Kamu Matahari Dan Aku Bulan

Kamu Matahari Dan Aku Bulan
Episode 59 Kecurigaan Tasya


__ADS_3

Melihat Tasya tiba-tiba muncul dan mengetuk kaca mobilnya. Randi pun terkejut karena kehadiran Tasya yang mendadak. Hari pun sudah malam. Ia berpikir kenapa ia bisa bertemu Tasya ditempat seperti ini. Dan kenapa Tasya bisa melihatnya. Padahal, ia sudah memakirkan mobilnya jauh dari keramaian.


"Tasya?" Tanya Randi heran. Ia langsung mematikan mobilnya. Dan tidak jadi pergi. Randi pun membuka pintu mobilnya dan menyuruh Tasya untuk masuk ke mobilnya.


"Randi, kau tinggal didekat sini?" Tanya Tasya saat ia sudah masuk ke mobil Randi. Dan duduk disampingnya.


"Eh tidak." Kata Randi dengan senyum kakunya. Ia tidak mau mengatakan kepada Tasya kenapa ia bisa berada disini. Tempat ini juga jauh dari rumah Randi. Tidak mungkin Randi mengatakan kalau rumahnya dekat sini.


"Lalu, kenapa kau bisa disini?" Tanya Tasya heran. Tasya baru pertama kalinya melihat Randi berada di tempat ini. Rumah Tasya ternyata berada didekat sini. Karena itu Tasya bilang bahwa ia tidak pernah melihat Randi sebelumnya didekat sini.


"Aku juga melihatmu keluar dari rumah itu. Itu kan rumah kosong yang tak ada penghuninya. Kenapa kau keluar dari rumah itu tadi?" TanyaTasya semakin heran. Randi pun gugup dan bingung mau menjawab apa. Pertanyaan Tasya begitu banyak. Randi sedikit terdiam dan memikirkan sesuatu. Sebelum ia menjawab pertanyaan Tasya.


"Rumahku emang tidak didekat sini. Aku masuk kerumah itu karena itu adalah rumah kakekku. Semenjak kakekku meninggal. Rumah itu kosong. Tidak ada yang menghuni. Jadi, tadi ada beberapa barang yang harus aku ambil disitu." KataRandi. Ia berbohong kepada Tasya.


"Owh, jadi rumah itu dulunya rumah kakekmu? hmm aku baru tau." Kata Tasya sedikit mengangguk.


"Oiya, tadi aku juga melihat seorang wanita keluar dari rumah itu. Dia siapa? pakaiannya juga seperti pakaian kantor." Kata Tasya lagi. Randi pun mencari-cari alasan lagi untuk menyembunyikan identitas Luna.


"Owh, dia itu sepupuku. Jadi, barang yang aku ambil tadi sebenarnya untuk dia. Dia datang kesini karena ingin mengambil barang itu langsung." Kata Randi sambil tersenyum. Tasya kembali dibuat mengangguk tanda ia mengerti.


"Kau? bagaimana kau bisa disini?" Tanya Randi. Ia tidak ingin Tasya bertanya lagi kepadanya tentang semua itu. Nanti malah kebohongan dan rencananya gagal.


"Aku? owh rumahku dekat sini. Aku tadi kebetulan ke swalayan depan, mau membeli beberapa makanan." Kata Tasya terlihat tenang. Randi pun mengangguk.


"Apa habis dari sini kau langsung pulang?" Tanya Tasya sambil melihat kearah Randi.

__ADS_1


"Iya, aku langsung pulang. Hari juga sudah malam. Aku ingin beristirahat." Kata Randi tersenyum.


"Biasanya, pria seumuranmu ini. Kalau sudah malam mereka biasanya mengajak pacarnya jalan-jalan malam. Atau mengajak pacar mereka untuk makan malam bersama." Kata Tasya sedikit tertawa. Ia ingin bercanda dengan Randi.


"Ahhh, aku tidak punya pacar. Tidak ada seseorang yang bisa aku ajak pergi jalan-jalan ataupun makan malam bersama." Kata Randi tersenyum pahit.


Randi pun terpikir sesuatu. Randi menghayal, andaikan saja jika Nabila adalah pacarnya. Ia pasti sudah mengajak Nabila pergi jalan-jalan malam. Melihat sambil menikmati bintang-bintang dilangit. Angin sejuk dingin malam hari. Pergi makan. Dan semua yang bisa ia lakukan bersama Nabila. Tapi, saat ini Nabila belum jadi pacarnya. Randi berharap suatu saat nanti Nabila pasti akan menjadi pacarnya.


"Hei Randi, apa kau melamun?" Tanya Tasya. Ia melihat Randi yang terdiam dan dari matanya Tasya melihat sepertinya Randi sedang memikirkan sesuatu.


"Ah iya. Aku tidak melamun, kok." Kata Randi. Saat ia sudah tersadar dari lamunannya.


"Kau tadi hanya diam saja." Kata Tasya sambil sedikit terdiam.


"Sepertinya, hari juga sudah malam. Kau perlu istirahat, Randi. Aku juga harus pulang." Kata Tasya.


"Ah, tidak usah. Rumahku dekat kok." Kata Tasya. Tapi, Randi tetap ingin mengantarkan Tasya pulang. Randi berpikir walaupun dekat. Tapi, setidaknya naik mobil akan lebih mengehamat waktu.


"Yasudah, baiklah. Kalau kau memaksa ya mau bagaimana lagi. Aku nurut saja." Kata Tasya sambil tersenyum kearah Randi.


Randi pun mengantarkan Tasya pulang kerumahnya. Ternyata, rumah Tasya emang dekat dari tempat Randi tadi. Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai didepan rumah Tasya. Tasya pun pamit dan berterima kasih kepada Randi. Tasya pun keluar dari mobil Randi.


"Makasih ya Randi, untuk tumpangannya." Kata Tasya tersenyum.


"Kau yakin tidak ingin masuk dulu?" Tanya Tasya menawarkan kepada Randi.

__ADS_1


"Tidak, terimakasih. Aku langsung pulang saja, ya." Kata Randi tersenyum dan setelah itu ia pun pergi dari hadapan Tasya.


Tasya pun melambaikan tangannya kearah Randi sambil tersenyum. Namun, saat mobil Randi sudah tidak terlihat lagi. Seketika, raut wajah Tasya berubah menjadi dingin. Dalam sekejap wajah Tasya yang tadinya tersenyum langsung berubah menjadi datar. Bahkan, sama sekali tidak ada senyuman manis itu lagi


Tasya langsung masuk kedalam rumahnya dengan tergesa-gesa dengan wajah yang tidak tenang. Saat Tasya masuk kedalam rumahnya. Ayah dan ibu Tasya baru saja siap makan malam dan sedang beristirahat di depan tv. Tasya langsung menghampiri mereka berdua dan duduk di salah satu sofa dekat ibunya.


"Ayah, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." Kata Tasya terburu-buru.


"Ada apa? kenapa kau tergesa-gesa seperti itu." Kata ayah Tasya heran.


"Ayah tau kan rumah kosong disimpang gang rumah kita. Rumah yang tidak ada penghuninya itu." Kata Tasya.


"Iya, ayah tau. Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang rumah itu?" Tanya ayah Tasya.


"Rumah siapa itu, yah?" Tanya Tasya. Ia sangat penasaran. Karena se tau Tasya pemilik sebelumnya itu adalah seorang ibuk-ibuk. Tapi, Randi mengatakan kalau kakeknya tinggal disitu sebelumnya. Tasya dibuat bingung.


"Bukannya kau tau. Dulu kan ibuk Sintia yang tinggal disitu. Tapi, semenjak ibuk Sintia meninggal. Rumah itu tidak ada yang menghuni. Ibuk Sintia juga tidak punya anak. Jadinya, ya sampai sekarang rumah itu kosong saja." Kata ayah Tasya.


Sebenarnya Tasya emang sudah tau pemilik rumah itu sebelumnya. Tasya juga kenal dengan ibuk Sintia saat ibuk itu masih hidup. Bahkan, waktu kecil Tasya juga pernah main dirumah ibuk itu. Tapi, ia penasaran kenapa Randi tadi mengatakan kakeknya yang tinggal disitu sebelumnya?


"Apa sebelum ibuk Sintia, ada seorang kakek-kakek yang tinggal disitu, yah?" Tanya Tasya masih sangat penasaran.


"Tidak, rumah itu milik ibuk Sintia. Dia yang bangun rumah itu. Rumah itu juga bukan milih ayah atau ibunya. Selama ini ayah tidak pernah dengar ada kakek-kakek yang tinggal disitu." Kata ayah Tasya.


Tasya pun langsung terkejut. Lalu, apa maksud dari perkataan Randi tadi. Ia mengatakan bahwa sebelumnya kakeknya lah yang tinggal disini. Tasya berpikir, selama dia tinggal disini. Tasya juga tidak pernah liat Randi berada disekitar sini. Kalau benar itu rumah kakeknya, setidaknya Randi pasti pernah mengunjungi kakeknya. Setidaknya Tasya juga pernah melihat Randi walaupun hanya sekali.

__ADS_1


Tasya juga berpikir apa yang dikatakan ayahnya juga benar. Tidak mungkin ayahnya berbohong. Tasya pun juga sudah tau tentang ibuk Sintia yang tinggal disitu sebelumnya. Tapi, ucapan Randi benar-benar membuat bingung Tasya.


"Apa Randi berbohong kepadaku?" Tanya Tasya dalam hati.


__ADS_2