Kamu Adalah Jodohku

Kamu Adalah Jodohku
Cari Cara Lagi


__ADS_3

Langit biru sangat cerah dengan dengan arak - arakan awan tipis pada siang hari ini. Cahaya matahari terang benderang yang menyilaukan bumi dan isinya. Teriknya sinar matahari menembus lembut masuk ke dalam kamar Shafira melalui celah-celah gorden, jendela yang masih tertutup dan ventilasi udara sehingga pencahayaan di kamar Shabrina menjadi temaram.


Silaunya sinar matahari telah mengusik tidur lelapnya Shafira. Posisi tidurnya Shafira yang meringkuk menghadap tubuhnya Ryan yang sedang memeluk tubuhnya Shabrina dengan erat di bawah selimut tebal. Dengan pelan - pelan kedua kelopak netra milik Shabrina mulai terbuka kemudian kedua mata itu berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya terang di dalam kamar.


Tok ... tok ... tok ...


"Nona, makan siangnya sudah siap dari tadi," ucap seseorang asisten rumah tangga dengan volume yang sangat keras.


Terdengar suara manusia dengan volume keras dan bunyi ketukan pintu kamar yang berisik. Dengan penglihatan yang belum sempurna, Shabrina menggosokkan kasar daun telinga sebelah kirinya untuk mengurangi suara yang ditangkap oleh gendang telinganya. Shabrina merasakan sesuatu yang menindihi pinggang dan kedua kakinya. Dia mengucek - ngucek kedua kelopak matanya yang masih mengantuk supaya dapat melihat dengan sempurna. Dia melihat wajahnya Ryan berada di hadapannya, sontak dia terkejut.


"Tidakkk ...!!" teriak Shabrina spontan sambil mendorong tubuhnya Ryan yang masih terlelap.


Gubrakkk ...


Badannya Ryan terjatuh bersama selimut dari tempat tidur. Ryan terbangun dari alam bawah sadarnya. Dia merasakan sakit di kepalanya dan merasakan pegal - pegal di sekujur tubuhnya sehingga dia tidak kuat untuk berdiri. Kedua matanya juga masih merasakan kantuk sehingga dia memejamkan kedua matanya lagi.


"Nona, apakah kalian baik - baik saja?" tanya orang itu lagi dengan volume suara yang kencang.


"Iya, aku baik - baik saja," jawab Shabrina dengan volume suara yang keras.


"Ok, Nona dan Tuan, makan siang kalian sudah siap di restoran," kata orang itu lagi.


"Iya, nanti kami ke sana," ucap Sabrina.


"Baik, Nona," ucap orang itu.


Suasana seketika hening, tidak ada suara dari pelayan itu karena orang itu sudah pergi dari depan pintu kamar Shabrina. Sekujur tubuh Shabrina terasa pegal - pegal. Shabrina merenggangkan otot - otot tubuhnya yang tegang untuk menghilangkan rasa pegal di seluruh badannya. Saat Shabrina menguletkan tubuhnya, dia merasakan sakit dan perih di area inti tubuhnya. Dia menggantikan posisi badannya dari posisi tidur meringkuk ke posisi duduk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Ooaahhmm," Shabrina menguap sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


Tak lama kemudian, dia mengedarkan pandangannya. Dia melihat gorden jendela kamarnya yang masih tertutup. Dia menoleh ke sebuah pintu kamar mandi yang terbuka sedikit. Kemudian mengalihkan pandangan ke dirinya. Shabrina tercengang mendapati tubuh polosnya tanpa sehelai benang pun. Dia juga tersentak melihat bercak darah di seprai kasur tempat tidurnya. Tiba - tiba cairan bening keluar dari kedua matanya. Shabrina menangis terisak karena dia mengetahui bahwa dirinya sudah tidak perawan lagi.


Apa yang telah kami lakukan semalam? Apakah semalam kami melakukan hubungan intim? Aku malu pada diriku sendiri karena telah melakukan perbuatan dosa. Ya Tuhan maafkan aku yang hina ini.


batin Shabrina.


"Hiks ... hiks ... hiks .... "


Tangisan Shafira membangunkan Ryan dari tidur ayamnya. Ryan yang masih merasa sakit di kepalanya, memaksakan diri untuk membuka kedua matanya. Dia mengernyitkan dahinya karena bingung mendengar suara tangisnya Shabrina sambil beranjak berdiri. Ryan menutupi badannya dengan menggunakan selimut. Dia tergiur melihat tubuhnya Shafira yang telanjang bulat membuat hawa nafsunya bergelora kembali.


Sedangkan Shabrina masih menangis terisak sambil duduk melipatkan kakinya hingga menekuk dan menutupi wajahnya dengan kedua lututnya. Ryan berjalan pelan menghampiri Shabrina yang masih menangis. Menghentikan langkahnya ketika berada di samping kiri ranjang. Membuka selimut dari badannya dan memakaikan selimut itu ke badannya Jane, lalu naik ke atas ranjang.

__ADS_1


"Rina, kamu kenapa menangis?" tanya Ryan sambil membelai lembut puncak kepalanya Jane.


"Hiks ... hiks ... hiks ... aku malu pada diriku sendiri karena telah melakukan dosa hiks ... hiks ... hiks ... aku sudah tidak perawan lagi hiks ... hiks ... hiks ...."


Deg


Ucapan Sabrina yang tadi telah menusuk ulu hati Ryan. Ryan merasa bersalah karena telah mengajak Shabrina untuk berhubungan intim. Dia tidak menyangka jika Shabrina masih virgin sebelum mereka melakukan hubungan intim. Dia baru tahu bahwa Shabrina bukan tipe orang yang suka berhubungan intim dengan seorang kekasih. Berbanding kebalik sama dirinya. Beberapa detik kemudian Ryan langsung menepis rasa bersalahnya karena dia tidak mau menggagalkan rencana dia, Marina dan Hendra yang ingin membuat hidupnya Agni dan Sri hancur.


"Maafkan aku, Rina," ucap Ryan dengan suara parau sambil memeluk erat tubuh Shabrina.


"Hiks ... hiks ... hiks .... Aku menginginkan mahkota kesucianku hanya untuk suamiku seorang hiks ... hiks ... hiks ...."


"Baiklah, aku akan menikahi dirimu."


"Hiks ... hiks ... hiks ... bukan itu maksudku hiks ... hiks ... hiks ...."


"Lalu apa maksud kamu?"


"Huaaa ... aku menyesal telah melakukan itu hiks ... hiks ... hiks ...."


"Aku tidak menyesal telah melakukan itu bersama kamu," ujar Ryan lembut.


Shabrina mendongakkan kepalanya, menoleh ke Ryan, lalu berucap dengan tatapan sendu, "Hiks ... hiks ... hiks .... Apakah kamu sering melakukan itu? Hiks ... hiks ... hiks ...."


"Hiks ... hiks ... hiks .... Kenapa kamu mau menikahi aku? Hiks ... hiks ... hiks ...."


"Karena aku ingin bertanggung jawab atas perbuatanku."


"Hiks ... hiks ... hiks ... aku tidak mau kamu terpaksa menikahi aku hiks ... hiks ... hiks ...."


"Bukan itu aja, aku juga mencintaimu," ucap Ryan berbohong supaya bisa menenangkan Shabrina. "Sebaiknya sekarang kamu tarik nafas dalam - dalam, lalu menghembuskan nafas secara perlahan sampai kamu berhenti menangis."


Kemudian Shabrina melakukan apa yang telah diucapkan oleh Ryan. Dan sarannya itu berhasil membuat Shabrina berhenti menangis. Shabrina melepaskan pelukan Ryan di tubuhnya. Shabrina berhasil menghentikan tangisnya, namun rasa sesalnya belum hilang. Namun dia tepis rasa sesal itu. Dia ingin menghilangkan noda bercak darah di seprai tempat tidurnya supaya tidak ketahuan oleh orang-orang yang ada di rumahnya.


"Mama kamu kapan pulang dari Hongkong?"


"Minggu depan," lirih Shabrina.


"Selama mama kamu di Hongkong, aku nginap di sini ya," ucap Ryan lembut.


"Nanti kalau ketahuan kamu nginap di sini gimana? Sedangkan di rumah ini banyak sekali kamera CCTV. Yang semalam aja aku takut ketahuan jika kita masih memiliki hubungan asmara," ujar Shabr dengan suara yang serak.

__ADS_1


"Urusan itu gampang, aku bisa mengedit hasil rekaman semua CCTV di rumah ini. Kamu tahu di mana letaknya semua monitor CCTV rumah ini?"


"Tahu, nanti aku antarkan kamu ke sana."


"Ok, bagaimana kalau sekarang aja?"


"Jangan dulu, aku mau ke kamar mandi, mau mandi, pakai baju dan mau hilangi noda bercak merah di atas seprai," lirih Shabrina sambil melilitkan selimut ke tubuhnya dengan asal yang penting bagian inti tubuhnya tertutup.


"Baiklah."


Kemudian Shabrina beringsut ke pinggir tempat tidur, lalu berteriak, "Auww!"


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Ryan khawatir.


"Punyaku sakit dan perih," ucap Shabrina sambil memegang bagian inti tubuhnya.


"Aku gendong," ucap Ryan sambil bergerak ke tepian tempat tidur, lalu beranjak berdiri.


"Tak usah, nanti kamu ngajak yang begituan lagi."


"Aku janji tidak akan melakukan itu lagi kepadamu."


"Baiklah."


Saat membungkuk untuk mengambil tubuhnya Shabrina, tak sengaja Ryan melihat bercak darah di seprai ranjang. Ryan tersenyum tipis melihat itu karena cara dia yang bisa mengikat Shabrina dalam waktu yang lama berhasil. Menurut Ryan jika seorang wanita yang sudah disentuh area intinya, pasti wanita itu tidak akan pernah melepaskan seseorang yang pernah menyentuhnya dalam waktu yang dekat. Dengan cara itu, dia, Marina dan Hendra bisa memanfaatkan Shabrina untuk membalas dendam. Ryan menggendong Shabrina ala bride style. Shabrina mengalungkan kedua tangannya di leher kekar milik Ryan.


Kedua manik cokelat hazelnut milik Ryan bertemu dengan kedua manik hitam milik Shabrina saling bertemu dan saling mengunci. Mengecup kening Shabrina sebentar. Kemudian Ryan melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Ryan membuka pintu kamar mandi menggunakan kaki kirinya. Masuk ke dalam kamar mandi. Menurunkan Shabrina di depan wastafel. Shafira menggerakkan badannya menghadap kaca wastafel.


Ryan melangkahkan kakinya ke pintu kamar mandi yang masih terbuka. Berjalan melewati pintu kamar mandi itu. Menutup pintu kamar mandi itu. Melanjutkan langkahnya ke nakas sebelah kanan tempat tidur. Menghentikan langkahnya di depan nakas itu. Mengambil laptopnya, lalu menduduki tubuhnya di pinggir ranjang. Membuka laptop, lalu menyalakan laptop itu. Memencet beberapa tombol untuk membuka email-nya. Mengecek satu persatu email yang masuk, tapi email yang dari kemarin dia tunggu belum ada.


"****!! Kalau begini terus bagaimana bisa gw hancuri hidupnya Agni dan Sri. Sialan banget tuch bule. Ngomong mafia elit di London, tapi dikasih kerjaan yang gampang, hasilnya zonk. Payah!" gerutu Ryan karena dia belum mendapatkan hasil kerja orang yang dia suruh untuk mengambil laptop dan smartphonenya Agni.


"Kalau begini rugi bandar. Aku harus cari cara lagi."


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


Terima kasih sudah membaca novelku ini 😁


Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁

__ADS_1


Di komen ya guys 😁


Happy reading 🤗


__ADS_2