Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Aku Harus Kabur Dari Sini


__ADS_3

Terima kasih sudah membaca novelku yang ini 😁. Berikan like, vote, bintang lima, komentar, dan hadiah ke novelku yang ini ya 😁. Terima kasih atas dukungan dari anda 😁.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Aku harus kabur dari sini supaya bisa lepas dari genggaman pria bajingan itu.


Batin Agni.


Agni menatap punggung pria itu yang masih berada di ambang pintu dengan tatapan sinis. Lalu pria itu membelokkan tubuhnya ke ke kiri sehingga menghilang dari pandangan Agni. Mengalihkan pandangannya, melihat dua orang algojo yang masih setia berjaga sambil duduk di atas bangku panjang. Agni sedang berusaha memikirkan sebuah cara untuk kabur dari ruang penyekapan itu. Dia lama terdiam sehingga menemukan sebuah ide untuk kabur. Agni menggigit bibir bawahnya karena ragu akan keberhasilan ide yang sudah ada di otaknya.


Kalau tidak dicoba, aku akan selalu berada di dalam genggaman pria bajingan itu, aku tidak mau itu terjadi.


Batin Agni.


"Paman," panggil Agni sambil menatap kedua algojo yang sedang saling pandang.


"Ada apa?" tanya salah satu algojo itu ketus sambil menoleh ke Agni.


"Paman, aku ingin pub, bisakah Paman mengantarku ke kamar mandi?" ujar Agni sambil memegang perutnya.


Algojo itu mengernyit melihat Agni yang sedang berakting kesakitan sambil memegang perutnya. Akhirnya algojo itu mau mengantarkan Agni ke kamar mandi. Dia menarik tubuh Agni dengan kasar sehingga Agni berdiri dengan tegak. Algojo itu mendorong tubuh Agni. Agni hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu oleh algojo itu.


"Ayo cepat jalan! Kamu jalan di depan saya!" bentak algojo itu.


Agni berjalan dengan tertatih mengikuti instruksi algojo itu. Agni tidak dibiarkan untuk berjalan di belakang karena algojo itu takut Agni kabur. Mereka membelokkan tubuhnya ke kiri setelah melewati pintu, lalu menyusuri sebuah lorong sempit. Agni memperhatikan lorong sempit itu. Cat dinding lorong itu sudah ada yang berlumut, pudar, bahkan sudah ada yang terkelupas.


Algojo itu mengarahkan Agni ke kanan dengan kasar menarik bahunya. Mereka sampai di depan pintu kamar mandi yang sudah terbuka. Agni melihat sebuah kamar mandi yang sangat kotor karena kamar mandi itu jarang dipakai dan dibersihkan. Agni merasa jijik melihat kamar mandi itu. Di dalam kamar mandi itu ada beberapa hewan melata.

__ADS_1


"Cepatan masuk!" bentak algojo itu sambil mendorong Agni supaya masuk ke dalam kamar mandi.


"Paman, tolong lepaskan ikatanku," pinta Agni dengan wajah memohon ke algojo itu.


"Kamu mau kabur?" tanya algojo itu.


Agni menggelengkan kepalanya, lalu berucap, "Tidak mungkin aku kabur, Paman. Aku cuma mau pub. Memangnya Paman mau menyebokiku? Paman tidak jijik dengan tai?"


Seketika tubuh Agni ditarik oleh algojo itu. Agni tersenyum tipis ketika algojo itu tengah membuka ikatan di kedua pergelangan tangannya. Agni merasa senang, akhirnya dia bisa kabur dari rumah kosong itu. Algojo itu memicingkan kedua matanya dengan tajam, seakan memperingati Agni agar tidak bertindak macam-macam. Agni masuk ke dalam kamar mandi melewati pintu kamar mandi yang sudah terbuka.


Tak sengaja Agni melihat sebuah balik kayu dengan paku tajam di salah satu ujungnya. Sebuah balok kayu yang biasa digunakan untuk mengganjal pintu kamar mandi. Sekilas melihat algojo itu sedang memunggungi pintu kamar mandi. Tanpa pikir panjang lagi, Agni mengambil balok kayu itu, lalu memegangnya dengan kuat agar tidak mudah terlepas. Agni berjalan pelan, melewati celah pintu kamar mandi dengan hati-hati hingga akhirnya Agni memukul punggung algojo itu.


Buk!


"Aarrgghhh!" pekik algojo kesakitan sambil merasakan sakit di area punggungnya.


"Rasakan itu!" teriak Agni.


Menyusuri lorong yang panjang dan sempit sambil membawa balik kayu. Menepaki lantai demi lantai lorong itu sambil berharap dia tidak akan tertangkap oleh para penjahat yang telah menyekapnya. Agni menengok ke belakang, melihat algojo yang satunya sedang berlari mengejar dirinya. Jarak mereka cukup dekat. Agni terus menyusuri lorong rumah kosong itu untuk mencari jalan keluar.


Ya Allah tolong saya. Saya ingin keluar dari sini.


Batin Agni.


"Berhenti kamu! Atau kamu akan tahu akibatnya!" teriak algojo itu sambil terus mengejar Agni.


Tapi Agni tidak peduli dengan ucapan algojo itu. Agni terus berlari dengan kekuatan penuh sambil menangis. Agni menoleh lagi ke belakang dengan rasa cemas yang menyelimuti dirinya. Agni melebarkan kedua kelopak matanya ketika melihat jarak mereka sangat dekat. Seketika suasana bertambah tegang. Nafasnya Agni terengah-engah. Dia mengayunkan lagi balok kayu itu sehingga ujung paku mengenai salah satu mata algojo itu saat algojo itu hendak meraih pergelangan tangan kirinya.

__ADS_1


"Aarrgghhh!" pekik kesakitan algojo itu.


Agni tercengang melihat darah segar mengalir deras dari mata yang kena hantaman balok kayu yang Agni pegang. Agni melemparkan balok kayu itu dengan asal, lalu menendang alat kelamin algojo itu sehingga algojo menjerit kesakitan lagi. Setelah itu Agni kembali berlari dengan tunggang langgang sehingga dia menemukan sebuah pintu di ujung lorong. Dia menghentikan langkahnya di depan pintu itu. Menekan handle pintu itu ke bawah, lalu menariknya ke dalam sehingga pintu itu terbuka. Agni menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari gerbang rumah kosong itu.


"Aku pasti bisa pergi dari sini," gumam Agni bermonolog sambil membelokkan badannya ke kanan.


Langkah kakinya terasa sangat berat saat dia berlari sekuat tenaga. Perjuangan dia belum berakhir, sebelum dia menemukan gerbang rumah kosong itu atau menemukan seseorang yang tepat untuk membawa dia pergi jauh dari rumah kosong itu. Agni mengusap air matanya yang terus menerus meluncur di pipinya dengan kasar. Dia tersenyum bahagia melihat sebuah gerbang yang berada tak jauh darinya.


Dia kembali mengecek situasi dengan menengok kepalanya ke belakang. Tidak ada seorang pun yang mengejarnya. Tapi dia terus tetap berlari sekuat tenaga tanpa rasa lelah. Menghampiri gerbang rumah kosong itu dengan semangat membara. Ternyata pintu gerbang itu sudah terbuka. Dia melewati pintu gerbang itu. Menghentikan langkahnya di pinggir sebuah jalan raya. Tak sengaja dia melihat sebuah mobil Mercedes Benz warna hitam yang sudah dia kenalin.


Sepertinya itu mobilnya Hardi.


Batin Agni.


Hardi menghentikan mobilnya di depan Agni. Membuka sebagian kaca mobil itu. Hardi memberikan kode ke Agni supaya Agni masuk ke dalam mobilnya. Agni tahu tentang kode yang sering Hardi berikan kepadanya. Agni menarik handle salah pintu mobil itu keluar sehingga pintu mobil itu terbuka. Masuk ke dalam mobil, lalu menduduki tubuhnya di atas jok samping kirinya Hardi. Menutup pintu mobil itu, lalu memakai safety belt.


"Mas Hardi, kok kamu tahu aku ada di sini?" tanya Agni bingung ketika Hardi memutar balik mobilnya.


"Aku tahu dari instingku," ucap Hardi sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup cepat.


"Terima kasih atas pertolongannya," ucap Agni sambil menoleh ke Hardi.


"Pertolongan ini tidak gratis, kamu harus menikah denganku?"


"Mana mungkin aku menikah denganmu, Mas. Sedangkan aku sudah punya suami."


"Suamimu sudah meninggal dunia. Mobil kamu sudah dibakar sama mereka."

__ADS_1


Jegerrr!!


Ucapan Hardi bagaikan petir di tengah hari bolong. Tak terasa air matanya mengalir lagi di pipinya. Dia mengalihkan pandangannya ke jendela depan dengan tatapan mata yang kosong. Meratapi kesedihan yang tiada hentinya. Lambat laun tangisannya menderu-deru. Hatinya Hardi terenyuh melihat Agni menangis menderu di dalam mobilnya. Dia ingin menghentikan mobilnya untuk menenangkan Agni, tapi dia berpikir lagi untuk tidak melakukan itu karena dia harus membawa Agni ke rumah Mbahnya secepat mungkin.


__ADS_2