Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Tergoda


__ADS_3

Diklik like ya guys 😁.


Divote ya guys 😁.


Dikasih hadiah ya guys 😁.


Dikasih bintang lima ya guys 😁.


Dikomentari ya guys 😁.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Sang fajar mulai condong di ufuk barat. Burung - burung terbang tinggi, berkelompok kembali pulang ke sarangnya. Awan tipis berarak lembut mengikuti arah angin bertiup di angkasa raya. Warna jingga membentang luas di cakrawala. Senja telah menyempurnakan warnanya. Sungguh indah nian pemandangan langit yang menaungi hamparan luas lautan.


Suara deburan gelombang ombak hancur di bibir pantai. Desiran ombak menghantam lembut pasir pantai dan membasuh sebagian tubuh dua manusia yang saling menatap. Pandangan mata mereka saling memaku. Kedua manusia itu adalah Edward dan Agni. Lama kelamaan Edward merasakan tubuhnya Agni menggigil karena kedinginan dan kelaparan. Edward melepaskan kedua telapak tangannya dari pipinya Agni. Menyeka air matanya Agni dengan lembut.


"Sebaiknya kamu sekarang berhenti menangis. Aku tidak tega meninggalkanmu sendirian di sini. Sebaiknya kita cari makanan dan kayu untuk membuat api unggun soalnya sebentar lagi langit gelap. Apakah kamu mau jalan tanpa mengenakan alas kaki?" ucap Edward lembut.


Agni hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ucapan Edward. Agni menarik nafas dalam - dalam, lalu menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Edward beranjak berdiri dari pasir pantai. Edward mengulurkan tangan kanannya ke Agni untuk membantu Agni berdiri. Agni menerima uluran tangan kanannya Edward, lalu menggenggam erat telapak tangan kanannya Edward sehingga Edward membalas genggaman tangannya Agni.


Edward menarik tubuhnya Agni dengan perlahan sehingga Agni berdiri di samping kanannya Edward. Mereka melangkahkan kakinya sambil saling menggenggam tangan. Langkah kaki mereka menuju ke pesisir pantai sambil merasakan getaran lembut di hati mereka masing - masing. Selama di perjalanan Agni menarik nafas dalam - dalam, lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan secara berulang kali sehingga air matanya berhenti mengalir.


Melewati beberapa semak - semak, pohon pandan pantai, cemara laut, ketapang, kelapa, stigi dan waru laut sehingga mereka berada di wilayah pesisir pantai. Agni tidak bisa menahan rasa laparnya lagi karena sejak dari tadi Agni sudah lapar. Agni menghentikan langkahnya sehingga membuat Edward menghentikan langkahnya, lalu Edward menoleh ke Agni.


"Ada apa Agni? Apakah telapak kakimu sakit?'


"Nggak Om, aku hanya lapar banget," ucap Agni malu - malu.


Edward tertawa kecil melihat ekspresi Agni yang sedang malu - malu sehingga menjadi imut di hatinya Edward, lalu berkata dengan lembut, "Jangan panggil Om, panggil Mas aja. Tahan sebentar lagi ya, aku belum menemukan alat untuk membuka kelapa. Kita jalan lagi ya?


Agni hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon ucapan Edward. Mereka melanjutkan langkahnya melewati kebun liar sehingga mereka berada di dataran tanah yang lebih keras. Edward menghentikan langkahnya ketika melihat pohon pisang yang sedang berbuah dengan tatapan mata yang lapar. Edward melepaskan genggaman tangannya. Sedetik kemudian memetik lima buah pisang. Memberikan buah - buah itu ke Agni.


"Itu untukmu," ucap Edward sambil memetik beberapa buah pisang.

__ADS_1


"Terima kasih Mas," ucap Agni senang, lalu dia membuka salah satu kulit pisang dan memakannya dengan rakus.


"Tolong dipegang dulu buahnya," ucap Edward sambil memberikan dua setengah sisir buah pisang ke Agni.


"Mas mau ke mana?" ucap Agni sedikit panik karena dia takut ditinggali.


"Aku mau ambil golok di sana dan mau memotong kayu," ucap Edward sambil menunjuk sebuah golok yang berada tiga meter dari mereka.


"Pasti ada orang lain di sini," ucap Agni senang karena ada orang lain selain mereka.


"Bisa jadi," ucap Edward yang juga ikut senang.


Tak lama kemudian Edward berjalan menghampiri golok, sedangkan Agni sibuk makan pisang. Edward mengambil golok, lalu memotong beberapa batang kayu pohon untuk dijadikan api unggun. Tak sengaja Edward melihat korek gas, lalu dia mengambilnya dan menaruhnya di kantong celananya.


Setelah Edward merasa cukup memotong batang pohon untuk dijadikan api unggun, Edward menoleh ke Agni yang sedang asyik makan buah pisang sehingga menghabiskan dua sisir buah pisang. Edward berjalan menghampiri Agni. Memetik tiga sisir buah pisang lagi dan memotong dua lembar daun pisang.


"Ayo kita balik ke pantai! Kamu jalan duluan," ucap Edward.


Agni hanya menganggukkan kepalanya sambil mengunyah buah pisang yang terakhir sebagai respon ajakan Edward. Mereka melangkahkan kakinya menuju pantai. Mereka melewati jalanan yang sudah mereka lewati. Edward dan Agni menghentikan langkahnya ketika berada di pinggir pantai. Agni menduduki tubuhnya di atas pasir putih. Sedangkan Edward menaruh beberapa batang kayu dan daun pisang di atas pasir.


"Buka aja baju sama celanamu," ucap Edward.


"Ehhhh ... aku malu Mas ehhh ...," ucap Agni yang sedang menggigil sambil menoleh ke Edward.


"Nggak perlu malu, dari pada nanti kamu sakit," ucap Edward, lalu dia membuka kemeja safarinya.


Di bawah naungan cahaya yang temaram Agni melihat tubuh atletisnya Edward. Agni menelan salivanya berulang kali melihat Edward berdiri, lalu membuka celana panjangnya. Dia tercengang melihat sepasang kaki yang kekar milik Edward dan tak sengaja melihat satu set senjata pamungkas milik Edward dibalik sarungnya. Agni mengalihkan pandangannya ke api unggun.


Edward menaruh kemeja dan celana safarinya di susunan batang pohon yang belum dipakai untuk membuat api unggun. Menduduki tubuhnya di atas pasir. Edward menoleh ke Agni yang masih menggigil karena kedinginan. Edward menggeleng - gelengkan kepalanya melihat Agni yang kekeh tidak mau membuka kaos dan celana jins yang masih basah.


"Buka aja kaos sama celanamu, tenang aja aku tidak akan pernah memperkosamu," ucap Edward lembut.


Agni menoleh ke Edward, lalu berujar, "Aku malu Mas."

__ADS_1


"Tadi kan aku sudah bilang, nggak usah malu. Dari pada begitu terus nanti kamu sakit sedangkan kita harus bertahan hidup sampai tim penyelamat tiba."


"Ya udah tutup mata kamu," ucap Agni.


"Ngapain aku tutup mataku?" ucap Edward bingung.


"Aku nggak pernah hanya pakai cd dan bra di depan orang lain," ucap Agni datar.


"Sampai kapan aku menutup kedua mataku?"


"Sampai pakaianku kering."


"Itu akan memerlukan waktu yang lama. Terus nanti kalau kamu ada apa - apa, siapa yang menolong kamu, sedangkan aku tidak bisa menolongmu karena kedua mataku ditutup."


Agni menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu berkata, "Fine, kamu tak perlu menutup kedua matamu."


Sedetik kemudian Edward mengalihkan pandangannya. Agni menaruh tiga setengah sisir setengah di samping kanannya. Berdiri membuka kaos dan celana jinsnya. Berjalan pelan melewati Edward sehingga membuat Edward tercengang dan menelan salivanya melihat body goalnya Agni di bawah naungan cahaya yang temaram. Agni menaruh kaos dan celana jinsnya di tumpukan kayu dekat pakaian dinasnya Edward. Agni berjalan pelan melewati Edward untuk kembali duduk yang membuat Edward bergairah.


Untuk mengalihkan gejolak hasrat dijiwanya, Edward mengambil satu buah pisang, lalu membuka kulit dan memakannya sambil memandang laut. Agni memutarkan badannya menghadap ke pantai. Menduduki lagi tubuhnya di samping kanannya Edward. Melihat Edward yang melahap buah pisang seperti orang kelaparan. Agni mengambil satu sisir buah pisang untuk Edward.


"Mas ini untukmu," ucap Agni sambil memberikan satu sisir buah pisang itu ke Edward.


"Terima kasih," ucap Edward senang sambil menerima satu sisir buah pisang itu.


Edward mengambil tiga buah pisang, lalu menaruh sisa buah pisang di depannya. Membuka kulit pisang, lalu memakannya dengan lahap. Agni memperhatikan Edward yang sedang memakan buah pisang satu sisir dengan waktu yang singkat dan kulit pisang berserakan di depan Edward. Edward menoleh ke Agni. Agni menatap kedua mata biru milik Edward dan Edward menatap kedua bola mata hitam legam milik Agni sehingga mereka saling menatap. Tatapan mata mereka saling memaku.


Mereka saling merasakan gelayar lembut di relung hati mereka yang sedari tadi menyelimuti relung hati mereka. Edward mencondongkan badannya ke Agni sehingga Agni merasakan hembusan nafasnya Edward yang memburu. Agni memejamkan kedua matanya. Benda kenyal milik Edward menyentuh benda kenyal milik Agni, lalu Edward ********** dengan lembut. Agni membalas ciuman Edward. Agni menghentikan ciumannya sehingga membuat Edward juga menghentikan ciumannya. Edward menegakkan badannya.


"Aku haus Mas," ucap Agni malu - malu.


"Aku petik buah kelapa dulu ya," ucap Edward lembut.


"Iya."

__ADS_1


Tak lama kemudian Edward mengambil golok yang berada di samping kirinya. Edward beranjak berdiri, lalu berlari menghampiri pohon kelapa. Agni mengalihkan pandangannya ke laut sambil merasakan debaran di jantungnya. Agni nggak menyangka bahwa dirinya bisa gampang jatuh cinta sama Edward dan dengan mudahnya terlena dengan wajah gantengnya Edward. Baru kali ini dia merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama dan gampang tergoda.


"Kenapa aku mau aja diajak ciuman sama Mas Edward pada hal dia itu bukan kekasihku? Bodohnya aku yang gampang tergoda."


__ADS_2