
Arina sangat terharu dengan apa yang telah diberikan dan dilakukan William saat ini. Kenapa William begitu perhatian kepadanya. Dan kenapa William melakukan semua ini. Arina dibuat terharu. Entah kenapa Arina semakin yakin bahwa hati dan perasaannya memang sudah jatuh ke William.
"Hei, jangan menangis. Kau sudah cantik. Nanti make up mu luntur." Kata William sedikit tertawa.
"Kenapa? kenapa kau melakukan semua ini?" Tanya Arina. Ia sangat penasaran dan terharu.
"Aku hanya mengikuti kata hatiku. Kau cocok dan pantas memakai itu. Kau cantik." Kata William tersenyum.
"Aku tidak tau, apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa mengucapkan terimakasih." Kata Arina dan berusaha tersenyum.
"Sudahlah, kita harus pergi. Waktu semakin berjalan." Kata William. Ia pun membukakan pintu mobilnya untuk Arina. Dan Arina pun masuk.
Selama perjalanan Arina hanya menggengam tangannya sendiri dan terlihat gelisah. Ternyata Arina begitu gugup. Seumur hidupnya ini baru pertama kalinya ia pergi ke pesta. Pesta yang sangat mewah dengan tamu undangan yang berasal dari kalangan atas. Dan ini baru pertama kalinya arina memakai gaun seperti ini. Ia sangat gugup. Arina juga tidak mengenal siapapun di pesta itu nanti
"Hei, apa kau gugup, Arina?" Tanya William.
"Ah, sedikit iya. Aku belum pernah pergi ke pesta yang seperti ini. Maksudku kebanyakan yang datang adalah kalangan orang-orang kaya." Kata Arina dengan wajah yang gugup.
"Tidak usah gugup. Kan ada aku. Aku akan selalu berada disampingmu." Kata William tersenyum sambil memegang tangan Arina.
Arina hanya tersenyum melihat kearah William. Karena perlakuan William. Arina sangat yakin kalau ia sudah menyukai William.
Saat sudah sampi di lokasi pesta. Arina dan William jalan bergandengan. Tangan Arina berada di pergelangan William. Mereka sudah seperti pasangan saja. Mereka benar-benar cocok.
Pesta Cindy diadakan disebuah hotel mewah. Semua tamu yang datang berasal dari keluarga yang elit dengan pakaian yang mahal.
"Kau siap kan Arina? Hari ini bantu aku untuk menunjukan kepada Cindy. Kalau aku tidak akan kalah darinya. Aku bukan orang yang berlarut-larut dengan masa lalu diantara aku dan dirinya." Kata William sambil mengeratkan pegangan tangan Arina.
"Baik, malam ini. Mari kita tunjukan kepada dia. Bahwa kau adalah William yang hebat. William yang tidak takut dengan kenyataan saat ini. Aku yakin kamu pasti bisa." Kata Arina. Menyemangati William.
Saat mereka berdua sudah siap. William dan Arina pun berjalan masuk kedalam ruangan pesta. Sebelum masuk. William harus menyerahkan undangan yang dikasih Cindy waktu itu dan memberikannya ke staf pesta. Pesta Cindy benar dijaga ketat. Hal itu dilakukan untuk membuktikan bahwa tamu- tamu yang datang memang diundang langsung oleh Cindy.
William pun masuk bersama Arina, sudah banyak tamu yang datang dan ruangan itu pun juga tampak sangat mewah.
Cindy pun melihat kedatangan William dan Arina. Ia lagsung menghampiri mereka berdua. Cindy sangat bahagia karena William akhirnya mau datang kepestanya.
"Hei William. Ternyata kau datang juga. Aku sangat bahagia." Kata Cindy tersenyum kearah William.
Pada saat itu juga seorang pria datang berjalan menghampiri mereka bertiga. Ia berdiri di samping Cindy dan memeluknya. William pun terkejut melihat pemandangan itu. Ternyata pria itu adalah Rizky teman William yang berselingkuh dengan Cindy.
__ADS_1
"William? ya ampun, sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Tanya Rizky basa-basi.
"Baik. Semua nya berjalan baik. Aku juga sehat. Bagaimana kabarmu?" Tanya william.
Dalam hatinya, William sebenarnya hanya berpura pura menyapanya. Ia tidak ingin terlihat pengecut. Padahal, sebenarnya melihat Rizky membuat William muak dan benci. Tapi, ia menutupi semua itu. Dan berpura-pura seakan-akan ia baik
"Tentu saja, apalagi Cindy selalu berada di sisiku." Kata Rizky. Ia benar-benar telah melukai Hati William. Tapi, ia malah bersikap santai dan seakan-akan tidak ada yang terjadi. Hal itulah yang membuat William menahan marahnya.
Arina mengerti sekarang. Siapa Rizky itu. Tanpa dijelaskan Arina sudah tau Rizky itu adalah teman William yang berselingkuh dengan Cindy. Orang yang diam-diam menusuk William dari belakang. Saat ini William sedang menahan amarahnya. Arina pun sadae. Ia langsung menggenggam tangan William lebih erat. Arina memberikan kekuatan untuk William.
"Oiya, dia siapa, William? apa pasanganmu? kan syarat datang kesini harus punya pasangan." Kata Rizky heran.
"Bukannya dia pelayan toko bunga itu kan?" Tanya Cindy. Sambil melihat wajah Arina.
Entah apa yang dipikirkan William. ia langsung memindahkan tangannya tadi ke bahu Arina dan memeluknya erat.
"Dia adalah pacarku. Namanya Arina." Kata William tersenyum.
Sontak Arina terkejut. Arina sudah tau kalau hari ini ia akan jadi pasangan William. Tapi, ia tak menyangka jika Willliam akan mengatakan didepan Cindy langsung secara jelas kalau dia adalah pacarnya William.
"Ternyata kau telah bisa move on dari Cindy. Baguslah. Aku juga lega." Kata Rizky.
William baru bisa bernapas lega setelah Cindy dan Rizky pergi. Rafa melepas pelukannya di bahu Arina.
"Kau hebat William. Kau bisa menghadapi mereka." Kata Arina tersenyum. William hanya membalas perkataan Arina dengan senyuman .
Dan tiba saatnya dimana Cindy memotong kue ulang tahunnya. Orang tua Cindy juga berada disebelah kiri kanan mendampingi anaknya. Semua orang menyanyikan lagu ulang tahun untuk Cindy. Dan bersorak saat Cindy sudah meniup lilinnya. Setelah selesai semua orang menikmati hidangan dan kue disana.
"William, apa kita masih harus berada disini? tadi kan Cindy sudah melihat kalau kau akhirnya datang kepestanya." Kata Arina.
"Baiklah, kita pulang saja. Kalau kita menunggu sampai acaranya selesai bakalan lama." Kata William.
Arina dan William pun berniat untuk pulang. Cindy pun sudah melihat William datang. Tidak ada lagi yang harus mereka kerjakan disini. Tapi, saat mereka akan keluar. Seorang pria memanggil William. William pun melihat kearah pria itu.
"Aduh, itu teman sekolahku dulu. Arina, apa kau tidak apa-apa menungguku disini sebentar. Aku akan menyapanya dulu, sebentar saja." Kata William.
"Baiklah, baik. Tidak apa-apa. Aku tunggu disini saja." Kata Arina.
Setelah Wiliiam pergi, Arina berdiri sendiri ditempat tadi. Ia tidak tau harus melakukan apa. Ia hanya diam saja sambil melihat orang-orang yang ada disana. Tiba-tiba, ada seseorang yang menyentuh pundaknya. Arina pun langsung menoleh ke arah orang itu.
__ADS_1
"Owh, Cindy." Kata Arina menyapa.
"Kau Arina kan? yang tadi bersama William." Kata Cindy tampak ramah. Arina pun mengangguk sambil tersenyum.
"Kemana William?" Tanya Cindy.
"Owh, tadi dia pergi kesana sebentar. Ada teman satu sekolahnya. Sepertinya dia ingin menyapanya sebentar." Kata Arina. Sambil menunjuk ke arah depannya.
"Aku senang, akhirnya William bisa mencari pengganti diriku. Dulu, waktu aku meninggalkannya. Aku merasa sangat bersalah. Aku berharap William bisa cepat-cepat melupakanku. Dan sekarang aku lega. Saat mengetahui kau adalah pacarnya." Kata Cindy tersenyum kearah Arina. Arina hanya bisa tersenyum terpaksa. Padahal, sebenarnya ia tidak benar-benar pacaran dengan William.
"Waktu aku datang ke tokomu. Dan saat kau tidak sengaja memecahkan vas bunga itu. Aku sudah merasa William benar-benar menyukaimu. Ia terlihat sangat peduli dan sangat cemas jika kau terluka. Dari tatapannya aku sudah bisa melihat kalau William benar-benar mencintaimu." Kata Cindy.
Arina terkejut saat Cindy mengatakan hal seperti itu. Cindy padahal tidak tau sebenarnya mereka hanya pura-pura jadi sepasang kekasih. Tapi, dari gayanya bicara Cindy sepertinya memang jujur dan berkata apa adanya.
"Apakah memang seperti itu. Apakah William benar-benar seperti itu kepadaku?" Tanya Arina dalam hati.
"Aku berharap semoga kalian selalu setia sampai jenjang pernikahan. Kau harus selalu bersamanya, oke. Eh William sudah datang. Aku pergi dulu, ya. Dan jangan bilang ke William kalau tadi aku membicarakannya." Kata Cindy tertawa lalu pergi.
"Ngapain Cindy tadi kesini?" Tanya William. Saat ia sudah tiba didepan Arina. Saat William sudah tepat didepan Arina. Ia pun hanya diam sambil menyapa William. William pun bertanya. Tapi, Arina bahkan tak menjawab.
"William, aku menyukaimu." Kata Arina tiba-tiba. William pun terkejut mendengar hal itu. Ia pun menatap Arina dengan tatapan yang berbeda dari biasanya
Entah kenapa William langsung menarik tangan Arina dan membawanya ke luar dari ruangan itu. William pun membawa Arina kesebuah taman masih disekitaran kantor. Dan memegang kedua pundak Arina.
"Arina, apa benar yang kau katakan tadi? kau tidak bercanda kan?" Tanya William.
"Iya, tulus dalam hatiku. Aku menyukaimu William. Maaf jika aku mengatakan hal ini. Aku tidak mau membohongi perasaanku lagi." Kata Arina.
William pun langsung menarik Arina dalam pelukannya. Arina terkejut dengan tindakan William itu. Kenapa William memeluknya.
"Sebenarnya, aku juga menyukaimu. Aku takut mengatakannya kepadamu. Karena aku takut kau menolak dan menjauhiku. Aku takut jika itu terjadi. Seperti yang aku rasakan di masa lalu." Kata William dengan wajah bersalah.
"Tidak apa-apa. Tapi, apa kau benar-benar menyukaiku?" Tanya Arina penasaran.
"Benar, sebelumnya aku tidak pernah seserius ini." Kata William meyakinkan Arina. Mereka berdua pun tersenyum.
Tiba-tiba William mengeluarkan sebuah cincin dalam kotak kecil dan memasangkannya di jari manis Arina.
"Arina, apa kau mau jadi pacarku? bukan pacar bohongan tapi benar-benar jadi kekasihku." Kata William serius. Arina pun tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengangguk tanda setuju dan memeluk William lagi.
__ADS_1
William dan Arina pun sudah menjadi sepasang kekasih.