
Terima kasih sudah membaca novelku ini π
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Huek ... huek ... huek ... huek ... huek ... ." muntahan Agni di westafel kamar mandi
sambil memegang perutnya, lalu dia membuka kran untuk membersihkan muntahannya.
"Neng, kamu kenapa?" tanya Ina khawatir sambil memijat pelan tengkuk lehernya Agni dan memegang rambut Agni agar tidak kena muntahan dari mulutnya Agni.
Agni membasuh bibirnya menggunakan air dari kran wastafel. Ina menghentikan pijatannya ketika Agni sudah tidak muntah lagi. Kemudian Agni menegakkan tubuhnya dan mengeringkan bibirnya dengan tissue yang berada di dinding samping kanan westafel. Ina merasa iba melihat wajah Agni yang terlihat pucat.
"Bi Ina, perutku mual, dari kemarin, aku seperti ini," kata Agni lemas.
"Muka Neng kelihatan pucat. Apa aku kasih tahu aja ke Den Hardi?" ucap Ina yang mengkhawatirkan keadaan Agni.
"Tidak usah Bi Ina. Sepertinya aku masuk angin, Bi," ucap Lily, lalu dia berjalan gontai keluar dari kamar mandi.
"Neng, Bibi ke dapur dulu ya, ambil ambil air hangat untuk Neng. Neng suka air jahe hangat?" ujar Ina sambil mengekor Agni di belakang.
"Nggak usah Bi, nanti siang aja tolong bikinin aja susu cokelat hangat Bi, saya mau tidur dulu biar badanku fit. Terima kasih sudah bawain sarapanku ke sini."
"Sama-sama Neng, baik Neng.
Agni berjalan menghampiri tempat tidurnya untuk beristirahat. Dia menaikkan badannya ke atas tempat tidur. Sedangkan Ina berjalan menuju pintu kamar yang sudah terbuka, lalu keluar dari kamar dan menutup pintu kamar. Ina menghentikan langkahnya ketika Hardi berjalan menghampiri pintu kamarnya Agni. Ina tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya ke Hardi, Hardi membalasnya dengan senyuman yang ramah.
"Ada Neng Agninya Bi?" tanya Hardi ramah.
"Ada Den, tapi dia lagi istirahat. Mukanya pucat Den, dari kemarin sering muntah Den."
Ini kesempatanku untuk mengambil hatinya Agni.
Batin Hardi.
"Kenapa ya?" tanya Hardi pura-pura khawatir.
"Kayaknya masuk angin Den, tapi mukanya pucat banget Den."
"Nanti saya minta tolong dokter keluarga untuk memeriksa dia, terima kasih ya Bi infonya."
"Sama-sama Den, Bibi pamit Den, punten," ucap Ina sopan.
Tak lama kemudian Ina melangkahkan kakinya ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Hardi melanjutkan langkahnya ke pintu kamar yang ditempati oleh Agni. Menekan handle pintu ke bawah, lalu mendorong pintu kamar itu ke dalam kamar sehingga pintu terbuka. Masuk ke dalam kamar. Berjalan pelan menghampiri Agni yang sedang berbaring lemas di atas ranjang dengan posisi membelakangi Hardi.
Berjalan memutari tempat tidur sehingga bisa melihat wajah pucatnya Agni. Agni sedang memejamkan kedua matanya. Bunyi hembusan nafas Agni yang teratur telah menandakan bahwa dia sedang tidur. Hardi menduduki tubuhnya di tepian ranjang. Merapikan beberapa rambutnya Agni yang menutupi wajahnya Agni. Membelai wajah lembutnya Agni yang cantik alami.
Maafkan aku yang telah berbohong kepadamu.
Batin Hardi.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Mas?" gumam Agni sambil membuka kedua matanya setelah merasakan sentuhan dari Hardi.
__ADS_1
"Kamu kelihatan pucat, diperiksa ya sama Tante Pratistha?" ucap Hardi lembut.
"Nggak usah, aku cuma masuk angin aja, nanti sembuh sendiri."
"Kamu yakin hanya masuk angin?"
"Iya, Mas. Mas, bagaimana hasil pencarian suamiku?"
"Belum mendapatkan hasil apa-apa," ucap Hardi berbohong, padahal dia tidak melakukan pencarian Edward.
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Terdengar bunyi bising yang bisa menulikan gendang telinga dari smartphone milik Agni yang berada di atas nakas samping kanan ranjang. Sontak Agni mengganti posisi tidurnya sehingga menghadap nakas sebelah kanan ranjang. Tangan kanannya mengambil smartphone miliknya. Tersenyum manis ketika melihat tulisan my aunt di layar smartphonenya sambil menggeser tubuhnya ke pinggiran ranjang dengan posisi duduk, lalu menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan smartphone itu ke telinga kirinya.
"Hallo, selamat pagi," sapa Agni ceria.
"Pagi juga Agni yang cantik," ucap Sri.
"Alhamdulillah baik, kamu juga baik-baik aja kan say?" ucap Sri.
"Iya, Tante."
"Agni, maafin Om Hendra ya."
"Udah aku maafin kok, Tante."
"Kamu jangan membenci Om Hendra ya sayang."
"Iya. Memangnya ada apa ya, Tante?"
"Ternyata Om Hendra dan si pelacur Marina telah membunuh ayah, eyang dan saudara-saudara kamu."
Sekita jantung milik Sarah seakan berhenti berdegup, nafasnya sesak dan tubuhnya kaku mematung tidak dapat digerakkan sama sekali. Rasanya hati disayat dengan belati hingga terluka tak kasat mata ketika mendengar ucapan dari Sri. Agni menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Agni tidak mempercayai dengan ini semua.
Dadanya terasa begitu sangat sakit. Bibir Agni bergetar dan air matanya tumpah ruah membasahi pipinya. Agni menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya, lalu melempar smartphone itu ke atas tempat tidur. Kepalanya seakan berputar-putar sehingga pandangan matanya meredup. Rasa sakit mendera di sekujur tubuh Agni sehingga dia terkulai tak berdaya.
"Agni!" pekik Hardi ketika melihat Agni hendak membaringkan tubuhnya.
Dengan segera Hardi bangkit berdiri, lalu berlari menghampiri Agni. Mengambil smartphone Agni. Tidak ada suara apa pun. Menaruh smartphone milik Agni di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Hardi mengambil smartphone miliknya di dalam saku jas kerjanya. Menyentuh beberapa ikon untuk menelpon Pratistha, adik ayahnya Hardi. Mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya.
"Hallo, assalamu'alaikum gantengnya Tante?" ucap Pratistha ramah.
"Hallo Tante, Tante bisa datang ke mansionnya Mbah?"
"Memangnya ada apa sayang? Mbah sakit?"
__ADS_1
"Bukan Mbah yang sakit, tapi Agni Tante."
"Ooo Agni yang sakit, iya nanti secepatnya Tante ke sana ya sayang," ucap Pratistha.
"Terima kasih ya Tante," ucap Hardi sopan.
"Udah ya, Tante masih ada pasien."
"Iya, Tante."
Sedetik kemudian sambungan telepon terputus. Hardi menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Kemudian menaruh smartphone miliknya di tempat semula. Membenarkan posisi tidurnya Agni. Hardi khawatir melihat wajah pucatnya Agni. Memegang dahinya yang tidak panas.
Hardi menoleh ke pintu kamar ketika mendengar derap langkah. Tak berselang lama sosok Batara berada di depan pintu yang sedang berjalan, lalu masuk ke dalam kamar. Batara mengerutkan keningnya melihat wajahnya Agni yang pucat sambil berjalan menghampiri Hardi.
"Ada apa dengan Agni, Har?" tanya Batara. khawatir setelah menghentikan langkahnya di depan Hardi.
"Dari kemarin dia sering muntah dan badannya lemas, terus tadi sebelum pingsan dia sempat mendapatkan telepon dari Tante Sri dan menangis, Mbah," ucap Hardi.
"Sri ngomong apa aja ke dia?"
"Aku belum tahu, Mbah."
"Badannya panas?"
"Nggak, Mbah."
"Udah telepon Tante Pratistha?"
"Udah Mbah."
"Kapan dia datangnya?"
"Kata Tante secepatnya dia datang ke sini, Mbah."
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Bunyi dering dari smartphone milik Agni. Sontak Hardi meraih smartphone milik Agni. Melihat tulisan my aunt di layar smartphone milik Agni. Menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kirinya. Hardi mengerutkan dahinya ketika mendengar suara bising, tapi beberapa detik kemudian terdengar suara hening.
"Hallo selamat pagi keponakan Tante yang paling cantik, kamu baik-baik aja kan?" ucap Sri riang.
"Hallo Tante Sri, Agninya pingsan setelah dia menangis. Memangnya ada apa ya Tante?"
"Ya Allah, ya udah Tante ke sana sekarang," ucap Sri panik, lalu memutuskan sambungan telepon itu terputus.
"Ada apa, Har?" tanya Barata sedikit panik ketika Hardi menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya,
__ADS_1
"Sepertinya Tante Sri ngomong sesuatu yang membuat Agni syok," ucap Hardi sambil menaruh smartphone milik Agni di tempat semula.