
Saat Nabila mengatakan kepada Erick bahwa ia bekerja disini bersama Rafa. Erick langsung tidak percaya. Kenapa Nabila seberani itu. Kenapa ia mengambil resiko itu.
"Jadi, kau hanya bekerja sebulan disini? owh, hanya untuk festival itu saja." Kata Erick. Saat ini mereka berdua sedang berdiri di salah Isatu pohon rindang masih dekat kantor Rafa.
"Iya, karena itu. Aku akan berusaha dengan cara ku sendiri. Kau menyuruhku untuk menjauhinya kan. Tapi, aku malah semakin dekat dengannya. Ini salah satu caraku." Kata Nabila.
"Kenapa kau begitu yakin. Bahwa Rafa bisa kembali seperti dulu lagi dan mengingat dirimu. Kenapa tidak kau rela kan saja Rafa
itu." Kata Erick heran. Kalau dilihat Nabila benar-benar sangat gigih dan pantang menyerah sekali.
"Awalnya, aku merasa heran dan sangat penasaran kenapa Rafa tiba-tiba bisa begitu lupa denganku saja. Aku merasa itu sangat tidak adil. Tapi, semakin berusaha aku semakin yakin keikhlasan cintaku lah yang membawa aku sejauh ini. Keikhlasan inilah yang membuat aku ingin melihat Rafa bahagia dan tidak mengalami hal seperti ini. Dia juga patut bahagia. Dia punya hak untuk mengetahui masa lalunya. dan menjalani kehidupannya dengan lebih baik lagi. Bukan seperti ini, dihantui terus dengan bayangn yang menakutkan itu." Kata Nabila dengan semangat menggebu-gebu.
"Aku ikhlas jika pada akhirnya Rafa tidak bersamaku lagi. Tapi, setidaknya biarkan dia tau dan memilih jalan kehidupannya sendiri." Kata Nabila lagi.
"Takdir yang membawanya seperti ini. Kau maupun aku tidak punya daya apa-apa untuk membantunya." Kata Erick.
"Aku akan berusaha dulu. Aku yakin dia bisa. Dan aku bisa." Kata Nabila yakin.
"Baiklah, aku sudah membantu untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku hanya bisa membantumu sampai disini." Kaya Erick.
"Tapi, perkataan mu waktu itu. Belum kau lanjutkan." Kata Nabila.
"Iya, sebenarnya Rafa tidak lupa ingatan setelah ia sadar dari komanya itu. setelah itu ada seuatu yang tidak bisa ku jelaskan. Kau harus mencari taunya sendiri." Kata Erick.
"Kenapa? tidak ada yang akan tau kalau kau mengatakannya kepadaku. Aku akan diam." Kata Nabila.
"Tidak, ini tuntutan kewajiban yang harus aku kerjakan. Sebenarnya aku menyesal, tapi aku tidak bisa apa-apa." Kata Erick.
__ADS_1
Nabila hanya bisa mendengar dan tidak mengerti maksud dari perkataan Erick.
Penyesalan? maksudnya? pikir Nabila.
"Sudah, aku harus pergi. Kau juga harus kembali bekerja. Nanti Rafa mencarimu." Kata Erick tersenyum. Nabila tidak bisa memaksakan Erick lagi. Setidaknya, Erick sudah memberitahunya sesuatu hal yang bisa menguatkan dirinya sendiri.
"Baiklah, terimaksih. Karena sedikit banyak kau juga sudah mau terbuka denganku." Kata Nabila tersenyum.
"Aku berharap kalian bisa bersama lagi. Aku mendukung kalian. Sejak dulu aku sudah bisa merasakan cinta Rafa sangat besar untukmu. Begitu juga dirimu. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kita semua." Kata Erick. Nabila terharu dengan apa yang dikatakan Erick. Nabila yakin pasti Erick juga tidak akan mau melukai Rafa.
Setelah Erick pergi Nabila pun bermaksud untuk masuk lagi. Ia juga khawatir jika Rafa menacarinya. Karena Nabila tidak izin dulu tadi.
Tapi, saat Nabila ingin jalan. Tiba-tiba ada orang yang berdiri didepannya. Membuat Nabila berhenti dan langsung melihat siapa itu. Nabila langsung tersentak karena itu Luna.
"Nabila kan? boleh luangakan waktumu sebentar. Aku ingin berbicara denganmu." Kata Luna. Nabila pun penasaran kenapa tiba-tiba. Dan kenapa Luna bisa mengenal namanya. Karena itu, Nabila pun lebih memlih pergi bersama Luna.
Mereka berdua duduk di salah satu kafe dekat denah kantor. Luna dan Nabila duduk berhadapan. Sambil sesekali meminum minuman mereka.
"Ah iya. Karena kau tau namaku." Kata Nabila.
"Perkenalkan, aku Luna. Aku calon tunangan Rafa. Kau pasti tau Rafa kan? Penerus perusahaan Maju jaya. Dan dia adalah calon tunanganku." Kata Luna puas.Tak lupa sengan senyum sinisnya. Ia sudah membuat Nabila cemburu dengan dirinya.
"Rasakan itu. jelas-jelas aku adalah calon tunangan Rafa. Eh tau-taunya dia datang. Dia itu kan cuma masa lalu Rafa." Kata Luna dalam hati.
Mendengar itu hati Nabila dibuat sakit lagi. Nabila seperti ditampar lagi oleh kenyataan. Dimana kenyataan itu mengatakan bahwa Nabila bukan siapa-siapa lagi. Rafa sudah punya calon tunangan. Nabila hanya bisa menutupi kesedihannya dengan tersenyum.
"Kalau aku Nabila. Sebelumnya, kenapa kau tau namaku?" Tanah Nabila. Ia mengalihkan ke pembicaraan lain.
__ADS_1
"Kau kerja di kantor Rafa kan? aku dengar kau salah satu orang yang diandalkan Rafa untuk mensukseskan acara festival tahunan kan." Kata Luna.
"Ahh iya. aku bekerja di kantor Rafa hanya untuk watu satu bulan. Untuk festival itu saja." Kata Nabila dengan senyum terpaksa.
"Ya, aku sudah tau. Rafa sudah menceritakan smeuanya kepadaku." Kata Luna berbohong. Ia ingin memanas- manaskan Nabila.
"Hah??? hubungan Rafa dengan Luna saja tidak baik. Mana mungkin Rafa menceritakan tentang diriku kepadanya. Dasar wanita pembohong." Kata Nabilla dalam hati.
"Tapi, kau bekerja diruangan mana? aku jarang sekali melihat kamu dikantor. Soalnya aku sering ke kantor Rafa. Jadi, sedikit banyak aku sudah hafal dengan karyawan-karyawannya." Kata Luna sedikit sombong.
Nabila berpikir Luna bukanlah orang yang baik. Mana mau Nabila mengatakan kalau dia bekerja di ruangan Rafa. Bisa-bisa saat ini Nabila langsung habis ditangannya. Dan Nabila pun lebih memilih berbohong.
"Aku bekerja di salah ruangan kecil dikantor. Aku bukan pegawai tetap. Jadi, ruanganku juga berbeda dari karyawan lain. Mungkin karena itu kau jarang melihatku di kantor." Kata Nabila dengan senyuman terpaksa.
"Owh begitu. Jadi diruangan lain." Kata Luna.
"Hahhhh, berani juga dia berbohong dihadapanku. Padahal, aku sudah tau dia bekerja diruangan Rafa. Kalau saja dia jujur aku akan memaafkannya dan dan tidak berurusan lagi dengannya. Tapi, ia lebih memilih bohong. Yasudah, jangan salahkan diriku. Jika aku bermain-main denganmu." Kata Luna dalam hatinya.
"Karena kau karyawan baru Rafa aku juga harus berkenalan denganmu kan. Kau kelihatannya juga asik diajak ngobrol. Semoga kita bisa manjadi teman." Kata Luna sambil memberikan tangannya. Luna berniat untuk berjabat tangan dengan Nabila sebagai tanda mereka berteman.
"Hahhh, melihatnya saja aku sudah sangat benci. Jadi teman? apa tidak salah?" Kata Luna dalam hati.
Nabila hanya mengangguk dan tersenyum sekilas. Ia tidak menjabat tangan Luna sama sekali. Mana mau Nabila berjabat tangan dengan orang yang jahat seperti Luna ini.
"Apa! dia bahkan tak menjabat tanganku! awas saja ya! tunggu pembalasan dariku." Kata Luna dalam hati. Luna pun menarik tangannya kembali.
"Aku harus pergi. Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan." Kata Nabila sambil berdiri.
__ADS_1
"Baiklah, aku juga sibuk. terimakasih telah menyempatkan waktumu." Kata Luna sambil tersenyum. Luna pun berbalik dan pergi. Saat sudah membelakangi Nabila. Wajah Luna pun yang tadinya senyum langsung berubah jadi wajah marah. Ia benar-benar sangat marah dengan Nabila.
Nabila pun keluar dari kafe itu dan berniat balik ke kantor. Tapi, tidak jauh dari tempatnya berdiri. Nabila masih melihat Luna. Ia dengan seorang pria. Pria yang sama dengan yang waktu itu dihotel. Luna pun masuk kedalam mobil pria itu.