
"Kami adalah sepasang kekasih," ucap Edward sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Kapten, sepertinya dia ngeledek kita," ucap salah satu tentara dengan angkuh.
"Sebenarnya kalian siapa!?" ucap satunya lagi dengan suara yang galak.
"Kami hanya sepasang kekasih yang tersesat di hutan ini. Kami adalah korban kecelakaan pesawat jet pribadi. Semua barang - barang kami hilang kecuali koper saya dan koper milik Mawar. Karena kami tidak menemukan Mawar, akhirnya kami membawa kopernya Mawar. Kami sedang mencari perkampungan di daerah sini untuk menanyakan nama tempat ini dan mencari seorang ustadz. Kami adalah orang baik - baik, tolong jangan tangkap kami. Kami tidak mengambil barang - barang yang ada di sini, kami hanya meminjamnya. Nanti kami kembalikan jika orang pemilik tempat ini pulang ke sini. Kalau boleh tahu kita berada di mana ya?" ucap Edward ramah.
Empat orang tentara itu saling pandang, mereka saling memberi kode yang tidak dimengerti oleh Edward dan Agni. Setelah itu keempat tentara itu menoleh ke Edward dan Agni. Salah satu dari empat orang tentara berjalan mendekati Edward dan Agni sambil mengacungkan senjata laras panjangnya. Menghentikan langkahnya di depan Edward. Menelisik raut wajahnya Edward. Menengok ke arah rekan - rekan kerjanya, lalu menganggukkan kepalanya. Tentara itu menatap Edward lagi.
"Di pulau mincau, provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, pemilik tempat ini adalah pemerintah daerah. Apakah kalian sudah tahu konsekuensi berbuat tak senonoh di sini?" ucap tentara tegas.
Edward dan Agni menggelengkan kepalanya dengan kompak. Tentara itu tersenyum sinis melihat reaksi mereka yang tidak tahu konsekuensinya. Tentara itu memutarkan badannya, lalu berjalan tegap ke rekan - rekannya. Dia menghentikan langkahnya di depan rekan - rekan kerjanya. Tak lama kemudian para tentara berdiskusi dengan menggunakan bahasa daerah.
"Mas, apa yang mereka bicarakan ya?" bisik Agni.
"Aku nggak tahu sayang," gumam Edward yang hanya bisa didengar oleh Agni.
"Apakah mereka tentara asli Mas?"
"Sepertinya sich begitu Sayang. Kamu tenang aja, pasti semuanya baik - baik aja. Yang penting kamu bersembunyi di belakangku, jangan sampai mereka melihat tubuhmu yang hanya memakai lingerie."
"Lagian juga almarhum Mawar, semua model pakaiannya terbuka semua."
Tak lama kemudian tentara yang tadi ngomong sama Edward kembali ke posisi semula. Yang lainnya maju menghampiri Edward dan Agni. Menghentikan langkah tegapnya di depan Edward dan Agni. Tersenyum sopan ke Edward dan Agni. Menelisik wajahnya Edward dan Agni.
"Tipe pesawat yang kalian tumpangi apa?" tanya orang itu.
"Airbus ACJ319Neo."
"Kalian penumpang pesawat itu?"
"Saya pilot pesawat itu, sedangkan perempuan yang berada di belakang saya adalah salah satu penumpang pesawat itu. Kami terseret ombak sampai ke pulau ini dan kami tersesat di pulau ini."
"Siapa pemilik pesawat itu?"
"Kalau boleh tahu kalian siapa?" tanya balik Edward sopan.
Tentara itu mengambil dompetnya dari saku celana seragamnya. Mengambil kartu anggota tentara. Memperlihatkan kartu itu di depan kedua matanya Edward. Edward membaca setiap tulisan yang tertera di kartu itu di dalam hati. Edward sangat yakin bahwa keempat pria yang berada di hadapannya adalah tentara asli. Edward menganggukkan kepalanya sebagai respon bahwa dia sudah selesai membaca kartu anggota itu.
"Jadi siapa pemilik pesawat itu?"
__ADS_1
"Raden Cipto Hartono Bratadikara Soerjosoemarno," jawab Edward tegas.
"Letak astronomis jatuhnya pesawat itu?"
"Delapan lintang utara, sepuluh koma lima lintang selatan, delapan puluh lima bujur barat dan seratus tiga puluh bujur timur, samudera Hindia dekat perairan pulau Mentawai," jawab Edward yakin.
"Ok, ikutlah kami ke markas. Kami akan memberi tahu ke pihak keluarga kalian bahwa kalian telah selamat dari kecelakaan pesawat itu dan akan memberi tahu keberadaan kalian dan kelakuan kalian ke para tokoh adat yang berada di desa Salur.
"Mohon maaf sebelumnya, kami hanya berciuman, tidak melakukan hal yang lebih dari itu. Tolong jangan lakukan apa pun untuk kami berdua," ucap Edward memelas.
"Itu yang kami tahu, yang lain kami tidak tahu."
"Aku tidak bohong Kapten Rizaldi," ucap Edward jujur.
"Ciuman yang dilakukan oleh sepasang kekasih bukan pasangan suami istri merupakan perbuatan tak terpuji, ada konsekuensinya juga dilakukan di daerah sini," ucap Rizaldi tegas.
"Apa konsekuensinya?" tanya Edward.
"Secepatnya kalian akan dinikahkan," ucap Rizaldi yakin.
"Apa!?" ucap Agni kaget.
"Mas, sebenarnya aku belum siap menikah," ucap Agni bingung.
"Kalau kalian tidak mau dinikahkan, kalian akan diarak mengelilingi desa."
"Baiklah kami mau dinikahkan," ucap Edward yakin.
"Baiklah, silakan ikuti kami ke markas."
"Siap Pak Kapten. Tapi saya mohon tinggalkan kami berdua dulu. Kami mau ganti baju dulu," ucap Edward sopan.
"Ok, kami tunggu di luar."
"Siap Pak Kapten."
Rizaldy memberikan kode ke para tentara lainnya agar mereka menunggu Edward dan Agni di luar. Sedetik kemudian mereka berjalan keluar dari dalam rumah, lalu salah satu dari mereka menutup pintu rumah. Edward mengambil kimono satin milik Agni dengan gerakan secepat kilat, lalu memberikan kimono itu ke Agni. Agni menerima kimono itu, lalu memakainya ketika Edward mengambil kaosnya.
"Kamu mau kan menikah denganku?" ucap Edward sambil memakai kaosnya.
"Ehm ... aku masih bingung Mas," ucap Agni setelah mengikat tali di kimononya.
__ADS_1
Edward menangkup wajahnya Agni lembut, lalu berucap dengan serius, "Percayalah padaku sayang, aku akan selalu membahagiakan dirimu, melindungi dirimu dan menafkahi dirimu jika kita menikah. Dan satu lagi, aku sangat mencintai dirimu. Menikahlah denganku sayang."
"Baiklah aku mau menikah samamu," ucap Agni yakin.
Sedetik kemudian Edward mengecup keningnya Agni dengan penuh kasih sayang. Melepaskan kedua tangannya dari pipinya Agni. Edward menggenggam telapak tangan kanannya Agni dengan erat. Agni membalas genggaman tangannya Edward sehingga mereka saling menggenggam tangan. Berjalan pelan ke pintu. Edward mengambil kunci pintu rumah. Menekan handle pintu kamar ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu terbuka. Mereka keluar dari dalam rumah setelah pintu rumah ditutup.
"Tak perlu dikunci pintunya," ucap tentara yang lainnya ketika Edward
"Memangnya dekat markas kalian?" ucap Edward sopan.
"Itu markas kita yang ada di pulau ini," ucap tentara itu sambil menunjuk ke rumah besar yang berada di belakang rumah yang Edward dan Agni tempati untuk sementara waktu.
Sedetik kemudian Agni dan Edward berjalan menghampiri para tentara. Para tentara melangkahkan kakinya di depan Edward fan Agni yang sedang berjalan beriringan sambil saling menggenggam tangan. Mereka berjalan di atas rerumputan. Para tentara mengobrol dengan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh Edward dan Agni.
"Oh ya, apakah kalian yang membunuh dua ekor harimau di jalan besar?" tanya Rizaldi sambil menengok ke Edward dan Agni sebentar.
"Iya Pak," ucap Edward jujur.
"Kenapa kalian membunuh mereka?" tanya Rizaldi tanpa menengok ke Edward maupun Agni.
"Mereka telah menyerang kami, akhirnya kami menembaki mereka."
"Seharusnya kalian tidak boleh membunuh satwa langka yang berada di sini. Harimau Sumatera merupakan salah satu jenis hewan langka yang ada di Indonesia. Kalian hanya perlu membiusnya, lalu membawa mereka ke tengah hutan," ujar Rizaldi tanpa menengok ke Edward maupun Agni.
"Saya tidak tahu alat biusnya."
"Kalian bisa menggunakan senjata laras panjang?"
"Saya bisa Pak."
"Silakan masuk ke markas kita," ucap Rizaldi ramah.
Mereka masuk ke dalam rumah besar berlantai dua. Para tentara membimbing Edward dan Agni ke sebuah meja kerja. Edward dan Agni menduduki tubuhnya di dua kursi yang berada di depan meja. Ada tentara lainnya berada di depan mereka yang sedang mengetik sesuatu. Tentara itu menoleh ke para tentara yang membawa Agni dan Edward ke markas tentara.
Para tentara yang tadi membawa Agni dan Edward memberi hormat ke seorang tentara yang berada di depan mereka, lalu dari salah satu para tentara berucap, "Lapor Pak Mayor Rahadi, ada orang yang tersesat di pulau ini. Mereka adalah dua korban yang selamat dari kecelakaan pesawat Airbus ACJ319Neo di samudera Hindia dekat perairan pulau Mentawai dengan letak astronomi delapan lintang utara, sepuluh koma lima lintang selatan, delapan puluh lima bujur barat dan seratus tiga puluh bujur timur, samudera Hindia dekat perairan pulau. Mereka adalah sepasang kekasih dan telah melakukan perbuatan tercela."
"Terima kasih atas perhatiannya, kalian boleh bubar" ucap Rahadi.
"Baik Pak," ucap tentara itu, lalu para tentara yang telah membawa Agni dan Edward ke dalam markas bubar.
"Kalau begitu kalian harus segera menikah," ucap Rahadi.
__ADS_1