Kamu Matahari Dan Aku Bulan

Kamu Matahari Dan Aku Bulan
Episode 76 Kesalah Pahaman


__ADS_3

Luna mengejar Rafa yang sudah lebih dulu pergi dari hadapannya tadi. Sesuai dengan apa yang dikatakan Luna tadi kepada Randi. Ia ingin memberi sedikit peringatan kepada Nabila. Luna ingin Nabila sadar kalau dia bukan siapa-siapa dihati Rafa sekarang. Dulu mungkin Nabila adalah orang yang sangat spesial dihati Rafa. Tapi, sekarang tidak.


Luna terus berlari mengejar Rafa. Ia akan sedikit berakting didepan mereka. Ia ingin membuktikan kepada Nabila. Kalau Rafa bisa juga perhatian kepada Luna.


"Rafa! tunggu aku." Kata Luna. Ia berteriak memanggil Rafa. Mereka bertiga pun serentak menoleh ke Luna. Rafa langsung terkejut saat tau ternyata Luna mengikutinya dari belakang.


"Tunggu aku Rafa! awww." Kata Luna. Saat ia berlari kearah Rafa. Tiba-tiba Luna terjatuh. Kali ini Luna tidak sedang berakting. Ia benar-benar terjatuh tanpa disengaja. Ia tersandung sebuah batu. Luna meringis kesakitan karena kakinya berdarah.


Mereka bertiga sontak terkejut saat melihat Luna terjatuh. Awalnya, Rafa cuek dan tidak peduli. Ia mengira Luna hanya berakting karena ingin mendapatkan perhatian dari Rafa. Rafa sudah tau sifat Luna yang seperti itu. Rafa malah berbalik dan tidak melihat Luna lagi.


"Rafa, bantu dia. Dia benar-benar terjatuh. Kakinya juga terluka. Bagaimanapun dia adalah calon tunanganmu." Kata Nabila. Ia berbicara sambil menatap Rafa dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tapi... dia itu hanya berakting." Kata Rafa. Ia sama sekali tidak berniat membantu Luna.


"Tidak, dia benar-benar terjatuh. Bantu dia!" Kata Nabila. Tanpa senyuman Nabila menyuruh Rafa membantu Luna. Saat ini membantu Luna adalah hal yang memang harus dilakukan Rafa sekarang.


Karena Nabila memaksa. Rafa akhirnya berlari kearah Luna. Kaki Luna benar-benar berdarah dan sedikit terluka. Rafa berlutut didepan Luna dan Ia pun memegang kaki Luna. Ternyata, benar-benar ada luka yang tidak dibuat-buat, Nabila benar. Luna tidak berakting.


"Kau pikir aku berpura-pura jatuh seperti ini. Siapa juga yang mau berakting melukai dirinya seperti ini." Kata Luna. Ia terlihat kesal karena raut wajah Rafa mengatakan kalau Luna sepertinya hanya berpura-pura.

__ADS_1


"Siapa juga yang menyuruh kau untuk lari-lari seperti itu. Sudah tau disini jalannya banyak batu." Kata Rafa. Ia mengeluarkan sapu tangannya. Lalu ia menutup luka Luna dengan sapu tangannya. Luna sedikit meringis saat luka di kakinya tersentuh oleh sapu tangan Rafa.


"Awwww, sakit." Kata Luna. Reflek ia memeluk Rafa karena kakinya benar-benar terasa sakit.


"Dasar manja. Luka sekecil itu saja kau sudah meringis." Kata Rafa. Ia mencoba melepaskan pelukan Luna. Tapi, pelukannya terlalu kuat.


Nabila melihat semua itu. Saat Rafa memegang kaki Luna. Saat Rafa mengambil sapu tangannya dan menutup luka Luna. Dan saat Luna memeluk Rafa. Dari tempat Nabila berdiri. Nabila melihat Rafa hanya diam dan tidak melepas pelukan Luna. Padahal, sebenarnya disana Rafa sudah berusaha untuk melepaskan pelukan itu. Tapi, Luna menahannya. Ada kesalah pahaman yang terjadi.


"Tasya, kita duluan saja. Mereka sepertinya akan lama. Pekerjaan kita masih banyak." Kata Nabila. Tasya hanya bisa mengangguk. Ia mengerti perasaan Nabila sekarang. Ia tau pasti Nabila merasa cemburu melihat Rafa berpelukan dengan Luna. Tasya paham hati Nabila sekarang pasti terasa sangat sakit.


"Nabila, tadi kenapa kau berbicara sepert itu dengan pak Rafa? kau berbicara sedikit keras dan tidak formal." Kata Tasya.


"Ahh, tadi itu aku terlalu emosi melihat pak Rafa. Jelas-jelas calon tunangannya terjatuh dan sedang kesakitan. Tapi, ia seakan-akan tidak peduli dan pergi begitu saja. Itu tindakan yang tidak baik. Aku hanya berpikir. Tidak seharusnya pak Rafa melakukan itu." Kata Nabila. Ia baru sadar saat ia berbicara seperti itu dengan Rafa. Tasya masih berada disampingnya.


"Benar juga katamu Nabila. Tapi kalau dilihat-lihat sepertinya pak Rafa juga tidak masalah jika kau berbicara seperti itu dengannya. Ia tidak marah ataupun terkejut. Saat kau berbicara seperti itu. Ia malah terlihat biasa-biasa saja. Seakan-akan kalian sudah sering berbicara seperti itu." Kata Tasya.


"Tidak mungkin. Dia atasanku dan aku bawahannya. Itu juga pertama kalinya aku berbicara seperti itu dengan pak Rafa. Semoga pak Rafa tidak memarahiku. Sudahlah, pekerjaan kita menunggu Tasya." Kata Nabila.


Ia terlihat gugup saat Tasya mengatakan hal itu. Nabila hanya takut jika Tasya tau hubungan mereka. Padahal, nyatanya Tasya juga sudah tau. Nabila pun jalan lebih dulu dari Tasya. Ia benar-benar tidak ingin membahas itu lagi. Tasya pun hanya bisa tersenyum melihat wajah kepanikan Nabila itu. Setelah itu ia menyusul Nabila.

__ADS_1


"Sudah, berdirilah." Kata Rafa. Saat ini ia sudah berdiri. Sedangkan, Luna masih terduduk. Ia berusaha berdiri tapi kakinya terlalu lemah karena lukanya itu.


"Aku tidak bisa berdiri. Kakiku sakit. Kau seharusnya membantuku." Kata Luna ia terlihat kesal karena Rafa tidak mau membantunya.


"Kau ini benar-benar manja. Hanya karena luka kecil seperti itu. Kau tidak bisa berdiri." Kata Rafa terlihat cuek.


"Baiklah, Kalau begitu aku akan telepon ayahmu dan mengatakan kalau kau punya hubungan dengan Nabila." Kata Luna. Ia mengancam Rafa lagi. Karena ini satu satunya cara yang bisa Luna lakukan.


"Kau ini! baiklah! aku akan bantu kau berdiri. Cepat, pegang tanganku." Kata Rafa. Ia benar-benar kesal dengan Luna. Ia kembali membawa-bawa nama Nabila.


Luna pun berhasil berdiri berkat bantuan dari Rafa. Ia juga tidak bisa berjalan sendiri. Alhasil, Luna pun harus memeluk lengan Rafa agar ia bisa berjalan. Mereka pun jalan bergandengan. Rafa pun hanya bisa menghembuskan nafas berat melihat kelakuan Luna.


Mereka berdua pun kembali jalan kearah yang sama dengan Nabila tadi. Rafa masih harus melakukan pekerjaan bersama Nabila. Karena ia sudah berjanji untuk membantu Nabila tadi. Luna pun ikut bersama Rafa karena ia hanya bisa berjalan jika Rafa memegangnya.


"Nabila, lihatlah itu pak Rafa. Ia bersama Luna. Calon tunangannya." Kata Tasya sambil menunjuk mereka berdua yang berjalan kearah mereka.


Nabila pun menoleh dan melihat mereka berdua. Ia melihat Luna yang memegang lengan Rafa begitu erat. Ia juga melihat Rafa yang tampak biasa-biasa saja saat Luna memegang lengannya. Hati Nabila terasa sakit. Ia berpikir sepertinya Rafa senang bisa melakukan itu bersama Luna. Padahal, tanpa Nabila tau Rafa pun sangat tidak ingin melakukan itu. Ini hanya paksaan dari Luna saja. Tapi, Nabila tidak tau. Kesalah pahaman pun terjadi diantara mereka berdua.


"Tidak usah pedulikan mereka. Kita lanjut bekerja saja." Kata Nabila. Ia langsung berbalik arah dan tampak tidak peduli lagi dengan Rafa.

__ADS_1


__ADS_2