Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Menemani Dirimu


__ADS_3

Agni terkejut melihat sosok Hardi yang memukau ketika Agni berdiri di ambang pintu masuk restoran fine dining. Hardi tersenyum manis ke Agni. Hardi mengenakan setelan jas warna biru dongker dan kemeja warna biru langit. Agni membalas senyuman Hardi. Agni melanjutkan langkahnya menghampiri Hardi. Langkah kakinya Agni diikuti oleh para bodyguardnya. Agni menepis tangan kanannya Hardi ketika Hardi ingin menggenggam tangan kirinya Agni.


"Ngapain kamu ada di sini? Bukannya Mbah yang mau datang ke sini nemani aku makan siang?" ucap Agni bingung sambil menoleh ke Hardi.


"Sebenarnya aku yang mengajak kamu makan siang di sini. Aku takut kamu menolak jika aku yang mengajak kamu makan siang," ujar Hardi.


"Ooo," ucap Agni datar.


Tak lama kemudian Agni dan para bodyguardnya berjalan menuju satu - satunya meja di restoran itu sambil melihat dekorasi restoran yang sangat romantis dengan bingung. Tidak ada satupun pengunjung di dalam restoran kecuali mereka. Ruangan restoran dipenuhi oleh aneka bunga dan lilin - lilin yang tersusun dengan apik sehingga terlihat indah. Agni menghentikan langkah kakinya. Dia melihat ke bawah, ternyata lantai restoran itu dilapisi karpet warna merah yang ditaburi oleh beberapa kelopak bunga mawar putih.


"Untuk apa kamu membooking dan menghiasi restoran ini?" tanya Agni bingung.


"Untuk makan siang kita berdua," jawab Hardi dengan lembut.


"Tapi tak perlu seromantis ini, Mas" ujar Agni datar.


"Aku melakukan semua ini hanya untuk orang yang sangat spesial bagiku."


"Gombal," ucap Agni ketus."


Sedetik kemudian mereka melanjutkan langkahnya menuju sebuah meja yang sudah dihias oleh beberapa lilin aromaterapi dan bunga sehingga menambah kesan romantis. Hardi menarik kursi untuk Agni. Agni menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu duduk di atas kursi itu. Setelah mengitari meja, Hardi duduk di atas kursi yang berseberangan dengan Agni sehingga mereka saling berhadapan. Sedangkan para bodyguardnya Agni berdiri di belakang Agni.


Dua orang pramusaji menghampiri mereka sembari membawa trolley makanan. Satu persatu kedua pelayan itu menaruh hidangan makan siang yang romantis di atas meja. Dua porsi Tenderloin steak dengan kentang tumbuk, dua porsi puding buah, dua gelas air putih dan dua gelas juice jeruk tersaji di atas meja. Agni mengambil serbet yang berada di meja, membuka lipatan serbet, lalu menaruhnya di atas kedua pahanya.


"Terima kasih," ucap Agni sopan sambil menoleh ke pramusaji itu.


"Sama - sama Nyonya," ucap pramusaji itu, lalu kedua pramusaji itu pergi dari sana.


"Bagaimana proses penyelidikan kasus penculikanmu saat kamu memberikan keterangan tadi pagi?" tanya Hardi sambil mengambil satu garpu dan pisau kecil, lalu memotong steak.


"Alhamdulillah berjalan lancar, Mas," ucap Agni sambil memotong steak.


"Kamu sudah ketemu sama Tante Sri?" ucap Hardi setelah menelan potongan steaknya.


Agni hanya menggeleng merespon pertanyaan Hardi karena dia sedang mengunyah. Hardi memasuki potongan daging ke mulutnya, lalu mengunyahnya. Seketika suasana hening, hanya suara pisau, garpu dan sendok yang beradu dengan piring. Hardi memperhatikan gerak - gerik Agni yang sedang makan siang sambil makan.


"Aku nggak nyangka Om Hendra melakukan hal sekeji seperti itu kepadaku," ucap Agni sedih setelah meminum air.


"Yah, namanya juga orang jahat," ujar Hardi setelah minum air.


"Aku jadi kasihan sama Tante Sri karena dia memiliki seorang suami yang jahat terhadap keluarga kakak kandungnya."


"Apa kamu sudah tahu penyebab dia ingin membunuh kamu dan almarhum suami kamu yang bernama Edward?"

__ADS_1


"Aku belum tahu, Mas. Oh ya, terima kasih ya atas makan siangnya."


"Sama - sama," ucap Hardi, lalu dia menjentikkan ibu jari dengan jempolnya.


Sedetik kemudian terdengar alunan musik Waltz Venna menggema di dalam restoran itu. Hardi berdiri, lalu berjalan pelan menghampiri Agni. Hardi mengulurkan tangan kanannya ke Agni sambil membungkukkan badannya layaknya seorang bangsawan Eropa yang ingin mengajak dansa. Mau tak mau Agni menerima ajakan itu karena dia menghormati usaha Hardi yang sudah membuat suasana makan siang mereka menjadi romantis walaupun nyatanya tidak seromantis yang diharapkan oleh Hardi.


Tangan kirinya Hardi memeluk pinggang ramping Agni, sedangkan telapak tangan kirinya memegang telapak tangan kanannya Agni. Tangan kirinya Agni memeluk bahu kanannya Hardi, sedangkan telapak tangan kanannya memegang telapak tangan kirinya Hardi. Mereka berdansa mengikuti alunan musik itu. Pandangan mata mereka saling bertemu. Agni mengalihkan pandangannya ke sebuah bucket bunga yang ada bunga anggrek. Agni jadi teringat makan malam sama Edward di pinggir sungai. Agni memejamkan kedua matanya untuk mengenang masa itu.


"Kenapa kamu memejamkan kedua matamu?"


Seketika Agni membuka kedua matanya, lalu menoleh ke Hardi dan berkata, "Tidak kenapa-kenapa, Mas."


"Kalau kamu belum menikah, siapa yang akan menjagamu selama kamu kuliah di Oxford?"


"Aku yakin bisa menjaga diriku sendiri, Mas."


"Pasti almarhum Eyangmu yang sudah berada di surga jadi sedih melihat dirimu hidup sendirian di negeri orang."


"Saat ini aku masih bingung soal pernikahan, Mas. Baru sembilan hari aku merasakan kebahagiaan menikah dengan Mas Edward, lalu merasakan kesedihan karena harus kehilangan Mas Edward. Tapi aku punya feeling yang mengatakan bahwa Mas Edward belum meninggal dan aku yakin hal itu."


"Menurutmu dia sekarang berada di mana? Kalau dia masih hidup, pasti dia mendatangimu. Kamu harus move on dari masalah ini, Agni."


"Aku tidak percaya seratus persen mempercayai ucapan para penjahat itu. Menurutku mereka menembaki Mas Edward, tapi peluru-peluru itu tidak mengenai Mas Edward. Mas Edward menyeburkan dirinya ke sungai untuk menghindari serangan peluru dari para penjahat itu."


"Ok, setelah dia kecebur ke sungai, lalu dia berenang ke tepian sungai. Seharusnya dia mendatangi dirimu. Tapi nyatanya sampai sekarang dia tidak mendatangi dirimu."


"Khayalanmu terlalu tinggi. Kamu masih bisa kan berfikir secara realita dan menerima kenyataan itu dengan ikhlas. Aku yakin kamu pasti bisa menerima kenyataan bahwa Edward sudah meninggal. Kamu pasti bisa mengikhlaskan itu."


"Tapi feelingku mengatakan bahwa Mas Edward masih hidup!" ucap Agni kesal karena Hardi tidak percaya dengan feelingnya.


"Ok, nanti aku akan mencari Edward. Tapi ada syaratnya,"ucap Hardi berbohong.


"Apa itu?"


"Kamu mau menikah denganku."


"Bolehkah aku minta beberapa hari untuk berfikir tentang itu?"


"Boleh, tapi hanya satu hari untuk berfikirnya. Dan batas pencarian Edward hanya sampai seminggu. Bagaimana? Deal?"


"Ehm ... baiklah."


"Habis dari sini kamu mau ke mana?" tanya Hardi yang mengalihkan topik pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Aku mau menemui Jenny, Mas."


"Sebaiknya kamu jangan terlalu dekat sama dia."


"Memangnya kenapa Mas?"


"Dia wanita yang tidak baik, aku takut nanti kamu terpengaruh ke hal negatif karena terlalu dekat sama dia."


"Nggaklah, aku malah mau menyadarkan dia. Aku merasa kasihan sama kehidupannya. Kamu tidak usah khawatir, Mas."


"Semoga kamu berhasil menyadarkan dirinya."


"Aamiin Ya Robbal Alamiin. By the way, Mas waktu kuliah di Stanford, kamu terpengaruh dengan gaya hidup free *** ya?"


"Yah, bisa dikatakan seperti itu."


"Awalnya siapa yang mempengaruhimu untuk melakukan hubungan intim sebelum menikah?"


"Teman kerja."


"Teman kerja? Bukannya di sana kamu kuliah?"


"Waktu awal kuliah, aku kerja separuh waktu di coffee shop. Di sana aku kenal sama James dan Valerie. Terus aku berhenti kerja karena sama Mbah dilarang. Aku harus fokus kuliah di sana."


"Kalau nggak salah Valerie itu mantan kekasihmu ya?"


"Iya."


"Jangan-jangan dia yang ngambil perjaka kamu ya?" ledek Agni


"Ehmmm, nggak usah bahas itu," ucap Hardi datar.


"Oh ya, nanti tolong bilangi ke Mbah, habis nemuin Jenny, aku mau ke rumah Tante Sri," ujar Sri.


"Kamu mau menemuinya?"


"Iya, aku ingin ngomong banyak sama Tante Sri."


"Aku temani kamu ke sana ya."


"Nggak perlu."


"Aku yakin nanti Mbah minta aku nemenin kamu ke sana."

__ADS_1


"Ya udah dech, nanti kamu ikut ke sana."


"Ok, dengan senang hati aku menemani dirimu."


__ADS_2