
Hari ini adalah hari kedua Nabila bekerja dengan Rafa. Untuk penampilan hari ini Nabila memilih setelan baju bewarna dongker. Untuk hari ini Nabila juga mengikat rambutnya yang panjang itu.
Setelah sampai didepan ruangan kerjanya atau ruangan Rafa. Nabila pun membuka pintu perlahan dan melihat kedalam dan ternyata
Rafa belum datang.
"Tumben dia belum datang. Biasanya dia datang paling awal." Kata Nabila masih melihat dari pintu.
"Siapa yang kau tunggu? aku ya?" Tanya Rafa. Ia tiba-tiba muncul dibelakang Nabila dan membuat Nabila kaget.
"Tidak, aku tidak menunggu siapa siapa." Nabila pun langsung masuk dan duduk di kursinya.
Rafa hanya tertawa melihat tingkah Nabila yang terlihat malu-malu itu.
Setelah itu, Rafa pun juga masuk kedalam ruangan kerjanya. Ia meletakan tasnya diatas meja dan merapikan dasinya yang sedikit berantakan. Tapi setelah dirapikan pun dasi itu masih terlihat berantakan. Nabila menyadari itu dan ia pun berniat untuk membantu Rafa merapikan dasinya.
"Apa boleh aku bantu?" Tanya Nabila. Ia tiba tiba sudah berdiri didekat Rafa.
Nabila awalnya terlihat ragu. Tapi karena Nabila kasihan melihat Rafa yang kesusahan merapikan dasinya Nabila berinisiatif membantunya.
"Aku kurang ahli dalam memakai dasi. Kalau mau kau boleh membantuku?" Kata Rafa malu malu. Karena memang sejak tadi dasinya tidak rapi.
Nabila pun langsung maju mendekat kearah Rafa. Ia merapikan dasi Rafa. Setiap gerakan yang dilakukan Nabila membuat Rafa tak bisa berkutik dan melihat Nabila dengan jarak yang dekat.
"Matanya sangat indah. Bulat dan bola matanya bewarna hitam. Hidungnya yang mungil dan mancung. Bibirnya yang kecil bewarna pink. Rambutnya panjang dan bewarna hitam.Tunggu, kenapa rambut panjangnya terasa tidak asing ya." Kata Rafa dalam hati.
"Sudah, dasinya lebih terlihat rapi daripada sebelumnya." Kata Nabila tersenyum kearah Rafa.
Nabila dan Rafa pun melihat kearah dasi itu dan memang dasi itu terlihat rapi daripada sebelumnya.
Tiba tiba, sekretaris Rafa masuk dan terkejut dengan apa yang sedang dilakukan Nabila dan Rafa. Mereka saling tersenyum satu sama lain dengan jarak yang sedikit dekat.
"Ehem, permisi Pak." Sekretaris Kim terlihat ragu memanggil Rafa.
Rafa dan Nabila pun sama sama terkejut dan langsung refleks menjauh. Nabila pun langsung duduk kembali ke meja kerjanya dan terlihat sedikit malu.
"Ada perlu apa?" Tanya Rafa ke sekretarisnya.
"Hari ini, Bapak punya jadwal rapat dengan karyawan yang mengatur acara festival itu, Pak." Kata sekretaris Rafa.
"Baiklah, jam berapa mulai rapatnya?" Tanha Rafa.
__ADS_1
"Sekitar 10 menit lagi, Pak." Kata sekretaris Kim, sambil melihat jam tangannya.
"Baiklah, kita langsung saja pergi sekarang keruangan rapatnya." Kta Rafa. Ia pun berjalan bersama sekretarisnya.
"Hei, Nabila, kenapa kau tidak ikut?" Tanya Rafa heran.
"Apa aku ikut juga dalam rapat itu?" Tanya Nabila sedkit bingung.
"Tentu saja, kau kan karyawanku. Kau juga yang akan mengatur acara festival itu. Jadi tentu saja kau harus ikut." Kata Rafa tersenyum.
"Owh, begitu ya, baiklah." Nabila pun jalan bersama Rafa dan sekretarisnya.
Setelah sampai dirungan rapat. Semua karyawan yang ikut andil untuk acara festival itu ternyata sudah datang. Mereka bersikap sopan saat kedatangan Rafa. Kedatangan CEO mereka sendiri.
Tapi, saat melihat Nabila masuk bersama Rafa. Para karyawan itu pun langsung berbisik bisik dengan reka sebelahnya. Bahkan ada yang melihat Nabila dengan wajah yang tak suka. Bahkan ada yang bertanya tanya dan heran siapa Nabila dan kenapa bisa datang bersama Rafa.
"Siapa dia? dia bukan karyawan disini. Apa dia sekretaris baru Pak Rafa? kenapa dia begitu dekat dengan Pak Rafa." Semua bisikan karyawan itu jelas terdengar di telinga Nabila dan membuat hatinya sedih.
"Baiklah, diam semuanya! kenapa kalian sangat meribut!" Kata Rafa dengan nada yang sedikit tinggi.
Semua karyawan langsung terdiam setelah Rafa mengatakan itu.
"Sebelum kita mulai rapat ini. Terlebih dulu saya akan memperkenalkan seorang karyawan baru yang akan membantu kita untuk mensukseskan acara festival tahun ini." Kata Rafa. Ia pun mempersilahkan Nabila untuk memperkenalkan diri.
"Jadi, kalian juga harus bekerjasama dan membantunya." Perintah Rafa.
Setelah Nabila memperkenalkan diri, rapat pun dimulai. Semua karyawan membahas tentang bagaimana dan apa tema yang akan mereka angkat untuk festival tahun ini. Semua tampak mengeluarkan pendapatnya dan meminta saran dan masukan dari Rafa.
Nabila pun hanya bisa diam di rapat itu. Ia masih belum terlalu paham dengan konsep di festival ini. Ia masih seorang pemula yang harus banyak mendengar pendapat dari karyawan yang sudah lebih berpengalaman.
Setelah rapat selesai, Rafa pun langsung pergi bersama sekretarisnya karena ada beberapa pertemuan dengan beberapa tamunya.
Nabila pun mengambil bukunya dan beberapa kertas yang ia gunakan tadi. Ia bersiap keluar dari ruangan itu, tapi seketika pergerakannya terhenti.
"Kenapa Pak Rafa mau mempekerjakan dia? apa dia bisa dipercaya?"
"Sepertinya ia tidak terlalu berbakat dalam urusan begini. Dia bahkan hanya diam saja tadi." Lanjut karyawan itu.
Ternyata Nabila terdiam karena ia mendengar percakapan yang dilakukan oleh beberapa karyawan yang akan keluar. Bahkan, hampir semua karyawan membicarakan dirinya.
"Sudahlah, jangan didengar omongan mereka. Mereka emang seperti itu, ada saja karyawan baru pasti di omongin seperti itu. Santai saja." Tiba tiba ada seseorang wanita yang menepuk pundak Nabila dan berbisik ditelinga Nabila.
__ADS_1
"Perkenalkan namaku Tasya. Aku salah satu karyawan disini." Kata cewek itu. Ternyata cewek itu ada Tasya salah satu karyawan di perusahaan ini.
"Perkenalkan namaku Nabila." Kata Nabila tersenyum. Mereka pun saling berkenalan dan berbincang bincang berdua sambil keluar dari ruangan tadi.
"Jadi, kau bekerja disini hanya untuk sebulan saja?" Tanya Tasya setelah mendengar cerita dari Nabila.
Nabila merasa Tasya adalah orang baik. Ia bisa langsung dekat dengannya karena sikap ramah dan cerianya itu.
"Iya, aku hanya akan bekerja disini selama sebulan saja. Aku cuma ditugaskan untuk membantu mensukseskan acara festival itu." Kata Nabila.
"Owh, apa Pak Rafa sendiri yang memintamu untuk melakukan pekerjaan ini?" Tanya Tasya.
"Iya, dia yang memintaku langsung untuk bekerja disini." Kata Nabila.
"Pasti Pak Rafa sudah sangat percaya denganmu. Setauku Pak Rafa bukan tipe orang yang asal memilih orang. Ia pasti sudah tau dan sudah membuktikan sendiri kemampuan yang kau miliki." Kata Tasya tersenyum kearah Nabila.
Nabila hanya bisa tersenyum dan merasa bahagia.
"Apakah benar begitu? jika dia memang se percaya itu denganku hal itu akan memudahkanku untuk membuatnya mengingat kembali tentang diriku." Kata Nabila dalam hati.
"Kau sangat beruntung. Selamat, semoga kita bisa bekerjasama ya. Kita juga kita bisa menjadi teman selama kau disini." Kata Tasya.
"Terimakasih, aku sangat senang jika kau mau menjadi temanku. Soalnya jika aku liat, karyawan yang lain sangat sulit untuk diajak berteman." Kata Nabila tersenyum. Sambil berbisik di telinga Tasya. Tasya kemudian tertawa mendengar bisikan Nabila itu.
"Oiya, ruanganmu dimana?" Tasya bertanya kepada Nabila.
Seketika Nabila bingung harus menjawab apa. Kalau orang tau ruangannya adalah diruangan Rafa. Seorang CEO perusahaan ini, pasti semua orang terkejut dan semua orang pasti akan memandang rendah dirinya. Bagaimana dengan nasibnya, ia pasti akan dibully oleh karyawan disini.
"Owhhhh ruanganku di ...." Ucapan Nabila pun tergantung.
"Nabila, kau disini?" Ternyata itu Randi yang tiba tiba memanggilnya.
Tasya dan Nabila pun langsung secara bersamaan melihat kearah Randi, Tasya ternyata juga mengenal Randi, semenjak Randi bekerja disini Tasya sudah sering bertemu dengannya. Karena itulah Tasya sudah kenal dengan Randi.
"Hei Randi, kau disini, dan kau kenal juga dengan Nabila?" Tanya Tasya.
"Iya, aku sudah mengenal Nabila lebih dulu darimu. Dia temanku juga." Kata Randi tersenyum kearah Tasya.
"Oiya, Nabila, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, apa kau punya waktu?" Tanya Randi.
"Kalau begitu, aku balik kerja dulu ya
__ADS_1
Nabila, sampai jumpa lagi." Tasya melambaikan tangannya kearah Nabila, begitupun Nabila kearah Tasya.
"Ada sesuatu yang harus aku tanyakan denganmu." Randi berbicara serius.