Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Kotak Hitam Itu


__ADS_3

Sang fajar terbit memancarkan sinarnya yang menghangatkan bumi dan seisinya. Cahayanya menelusup lembut ventilasi udara dan celah - celah gorden ke dalam kamar hotel sehingga pencahayaan di kamar itu tampak temaram. Sinar matahari yang masuk ke dalam kamar tak mampu mengusik tidur lelapnya Hendra dan Marina. Mereka masih betah berada di alam mimpinya. Tubuhnya Mereka dengan posisi telentang berada di bawah selimut tebal.


Kringggg...


Kringggg...


Kringggg...


Terdengar bunyi berisik yang memekakkan gendang telinga dari blackberry milik Hendra yang berada di atas nakas samping kanan tempat tidur sehingga mengusik tidurnya mereka. Kedua kelopak mata mereka mulai bergerak pelan - pelan, kemudian mengerjap dengan perlahan untuk menyesuaikan cahaya temaram yang masuk ke kornea mata mereka. Hendra menguletkan tubuhnya dengan mata yang masih belum terbuka sempurna.


Sedangkan Marina memiringkan tubuhnya, membelakangi Hendra. Tangan kanannya Hendra meraba - raba untuk menggapai blackberry miliknya yang sudah berdering sejak tadi hingga hampir terjatuh dari atas nakas. Hendra berhasil mendapatkan blackberrynya. Memencet tombol ikon hijau untuk menjawab panggilan itu tanpa melihat nama penelponnya di layar blackberrynya. Hendra mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo Mas," ucap Sri menyapa Hendra.


"Whoammm, ada apa Mah?" ucap Hendra yang masih ngantuk.


"Mas, alhamdulilah kotak hitam pesawat itu ditemukan di perairan samudera Hindia," ucap Sri yang mengejutkan bagi Hendra.


Damn it!! Dasar pembohong si David!!


Batin Hendra.


"Aku mau ikut proses pencarian di sana Mas, aku berharap Bapak, Mas Cipto dan anak - anaknya Mas Cipto masih hidup. Mas mau ikut nggak?"


"Alhamdulillah sudah ditemukan, maaf sayang aku tidak bisa ikut. Kamu kan sudah tahu, jam sembilan aku ada rapat sama klien perusahaan kalian."


"Memangnya nggak bisa dibatalkan Mas?"


"Nggak bisa sayang."


"Ya udah dech kalau gitu, bye Mas."


"Bye Mah."


Tiba - tiba sambungan telepon itu terputus. Menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menyentuh beberapa tombol untuk menghubungi David. Memencet tombol speaker, sedetik kemudian terdengar nada sibuk. Menyentuh tombol ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menaruhnya di tempat semula.


Hendra merubah posisinya dari posisi telentang ke posisi duduk, lalu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Mengucek kedua matanya yang masih sayu karena masih mengantuk, lalu kedua tangannya mengusap - usap daun telinganya yang terasa berdenging karena bisingnya bunyi telepon tadi.


"Gimana sich tuch orang!! Kerjanya nggak beres!!" ucap Hendra bermonolog.


"Ada apa sich Mas?" ucap Marina sambil merubah posisinya menghadap Hendra.


"Kemarin David bilang semua bukti ikut lenyap, tapi tadi kotak hitam pesawat itu sudah ditemukan. Dasar pecundang!" ucap Hendra marah sambil menoleh ke Marina.


"What!?" ucap Marina kaget sambil menoleh ke Hendra, lalu dia menegakkan badannya. "Waktu itu aku sudah menyarankan kamu untuk memakai jasa temanku aja, tapi kamu malah pilih si David. Bisa bahaya kalau begini," lanjut Marina.


"Semoga semua orang yang berada di dalam pesawat itu meninggal semua," ujar Hendra.


"Tergantung, pilot pesawat itu siapa?" ucap Marina sambil menoleh ke Hendra.


"Edward."


"What!?" ucap Marina terkejut.


Kenapa si Edward yang menjadi pilotnya? Kalau begini kan, aku nggak bisa tidur berdua lagi sama dia, bikin kesal aja.

__ADS_1


Batin Marina


"Dia itu pilot yang pernah menyelamatkan puluhan penumpang dari kecelakaan maut. Aku nggak yakin jika semua penumpang pesawat itu meninggal dunia."


"Jangan ngomong gitu! Shittt!!" ucap Hendra marah.


"Telepon David aja."


"Sudah tapi nomornya sibuk melulu."


"Kalau begini aku pergi aja dari sini, aku harus membuat surat pengunduran diri secepatnya," ucap Marina sambil menyingkap selimut.


"Kamu jangan pergi dari sini," ucap Hendra sedih sambil menatap Marina ketika Marina beranjak berdiri.


Marina memutarkan tubuhnya yang tidak mengenakan sehelai benang apa pun, lalu berkata, "Dari pada aku dipenjara, lebih baik aku pergi dari sini. Aku juga bisa kena dalam kasus ini karena aku sudah mengetahui rencanamu untuk membunuh mereka."


"Kalau gitu aku harus cari orang untuk menghilangkan kotak hitam itu jika polisi sudah mendapatkannya."


"Jangan David lagi yang kamu suruh, cari orang lain aja."


"Hubungi teman kamu yang dulu kamu sarankan ke aku," ucap Marina, lalu dia memungut blackberrynya di atas nakas sebelah kiri tempat tidur.


"Iya nanti aku hubungi dia, aku mau mandi dulu, badan pada lengket semua."


"Kapan kamu pulang?"


"Setelah mandi aku pulang," ucap Marina tanpa menoleh ke Hendra sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Nggak usah aku antar ke airport ya."


"Iya nggak apa - apa," ucap Marina sambil berjalan melewati pintu kamar mandi yang sudah terbuka.


Bunyi dering dari blackberry milik Hendra. Hendra langsung menyambarnya. Mengerutkan keningnya karena bingung ketika melihat nama Pak Batara tertera di layar blackberrynya. Mau tak mau Hendra harus mengangkat panggilan telepon itu. Memencet tombol ikon merah untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo selamat pagi Pak Batara, ada apa ya?" ucap Hendra sopan.


"Kamu nggak ikut ke tempat pencarian kotak hitam pesawat jet pribadi milik kakak ipar kamu?"


"Maaf Pak, saya nggak bisa ikut karena saya ada rapat sama salah satu klien perusahaan kami di sini."


"Benarkah? Bukan ingin bertemu dengan wanita lain yang suka kamu ajak bermain di atas ranjang?" ucap Batara serius yang membuat Hendra menelan salivanya karena kaget.


Kok dia bisa tahu?


Batin Hendra.


"Mana mungkin saya seperti itu Pak," ucap Hendra berbohong dengan nada suara yang santai.


"Ya udah kalau begitu. Ingat perjanjian pernikahan kamu dengan Sri."


"Iya Pak Batara," ucap Hendra sopan.


Batara menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinga kirinya. Menengok ke Ibrahim yang merupakan orang suruhannya untuk menyadap nomor handphonenya Hendra dan Hardi. Batara tersenyum ramah ke Ibrahim sambil mengacungkan ibu jari tangannya ke Ibrahim.


"Sudah berhasil ya Pak," ucap Ibrahim sopan.

__ADS_1


"Iya," ucap Batara.


Sedetik kemudian Ibrahim mengutak - ngatik beberapa tombol di keyboard laptopnya. Derap langkah kaki yang sedang terburu - buru menghampiri mereka. Batara menoleh ke suara itu. Batara melihat Hardi dengan tatapan mata yang tajam. Nafasnya Hardi memburu untuk meminta maaf karena dia tidak mau kehilangan harta warisan setelah dia ketahuan masih berhubungan dengan Valerie. Ketika itu, Batara sangat kesal mengetahui bahwa Hardi dan Valerie masih berhubungan.


Padahal beberapa hari yang lalu Hardi bersumpah tidak ingin berhubungan apa pun lagi dengan Valerie. Walaupun sumpah itu hanya bualan Hardi, tapi di matanya Batara sumpah itu sungguhan. Hardi sungguh pintar berakting dalam mengucapkan sumpah itu sehingga Batara percaya. Tapi setelah mengetahui mereka masih berhubungan, Batara mengancam Hardi. Ancaman itu adalah Hardi tidak mendapatkan harta warisan darinya.


"Ngapain kamu pagi - pagi ke sini?" ucap Batara dengan angkuh ketika Hardi menghentikan langkahnya di depan Batara.


Sedetik kemudian Hardi bersujud di depan Batara, lalu berucap, "Mbah maafkan aku, kemarin aku menghubungi Valerie untuk membicarakan perpisahan kami. Aku sengaja memberi tahu soal kepergianku ke kota Yogyakarta supaya kita bisa ngomong langsung secepatnya. Tapi dia salah mengartikan maksudku Mbah. Dia tidak mau putus denganku Mbah."


"Benarkah?"


"Iya Mbah," ucap Hardi seserius mungkin.


"Baiklah, nanti biar Mbah yang ngurus Valerie supaya dia tidak mengganggu kamu lagi."


Waduh bisa gawat nich urusannya kalau Mbah yang turun tangan.


Batin Hardi.


"Biari aja Mbah, nanti dia lelah sendiri ngejar - ngejar aku."


"Mbah nggak mau Valerie mengganggumu dalam waktu yang lama."


Waduh gimana nich?


Batin Hardi bingung.


"Terserah Mbah baiknya gimana."


"Apakah kamu serius ingin menjadi kekasihnya Agni dan ingin menikahinya?"


"Iya Mbah," ucap Hardi menyakinkan.


"Ya udah, sekarang kamu tegakkan badanmu, tunjukkan kalau kamu konsisten dengan ucapanmu yang ingin menikah dengan Agni jika Agni telah ditemukan dan setelah Mbah bicara dengan Valerie mengenai hubungan kalian."


"Baik Mbah."


"Sekarang kamu mandi dan ganti baju, ikut Mbah ke tempat lokasi penemuan kotak hitam pesawat itu."


"Alhamdulillah kotak hitam pesawat itu ditemukan. Semoga tidak terjadi apa - apa dengan kotak hitam itu."


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih telah membaca novelku yang ini.


Jangan lupa divote ya. 😁


Jangan lupa dikasih bintang lima ya. 😁


Jangan lupa dikasih hadiah ya. 😁


Jangan lupa diklik like ya. 😁


Jangan lupa di masuki ke daftar favorit ya. 😁

__ADS_1


Jangan lupa kasih komentar ya. 😁


Terima kasih banyak atas dukungannya 😁


__ADS_2