
Ceklek
Pintu ruang HCU terbuka lebar menampilkan sosok seorang dokter jaga yang cantik, energik, ramah dan supel. Dia berjalan memasuki ruangan itu sambil tersenyum dan memegang gagang pintu. Lalu menutup pintu ruangan itu. Sedetik kemudian melepaskan gagang pintu itu sambil berjalan menghampiri para perawat yang sedang berjaga.
"Selamat pagi perawat-perawat yang cantik," ucap Shafira yang semangat.
"Selamat pagi juga Dokter yang cantik."
"Met pagi juga Bu Dokter yang cantik."
Jawab dua orang perawat dalam waktu yang bersamaan.
"Ini ada roti untuk sarapan kalian berdua," ucap Shafira sambil menaruh satu kantong paper bag di atas meja mereka.
"Terima kasih ya Bu, kebetulan sekali aku belum sarapan."
"Makasih banyak ya Bu, untung aku belum beli sarapan."
"Sama - sama. Semua data tentang pasien di ruangan ini udah di up date? Dan semua pasien udah ditensi tekanan darahnya?"
"Semua sudah beres Bu," jawab salah satu perawat.
"Good job. Aku mau periksa pasien dulu ya," ucap Sofia.
"Iya Bu," kata perawat yang satunya lagi.
Kemudian Shafira berjalan menghampiri dua orang pasien yang berada di ruangan itu. Dua orang pasien itu sedang terlelap tidur. Salah satu pasien di ruangan itu adalah Edward. Shafira mendekati ujung ranjangnya Edward. Membaca semua data catatan perkembangan medis Edward sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali. Shafira berjalan ke samping kanan ranjang Edward.
"Selamat pagi Boy yang tampan, diperiksa dulu ya," ucap Shafira yang ceria, lalu tersenyum manis.
Seketika kedua mata Edward terbuka. Shafira selalu merasakan detak jantungnya berhenti sementara ketika melihat wajahnya Edward. Edward membalas senyuman manis dari Sofia. Shafira memakaikan ujung stetoskop ke telinganya. Kemudian Edward membuka tiga kancing kemeja yang dipakai olehnya. Lalu Shafira memeriksa kondisi lelaki itu menggunakan stetoskop. Dia memakai stetoskop untuk mendengarkan suara paru - paru, detak jantung, dan untuk memeriksa keadaan usus dan lambung pasien.
"Kesehatan kamu sudah membaik," ucap Shafira sambil melepaskan ujung stetoskop yang berbentuk bulat dari dadanya lelaki itu. "Boleh kita bicara sebentar?" lanjut Shafira sambil menaruh stetoskop di dalam kantong jas putihnya serta melepaskan kedua ujung stetoskop dari kedua telinganya dan menggantungkan itu di sekitar lehernya.
"Boleh," jawab Edward ketika Shafira menduduki tubuhnya di atas kursi samping kanan ranjang pasien.
"Kamu tahu nama kamu siapa?"
"Aku tidak tahu namaku," jawab Edward yang mengalami amnesia sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya nggak apa - apa jika kamu tidak mengingat nama kamu. Bagaimana kalau aku panggil kamu dengan sebutan nama Boy?"
"Ehm ... Boleh juga."
"Boy, kamu tinggal di mana?"
"Aku juga tidak tahu tinggal di mana," ucap Edward sambil mengangkat tangan kirinya.
"Kamu tahu apa yang telah terjadi kepadamu?"
"Akhhh," ucap Edward sambil memegang pelipisnya.
"Tenang, tidak usah dipaksakan jika belum bisa mengingatnya," ucap Shafira sambil menepuk pelan lengan kanannya Boy.
__ADS_1
Desiran lembut itu datang lagi. Apakah aku sedang jatuh cinta?"
batin Shafira
"Kamu masih suka sakit kepala?"
"Masih Dok, apalagi bagian belakang kepala."
"Sakitnya sering, lumayan sering atau jarang?"
"Maksudnya?" tanya Edward bingung.
"Kamu merasakan sakit kepala setiap saat atau sekali dua kali?"
"Ehmmm ... baru dua kali merasakan sakitnya."
"Itu nggak apa - apa, nanti juga hilang. Banyakin makan dan istirahat ya. Kalau mual, kamu masih merasakannya?"
"Udah nggak Dok. Oh ya Dok, aku sekarang berada di daerah mana?"
"Sekarang kamu berada di daerah Bogor."
"Bogor?"
"Iya Bogor."
"Apa itu Bogor?
"Bogor adalah sebuah kota yang terletak di antara 106°43’30”BT–106°51’00”BT dan 30’30”LS – 6°41’00”LS serta mempunyai ketinggian rata-rata minimal 190 meter, maksimal 350 meter dengan jarak dari Jakarta kurang lebih 60 km. Pada masa Kolonial Belanda, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg yang berarti tanpa kecemasan atau aman tenteram. Kamu ingat sesuatu peristiwa yang terjadi di Bogor?"
"Kamu ingat seseorang selain orang-orang yang berada di sini?
"Aku nggak ingat siapa-siapa."
"Iya nggak apa-apa kalau belum bisa mengingatnya," ucap Shafira sambil beranjak berdiri. "Saya permisi dulu, istirahat lagi ya biar cepat sembuh dan tidak boleh telat makan serta minum obat," lanjut Shafira.
"Iya Dok."
Tak lama kemudian Shafira berjalan menghampiri meja para suster yang sedang berjaga di ruang HCU. Menduduki tubuhnya di kursi meja kerja khusus dokter jaga yang bekerja di bagian ruang HCU. Mengambil map rekapan riwayat data kesehatan Edward dari tumpukan map data riwayat kesehatan pasien di ruang HCU. Membuka rekapan riwayat kesehatan Edward, lalu membacanya di dalam hati.
"Selamat pagi Shafira," sapa seorang wanita paruh baya sambil menduduki tubuhnya di depan Shafira.
Sontak Shafira menoleh ke orang itu, lalu berkata, "Selamat pagi Dokter Maryam," sambil menutup map itu. "Oh ya Dok, ini hasil rekapan data riwayat kesehatan pasien yang mengalami amnesia," ucap Shafira sambil memberikan map itu ke Shafira.
"Bagaimana perkembangan dari pasien itu?" tanya Maryam sambil menerima berkas itu.
"Bicaranya sudah lancar. Tapi, dia tidak tahu namanya, tempat tinggal dan peristiwa yang terjadi sebelum dia ditemukan, sebenarnya apa yang sedang dia alami Dok?" ucap Shafira.
"Berdasarkan dari hasil MRI dan CT Scan ada luka benturan di otak kecil pria itu yang mengakibatkan gegar otak sehingga dia mengalami amnesia. Setelah aku telaah hasil pengamatan dari kamu dan aku, dia menderita amnesia retrograde dan amnesia disosiatif," ujar Maryam sambil membaca berkas itu.
"Apa itu amnesia retrograde?"
"Amnesia Retrograde adalah jenis amnesia yang ditujukan kepada seseorang yang kesulitan untuk memperoleh kembali sebagian ingatan di masa lalu. Luka benturan di otak kecilnya mengakibatkan hilangnya sebagian memori ingatan tentang dirinya."
__ADS_1
"Kalau amnesia disosiatif itu apa?"
"Amnesia disosiatif merupakan kondisi ketika pengidap tidak mampu untuk mengingat berbagai informasi pribadi yang bahkan dinilai sangat penting. Pengidap amnesia jenis ini bisa saja lupa siapa nama dan segala hal yang erat kaitannya dengan pribadinya. Biasanya, pengidap amnesia jenis ini pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan trauma pada kepalanya," kata Maryam sambil menulis sesuatu di berkas itu.
"Kemungkinan penyebabnya apa, Dok?"
"Mungkin dia mengalami kecelakaan mobil. Mobilnya masuk ke dalam sungai dan kepalanya kebentur suatu benda. Kamu sudah melaporkan hal itu?" ucap Maryam sambil menutup berkas itu.
"Sudah Dok. Tapi, belum ada tindak lanjut dari pihak polisi, Dok."
"Kamu sudah kasih tahu polisi kalau dia sudah sadar?" tanya Maryam sambil menatap Shafira.
"Belum, Dok."
"Sebaiknya kami kasih tahu tentang perkembangan orang itu ke polisi."
"Baiklah. Nanti setelah pulang dari sini aku kasih tahu tentang perkembangan dia ke polisi. Kira - kira berapa lama dia mengalami amnesia, Dok?"
"Mungkin lima sampai tujuh bulan dia mengalami amnesia. Karena dia mengalami benturan yang parah dan mengenai otak kecilnya. Kondisi gegar otak yang dialaminya adalah kondisi gegar otak dalam kategori parah hingga menyebabkan dia mengalami pendarahan, pembengkakan dan amnesia. Kondisi ini akan memengaruhi kinerja otaknya secara keseluruhan. Maka itu amnesia yang dialami oleh dirinya membutuhkan waktu lama untuk sembuh."
"Berarti lama juga ya dia di rawat di sini," ujar Shafira.
"Kalau mengenai berapa lama dirawat di sini, tergantung kondisi kesehatannya dan hasil dari terapi yang dia lakukan di sini. Jika dia tidak merasakan pusing dan demam lagi, dia boleh pulang walaupun dia masih amnesia. Tapi, walaupun dia diperbolehkan pulang, dia harus melakukan terapi supaya amnesianya sembuh."
"Terapi apa aja, Dok?"
"Terapi okupasi, terapi teori kognitif, dan terapi obat - obatan."
"Boleh nggak jika yang memberikan terapi ke dia selama dia dirawat di sini adalah aku?" tanya Shafira dengan nada suara yang malu - malu sambil menundukkan kepalanya untuk menahan malu.
"Hahaha, kamu ada - ada saja. Tidak boleh, karena itu melanggar aturan rumah sakit. Kamu jatuh cinta ya sama dia?" ucap Maryam dengan nada suara meledek.
"Ah, aku nggak tahu rasanya jatuh cinta, Dok, soalnya aku belum pernah pacaran," ucap Shafira yang tersipu malu.
"Apa yang kamu rasakan ketika berada dekat dengan dirinya?"
"Aku senang. Aku merasakan ada desiran lembut di hatiku setiap aku menyentuh dirinya, aku selalu merindukan dirinya jika tidak bertemu dan setiap kali melihat dia tersenyum, hatiku seakan berbunga - bunga dan detak jantungku seakan berhenti jika melihat dia tersenyum. Senang banget melihat dia tersenyum," ucap Shafira yang semangat.
"Berarti benar, kamu sedang jatuh cinta kepadanya," ucap Maryam sambil melihat rona merah di pipinya Shafira.
"Hehehe, aku jadi malu," ucap Shafira yang masih tersipu malu.
"Kamu nggak usah malu sama aku. Ya, seperti itulah rasanya jatuh cinta."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Terima kasih sudah membaca novelku yang ini 😊😊😊🥰🥰🥰.
Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna 😊😊😊.
Di like ya 🥰🥰
Di komen ya 🥰🥰
__ADS_1
Di vote ya 🥰🥰
Love you all