Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Aku merasa


__ADS_3

"Aku merasa seseorang telah mengintai kita Jenny," ucap Agni pelan.


"Sejak kapan merasakan itu?" ucap Jennifer pelan.


"Sejak tadi kita keluar dari rumahku."


"Orangnya yang mana?"


"Yang baca majalah kebalik. Tadi dia kepergok sama aku ketika dia sedang mengintai kita, terus dia ambil majalah dan pura - pura baca majalah. Arah jarum jam sembilan. Coba kamu perhatikan orang itu."


Sedetik kemudian Jennifer menoleh ke orang yang dimaksud oleh Agni. Jennifer memicingkan kedua matanya untuk memperjelas penglihatannya. Jennifer menoleh ke Agni. Lalu mendekatkan wajahnya ke telinga kanannya Agni.


"Mau kita cari tahu siapa dia?" bisik Jennifer.


Agni menggelengkan kepalanya sebagai tanda dia tidak setuju dengan idenya Jennifer. Jennifer menjauhkan wajahnya dari telinga kanannya Agni. Agni mengambil secangkir teh Earl grey sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang bergaya klasik. Lalu menyeruput tehnya.


"Menurutmu orang itu suruhan siapa?" tanya Jennifer sambil memotong sandwich.


"Mbah," ucap Agni sambil menaruh cangkir itu di tempat semula.


"Menurutku suamimu, coba kamu tanyakan tentang itu ke suamimu," ucap Jennifer sambil mengangkat garpu.


Tanpa berfikir lagi, Agni langsung mengambil smartphone miliknya yang berada di atas meja. Menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Hardi. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Sambil menunggu panggilan teleponnya dijawab, Agni memperhatikan orang yang dia curagai sebagai suruhan Batara.


"Hallo, assalamu'alaikum Mas," sapa Agni.


"Wa'alaikumussalam," ucap Hardi datar sambil merasakan sentuhan sensual di area benda pusakanya.


"Mas, kamu nyewa detektif untuk mengintai diriku?"


"Bukan aku, aaahhhh, udah dulu ya, aku lagi sibuk, nanti aku telepon balik," ucap Hardi yang tidak kuasa menahan sentuhan dari Valerie.


Tiba - tiba sambungan telepon itu terputus. Agni mengerutkan keningnya karena bingung dengan sikapnya Hardi yang tidak biasa. Agni menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinga kirinya. Jennifer menoleh ke Agni yang sedang termenung sambil memegang smartphone.


"Kenapa Ni?" tanya Jennifer khawatir.


"Aku perhatikan Mas Hardi beda dari biasanya," ucap Agni lesu.


"Mungkin dia lagi sibuk Ni."


"Tadi dia mendesah ketika kami sedang bicara di telepon," ucap Agni sambil menoleh ke Jennifer.


"Wah ... dia lagi enak - enakan sama cewek lain tuch."


"Maksudmu apa Jenny?" tanya Agni panik.


"Ya elah, masa kamu nggak tahu sich."


"Iya benaran aku nggak tahu."


"Dia lagi fucking sama cewek lain," ucap Jennifer yakin. "Coba kamu video call dia," lanjut Jennifer sambil melihat Agni menggeleng berulang kali.


Untuk menyakinkan dirinya, Agni menghubungi Hardi lagi. Dia menyentuh beberapa ikon di layar smartphone miliknya. Mendekatkan benda pipih itu ke wajahnya. Beberapa kali terdengar nada sambung, namun belum diangkat juga. Agni melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul lima sore sambil merasakan gelisah di hatinya. Akhirnya panggilan telepon itu diangkat.


"Hallo assalamu'alaikum Mas, Mas lagi ngapain?" ucap Agni panik sambil melihat badan tegapnya Hardi yang tidak memakai sehelai benang.


"Aku lagi mau mandi, kamu mau ngapain sich? Kan sudah aku kasih tahu, nanti aku telepon balik," ucap Hardi ketus.

__ADS_1


"Kamu kok ketus sama aku," ucap Agni sedih.


"Maaf sayang," ucap Hardi melunak sambil berjalan ke bathtub.


"Tadi kenapa kamu mendesah Mas?"


"Tadi kakiku kesandung sayang," bohong Hardi sambil membuka kran di bathtub.


"Kaki kamu udah diobati?" tanya Agni khawatir.


"Nggak perlu diobati," ucap Hardi sambil memasuki tubuhnya ke dalam bathtub.


"Nanti kaki kamu bisa bengkak Mas," ucap Agni khawatir.


"Nggak sayang," ucap Hardi lembut. "Sayang, aku mau membilas tubuhku dulu ya, nanti aku telepon balik."


"Iya Mas."


"Bye, love you mmmmuuuaaaahhh."


"Bye Mas. Mmmmuuuaaaahhh."


Agni menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Menggeser ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Membuka resleting tas selempangnya. Menaruh smartphone miliknya di dalam tas selempangnya. Menutup resleting tas selempangnya. Agni menoleh ke Jennifer yang sedang mengunyah sandwich.


"Apa katanya?" tanya Jennifer setelah menelan makanannya.


"Tadi dia mendesah karena kakinya kesandung."


"Ooo, terus tentang orang itu bagaimana?"


"Mas Hardi tidak menyuruhnya untuk mengintai diriku."


"Ayo."


"Ni, kita pergi dari sini sekarang yuk! Mumpung orang itu masih pura - pura baca majalah," ajak Jennifer.


"Kita pergi ke mana? Pulang?"


"Kalau pulang ke rumah kamu, pasti dia bisa mengetahuinya."


"Terus kita pergi ke mana?"


"Untuk sementara kita pergi ke mall Clarendon Centre."


"Boleh juga. Ayo!"


Tak lama kemudian mereka beranjak berdiri. Melangkahkan kakinya dengan cepat supaya bisa menghindar dari pantauan orang yang disuruh Hardi. Tak lama kemudian mereka keluar dari kedai teh itu melalui pintu yang sudah terbuka. Mereka berlari secepat mungkin menuju rumahnya Agni. Agni menoleh ke belakang sambil berlari untuk melihat keadaan di belakangnya. Dia tidak melihat orang itu lagi. Tak sengaja Agni menabrak seseorang.


Brukkk ...


Agni menoleh ke orang yang dia tabrak. Agni melebarkan kedua matanya. Ternyata orang yang dia tabrak adalah Edward. Edward tersenyum manis ke Agni. Agni membalas senyuman Edward. Tatapan mata mereka saling memaku. Spontan Edward memeluk pinggang rampingnya Agni. Jennifer menoleh ke samping kanan. Dia tidak melihat Agni yang sedang berlari.


Jennifer menghentikan langkahnya, sambil berucap pelan, "Di mana Agni?"


Jennifer membalikkan badannya. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali ketika melihat Agni dan Edward yang sedang saling memandang. Jennifer berlari ke arah Agni dan Edward. Menghentikan langkahnya di samping Agni dan Edward. Jennifer menepuk pundak kanannya Agni. Sontak Agni menoleh ke Jennifer dan Edward melepaskan pelukannya.


"Ayo cepatan kita pergi dari sini sebelum orang itu datang!" ucap Jennifer.

__ADS_1


"Memangnya kalian dikejar sama siapa?" ucap Edward khawatir.


"Nggak tahu Mas," jawab Agni sambil menoleh ke Edward.


"Dari tadi kita diintai sama seseorang," samber Jennifer.


"Sebaiknya kalian ikut ke apartemenku aja," ide Edward.


"Boleh juga idenya," celetuk Jennifer.


"Ayo ikut aku!" ajak Edward.


Tak lama kemudian Edward berlari pelan. Jennifer dan Agni mengikuti langkah kakinya Edward dengan berlari. Mereka melewati beberapa bangunan klasik dan sebuah pasar tradisional. Mereka menghentikan langkahnya ketika berada di depan pintu lobby sebuah gedung apartemen. Pintu utama lobby gedung apartemen itu terbuka secara otomatis. Mereka masuk ke dalam apartemen.


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu


Seperti udara yang kuhela kau selalu ada


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu


Seperti udara yang kuhela kau selalu ada


Kau selalu ada


Kau selalu ada


Kau selalu ada


Kau selalu ada


Tiba - tiba smartphone milik Agni berdering. Sontak Agni menghentikan langkahnya. Edward dan Jennifer menoleh ke Agni yang tiba - tiba berhenti. Sontak mereka menghentikan langkah kakinya ketika melihat Agni sedang membuka tas selempangnya. Agni mengambil smartphone miliknya. Melihat tulisan Mas Hardi di layar smartphonenya. Menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo assalamu'alaikum Mas," sapa Agni.


"Wa'alaikumussalam, kamu lagi di mana sayang?" ucap Hardi lembut.


"Di apartemen millenial city," jawab Agni polos yang membuat hatinya Hardi kecewa.


Ngapain dia pergi ke apartemennya Edward?


Batin Hardi.


"Apartemennya siapa?" tanya Hardi pura - pura tidak tahu.


"Teman kuliah."


"Siapa namanya?"


"Edwin," bohong Agni.


Berani sekali dia berbohong lagi. Awas nanti, aku balas perbuatan kamu Ni.


Batin Hardi.

__ADS_1


"Mas, siapa sich yang menyuruh orang untuk mengintai diriku?"


"Mbah."


__ADS_2