
Rafa pun reflek berteriak karena Nabila tiba-tiba menginjak kakinya. Rafa langsung meringis dan memegang kakinya. Kakinya benar-benar sakit sekarang. Rafa tidak tau kenapa Nabila tiba-tiba menginjak kakinya. Ia kan tak melakukan kesalahan apapun. Piki Rafa begitu.
Nabila pun tersenyum puas saat Rafa sudah kesakitan dan tidak lagi melihat dan memandang dirinya. Itu hukumnya untuk Rafa karena seharian ini dia sudah menganggu Nabila. Nabila pun tidak merasa bersalah. Ia hanya menginjak kaki Rafa sedikit. Tidak semuanya. Nabila pun tersenyum sambil menahan tawanya yang melihat Rafa mengelus-elus kakinya.
Tasya dan Randi pun langsung melihat Rafa heran. Saat mereka semua terdiam. Dan menikmati makanan mereka masing-masing. Tiba-tiba Rafa berteriak sambil meringis kesakitan. Hal itu membuat mereka berdua terkejut.
"Pak Rafa? kau kenapa?" Tanya Tasya heran. Ia lebih dulu bertanya. Karena yang lain sepertinya tak ada yang akan bertanya. Tasya melihat Nabila hanya senyum-senyum tak jelas. Randi pun tampak tidak peduli.
"Ahhh tidak apa-apa. Sepertinya kaki ku digigit sesuatu. Gigitannya begitu kuat." Kata Rafa sambil melihat ke Nabila. Rafa tau Nabila lah yang menginjak kakinya. Sambil berbicara kepada Tasya. Mata Rafa melotot ke Nabila.
"Haha, untuk terapi kaki itu bagus, pak. Kalau setiap hari digigit. Aku rasa kakimu akan lebih kuat." Kata Nabila. sambil melihat ke arah Rafa.
"Owh, begitu. Emang apa yang menggigit kakimu, pak? kenapa bagus untuk terapi?" Tanya Tasya masih heran dengan semua pembicaraan ini. Ia pun tak mengerti maksud dari perkataan Nabila itu.
"Sudahlah, obrolan ini tak penting, Tasya. Kita bicarakan hal lain saja." Kata Nabila sambil tersenyum kearah Tasya. Rafa pun hanya bisa sabar dengan kelakuan Nabila itu.
"Oiya, Rafa. kenapa kau selalu makan di kantin kantor sekarang? biasanya kau makan di restoran mahal." Kata Randi tiba-tiba bertanya. Setelah obrolan yang tak penting tadi. Mereka pun hanya terdiam. Akhirnya, Randi pun yang memulai pembicaraan lagi.
"Iya juga, Pak. Selama aku bekerja disini. Ini kedua kalinya aku melihatmu makan disini, Pak. Sebelumnya kau tidak pernah sama sekali makan disini. Bahkan, berkunjung pun tidak ada." Kata Tasya. ia berpikir kenapa Rafa sekarang berubah. Apa alasan Rafa untuk makan disini.
"Semua orang berhak makan disini kan. Walaupun setinggi apapun jabatan orang itu. Kadang pikiran manusia juga sering berubah-ubah. Kadang tiba saatnya aku ingin makan diluar. Tapi, kadang ada saatnya aku juga ingin makan disini." Kata Rafa santai. Padahal, selain alasan tadi. Rafa mau makan disini karena Nabila. Ia tida ingin jauh-jauh dari Nabila. Rafa ingin selalu berada didekat Nabila. Wanita yang disukainya.
"Iya juga sih, pak. Kadang pemikiran orang itu berbeda-beda. Tapi, saya sangat suka dan denah punya CEO seperti anda, pak." Kata Tasya dengan wajah kagum.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Rafa tersipu malu karena Tasya berkata seperti itu.
"Kau orangnya ramah, Pak. Walaupun kami ini bawahan Anda pak. Tapi, anda tidak malu-malu untuk bergabung makan bersama kami. Di beberapa perusahaan lain. Kadang, CEO nya pemarah. Ngelakuin kesalahan sedikit saja langsung dimarahi. Bahkan, ada yang kena pecat, Pak." Kata Tasya sambil bercerita mengenai tanggapannya tentang Rafa.
"Hahaha aku bukan orang seperti itu. Tapi, aku juga tidak bisa ramah ke semua orang. Kadang sifat CEO aku juga keluar. Seperti pemarah, dingin, berkuasa. Tapi, saat bersam kalian aku merasa nyaman. Aku sudah mengenal Randi sebelumnya. Aku juga baru mengenal Nabila tapi ia sudah bisa membuat aku nyaman. Begitu juga denganmu, Tasya. Kau juga orang baik." Kata Rafa tersenyum sambil memuji satu per satu dari mereka.
"Benarkah? apakah Rafa memang sudah sangat nyaman denganku? aku tidak sabar untuk benar-benar jadi pacarnya. Huhhh, Rafa selalu membuat hati ku berdetak cepat." Kata Nabila dalam hati. Ia sangat bergembira.
"Bapak bisa aja." Kata Tasya tersenyum. Padahal dia juga senang dipuji oleh Rafa. Mereka pun lanjut makan. Tapi, Rafa tiba-tiba teringat sesuatu.
"Oiya, Tasya. Kau juga ikut berperan kan dalam mensukseskan acara festival tahunan?" Tanya Rafa.
"Ahh iya, Pak. Kenapa pak? ada yang perlu saya bantu." Tanya Tasya.
Rafa.
"Baik pak. Saya akan ikut bersama bapak dan yang lainnya." Kata Tasya mengangguk.
"Mereka akan pergi bersama? Rafa dan Nabila juga pergi? kalau aku ikut bersama mereka. Aku akan ambil kesempatan ini untuk bisa berdekatan dengan Nabila. Mana tau di tempat itu aku bisa menemukan fakta lain yang bisa aku laporkan ke Luna." Kata Randi dalam hatinya.
"Rafa, bagaimana kalau aku ikut juga?" Tanya Randi tiba-tiba. Rafa pun langsung menoleh kearah Randi. Ia sedikit heran kenapa Randi tiba-tiba mengajukan dirinya untuk ikut.
"Kau kan tidak berperan untuk festival ini. Kau tidak akan mengerti nanti dengan hal-hal yang diperlukan untuk festival itu." Kata Rafa.
__ADS_1
"Aku akan membantu kalian. Apapun itu. Jika kalian menyuruhku melakukan sesuatu. Aku akan melakukannya. Mana tau pekerjaan kalian akan lebih jadi ringan kalau aku bantu." Kata Randi tersenyum.
"Benar juga kata Randi. Kita bisa memakai sedikit tenaga Randi untuksurvei hari Sabtu besok. Mana tau saat disitu kita punya kendala. Dan Randi bisa membantu kita. Tidak ada salahnya juga sih." Kata Nabila.
"Baiklah, kalau kalian setuju. Kau boleh pergi bersama kami." Kata Rafa ia pun tersenyum kearah Randi.
Waktu istirahat makan siang pun sudah habis. Seperti biasa Randi dan Tasya akan balik bersama keruangan mereka. Dan Rafa akan balik bersama Nabila. Tapi, Randi pun memanggil Nabila.
"Nabila, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu. Apa kita bisa bicara berdua saja?" Tanya Randi.
"Apakah pembicaraan kalian sangat penting? sehingga harus bicara berdua saja?" Tanya Rafa. Sepertinya Rafa terlihat cemburu jika Nabila pergi bersama pria lain. Padahal, mereka kan hanya ingin berbicara. Tidak melakukan hak yang aneh-aneh. Tapi, ya begitulah Rafa. Ia tidak akan rela melihat wanita yang disukainya bersama pria lain.
"Rafa, aku sudah mengenal Randi. Ia hanya akan berbicara sebentar kok." Kata Nabila.
"Pak, Randi kan teman Nabila juga pak? kenapa kau tidak membolehkannya? kalian seperti sepasang kekasih saja, pak. Tidak membiarkan wanita anda pergi dengan pria lain." Kata Tasya sambil sedikit tertawa.
Rafa pun tidak ingin hubungan antara dirinya dan Nabila diketahui oleh Tasya. Bisa-bisa nanti dia heboh. Rafa pun akhirnya merelakan Nabila dan Randi pergi untuk mengobrol.
"Ya sudah. Pergilah. Jangan lama-lama. Pekerjaanmu masih banyak." Kata Rafa. Ia mengatakan hal itu untuk dijadikan alasan kenapa Nabila tidak beh pergi lama-lama. Padahal, kenyaatan Rafa memang cemburu.
Rafa pun meliahat kepergian Randi dan Nabila. Mereka jalan beriringan berdua. Saat melihat itu. Hati Rafa terasa sakit.
"Jadi, seperti ini rasanya. jika kau meninggalkanku dan pergi bersama orang lain. Aku tidak akan membiarkannya." Kata Rafa dalam hati.
__ADS_1