
Sekretaris Rafa terus menelpon Rafa berulang-ulang kali. Sambil berjalan dan masuk kedalam lift. Sekretaris Rafa tidak tenang jika sesuatu terjadi dan Luna mengetahui bahwa Nabila berada didalam ruangan Rafa.
Entah kenapa Rafa tidak mengangkat telepon dari sekretarisnya. Saat ini sekretaris Rafa masih didalam lift. Ia mengira-ngira sepertinya Luna sudah hampir diruangan Rafa saat ini. Apa Rafa baik-baik saja pikir sekretarisnya.
Saat pintu lift sudah terbuka sekretaris Rafa pun langsung lari dengan sangat kencang dan sekuat tenaganya. Ia masih berharap supaya Luna masih bisa dihentikan dan tidak masuk keruangan Rafa.
Saat sekretarisnya sudah sampai kedekat ruangannya dan dekat ruangan Rafa, ia tidak melihat Luna berada disitu. Perasaannya mengatakan Luna sudah masuk kedalam ruangan Rafa. Sekretaris Rafa pun langsung lari dan membuka pintu ruangan Rafa.
"Pak! maafkan aku." Kata sekretaris Rafa. Tiba-tiba masuk dengan nafas yang terengah-engah dan langsung minta maaf.
Rafa pun sontak terkejut melihat sekretarisnya tiba-tiba datang tapi dengan wajah cemas dan nafas yang terengah-engah. Rafa berpikir apa ada sesuatu yang terjadi. Kenapa sekretarisnya minta maaf dengannya.
"Ada apa? kenapa kau tiba-tiba datang dan minta maaf." Tanya Rafa penasaran.
"Luna, pak. Apa dia tidak datang keruanganmu?" Tanya sekretarisnya. Ia sekarang sudah berada didalam ruangan Rafa dan berdiri didepan meja Rafa.
"Luna?? dia datang kesini? tidak ada. Sejak tadi aku hanya berdua saja diruangan ini bersama Nabila." Kata Rafa heran.
"Tapi, pak. Tadi saat saya dibawah saya melihat buk Luna datang pak. Dia sudah duluan naik lift daripada saya. Karena itu, saya tidak bisa mengejarnya." Kata Sekretarisnya.
"Dia pernah bilang ke saya kalau dia sudah kesini pasti hanya ingin bertemu denganmu, Pak. Tapi, kenapa dia tidak ada dirunganmu ya, Pak?" Tanya Sekretarisnya heran.
"Owh, mungkin kau salah liat. Tidak mungkin Luna bertemu orang lain selain aku kan. Kalau dia bertemu ayahku tidak mungkin. Kerena ayahku juga tidak ada di kantor sekarang. Dia lagi keluar kota." Kata Rafa.
"Tapi, pak. Saya benar-benar melihat Luna. Saya yakin itu memang dia." Kata sekretarisnya begitu yakin.
"Kalau tadi itu emang dia, pasti saat ini aku sudah bertemu dengannya. Tapi, sampai sekarang dia tidak datang kesini ataupun menelponku." Kata Rafa.
Sekretaris pun membenarkan kata Rafa. Kalau tadi itu memang Luna pasti saat ini dia sudah datang dan bertemu dengan Rafa. Tapi, tidak mungkin ada orang yang sangat mirip dengan Luna kan. Sekretaris Rafa masih heran dan tampak tidak tenang.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kau kembali bekerja." Kata Rafa kepada sekretarisnya.
__ADS_1
"Baik, Pak." Kata sekretarisnya dan pergi keluar dari ruangan Rafa.
Saat sekretaris Rafa sudah keluar. Rafa langsung melanjutkan kembali pekerjaannya. Tapi, Rafa sempat berpikir. Rafa yakin sekretarisnya merupakan orang yang jujur. Tidak mungkin ia berbohong kepada Rafa. Tapi, kalau benar itu Luna seharusnya dia sudah bertemu Rafa saat ini. Tapi, saat ini tidak ada kabar dari Luna kalau ia berkunjung kekantor Rafa.
"Apa ada masalah Rafa?" Tanya Nabila. Karena ia melihat Rafa yang termenung.
"Aku hanya berpikir tentang apa yang dikatakan sekretarisku tadi. Kalau memang Luna datang kesini. Saat ini ia pasti sudah bertemu denganku. Tapi, nyatanya dia tidak ada." Kata Rafa.
"Bisa jadi dia ingin bertemu orang lain disini. Mana tau selain kau ada teman yang ingin dikunjunginya." Kata Nabila dengan kemungkinan itu.
"Bisa jadi." Kata Rafa.
Saat Nabila berbicara tentang Luna. Ia langsung terpikir tentang tunangan Rafa itu. Ia iseng bertanya soal itu kepada Rafa.
"Oiya, Rafa. Kalau boleh tau kapan kalian akan bertunangan?" Tanya Nabila. Walaupun pertanyaan itu sebenernya membuat hati Nabila sakit. Tapi, ia hanya penasaran. Apakah tunangan itu benar-benar akan terjadi atau tidak.
"Tidak! tunangan itu tidak akan terjadi sampai kapanpun. Aku hanya ingin menikah hanya denganmu." Kata Rafa serius sambil melihat kearah Nabila.
"Jangan bicarakan itu saat kita hanya berdua saja disini. Aku membenci obrolan itu." Kata Rafa.
Nabila pun memilih diam. Sepertinya Rafa benar-benar tidak menyukai obrolan itu karena wajahnya tampak kesal sekarang. Mereka berdua pun sama-sama melanjutkan pekerjaannya sekarang.
Di ruangan lain
Dalam sebuah ruangan kosong masih di kantor Rafa. Seorang pria dan wanita saling duduk dan berhadapan satu sama lain. Wanita itu terlihat berpakaian kantor juga dengan aksesoris yang mahal. Dan si pria itu memakai setelan jas kantor.
Wanita itu menegakkan kepalanya dan terlihatlah wajahnya. Dan itu adalah Luna. Jadi, apa yang dilihat sekretaris Rafa tadi itu memang benar-benar Luna. Tapi, Luna tidak bertemu dengan Rafa karena ia bertemu dengan seorang pria yang bekerja di kantor ini juga.
Tapi, wajah pria itu tidak terlihat karena cahaya luar tidak mengarah kepadanya. Hanya ke Luna saja.
Dilihat dari gaya dan obrolan mereka berdua. Sepertinya pria tadi itu adalah kaki tangan Luna. Pria itu memberikan informasi-informasi tentang Rafa dan Luna.
__ADS_1
Dan ternyata malam kemaren, disebuah rumah kosong itu. Ternyata, itu juga Luna dan pria yang sama dengan saat ini. Kemaren pria itu memberikan foto dan aktivitas yang dilakukan Rafa dan Nabila. Sekarang, pria itu memberikan informasi dan foto Nabila.
"Jadi, wanita ini namanya Nabila?" Tanya Luna. Saat pria itu memberikan beberapa foto Nabila.
Ia melihat beberapa foto Nabila yang diambil secara diam-diam dan tanpa sepengetahuan Nabila. Luna baru tersadar dia pernah bertemu Nabila sebelumnya. Luna pun mengingat dimana dan kapan ia bertemu Nabila.
"Owh, aku pernah bertemu dia. Waktu itu saat aku ingin pergi keruangan Rafa. Ia menyenggolku. Owh, jadi saat itu berarti dia sudah bertemu dengan Rafa. Karena, pada saat itu dia berjalan dari arah ruangan Rafa." Kata Luna. Sambil mengangguk. Luna pun melipat kedua tangannya didada.
"Iya, dia yang saat ini bekerja diruangan Rafa. Dia bekerja untuk festival tahunan itu. Rafa secara khusus menunjuknya langsung untuk menjadi karyawan spesialnya. Karena itu, Rafa tidak membolehkanmu masuk lagi keruangannya. Karena ia tidak ingin kamu bertemu dengan Nabila." Kata pria misterius itu.
"Jadi, dia mau main-main dibelakang aku. Menarik juga." Kata Luna sinis.
"Tapi, sebenarnya ada hal yang harus kau ketahui." Kata pria misterius itu.
"Apa?" Tanya Luna.
"Sebenarnya, Nabila itu kekasih Rafa dimasa lalu. Sebuah kecelakaan menimpa Rafa 4 tahun yang lalu. Saat Rafa sadar, tiba-tiba ingatannya lupa. Tapi, anehnya Rafa hanya lupa bdengan Nabila saja." Kata pria itu.
"Kecelakaan apa? aku tidak pernah mendengarnya. Jadi, dulunya Nabila itu adalah kekasih Rafa." Kata Luna sedikit terkejut.
"Apa kau benar-benar tidak tau tentang kecelakaan itu? Kalian kan calon tunangan. Apa keluarganya tidak ada yang mengatakan kepadamu soal kecelakaan Rafa itu?" Tanya pria misterius itu.
"Tidak ada, bahkan ayahnya pun tidak pernah cerita kepadaku. Sepertinya mereka sekeluarga benar-benar menyembunyikan tentang kecelakaan itu." Kata Luna.
"Lalu, kenapa Nabila itu harus bekerja diruangan Rafa?" Tanya Luna lagi.
"Sepertinya Rafa masih belum ingat dengan Nabila. Tapi, Sepertinya Rafa sudah mulai merasakan hal-hal yang janggal antara dirinya dan Nabila. Dan sepertinya Nabila ingin Rafa mengingatnya kembali. Karena itu, mereka sering berdua sekarang." Kata pria itu.
"Hah, dasar wanita tidak tau diri! jelas-jelas Rafa sudah punya calon tunangan. Masih juga didekatin. Dia itu hanya masa lalu Rafa! akulah masa depan Rafa! wanita itu harus dikasih pelajaran." Kata Luna marah.
"Sekarang kamu punya tugas baru." Kata Luna kepada pria itu. Tak lupa dengan senyum sinisnya.
__ADS_1