
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Langit malam di kota yang dulu bernama Batavia masih dengan gagah memperlihatkan bintang - bintang yang bertaburan dan bulan purnama. Cahaya terang dari bulan purnama dan cahaya kerlap-kerlip bintang menaungi segala aktivitas manusia di bumi, termasuk Agni dan Hardi. Mereka pergi jalan-jalan pada malam hari setelah Agni melakukan terapi. Mobil yang ditumpangi oleh Hardi dan Agni beserta mobil iring-iringan para bodyguard Agni menembus hiruk pikuk keramaian ibu kota negara Indonesia.
Keadaan malam hari di kota Jakarta sangat hidup dengan segala hingar - bingar dari aktivitas masyarakatnya. Kota yang yang dikenal dengan kota yang selalu hidup, tak akan ada matinya. Mobil sedan mewah milik Hardi terus melaju menyusuri tiap sudut kota Jakarta. Menembus bisingnya malam hari. Melewati beberapa pejalan kaki di trotoar yang sedang menghabiskan waktu dengan orang - orang tercinta atau sekedar menunggu waktu pagi datang.
Ada beberapa pemuda - pemudi sedang asyik memainkan alat musik dan sebagainya lagi sedang bernyanyi sambil menggoyangkan badannya. Di pojok jalan ada kelompok yang terdiri dari enam wanita yang sedang asyik bersenda gurau. Di dekat kelompok wanita itu ada beberapa para pedagang makanan sedang berteriak dengan suara lantang untuk menawarkan dagangannya.
"Sebenarnya kamu mau ajak aku pergi ke mana?" tanya Agni sambil menoleh ke Hardi.
"Masa kamu lupa tempat makan favorit kita. Di seberang jalan, ada tempat makan tenda. yang biasa kita kunjungi. Posisinya di sebelah kiri jalan, di sana ada yang jualan pecel lele dan pecel ayam yang sangat enak."
"Ooo, pecel lele Pak Jono. Aku masih ingatlah. Wong sambelnya uueenak tenan. Ya udah ke sana aja Mas Har, aku udah lama nggak ke sana."
"Baik calon Nyonya Hardi, kita akan meluncur ke sana."
"Kok calon Nyonya Hardi?"
"Kamu lupa dengan perjanjian kita yang kemarin. Aku membantu kamu untuk mencari Edward selama sebulan asalkan kamu mau menikah denganku."
"Tapi kan Mas, hasilnya dia belum ditemukan."
"Walaupun belum ataupun tidak ditemukan, kamu tetap mau menikah denganku."
"Huh ...," Agni menghela nafas panjang.
Seketika suasana hening, mereka saling mengalihkan pandangan mereka. Mobil sedan yang ditumpangi oleh Agni dan Hardi menyebrang jalan melewati lampu hijau marka jalan dan keramaian malam hari. Mereka masih menelusuri jalanan yang diselimuti oleh keramaian masyarakat yang menikmati kebersamaan di malam hari.
"Itu tempat makannya," ujar Agni sambil menunjuk sebuah tenda makan yang sedang dikerumuni oleh orang - orang.
Kemudian mobil itu mengarah ke tempat yang ditunjuk oleh Agni. Supir mobil itu memperlambat kecepatan mobil. Ketika hampir mendekati warung tenda itu, di samping kanan tenda warung itu, ada beberapa meja dan bangku untuk para pengunjung warung tenda itu.
Supir menepikan mobil itu di pinggir trotoar. Mematikan mesin mobil itu. Hardi menoleh ke Agni yang sedang melihat keadaan di luar jendela. Sontak Hardi mengikuti arah matanya Agni. Hardi melihat di sana banyak sekali orang - orang yang sedang bersantap makanan sehingga tidak ada bangku yang kosong.
"Kamu jadi mau makan di sini?"
"Iya."
"Tapi kita makannya di mana? Sedangkan semua bangku penuh, tidak ada yang kosong."
"Kita makan di mobil saja."
"Baiklah, kamu pasti mau pesan pecel lele sama nasi, sambel yang banyak," ucap Hardi.
"Kok kamu masih ingat Mas?"
"Iyalah, kan kamu orang yang spesial bagiku," ucap Hardi lembut sambil menoleh ke Agni.
__ADS_1
"Gombal," ucap Agni datar sambil menoleh ke Hardi.
"Aku tidak gombal, kamu memang orang yang terpenting dalam hidupku."
"Iya kamu ngomong gitu supaya aku mau menikah denganmu."
"Nggak Sayang, aku sudah jatuh cinta lagi sama kamu," ucap Hardi lembut.
"Bullshit."
"Ini kenyataan Sayang, kalau nggak percaya peganglah dadaku."
"Au ah gelap, kalau begini terus kapan makannya," ucap Agni sambil melepaskan seat belt.
"Biar aku yang pesan, kamu tunggu di sini aja," ucap Hardi sambil melepaskan seat beltnya.
"Baiklah."
Kemudian Benny membuka kunci dan pintu mobil. Menutup pintu mobil lalu berjalan menuju gerobak itu untuk memesan makanan. Tiba-tiba sebagian atap mobil terbuka sehingga Agni merasakan udara sejuk pada malam ini. Agni berdiri di dalam mobil, sehingga dia bisa melihat para bodyguardnya sedang berdiri dengan posisi menyebar di area warung tenda itu sambil mengawasi keadaan sekitar mereka. Tak lama kemudian menatap rembulan.
"Indahnya rembulan," ujar Agni.
"Seperti indahnya dirimu," ucap Hardi tiba-tiba yang membuat Agni menoleh ke dirinya.
"Kok cepat banget pesannya, kamu nggak ikut antri?" ucap Agni ketika Hardi hendak membuka pintu mobil.
"Aku nggak perlu antri, cukup minta tolong sama salah satu bodyguard kamu, semuanya beres," ucap Hardi sambil masuk ke dalam mobil, lalu menutup pintu mobil.
"Sombong," ucap Agni datar ketika Hardi menduduki tubuhnya di samping kirinya Agni.
Dengan beribu cara-cara kau selalu membuat ku bahagia
Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan
Yang benar-benar kuinginkan hanyalah kau untuk selalu di sini ada untukku
Nyanyian segerombolan pengamen yang berada di warung tenda bernyanyi sambil berjalan menghampiri mobil yang ditumpangi oleh Agni dan Hardi ketika Hardi hendak berdiri. Agni menengok ke Hardi yang sudah berdiri di samping kirinya Agni. Hardi hanya tersenyum manis saat ditatap tajam oleh Agni. Karena jengah melihat wajahnya Hardi, Agni mengalihkan pandangannya ke jalanan sambil mendengar lanjutan lagi itu.
Maukah kau tuk menjadi pilihanku
Menjadi yang terakhir dalam hidupku
Maukah kau tuk menjadi yang pertama
Yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata
Oh..
Ijinkan aku memilikimu, mengasihimu, menjagamu, menyayangimu,
memberi cinta
memberi semua yang engkau inginkan
selama aku mampu aku akan berusaha
__ADS_1
mewujudkan semua impian dan harapan
tuk menjadi kenyataan
Agni melebarkan kedua matanya ketika melihat puluhan orang berjalan menghampiri mobil yang ditumpangi oleh dirinya dan Hardi sambil membawa satu bucket aneka bunga. Agni menoleh ke warung tenda. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya ketika semua pengunjung warung tenda berjalan menuju ke mobilnya sambil membawa satu bucket aneka bunga. Dia menoleh lagi ke Hardi yang sedang membuka sebuah kotak cincin.
"Maukah kamu menikah denganku?" tanya Hardi lembut sambil menyodorkan kotak cincin itu ke Agni, lalu Agni menoleh lagi ke segerombolan pengamen yang masih menyanyikan lagu request dari Hardi.
Maukah kau tuk menjadi pilihanku
Menjadi yang terakhir dalam hidupku
Maukah kau tuk menjadi yang pertama
Yang slalu ada di saat pagi ku membuka mata
Jadilah yang terakhir
Tuk jadi yang pertama
Tuk jadi selamanya...
Maukah kau tuk menjadi pilihanku
Menjadi yang terakhir dalam hidupku
Maukah kau tuk menjadi yang pertama
Yang selalu ada di saat pagi ku
Maukah kau tuk menjadi pilihanku
Menjadi yang terakhir dalam hidupku
Maukah kau tuk menjadi yang pertama
Yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata
Jadilah yang terakhir
Tuk jadi yang pertama
Tuk jadi selamanya....
Setelah lagi selesai dinyanyikan, Agni menoleh ke Hardi, lalu berkata, "Iya, aku mau."
"Hore!!!" seru semua orang yang telah membantu Hardi untuk membuat acara lamaran malam ini.
Hardi mengambil sebuah cincin yang bermatakan batu safir biru yang dikelilingi oleh beberapa berlian dari kotaknya. Memakaikan cincin itu ke jari manis tangan kirinya Agni. Tiba-tiba Hardi mengecup bibir Agni. Seketika rona merah menyeruak di pipinya Agni karena malu. Agni langsung menundukkan kepalanya. Hardi mengangkat wajah Agni sehingga mereka saling bertatapan.
"Terima kasih atas jawabannya," ucap Hardi lembut.
"Tapi aku belum mencintai dirimu, Mas, aku menerima lamaran kamu karena ingin membahagiakan Mbah dan ingin menepati janjiku kepadamu," ucap Agni malu-malu.
"Tidak apa-apa sayang. Aku selalu menunggu cintamu untuk diriku lagi."
__ADS_1