
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Sang surya bersinar terang di cakrawala menaungi segala aktivitas di muka bumi, termasuk aktivitas Edward dan Agni. Mereka sedang menelusuri hutan belantara di pulau antah berantah. Mereka melangkahkan kakinya di jalan setapak rerumputan. Melewati semak - semak, pohon pandan pantai, cemara laut, ketapang, kelapa, stigi, waru laut, pohon cemara Udang, palaka, pule, beringin, dan Mahoni.
Mereka berangkat dari jam sepuluh pagi sampai jam dua belas siang. Mereka melakukan itu untuk mencari sebuah perkampungan di pulau itu. Agni yakin sama keberadaan sebuah perkampungan di pulau itu karena dia hari yang lalu mereka menemukan golok dan korek api yang berupa gas. Tapi sampai saat ini mereka belum menemukan perkampungan. Di dalam perjalanan itu, Edward sangat memperhatikan dan melindungi Agni.
"Lebih hati - hati lagi jalannya karena banyak akar - akar pohon yang keluar dari dalam tanah," ucap Edward serius sambil berjalan hati - hati dan membawa dua koper sekaligus.
"Mas, kamu tahu nama pulau ini apa?" tanya Agni sambil mengikuti langkahnya Edward.
"Aku nggak tahu nama pulaunya. Kaki kamu masih baik - baik aja kan sayang?" ucap Edward sedikit khawatir sambil berjalan menyusuri semak belukar.
"Dari tadi aku sudah bilang, kakiku baik - baik aja Mas. Kemarin kan ular itu hanya menggigitku tanpa memberikan bisanya ke tubuhku."
"Apakah kamu nyaman memakai sepatu boots plastik?"
"Nyaman Mas. Mas kira - kira sampai kapan ya ketemu perkampungannya?" ucap Agni.
"Ssstttt," ucap Edward menghentikan langkahnya sambil merentangkan tangan kanannya agar Agni juga ikut berhenti.
Agni melebarkan kedua matanya ketika melihat ada ular kobra dewasa sedang berada di tengah jalan. Jarak mereka dengan ular itu sekitar lima meter. Panik menyelimuti dirinya, dia ingin segera berlari, tapi ditahan sama Edward. Ular itu sedang menegakkan kepalanya, lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari mangsa. Edward dan Agni bergeming ketika ular itu menatap tajam ke mereka.
__ADS_1
Ular itu menurunkan kepalanya, lalu merayap ke arah lain setelah menemukan mangsanya. Ular itu merayap melewati mereka yang masih mematung. Setelah ular itu pergi jauh dari mereka, mereka melanjutkan langkah kaki mereka di jalan setapak. Air keringat bercucuran di dahinya Agni setelah menahan rasa panik dan panas. Agni mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia melihat pohon Dipterocarpus littoralis. Nama lokalnya pelahlar yang memiliki ketinggian mencapai 50 m dan berdiameter lebih dari 150 cm.
Setelah itu dia melihat pohon Dipterocarpus cinereus. Nama Indonesianya lagan bras. Pohon ini dapat mencapai tinggi 50 m dan berdiameter lebih dari 100 cm. Selain itu ada pohon Shorea javanica atau sering disebut dengan damar mata kucing atau pelahlar lengo yang tinggi mencapai 40 sampai 50 m dan diameter hingga 150 cm. Mengalihkan pandangannya ke pohon Dryobalanops aromatica. Nama baku internasional jenis ini adalah Dryobalanops sumatrensis namun Dryobalanops aromatica lebih dikenal di Indonesia yang memiliki tinggi 40 sampai 50 m dan diameter mencapai 100 sampai 150 cm.
Agni menengok ke pohon Eusideroxylon zwagerim. Nama lokalnya ulin yang memiliki ketinggian 50 m dengan diameter hingga 200 cm. Di sebelah pohon Ulin ada pohon Anisoptera costata atau sering disebut dengan Nama lokalnya mersawa dan ki tenjo yang memiliki ketinggian mencapai 65 m dengan diameter mencapai 1,5 m. Setelah itu melihat Shorea pinanga. Nama lokalnya tengkawang pinang yang memiliki diameter 130 cm dan tinggi 60 m.
Agni menengok ke kanan. Dia melihat pohon Durio oxleyanus atau sering juga disebut dengan durian daun atau kerantongan yang mempunyai ketinggian mencapai 35 sampai 45 cm dan diameternya mencapai 100 cm. Lalu ada pohon Durio graveolens atau sering disebut juga dengan durian burung atau tebelak yang memiliki tinggi mencapai 50 m dan berdiameter melebihi 100 cm. Setelah itu melihat pohon Castanopsis argentea atau disebut juga dengan saninten dan berangan yang memiliki tinggi mencapai 30 m dan diameter 60 cm.
"Kamu mau istirahat?" tanya Edward sambil melihat arlojinya yang menunjukkan jam setengah dua.
"Nggak perlu Mas."
"Yakin?"
"Iya."
"Baiklah. Hati - hati soalnya ada turunan," ucap Edward sambil menghentikan langkahnya.
"Baiklah," ucap Edward, lalu dia memberikan koper milik Mawar ke Agni.
Tak lama kemudian mereka melanjutkan langkahnya sambil membawa koper masing - masing. Berjalan tanpa henti menelusuri hutan belantara sambil membawa barang - barang mereka. Melewati pohon Damar atau nama latinnya Agathis dammara yang memiliki tinggi mencapai 65 meter dengan diameter mencapai 1,5 meter. Melewati pohon Eboni atau nama latinnya Diospyros celebica, pohon Sonokeling atau nama latinnya Dalbergia latifolia yang memiliki tinggi sekitar 20 sampai 40 meter dan pohon Meranti yang memiliki ketinggian mencapai 60 m.
Setelah melewati jalanan yang menurun. Kedua matanya Agni melebar melihat indahnya hamparan tanaman bunga anggrek hutan liar dengan berbagai macam corak yang menghiasi tanah hutan. Mereka menghentikan langkahnya karena bingung mau lewat mana. Hamparan bunga anggrek itu di selingi dengan pohon Meranti, Eboni dan Mahoni. Mereka sangat menyayangkan jika harus menginjak bunga anggrek.
Mau tak mau mereka berjalan mengelilingi hamparan bunga anggrek itu. Tiba - tiba Edward menghentikan langkahnya ketika di depan mereka ada ular yang sangat besar sedang merayap. Edward memberikan kode agar Agni jangan bergerak. Mereka mematung sampai ular yang berada di depan mereka pergi jauh. Mereka melanjutkan langkahnya setelah ular itu pergi jauh dari mereka. Agni menghela nafas dengan kasar setelah mengalami syok karena harus bertemu dengan ular lagi
Dengan langkah kaki yang hati - hati mereka mengelilingi hamparan indahnya bunga anggrek hutan liar. Mereka berjalan melewati semak belukar. Ada beberapa pohon yang dijuluki dengan pohon kayu besi lagi. Beberapa pohon Filicium dan dan hamparan rumput kecil yang sangat luas. Edward dan Agni menghentikan lagi langkahnya ketika melihat aliran sungai yang jernih sehingga tanaman air dan ikan - ikan yang sedang berenang kelihatan.
Tak jauh dari sana ada air terjun yang dikelilingi dengan berbagai macam tanaman merambat yang mampu memanjakan kedua mata mereka. Agni terpana melihat pemandangan yang sangat indah. Dia segera melepaskan koper yang dia bawa dari genggamannya. Edward menahan tangan kirinya Agni ketika Agni hendak berlari ingin berenang di sungai itu. Agni menengok ke Edward dengan tatapan mata yang kesal. Edward menggelengkan kepalanya agar Agni tidak langsung berenang.
__ADS_1
Edward melepaskan tangannya dari pergelangan tangan kirinya Agni. Dia membungkukkan badannya untuk mengambil beberapa batu. Lalu melemparkan batu - batu itu ke sungai sehingga menimbulkan riak - riak di permukaan air sungai. Edward melepaskan koper yang dia bawa dari genggaman tangannya. Berjalan perlahan menuju ke tepi sungai melihat tidak ada yang membahayakan nyawa seseorang.
Edward menoleh ke Agni, lalu berkata, "Sekarang boleh berenang. Tapi jangan pakai bajumu. Ingat pakaian yang menurutmu nyaman hanya pakaian yang sedang kamu pakai."
"Iya aku tahu," ucap Agni sambil berjalan cepat ke sungai.
Agni langsung membuka sepatu bootsnya, celana jins dan kaos putih yang sudah lusuh ketika berhenti di tepi sungai dan di samping kirinya Edward. Edward menatap Agni tanpa berkedip. Agni langsung menyeburkan tubuhnya ke sungai, lalu berenang sesuka hatinya. Edward mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Tak sengaja dia melihat sebuah rumah kecil yang berada di tengah - tengah rerumputan. Dia menoleh lagi ke Agni.
"Agni!!! Aku telah menemukan sebuah rumah!!!" pekik Edward yang menghentikan kegiatan Agni.
"Di mana Mas?" tanya Agni.
"Di sebelah sana," ucap Edward sambil menunjuk ke rumah itu. "Ayo kita ke sana!" lanjut Edward.
Tak lama kemudian Agni berenang ke tepian sungai. Naik ke daratan. Edward menelan salivanya berulang kali ketika melihat pakaian dalamnya Agni yang basah kuyup. Agni mengambil kaos, lalu memakainya. Mengambil celana jinsnya, lalu memakainya. Dan terakhir memakai sepatu boots plastik yang dia dapatkan dari dalam koper milik Mawar. Menggenggam pegangan di koper milik Mawar.
"Ayo kita ke sana!" ajak Agni.
Tak lama kemudian mereka melanjutkan langkahnya menuju rumah itu melewati padang rumput yang luas sambil menyeret koper. Di padang rumput itu diselingi dengan berbagai macam pohon - pohon buah, seperti alpukat, mangga dan jambu air. Mereka menghentikan langkahnya ketika berada di depan pintu rumah itu. Edward memperhatikan rumah itu dengan seksama. Melihat semua jendela rumah yang tertutup rapat.
"Rumah ini kosong," ujar Edward sambil menengok ke Agni.
"Ya udah kita masuk aja," celetuk Agni sambil merasakan kedinginan.
"Pasti pintu rumahnya terkunci."
"Menurutku tidak, mari kita coba," ucap Agni yakin.
Agni menekan handle pintu ke bawah, lalu mendorongnya secara perlahan sehingga pintu terbuka. Agni merasa senang karena pintu itu ternyata tidak dikunci. Mereka masuk ke dalam rumah. Edward memencet sakelar lampu sehingga lampu rumah itu menyala. Agni melongo melihat rumah yang hanya memiliki satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Edward melepaskan genggaman tangannya dari pegangan koper, lalu menyusuri rumah itu.
__ADS_1
Agni menutup pintu rumah yang terbuat dari kayu itu, lalu berjalan menghampiri bangku panjang yang terbuat dari kayu ketika Edward berjalan menuju dapur rumah kayu itu. Menduduki tubuhnya di atas bangku itu, lalu mendekap tubuhnya. Sedangkan Edward membuka salah satu pintu kitchen set. Edward senang melihat satu karung beras dan beberapa bahan sembako lainnya.
"Agni, akhirnya kita bisa makan nasi setelah melakukan penjelajahan yang panjang."