Kamu Matahari Dan Aku Bulan

Kamu Matahari Dan Aku Bulan
Episode 83 Kemarahan Luna


__ADS_3

Nabila benar-benar terkejut dengan kehadiran Luna itu. Nabila tidak pernah terpikir kalau ia akan ketahuan oleh Luna karena bekerja diruangan Rafa ini. Sebelumnya sebenarnya Luna sudah tau kalau Nabila bekerja diruangan Rafa ini. Tapi ia memasang ekspresi terkejut agar Rafa dan Nabila tidak tau kalau sebelumnya Randi sudah lebih dulu memberitahunya.


"Kau Nabila kan, salah satu karyawan baru disini. Kenapa kau berada diruangan Rafa? diruangan seorang CEO dari perusahaan ini. Kau kan bukan sekretaris atau manajernya. Bagaimana bisa kau disini." Kata Luna.


Ia memasang wajah ekspresi heran. Padahal dalam hatinya Luna benar-benar bahagia karena akhirnya dia bisa langsung mengetahui kalau Nabila benar-benar bekerja diruangan Rafa.


"Luna, siapa yang menyuruhmu masuk kedalam ruanganku. Kan sudah kukatakan kalau kau ingin bertemu denganku kita bisa bertemu diluar saja lagi." Kata Rafa. Ia benar-benar sangat mencemaskan Nabila saat ini.


Luna kembali berbalik lagu menghadap Rafa. Ia tersenyum sekilas.


"Apa salahnya aku datang kesini? aku bebas mau masuk ke ruanganmu atau tidak. Aku ini kan calon tunanganmu. Tidak ada peraturan yang melarang aku untuk tidak boleh masuk keruangamu." Kata Luna.


Pada saat itu juga Luna melihat foto yang ada diatas meja Rafa. Foto Nabila dan Rafa yang sedang berciuman dipantai kemaren. Luna langsung tersenyum sinis dan menatap Rafa kembali.


"Sepertinya aku tau apa alasanmu melarangku untuk datang ke ruanganmu ini. Jadi, sudah sampai mana hubungan kalian berdua?" Tanya Luna. Ia melipat kedua tangannya di dada dan melihat Nabila dengan tatapan sinis.


Rafa baru sadar foto tadi masih dia letakan diatas mejanya. Rafa langsung mengambil foto itu dan menyimpannya. Rafa langsung menghampiri Luna dan berdiri didepannya.


"Luna, kita bicarakan ini diluar saja." Kata Rafa sambil berusaha menarik tangan Luna. Tapi Luna langsung melepaskan tangannya dari pegangan Rafa secara paksa.


"Apa! tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Aku sudah tau semuanya!" Kata Luna dengan nada yang sedikit tinggi.

__ADS_1


Nabila pun hanya bisa diam dan menahan rasa sakit dihatinya. Semua ini sudah terlanjut diketahui oleh Luna. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan dan disembunyikannya.


"Dia hanya pegawai baru disini. Dia tidak punya ruangan. Dia bekerja disini hanya untuk sebulan saja. Hanya untuk festival itu saja. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan." Kata Rafa. Ia berusaha untuk menjelaskan kepada Luna agar ia paham dan tidak menimbulkan masalah yang lebih besar lagi.


"Rafa, sepertinya kau perlu melakukan pembangunan lagi. Sepertinya kantormu ini kurang besar untuk menambah satu ruangan lagi untuk karyawan baru disini." Kata Luna. Ia berkata dengan sangat sinis sambil menyindir Rafa.


"Dan baru kali ini juga aku lihat karyawan baru diperbolehkan bekerja diruangan CEO nya sendiri. Ruangan yang sangat pribadi untuk seorang atasan. Sepertinya kau karyawan yang sangat spesial disini. Aku benar-benar iri denganmu. Aku saja calon tunangannya tidak diperbolehkan berkunjung setiap hari keruangannya ini. Tapi, kau malah diperbolehkan bekerja diruangannya ini." Kata Luna sambil tertawa menyindir.


"Luna, aku sudah cukup menjelaskan kenapa dia bekerja disini. Dia hanya karyawan baru yang bekerja disini. Ia masih harus banyak bimbingan untuk festival itu. karena itu ...." Ucapan Rafa terpotong.


"Karena itu kau rela membiarkan dia bekerja disini! kenapa tidak sekretarismu saja yang membimbingnya. Karyawan lain yang sudah profesional juga bisa membantunya bekerja. Apa sekarang membimbing karyawan baru juga sudah menjadi tugas seorang CEO?" Tanya Luna. Ia benar-benar terlihat kesal


Nabila masih terdiam dengan perasaan yang bergitu tertekan. Ia tau betul Luna benar-benar menyindirnya saat ini. Ia tidak tau harus berkata apa. Ia tidak bisa melawan Luna saat ini.


"Jadi, sekarang kau juga memperhatikan perasaan karyawanmu ya. Benar-benar seorang CEO yang sangat bertanggung jawab dengan karyawannya." Kata Luna tersenyum sinis.


"Hmmm, tapi tunggu. Sepertinya kalian juga sudah tidak seperti atasan dan bawahan lagi. Apa hubungan kalian sudah lebih dari itu? apa jangan-jangan kalian juga sudah merencanakan pertunangan? atau pernikahan?" Tanya Luna dengan sangat sinis.


"Hei Nabila! kau mau dijadikan istri ke berapa? kedua? ketiga? atau pertama? tapi tidak mungkin jadi istri pertama. Karena aku lah yang akan menjadi istri pertamanya. Kau tidak bisa mengambil posisi itu." Kata Luna dengan tawa yang dibuat-buat.


Mendengar semua itu hati Nabila benar-benar terasa tersakiti dan sedih. Ia seperti dipukul dengan kenyataan yang sebenarnya. Kalau saat ini Nabila itu bukan siapa-siapa Rafa lagi. Luna sudah mengambil posisi Nabila itu. Ia akan menjadi pasangan hidup Rafa. Nabila hanya ingin menangis saat ini. Tapi, ia menahan semua itu. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya karena rasa amarah yang tidak bisa dikatakannya.

__ADS_1


"Luna! berhenti!! jaga ucapanmu itu. Kau sudah sangat keterlaluan." Kata Rafa. Ia membentak Luna.


"Hahhh!!! sekarang kau juga sudah membela dia ya. Sepertinya benar hubungan kalian sudah lebih dari sekedar rekan kerja. Aku ucapkan selamat." Kata Luna.


Ia berjalan mendekat kearah Nabila dan berniat untuk bersalaman dengan Nabila sebagai ucapan selamatnya untuk Nabila. Tapi, Nabila hanya menunduk dan tidak membalas uluran tangan Luna itu.


"Baik, aku tau sepertinya kau takut denganku ya. Apa karena kau sadar kau seharusnya tidak berhubungan dengan Rafa. Karena dia itu milikku. Ingat itu! aku juga tidak mau bersalaman dengan orang bawahan sepertimu. Kita tidak sebanding, kedudukanku juga lebih tinggi daripadamu. Kau juga seharusnya tau diri akan hal itu." Kata Luna. Ucapannya sangat ketus.


"Luna!!! keluar sekarang!!!" Kata Rafa. Saat ini Rafa benar-benar sangat marah dengan Luna. Ia benar-benar sudah sangat keterlaluan. Ia benar-benar menyakiti perasaan Nabila.


"Sekarang kau sudah pandai mengusirku, ya." Kata Luna.


"Aku bilang keluar sekarang!!!!" Kata Rafa. Ia benar-benar tidak mendengar ucapan Luna lagi.


"Baik! aku akan keluar. Aku juga tidak ingin lama-lama berada di satu ruangan dengan orang yang suka merebut apa yang sudah seharusnya milik orang lain. Benar-benar menjijikkan." Kata Luna sambil menatap Nabila tajam. Luna pun berjalan kearah pintu. Tapi, sebelum Luna membuka pintu. Ia kembali berbalik dan melihat Nabila.


"Hei Nabila! satu hal yang harus kau ingat!! kau tidak akan pernah bisa mengambil posisi ku itu." Kata Luna. Setelah itu baru ia benar-benar keluar dari ruangan Rafa.


Setelah Luna keluar, Nabila langsung terduduk dikursinya. Seluruh badannya sekarang rasanya benar-benar bergetar karena menahan rasa sakit, amarah dan kesedihannya karena perkataan Luna itu. Perasaannya benar-benar terluka.


Rafa pun menghembuskan nafas berat dan mengusap kepalanya. Ia benar-benar tidak menyangka Luna akan datang kesini dan mengatakan hal-hal yang menyakiti Nabila. Rafa pun langsung menghampiri Nabila. Ia berdiri tepat didepan Nabila.

__ADS_1


"Nabila..." Kata Rafa. Tapi, Nabila langsung berdiri dan mengacuhkan Rafa. Saat ini Nabila benar-benar tidak ingin berbicara dengan Rafa dulu. Hatinya semakin terasa sakit jika ia menatap Rafa. Perkataan Luna teringat dikepalanya, kalau Nabila tidak akan pernah menjadi milik Rafa.


"Aku ingin keluar. Aku ingin mencari udara segar dulu, disini terlalu sesak." Kata Nabila. Ia pun berjalan keluar dan meninggalkan Rafa sendiri diruangannya itu.


__ADS_2