Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Pria Bajingan Itu


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading 🤗


Terima kasih karena mau membaca novel saya 🥰🥰🥰


🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


"Apa!? Mobil mereka diledakkan? Mereka diserang sama penjahat? Edward meninggal karena ditembak? Wahyu meninggal karena ditembak dan Agni diculik?" ucap Batara terkejut setelah mendengar laporan dari salah satu anak buahnya.


"Iya Tuan."


"Siapa dalang yang melakukan itu semua?"


"Dari hasil penyadapan kami, dalang yang telah menyuruh para penjahat itu adalah Hendra Kurniawan dan Marina Koesnaedi."


"Salin sebanyak mungkin hasil penyadapan itu."


"Baik Tuan, setelah itu kasih ke saya."


"Baik Tuan."


"Kamu tahu Agni dibawa ke mana?"


"Ke daerah Cimanggis Tuan."


"Kirimin alamat lengkapnya ke saya."


"Baik Tuan."


Batara menjauhkan benda persegi dari telinga kirinya. Menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menggeser beberapa ikon untuk menghubungi Hardi. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya lagi. Mendengar nada sambung dari smartphone miliknya. Samar - samar mendengar kucuran air.


"Hallo Mbah, ada apa ya?" tanya Hardi.


"Kamu lagi mandi? Kamu udah sholat?


"Iya, aku udah sholat Mbah, ada apa Mbah telepon?"


"Kamu harus ikut mencari Agni, dia telah diculik oleh Hendra dan Marina. Cepatan mandinya!!" titah Batara yang tidak bisa diabaikan.


Kenapa juga aku yang harus mencari Agni sich? Padahal Agni sudah punya suami yang bernama Edward.

__ADS_1


Batin Hardi.


"Maaf Mbah aku nggak mau karena aku bukan siapa-siapanya Agni. Sebaiknya Mbah telepon ke pihak berwajib dan suaminya Agni."


"Edward meninggal karena ditembak sama mereka. Mereka juga membakar mobil yang ditumpangi oleh Wahyu, Edward dan Agni. Ini kesempatan kamu untuk mendapatkan hati Agni lagi, kamu masih mau menikahi Agni kan? Kamu masih ingin balikan lagi sama Agni? Kamu masih mencintainya?" ucap Batara serius.


"Setelah Agni menikah dengan Edward, semua rasa cintaku dan keinginanku itu sudah lenyap Mbah."


"Tapi kan sekarang Edward sudah meninggal, ada kesempatan buat kamu untuk mendapatkan hatinya Agni lagi dan kamu bisa mencintainya lagi sehingga kalian menjadi sepasang kekasih lagi seperti yang pernah kamu minta. Selain itu kamu juga bisa mewujudkan keinginan kamu yang ingin menikahinya. Jika kamu berhasil menemukan dan membawa Agni keluar dari kurungan mereka serta kamu bisa menikahi Agni, kamu akan mendapatkan warisan tujuh puluh persen dari kekayaan Mbah," ucap Batara yang membuat Hardi tergiur oleh kekayaan Batara.


Wuiihhh, ajib banget, aku bisa jadi konglomerat jika mendapatkan warisan segitu banyaknya. Itu yang sangat gw inginkan.Tapi gw tidak boleh memperlihatkan keinginan gw itu."


Batin Hardi.


"Pernikahan itu soal hati yang saling mencintai Mbah."


"Soal saling mencintai itu bisa terjadi jika kalian saling berhubungan, saling memberikan perhatian lebih, saling mendukung, saling melengkapi, saling menerima apa adanya dan saling komunikasi. Kalian kan pernah melakukan itu sehingga kalian pernah saling jatuh cinta. Intinya niat baik kamu untuk menikahi Agni, pasti semuanya berjalan lancar. Lagipula Mbah sangat menginginkan kalian menikah karena Mbah sudah sangat menyayangi Agni sebagai cucu Mbah."


"Baik Mbah," ucap Hardi serius.


"Gitu dong. Mbah doakan semoga semua itu terkabul."


"Aamiin Ya Robbal Alamiin."


Batin Hardi.


Sedetik kemudian sambungan telepon itu terputus. Hardi menaruh smartphone miliknya di atas pinggiran westafel. Menutup kran air yang berada di westafel. Mengambil handuk kecil di gantungan handuk, lalu menyeka beberapa buliran air di area mulutnya dengan menggunakan handuk kecil itu. Menaruh handuk kecil itu ke tempat pakaian kotor.


Melangkahkan kakinya ke pintu kamar mandi. Memutar handle pintu kamar mandi yang bentuknya bulat ke kiri sehingga kunci pintu terbuka, lalu menarik pintu kamar mandi itu ke dalam sehingga pintu kamar mandi terbuka. Melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar. Menutup pintu kamar mandi itu. Melanjutkan langkahnya ke walk in closet. Sekilas Hardi melihat jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi.


Hardi menghentikan langkahnya di depan salah satu pintu di walk in closet. Membuka pintu lemari itu. Mengambil kaos yang ada di atas tumpukan beberapa kaos mahal, lalu memakainya. Hardi mengambil salah satu celana selutut di tumpukan celana. Tak sengaja Hardi melihat celana pendek pemberian Agni saat dia ulang tahun. Hardi jadi teringat sama Agni yang saat ini sedang disiram oleh dua orang algojo.


Seketika Agni tersadar saat tubuhnya disiram dengan air dingin oleh dua orang algojo itu. Dua bola mata indah milik Agni mengerjap secara perlahan. Agni melihat sekeliling dengan rasa pusing yang mendera di kepalanya. Ruangan yang kemarin temaram itu kini berubah menjadi terang. Sungguh terlihat jelas kumuhnya ruangan itu. Banyak sekali barang rongsokan yang disimpan di dalam ruangan itu.


Sekujur tubuhnya Agni terasa dingin sebab dressnya basah kuyup dan juga tidak alas apa pun. Agni mengalihkan pandangannya ke dua orang algojo yang memiliki wajah garang. Dua orang algojo itu menatap sinis sambil tersenyum smirk ke Agni. Agni kembali menangis karena ketakutan. Dia meringkuk dengan kepala yang menunduk. Meratapi nasib buruknya.


"Allah ambil aja nyawaku. Bawa aku kepada Ibu," lirih Agni dengan tarikan nafas yang tercekat di tengah tenggorokan.


Agni ingin sekali menangis lepas, akan tetapi rasanya tidak mungkin dilakukan. Bahu wanita cantik itu naik turun. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Bagi Agni semua ini adalah hal yang sangat mengejutkan. Suara tangis Agni sangat mengganggu dua algojo itu sehingga mereka melemparinya dengan barang - barang yang ada disekitarnya. Agni hanya bisa melampiaskan semuanya dengan menangis karena otaknya belum bisa diajak berpikir jernih.


"Diam kamu!!" bentak salah satu algojo yang sedang berdiri di depan Agni. "Bos akan datang ke sini!! Kamu jangan menangis terus seperti itu, berisik tahu!!" lanjut orang itu dengan bentakan.


Agni beringsut mundur sambil merasakan tubuhnya yang gemetar karena semakin merasa ketakutan. Mengatup bibirnya supaya bisa menahan suara tangisannya. Sementara air matanya terus terjatuh membasahi pipi mulusnya. Buku kuduknya merinding menghadapi para penjahat.


Ternyata ucapan algojo itu benar. Suara derap langkah seseorang menggema. Membuat detak jantung Agni bertambah cepat karena ketakutan. Agni mulai waspada dengan dua matanya yang terus menatap ke arah pintu ruangan itu. Hingga akhirnya muncullah wajah seorang pria yang menyeramkan. Pria itu menyeringai licik ke Agni.

__ADS_1


Boleh juga wanita cantik itu kujadikan boneka seksku. Tanpa aku harus membunuhnya.


Batin pria itu.


"Hallo wanita cantik," sapa orang itu sambil berjalan pelan ke arah Agni yang sudah ketakutan.


Agni menggigit bibir bawahnya secara reflek. Niatnya dia ingin memohon kepada orang itu agar dilepaskan. Akan tetapi, lidahnya terasa keluh tak bisa diajak untuk bicara. Agni hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Keringat dingin yang mengucur deras di sekujur tubuhnya sehingga memperjelas lekuk tubuhnya dibalik dress biru yang sedang dipakainya.


Tiba - tiba jantung Agni mencelos ketika pria itu sudah berada tepat di hadapannya. Pria itu berjongkok di depan Agni. Agni melihat aneka tato memenuhi kedua tangan pria itu. Mata yang besar, kumis yang lebat, dan rahang tegas yang ditumbuhi jambang pria itu telah membuat rasa takut di dirinya Agni bertambah. Pria itu mencengkeram dagu kuat dagu Agni. Agni mendongak dengan bibir yang bergetar. Menatap pria itu dengan tatapan mata yang nanar.


"Kenapa menangis cantik? Kamu tidak usah takut padaku. Sebentar lagi aku akan melepaskanmu," ucap pria itu serius, lalu tersenyum smirk.


Pria itu menatap wajah Agni yang penuh dengan air mata. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa wanita itu masih terlihat cantik di mata pria itu. Sedetik kemudian satu tangannya menyentuh wajah Agni yang cantik alami. Telunjuk tangan pria itu menjelajahi kening, hidung, lalu bermuara di bibir Agni. Agni terisak kecil. Dia merasakan perasaan yang tidak enak. Dia memiliki firasat yang buruk bahwa pria itu akan melakukan sesuatu padanya.


"Mohon lepaskan aku sekarang, Paman," lirih Agni.


"Apa katamu? Kamu minta dilepaskan sekarang? Ya, aku pasti akan melepaskanmu tapi bukan sekarang. Kamu tenang saja Agni," ujar pria itu sambil menatap intens ke wajahnya Agni. "Aku akan melepaskanmu setelah aku puas menikmati tubuhmu," cetus pria itu sambil menyentak dagu Agni.


Dua bola mata indah itu terbelalak dengan jantung yang seakan berhenti berdetak, lalu Agni berteriak dengan sisa tenaganya, "Lepaskan aku pria bajingan!"


Aku tak akan membiarkan pria bajingan itu melakukannya.


Batin Agni.


Plak!


Agni mendapatkan tamparan dari pria itu sehingga kulit putih bersih milik Agni nampak memerah dengan rasa panas dan kebas. Pria itu masih berjongkok di depan Agni. Pria itu menyeringai tipis melihat Agni tidak berdaya. Dia akan memperbudak Agni sebagai pemuas nafsunya. Tangan kanan pria itu menjulur lagi hendak meraih dagu Agni. Namun secepat kilat Agni melengos memalingkan wajahnya.


"Jangan pernah menyentuhku!" pekik Agni dengan sekuat tenaga, bibir yang bergetar, anggota tubuh yang bergetar dan air mata yang terus mengalir deras.


"Hah? Apa aku tidak salah dengar? Memangnya berapa harga tubuhmu?" ujar pria itu dengan ketus.


Brat!!


Pria itu menarik paksa dress yang dipakai oleh Agni sehingga kain dress itu terkoyak. Menampilkan bahu putih susu Agni yang begitu bersih dan menggiurkan untuk disesap. Pria itu menarik dagu Agni dengan gerakan kasar. Melihat wajah Agni yang sudah pucat pasi. Agni masih terus berusaha menggerakkan kepalanya, namun cengkeraman pria itu malah semakin kuat.


Pria itu menyeringai licik, lalu berujar, "Aku akan memperbudakmu sebagai pemuas nafsuku. Camkan itu!"


Pria itu menghentak dagu Agni dengan kasar. Selanjutnya pria itu bangkit, lalu memutarkan tubuhnya. Berjalan meninggalkan Agni yang kembali tersedu-sedu menangisi nasibnya yang buruk. Pria itu melenggang menuju pintu ruangan yang sedari tadi sudah terbuka. Tak diduga pria itu menghentikan langkahnya di ambang pintu.


"Jam sembilan bawa dia ke mansion pribadiku! Jaga dia jangan sampai dia kabur dari sini, jika itu terjadi, kugantung kalian hidup-hidup!" ujar pria itu kepada anak buahnya.


"Baik Bos," ucap dua algojo itu dengan kompak.


Aku harus kabur dari sini supaya bisa lepas dari genggaman pria bajingan itu.

__ADS_1


__ADS_2