Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Akhirnya Kita Menang


__ADS_3

Matahari berada di tengah langit yang terang benderang pada siang hari ini. Teriknya cahaya matahari yang menyilaukan bumi dan seisinya. Sinar teriknya menelusup lembut melalui ventilasi udara dan celah - celah jendela ke dalam kamar yang sedang ditempati oleh Agni dan Edward sehingga pencahayaan di kamar itu tampak terang. Silaunya cahaya matahari telah mengusik tidur lelapnya Agni.


Setelah sarapan, Edward mengalami demam lagi sehingga dia harus meminum air jahe hangat dan mengistirahatkan tubuhnya. Agni meminta agar Edward tidur di dalam kamar berdua sama dia supaya dia bisa melakukan metode skin to skin untuk meredakan demamnya Edward. Lama kelamaan mereka tertidur dengan saling berpelukan.


Pelan - pelan kedua kelopak mata Agni mulai terbuka kemudian mengerjapkannya secara perlahan untuk menyesuaikan kedua kornea matanya dengan cahaya temaram di dalam kamar. Agni merasakan sesuatu yang menindihi kaki kanannya. Dia membuka dua kelopak matanya yang masih terkantuk - kantuk secara perlahan sehingga kedua matanya terbuka sempurna.


Dia menengok ke kanan tubuhnya. Dia melihat wajahnya Edward yang sedang tidur pulas. Menyentuh dahinya Edward yang sudah tidak panas lagi. Menggeserkan kaki kanannya pelan - pelan supaya tidak menggangu Edward. Menurunkan kedua kakinya, lalu berdiri. Melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar. Berjalan melewati pintu kamar yang masih terbuka.


Melanjutkan langkah kakinya ke dapur. Membuka pintu kulkas, lalu mengambil botol minum. Menaruh botol minum itu di atas meja kitchen set. Menutup pintu kulkas itu. Mengambil salah satu gelas dari tempat gelas. Menuangkan air dari dalam botol ke gelas yang tadi Agni ambil. Menaruh botol minum itu ke meja kitchen set. Meminum air putih yang berada di dalam gelas sampai tandas. Menaruh gelas itu ke atas meja kitchen set.


Tak sengaja Agni melihat keranjang bumbu dapur. Dia menariknya, lalu memeriksa jahe. Namun Agni tidak menemukan jahe di dalam keranjang bumbu dapur. Agni menepuk dahinya karena dia telah menghabiskan jahe untuk dia dan Edward minum. Agni berjalan menuju kamar. Masuk ke dalam kamar melewati pintu yang masih terbuka. Mengambil kimono panjang berbahan satin dari gantungan baju, lalu memakainya.


Agni melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar. Berjalan melewati pintu kamar yang masih terbuka. Menyusuri ruang tamu, lalu menghentikan langkahnya di depan pintu rumah. Memegang kunci, lalu membuka kunci pintu rumah. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya ke dalam sehingga pintu rumah terbuka.


Keluar dari dalam rumah. Menghentikan langkah kakinya untuk menutup pintu rumah. Melanjutkan langkahnya menuju jalanan tanah. Di bawah naungan teriknya cahaya matahari, Agni menyusuri jalanan lebar yang berada di tengah hutan sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari pohon jahe. Melangkahkan kakinya sampai berpuluh - puluh meter untuk mencari pohon jahe, namun Agni tidak menemukan pohon jahe.


Agni menghentikan langkahnya sambil membelalak lebar kedua matanya ketika melihat seekor harimau yang sedang berjalan pelan menghampiri dirinya yang berada di tengah jalanan. Seketika suasana mencekam melihat harimau dari jarak dua puluh meter sehingga membuat bulu kuduk Agni meremang. Agni menengok ke kanan kiri jalanan yang dihiasi dengan hutan, tidak ada orang lain yang bisa menolongnya. Buliran keringat bercucuran keluar dari pori - pori kulitnya Agni.


"Ya Allah, tolonglah aku," gumam Agni bermonolog.


Agni mundur dengan pelan - pelan. Harimau itu masih saja berjalan santai di depan Agni. Sedetik kemudian harimau itu membuka mulutnya lebar - lebar sehingga membuat tubuhnya Agni bergetar karena ketakutan. Sontak Agni memutarkan badannya, lari berlari sekuat tenaga untuk menghindari harimau itu. Harimau itu mengikuti jejaknya Agni dengan langkah yang cepat.


Agni berlari sekuat tenaga untuk menghindari harimau tanpa menoleh ke belakang. Harimau itu menambah kecepatan langkah kakinya. Agni mendengar harimau itu mengaung kencang sehingga rasa takut di dirinya Agni bertambah. Jutaan air keringat telah membasahi pakaian yang dikenakan oleh Agni. Tak sengaja Agni tersandung sehingga membuat dia terjatuh. Agni menangis sambil menundukkan kepalanya karena dia tak kuasa untuk menghindar lagi dari harimau itu.


Dor ... dor ... dor ... dor ... dor ...


Edward menembaki harimau itu dari jarak lima meter dengan tepat sasaran sehingga harimau terkapar. Agni mengangkat kepalanya. Dia melihat Edward sedang berlari cepat menghampiri dirinya. Sontak Agni menduduki tubuhnya. Air mata mengalir deras di pipinya Agni. Edward menghentikan langkahnya di depan Agni. Edward berjongkok di depan Agni, lalu mendekap tubuhnya Agni.

__ADS_1


"Hiks ... hiks ... hiks ... aku takut Mas hiks ... hiks ... hiks ....," ucap Agni sambil menangis sesenggukan di dalam dekapan Edward.


"Cep ... cep ... cep ... nangisnya udahan ya sayang. Kamu tak perlu takut lagi karena ada aku bahkan harimaunya sudah mati."


"Apakah benar harimau itu sudah mati?"


"Iya sayang. Oh ya, aku mau memindahkan harimau itu,"' ucap Edward, lalu dia melepaskan dekapannya.


Sedetik kemudian Edward berdiri. Melangkahkan kakinya menuju harimau yang sudah tidak bernyawa lagi. Menyeret tubuhnya harimau ke pinggiran jalan. Sedangkan Agni hanya menonton gerak - geriknya Edward. Setelah memindahkan tubuhnya harimau itu, Edward berlari kecil menghampiri Agni. Edward membungkukkan badannya, lalu menaruh senjata di jalan dan mengambil tubuhnya Agni.


Agni pasrah tubuhnya diangkat, lalu digendong ala bride style oleh Edward. Agni melingkarkan kedua lengannya di leher kokohnya sambil mengeluarkan air matanya. Agni menatap langit yang sangat gelap padahal hari masih siang. Awan - awan mendung menjatuhkan ribuan jarum - jarum air dengan lembutnya. Edward mempercepat langkahnya karena merasakan gerimis hujan.


Lambat laun hujan deras menghujam mereka yang sedang berada di tengah jalan besar. Edward menurunkan Agni. Menyeka air matanya Agni. Menangkup pipinya Agni. Menatap penuh kasih sayang ke Agni. Mengecup keningnya Agni penuh dengan kelembutan. Membelai pipinya Agni dengan penuh cinta. Memeluk pinggangnya Agni.


"Mari kita berdansa," ucap Edward lembut.


"Ikuti ku aja, tapi kalau aku maju, kamu mundur. Aku mundur kamu maju," ucap Edward lembut sambil berdansa.


"Terus gimana kamu? Kamu kan belum sembuh banget Mas?"


"Kamu tenang aja, aku sudah sembuh total karena sentuhan darimu. Sentuhan kamu adalah obatku."


"Gombal," ucap Agni.


Tak berselang lama Edward mendekatkan wajahnya dengan pundaknya Agni, lalu berbisik, "Aku tidak gombal sayang, itu adalah kenyataan."


Agni menghentikan gerakannya sambil melebarkan kedua matanya karena ketakutan melihat seekor harimau yang lain sedang berjalan menghampiri mereka dengan jarak dua puluh meter, lalu berbisik ketakutan, "Mas ada harimau lagi, dia ... ja ... lan ... ke ... sini."

__ADS_1


"Kamu jangan takut sayang, mari kita tangani harimau itu dengan pikiran yang jernih. Kamu ambil senapan yang tadi aku taruh di jalan ketika aku mengalihkan perhatian harimau itu. Setelah kamu ambil senapan itu, kamu tembakin harimau itu dengan senjata itu. Tenangkan dirimu, kamu harus fokus sama tugasmu sayang. Setelah aku berbalik, kamu langsung lari ke senjata itu," bisik Edward.


Tak lama kemudian Agni menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju dengan ucapan Edward. Lalu dia melepaskan pelukannya. Edward membalikkan badannya setelah Agni melepaskan kedua tangannya dari leher kokohnya. Agni berlari sekuat tenaga ke arah senjata, sedangkan Edward mengambil batu, lalu melemparkan batu itu ke harimau sehingga harimau berlari mengejar Edward.


Agni menghentikan langkahnya, lalu mengambil senjata laras panjang ketika harimau itu mengaung. Agni memutarkan badannya dengan tubuh yang gemetaran, lalu mengarahkan senjata itu ke harimau. Membidik harimau itu, lalu mengokang senjata api itu. Menembaki harimau itu. Tapi naasnya senjata itu macet sehingga tidak bisa mengeluarkan peluru dari dalam senjata. Agni mengokang lagi senjata laras panjang itu. Menembaki lagi harimau itu.


Dor ... dor ... dor ... dor ... dor ...


Lima peluru sekaligus melesat keluar dari senapan. Satu peluru mengenai kaki kanannya harimau itu sehingga langkah harimau itu menjadi terseok. Peluru kedua mengenai badan harimau. Peluru ketiga mengenai area bokong harima. Peluru keempat dan kelima mengenai kepalanya harimau sehingga harimau terkapar ke samping.


Agni langsung menjatuhkan tubuhnya ke jalanan dengan tubuh yang masih gemetar. Meletakkan senjata laras panjang ke samping kirinya. Edward berlari menghampiri Agni. Mendekap erat tubuhnya Agni yang masih bergetar. Diusap - usap punggungnya Agni dengan penuh kasih sayang supaya bisa membuat Agni kembali tenang.


"Alhamdulillah, akhirnya kita menang," bisik Edward yang mampu menenangkan Agni sehingga tubuhnya Agni berhenti bergetar.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah membaca novelku ini 😁


Dilike ya guys 😁


Divote ya guys 😁


Dikomen ya guys 😁


Dikasih bintang lima ya 😁


Dikasih hadiah ya 😁

__ADS_1


__ADS_2