Kamu Matahari Dan Aku Bulan

Kamu Matahari Dan Aku Bulan
Episode 26 Rasa Bersalah


__ADS_3

Karena kejadian yang menimpa William tadi. Arina harus membawa William kerumah sakit terdekat. Punggung William mengalami luka dan sedikit berdarah.


Sesampainya dirumah sakit. William disuruh masuk kedalam ruangan dan Arina menunggu diluar karena ia tidak boleh masuk oleh dokter.


"Apa dia tidak apa apa ya? apakah lukanya parah? aduh, aku takut sekali." Kata Arina, ia tidak bisa diam menunggu diluar. Ia terus mondar mandir khawatir.


Tak lama setelah tu, William pun keluar dari ruangan dengan wajah yang biasa saja.


"Kau tidak apa apa? apa lukanya parah?" Arina langsung menanyakan kondisi William.


"Aku tidak apa apa kok, kau tidak perlu khawatir begitu." Kata William santai. Kemudian William berjalan mendahului Arina karena ia akan mengambil obat resep dari dokter.


"Maafkan aku!" Arina berteriak kearah William.


"Semua sudah terjadi, tidak ada yang tau apa yang akan menimpa diri kita. Jadi, selagi aku bisa melakukanya aku akan melakukannya. Aku tidak ingin lagi ada kata menyesal." William tersenyum tipis dan berjalan duluan


Arina tersentuh ketika William mengatakan hal seperti itu. Arina paham akan perasaan William yang tidak ingin menyesal lagi seperti yang dilakukannya kepada ibunya.


Setelah mengambil obat, William awalnya ingin kembali ke toko dan melanjutkan pekerjaan. Tapi Arina melarangnya.


"Tidak, kau istirahat saja lagi dirumah. Aku akan kembali ke toko dan membersihkan kekacauan tadi." Kata Arina.


"Tapi, ini terlau cepat untuk aku pulang kerumah. Lagipula aku tidak ada kerjaan dirumah. Lebih baik aku ke toko dan membantumu membersihkan toko." Kata William menolak apa yang dikatakan Arina.


Arina sangat merasa bersalah dengan William. Dengan luka seperti itu Arina tidak ingin membebankan William lagi. Ia pun melakukan segala cara agar William tidak kembali ke toko.


"Bagaimana kalau hari ini aku traktir kamu? sebagai ucapan minta maafku juga." Kata Arina kembali merasa bersalah.


"Kan sudah aku bilang aku tidak menyesal melakukan itu. Wku lega karena aku bisa membantumu." Kata Wiliiam.


"Tapi, tetap saja. Jika aku tidak berdiri disitu kau tidak akan terluka seperti ini. Seharusnya aku tau dan merasakan kalau pot itu akan terjatuh." Kata Arina kembali menyalahkan dirinya.


"Percuma aku bicara denganmu, pasti kau akan menyalahkan dirimu terus." Kata William menyerah.


"Baiklah, kau ingin mentraktir aku apa hari ini?"Tanya William, Akhirnya dia setuju dengan traktiran yang ditawarkan Arina tadi.

__ADS_1


"Apa kau suka makan bakso? dekat sini ada warung bakso yang terkenal dengan rasanya yang sangat enak. Kau mau?" Tanya Arina. Wajah Arina langsung berubah bahagia ketika William akhirnya mau.


"Seterah kau saja, yang penting rasanya enak." Kata William.


Mereka pun akhirnya makan bakso di warung dekat sana. Sambil menunggu baksonya datang Arina pun bertanya tanya tentang William.


"Apakah enak hidup di Korea itu?" TanyaArina.


"Kalau menurutku, aku suka hidup disana." Kata William.


"Apa yang paling kau sukai di Korea itu?" Tanya Arina. Ia terus bertanya kepada William karena ia sangat penasaran.


"Aku suka pergantian musimnya. Terutama saat musim." Kata William tersenyum.


"Asiknya, kau bisa menikmati macam macam musim disana. Kalau disini cuma ada musim panas dan hujan saja." Kata Arina. Ia iri karena William bisa menikmati pergantian musim disana.


"Apa kau tidak pernah ke Korea?" tanya William.


"Mana aku punya uang untuk pergi kesana. Uang yang aku hasilkan dari bekerja di toko cukup untuk memenuhi kebutuhanku sehari hari saja. Tapi, aku sudah bersyukur juga." Kata Arina.


Arina kembali kesal dengan omongan William. Mana ada dia menghabiskan uang untuk makan bakso ini saja terus. Dia akan membalas perkataan William tapi pesanan mereka keburu datang.


"Wahh, harumnya sangat menggoda. Sepertinya ini sangat enak." Kata William langsung mencicipi satu sendok kuahnya.


"Lebih enak lagi kalau kau menambahkan 5 sendok makan ke baksonya. Seperti ini." Kata Arina. pun memasukan 5 sendok makan cabe dan mengaduknya.


"Lihatlah warnanya menjadi merah seperti itu. Kau seperti makan cabe saja. Pantesan kau itu orangnya pemarah." Kata William kembali tertawa melihat ekspresi marah Arina.


"Cabe itu membuat seluruh badan kita terasa panas dan hangat. Jika kau campurkan dengan bakso seperti ini rasanya akan lebih mantap." Arina langsung memakan baksonya.


"Whaaa, rasanya sangat enak." Seketika wajah Arina langsung merah karena ia kepedesaan.


William pun tersenyum melihat Arina yang kepedasan. Baru sekali ini dia melihat cewek yang bertingkah apa adanya.


Setelah mereka menghabiskan semangkok bakso itu. Mereka pun duduk disalah satu kursi tepi jalan. Nabila memberikan 1 buah permen ke William.

__ADS_1


"Kalau sudah makan bakso. Lebih baik kau makan permen seperti ini. Agar rasa pedasnya hilang." Kata Nabila.


"Ternyata bakso itu enak juga ya. Aku tidak pernah makan bakso sebelumnya." Kata William.


"Benarkah? kau serius? kau rugi kalau tidak pernah makan bakso." Tanya Arina.


"Aku dulu tidak boleh makan di warung warung seperti itu. Aku hanya boleh makan makanan rumah saja atau makan makanan di restoran terkenal." Kata William.


"Ternyata seperti itu gaya hidup orang kaya ya." Kata Arina sambil melihat William.


"Tapi, ibu tidak pernah melarangku untuk makan di warung kecil seperti itu." Kata William kembali mengingat ibunya.


"Kata ibu, nikmatilah hidupmu. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Hidup hanya sekali. Tidak ada lagi kesempatan jika kita sudah meninggal." Kata William berucap lirih.


Arina menatap William dengan wajah yang sendu. Ia merasa kasihan lagi karena William kembali mengingat ibunya.


"Benar, apa yang dikatakan ibumu itu benar. Karena itu nikmati hidup ini. Ya, kalau sudah mati kita tidak akan bisa lagi mengulang momen momen yang sangat berharga." Kata Arina tersenyum kearah William.


"Oiya, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Apa boleh?" Tanya Arina meminta izin dulu kepada William.


"Tanyakanlah apapun yang ingin kau tanyakan." Kata William.


"Kau orangnya tampan, kau juga pintar, kau hebat juga. Pekerjaanmu juga seorang desainer. Kau punya segalanya, tidak mungkin tidak ada cewek yang mendekatimu. Lalu, kenapa kau tidak mau menikah waktu Ibumu meminta?" Tanya Arina sangat penasaran.


"Dulu, aku punya seorang kekasih. Kami sama sama melanjutkan S2 di Korea. Awalnya aku sangat menyukainya bahkan aku bertekad untuk menikahinya." Kata William.


"Bahkan, ibu sudah sangat setuju dengan hubungan kami. Karena itu, ibu ingin aku menikah dengannya, tapi ..." Lanjut William.


"Lalu?" Tanya Arina penasaran.


"Dia berselingkuh dengan temanku sendiri. Aku melihatnya langsung dengan mata kepala ku sendiri. Awalnya aku ingin memaafkannya tapi dia tidak mau jujur denganku dan lebih memilih temanku daripada diriku." Kata William lirih.


"Semenjak itu, aku tidak mau punya pasangan lagi. Aku kira semua cewek itu sama. Aku bahkan tidak mau menikah karena takut dikhianati lagi." Lanjut William.


"Kau tidak perlu berlarut larut dengan kesedihan di masa lalumu itu. Memang sulit untuk menghapus luka itu. Tapi, jangan karena masalah itu masa depanmu hancur. Kau harus bangkit. Kau harus melupakan semua rasa sakit itu dan jadilah William yang hebat." Kata Arina. Ia menyemangati William dan tersenyum kearahnya.

__ADS_1


__ADS_2