Kamu Matahari Dan Aku Bulan

Kamu Matahari Dan Aku Bulan
Episode 25 Lily


__ADS_3

Keesokan Harinya...


Toko Bunga


Hari pertama bekerja bersama William terasa biasa saja. Arina tidak merasa kalau William membantu pekerjaannya. Semenjak kemaren, William hanya menyambut pembeli saja dan tidak membantu Arina membungkus ataupun membersihkan bunga bunga disana. Hal ini membuat Arina kembali kesal.


"Tuan, yang paling saya hormati ... apakah tuan bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Hamba sangat memohon." Kata Arina. Ia melihat William dengan tatapan kesal. Ia berbicara seakan akan menyindir William yang kerjaannya hanya bersantai dan tidak membantunya.


"Aku berada disini emang harus diperlakukan sebagai tuan. Aku seorang desainer. Bekerja seperti ini membuatku lelah." Kata William. Dengan gaya santainya dan lanjut membaca korannya.


"Aku tidak peduli apa profesimu sebenarnya. Yang terpenting sekarang kau bekerja disini. Jadi kau harus profesional dong." Kata Arina. Sambil melirik William, Arina melipat kedua tangannya di dada.


"Hari ini pembeli juga tidak terlalu banyak yang berkunjung. Jadi, setidaknya biarkan aku bersantai dulu." William melanjutkan membaca koran.


"Pekerjaanmu masih banyak. Kau bisa menyapu lantai atau kau ..." Kata Arina. Ia langsung terhenti karena ada seorang pembeli yang masuk ke toko.


William pun yang tadinya sedang membaca koran langsung berdiri dan menyambut pembeli itu.


"Selamat datang, Buk. Adakah sesuatu yang bisa saya bantu?" Tanya William dengan sangat ramah dan sopan.


"Huh, tadinya jutek sekarang malah sok ramah. Dasar berwajah dua." Kata Arina kesal dalam hatinya.


"Saya ingin mencari bunga yang cocok untuk pesta ulang tahun anak saya. Bisa tolong carikan bunga mana yang cocok. Yang harus saya beli." Kata ibu itu. Sambil melihat lihat bunga disekitarnya ibu itu berbicara dengan William.


"Baiklah, saya akan membantu Ibu mencarikan bunga mana yang cocok untuk pesta itu." Kata William. Lalu, William pun berjalan menjauh dari ibu itu. Ia melihat lihat dan mencari cari bunga mana yang pas untuk acara seperti itu.


Setelah dapat bunga mana yang cocok, William pun mendekati ibu tadi dan membawa satu tangkai bunga itu sebagai contoh untuk ibuk itu.


"Bagaimana dengan bunga Lily ini, Buk. Menurut saya bunga ini mengungkapkan rasa bahagia dan menyebarkan aura positif saat momen pesta ulang tahun, Buk." Kata William. Ia tersenyum sambil memperlihatkan bunga Lily itu kepada si ibu.


"Sepertinya, bunga ini juga kelihatan cantik." ibu itu melihat lihat bunga Lily yang diberikan William tadi.


"Selain itu, bunga Lily juga memliki simbol bagi orang yang anda sayangi untuk terlahir kembali menjadi pribadi yang lebih baik lagi." William kembali tersenyum ke arah ibuk tadi.

__ADS_1


Seketika Arina terpukau dengan pengetahuan yang dimiliki William. Ia tak menyangka ternyata William ahli juga kalau dalam urusan bunga. Arina pun tersenyum senyum sendiri melihat William.


"Whaa, kau hebat juga ya, kau tau betul tentang bunga ini. Selain itu, kau juga sangat tampan." Ibu itu mencolek tangan William. Membuat ia terkejut dan tersenyum terpaksa.


"Apa kau sudah punya pacar? kau mau tidak menjadi menantu ibuk." Tanya ibu itu. Seketika William dibuat terkejut dengan perkataan ibu itu.


"Saya belum kepikiran soal itu, Buk. Saya masih fokus untuk bekerja dulu." William berusaha menjelaskan kepada Ibuk itu dengan baik.


Arina yang mendengar perkataan ibuk tadi seketika dibuat tertawa. Ia juga menertawai wajah William yang terlihat sangat malu. William melihat ke arah Arina yang sibuk menertawainya. Ia mengeluarakan mata melototnya dan dalam bahasa isyarat ia menyuruh Arina untuk diam.


"Jadi, apa Ibuk akan memesan bunga yang ini?" Tanya William. Ia berusaha untuk memindahkan topik pembicaraan.


"Ahh iya, yang ini saja," Kata ibu itu.


Arina pun berjalan dan menghampiri William, ia berbisik ditelinga William.


"Biar aku saja yang membungkus, kau sepertinya tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya." Seketika Arina tertawa melihat ekspresi William.


Setelah itu, Arina membungkus bunga pesanan ibu tadi. Setelah selesai Arina pun memberikan bunga itu dan Ibu tadi melakukan pembayaran dengan Arina. Setelah itu, ibu tadi pergi, William pun duduk di kursi dengan wajah kesal.


"Ahaha, ekspresimu sangat lucu. Apa kau malu? karena belum punya pasangan?" Arina tertawa lagi.


William hanya membalas perkataan Arina tadi dengan hembusan nafas barat.


"Ngomong omong, kau ternyata cukup hebat juga ya. Kau tau dengan bunga tadi." Kata Arina. Ia cukup salut dengan pengetahuan yang dimiliki William.


"Aku hanya mengetahuinya sedikit." William berkata sambil melihat kearah Arina.


"Kebetulan bunga Lily adalah bunga favoritku." Kata Arina.


"Benarkah? kau mengingat kan ku pada seseorang," Kata William.


"Siapa?" Tanya Arina heran.

__ADS_1


"Ibuku, Kau sama dengan ibuku. Bunga favoritnya adalah bunga Lily." Kata William sedikit tersenyum tipis.


"Tapi disaat terakhirnya, aku tidak sempat memberikan bunga itu dan Ibu pergi secepat itu. Aku tidak menyangkanya dan aku tidak pernah membayangkannya." Kata William berkata dengan sangat lirih.


"Jadi ... ibumu? Tanya Arina.


"Ya, ibuku sudah meninggal." Kata William sedih.


"Maafkan aku, aku tidak tau kalau ibumu sudah meninggal." Arina merasa bersalah karena ia membuat William mengingat bunya kembali dan terlihat sangat sedih.


"Tidak apa apa, kebetulan hari ini adalah hari ulang tahunnya. Jadi, aku langsung teringat dengan ibu." Kata William lirih.


"Aku berdoa semoga ibumu tenang disana. Kau juga, sebagai anaknya kau harus rajin mengunjungi makamnya dan berdoalah selalu untuknya." Kata Arina.


"Tapi ... ada perasaan menyesal yang aku rasakan. Disaat terakhirnya aku tidak bisa mengabulkan permintaannya." Kata William terlihat sedih.


"Kalau boleh tau, apa keinginan terakhirnya?tapi jika kau tidak mau menceritakannya juga tidak apa apa." Kata Arina. Ia merasa bersalah karena membuka kesedihan William lagi.


"ibu ingin aku menikah dan di hari pernikahanku, Ibu ingin ada seribu bunga Lily." Kata William lirih.


"Tapi, pada saat itu akumenentang keinginan ibu. Aku tidak mengikuti keinginannya dan sekarang aku baru menyesal ternyata itu adalah keinginan terakhir ibu." Kata William. Ia punmenahan air matanya yang hendak turun.


Arina tersentuh dengan cerita William. Ia merasakan kesedihan yang dirasakan William. Ia terbayang jika itu ibunya, ia masih belum sanggup jika Ibunya pergi meninggalkannya.


"Sudahlah, semua sudah berlalu kan. Aku yakin ibumu sekarang melihat dari atas. Ia pasti bahagia sekaligus bangga karena anaknya sekarang sudah sukses." Kata Arina menyemangati William.


"Walaupun waktu itu kau belum bisa memenuhi keinginannya. Aku yakin suatu saat kau pasti akan bisa memenuhi keinginannya. Ia pasti akan terlihat senang di atas sana." Arina meyakinkan William lagi dan tersenyum tulus.


Melihat Arina sebegitu peduli dengannya membuat William melihat sisi baik dari Arina. Walaupun diluar kelihatannya dia pemarah. Ternyata jauh dalam dirinya dia sangat peduli dengan orang lain."


"Ayoklah, jangan bersedih lagi, pekerjaan kita masih banyak. Kau jangan malas malasan lagi Malau tidak aku akan menelepon ibu tadi dan mengatakan kalau kau setuju menikah dengan anaknya." Kata Arina bercanda sambil tertawa.


William pun dibuat tersenyum karena candaan Arina dan seketika kesedihan itu hilang.

__ADS_1


Saat Arina akan membersihkan bunga bunga disana. Tiba tiba ada sebuah pot yang lepas dari talinya dan pot itu tergantung tepas diatas kepala Arina.


"Arina, awas!!" Teriak William. Ia melihat pot itu yang akan terjatuh tepat diatas kepala Arina. I Ia pun cepat cepat melindungi Arina. William memeluk Arina dari arah belakang. Alhasil, punggung William pun yang terkena pot yang terbuat dari bata itu. Arina terkejut karena mendengar suara rintihan William.


__ADS_2