yang mengharumkan koridor. Sangat indah dan romantis. Agni menoleh ke Hardi yang sedang tersenyum manis kepadanya. Agni berjalan menghampiri Hardi, lalu memeluk Hardi dengan erat. Hardi membalas pelukan Agni.


"Kita berada di dalam tower bridge. Mas, kejutan ini sangat berarti untuk diriku," ucap Agni sambil menatap mata cokelatnya Hardi dengan mata yang berbinar kebahagiaan.


"Iya, sekarang kita berada di dalam tower bridge. Apakah kamu bahagia hidup bersamaku?" ucap Hardi sambil menyelipkan beberapa anak rambut Agni ke belakang telinga Agni.


"Aku sangat bahagia. Aku sangat bersyukur telah memiliki dirimu dan dengan apa yang telah kamu berikan kepadaku. Aku tidak akan melupakan malam ini bersamamu. Malam yang penuh dengan kebahagiaan," ucap Agni.


"Ayo kita ke meja!" ajak Hardi sambil melepaskan pelukannya.


Tak lama kemudian Agni melepaskan pelukannya. Hardi menggandeng tangan kanannya Agni, lalu membawa Agni ke meja makan. Mereka menghentikan langkahnya ketika berada di di depan meja makan. Hardi melepaskan gandengan tangannya. Sedetik kemudian menarik salah satu kursi untuk diduduki oleh Agni. Agni duduk di kursi itu.


Salah satu pelayanan itu menaruh dua porsi steak, satu botol red wine, dua buah garpu, dua buah pisau kecil, dan dua buah cawan. Tak lama kemudian, kedua pelayan itu menata semua yang mereka bawa di atas meja dan membuka botol red wine, lalu menuangkan minuman itu ke dalam dua buah cawan. Setelah semuanya sudah disajikan di meja makan, kedua pelayan itu pergi meninggalkan mereka.


"Ayo kita makan!" ajak Hardi sambil mengambil garpu dan pisau kecil yang sudah disiapin.


Kringgg ... kringgg ... kringgg ...


Tiba - tiba smartphone milik Agni berdering. Sontak Agni membuka resleting tas selempangnya. Mengambil smartphone miliknya. Agni mengerutkan keningnya ketika melihat nomor tak dikenal tertera di layar smartphone miliknya. Karena penasaran, Agni menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo assalamu'alaikum," sapa Edward lembut.


Spontan Agni menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Dengan gugut, Agni menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Agni langsung mematikan smartphone miliknya. Menaruh smartphone miliknya di tempat semula. Menutup resleting tas selempangnya. Hardi menatap curiga melihat gelagat Agni yang gugup.


"Telepon dari siapa?" tanya Hardi menyelidik.


"Bukan dari siapa - siapa," ucap Agni gugup sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu jujur. Tadi siapa yang telepon?" ucap Hardi tegas.


"Mas Edward."


"Kamu berhubungan lagi dengan dirinya?" ucap Hardi kesal.


Kok Mas Hardi tidak terkejut setelah mendengar berita bahwa Mas Edward masih hidup? Kayaknya Mas Hardi sudah tahu hal itu.


Ucapan Agni di dalam hati.


Sontak Agni mengangkat wajahnya, lalu berucap dengan lugas, "Mas, sudah tahu Mas Edward masih hidup?"


"Jawab pertanyaanku!" ucap Hardi marah.


"Aku tidak berhubungan lagi maupun berbicara lagi dengan dirinya sesuai dengan permintaanmu," ucap Agni kesal.


"Tapi jika alu tidak memintanya, pasti kamu berbicara dan berhubungan lagi dengan dirinya," ucap Hardi kesal.


"TIDAK!" ucap Agni marah.


"Bagus, kamu sadar diri bahwa kamu bukan istrinya lagi," ucap Hardi datar.


"Sejak kapan Mas tahu bahwa Mas Edward masih hidup?" tanya Agni kesal.


"Sudah cukup lama," ucap Hardi datar.


"Jawab dengan jelas!" ucap Agni kesal.


"Sejak Tante Sri kasih tahu bahwa dia masih hidup."


"Apakah Mbah tahu hal itu?"


"Tentu saja dia tahu. Sejak kapan kamu tahu dia masih hidup?"


"Sejak Tante Sri kasih tahu bahwa dia melihatnya di rumah sakit. Tapi setelah Tante Sri menyelidikinya, Tante Sri mengatakan bahwa yang dia lihat waktu itu bukan Mas Edward. Apakah kamu menyuruh Tante Sri mengatakan bahwa orang itu bukan Mas Edward?"


"Tidak. Aku minta jangan bahas tentang dia. Sebaiknya kita makan," ucap Hardi datar.

__ADS_1


Ada yang mencurigakan.


__ADS_2