Kamu Matahari Dan Aku Bulan

Kamu Matahari Dan Aku Bulan
Episode 22 Bersama Rafa


__ADS_3

Nabila pun masih tak percaya dan tidak yakin jika ia harus satu ruangan dengan Rafa, dia bukanlah seorang sekretaris atau pengawal pribadi yang harus selalu berada didekatnya. Dia juga bukan karyawan tetap disini.


Bagaimana bisa ia satu ruang kerja dengan Rafa, dan juga apa kata orang lain nanti kalau mereka tau jika ia satu ruang kerja dengan Rafa yang merupakan seorang Ceo perusahaan ini.


"Tapi ... apa sebaiknya aku diruangan lain saja, atau di ruang sekretaris atau diruangan karyawan lain, aku juga tidak masalah kok," ucap Nabila sambil tersenyum terpaksa.


"Tidak apa apa, kau disini saja, emang apa masalahnya?" ucap Rafa bertanya.


"Bukan begitu, hanya saja aku merasa tidak enak dengan karyawan lain, aku juga bukan karyawan tetap disini, aku juga bekerja hanya sebulan disini." Nabila masih kurang yakin.


"Karena itu, karena kau hanya bekerja sebulan disini aku melakukan semua ini, kau itu karyawan khusus yang aku pilih langsung untuk membantu festival ini," ucap Rafa terlihat yakin.


"Tapi, aku masih merasa..." ucapan Nabila terpotong karena Rafa langsung mendorongnya secara perlahan ke meja kerja Nabila dan Rafa pun menekan sedikit pundak Nabila membuat ia terduduk di kursinya.


"Aku juga sudah menyiapkan semua keperluan yang kau butuhkan selama kerja disini, sudah ada laptop, meja kerja yang nyaman, buku buku yang kau perlukan, semuanya ada," ucap Rafa.


"Sudahlah, jika kau membahas itu juga, waktu akan terbuang dengan sia sia, waktu itu seperti emas, jadi kau tidak boleh menyia nyiakannya," ucap Rafa.


Setelah membuat Nabila terduduk Rafa pun kembali ke tempatnya dan ia pun tertawa melihat ekspresi Nabila yang masih terkejut dan terdiam.


Tak lama setelah itu sekretaris Rafa pun masuk sambil membawa beberapa map dan dokumen dokumen tebal. Lalu, map map itu diletakannya diatas meja Nabila, hal itu membuat Nabila terkejut karena dokumen dokumen itu ternyata sangat tebal.


"Jadi, itu yang kau butuhkan selama kerja disini, map yang berwarna merah itu isinya tentang informasi umum yang harus kau ketahui tentang acara itu, lalu map biru itu adalah dokumen tentang hal hal yang dilarang dan diperbolehkan selama acara." Rafa menjelaskan kepada Nabila dengan sangat detail.


"Lalu, map kuning itu adalah beberapa tamu yang akan kita undang untuk acara itu, lalu juga ada beberapa dokumen yang isinya tentang desain dan konsep seperti apa yang akan kita pakai untuk tema festival tahun ini. Sampai disini kau paham?" ucap Rafa.

__ADS_1


Nabila pun tak percaya jika dokumen yang dia butuhkan ternyata sangat banyak, dia sangat terkejut ternyata bekerja dikantor itu tidak semudah yang dibayangkannya.


"Baiklah, aku akan berusaha untuk mempelajarinya dan mohon bantuannya jika aku tidak paham." ucap Nabila, ia pun langsung melihat lihat dokumen itu.


Setelah selesai memberikan dokumen itu kepada Nabila, sekretaris Rafa pun menghampiri Rafa dan tampak sedikit membisikan sesuatu.


"Pak, apakah Bapak yakin dengannya, dan apakah tidak apa apa jika dia bekerja diruangan anda pak?" ucap sekretaris Rafa dengan sedikit ragu.


"Aku yakin dengannya, dia tidak seperti wanita lain, ada sesuatu yang berbeda yang dimilikinya," ucap Rafa sambil tersenyum dan menatap kearah Nabila.


Hal itu membuat Nabila sedikit grogi ketika Rafa melihatnya seperti itu, walaupun ini bukan pertama kalinya Rafa melakukan hal seperti itu, tapi Nabila masih saja merasakan grogi, Nabila pun pura pura tak melihat dan sibuk melihat dokumen dokumenya.


"Satu lagi Pak, apakah ia akan baik baik saja jika buk Luna mengetahui semua ini," ucap sekretaris Rafa.


"Masalah itu nanti saja pikirkan, yang terpenting sekarang dia bekerja untukku, dan aku yang memutuskan semua ini. Sudahlah, kau ini banyak tanya, jika semua sudah selesai kau bisa keluar dan lanjutkan pekerjaanmu," ucap Rafa, dan setelah itu sekretaris Rafa pun pergi keluar.


Rafa pun kembali curi curi pandang melihat Nabila, ia tersenyum sendiri melihat Nabila yang begitu fokus dengan pekerjaannya.


"Pak Rafa, apa aku boleh meminjam sesuatu?" Nabila baru teringat akan sesuatu.


"Hahaha." Bukannya menjawab pertanyaan Nabila, Rafa malah tertawa, hal itu membuat Nabila heran.


"Apa ada yang salah?" ucap Nabila malu.


"Kenapa kau memanggilku dengan sebutin Pak Rafa," ucap Rafa, ia pun kembali tertawa.

__ADS_1


"Saat ini aku sedang bekerja di perusahaanmu, aku ini karyawan, dan kau seorang CEO, aku harus menghormatimu, semua orang juga memanggilmu Pak Rafa. Jadi, tidak enak jika aku memanggilmu dengan sebutan nama saja," ucap Nabila berusaha menjelaskan.


"Baiklah, jika di kantor kau boleh memanggilku seperti itu, tapi jika diluar kau tidak usah memanggilku seperti itu. aku kelihatan seperti sudah tua." Rafa tersenyum ke arah Nabila.


Nabila pun menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia paham.


"Lalu, apa kau tadi ingin meminjam sesuatu? apa itu?" ucap Rafa.


"Aku lupa membawa buku catatan, aku harus mencatat poin poin penting agar aku tidak lupa." Nabila sedikit malu karena dihari pertamanya bekerja Nabila malah lupa bawa buku catatannya.


"Baiklah, aku ada beberapa buku kosong di lemari itu, kau bisa memakainya." ucap Rafa sambil menunjuk kearah lemari itu.


Nabila pun langsung berdiri dan berniat untuk mengambil buku itu sendiri tapi Rafa juga langsung berdiri dan mengatakan bahwa ia yang akan mengambilnya.


"Biar aku saja yang ambil," ucap Rafa, tapi baru saja berdiri telepon Rafa berdering membuat Rafa harus mengangkat teleponnya dulu.


"Dia sangat sibuk, aku bisa mengambilnya sendiri." Nabila pun berjalan kearah lemari itu dan berniat untuk mengambil buku itu sendiri.


"Aduh, ternyata letak bukunya sangat tinggi, aku pasti bisa, aku tidak mau mengganggunya." Nabila berusaha menjangkau buku itu, ia bahkan sudah berjinjit agar tangannya bisa mengambil buku itu.


Tapi, tiba tiba ada tangan yang lebih dulu mengambil buku itu, Nabila langsung berbalik dan sangat terkejut karena Rafa sudah berdiri tepat dibelakangnya dan bahkan jarak mereka sangat dekat. Nabila bahkan bisa melihat bola mata Rafa yang berwarna coklat yang selalu membuat hatinya meleleh.


Karena jaraknya yang sangat dekat dengan Nabila, Rafa kembali merasakan perasaan itu, hatinya berdebar dengan sangat kencang, perasaan hangat kembali mengalir disekujur tubuhnya, Rafa pun menatap Nabila, ia merasa dengan melihat Nabila seperti ini hatinya dan perasaannya lebih tenang.


"Perasaan itu lagi, hatiku tiba tiba bergetar dan perasaanku kembali hangat." ucap Rafa.

__ADS_1


"Rafa, kenapa kau membuatku selalu seperti ini, aku tidak bisa melupakanmu, hatiku selalu


tertuju kepadamu, walaupun kau lupa dengan diriku tapi aku tidak pernah bisa menghapusmu dalam hatiku dan ingatanku." ~ ucap Nabila.


__ADS_2