
Nabila terkejut saat tau posisinya dengan Rafa sangat dekat bahkan tak ada lagi jarak diantara mereka. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi adalah Nabila duduk diatas pangkuan Rafa. Nabila tidak bisa lagi mengontrol pipinya yang memerah dan jantungnya yang berdegup kencang. Saat ini Nabila benar-benar merasa sangat malu.
Nabila pun cepat sadar dan langsung mendorong Rafa sedikit dan ingin berdiri. Tapi, Saat Nabila ingin berdiri. Rafa menahan pinggang Nabila dan membuat Nabila tetap duduk dipangkuan Rafa.
"Rafa! apa yang kau lakukan. Lepaskan aku." Kata Nabila denga wajah kesal.
"Pipimu merona, Nabila. Bagaimana? apa aku membuat jantungmu berdegup sangat kencang?" Kata Rafa sambil tersenyum melihat wajah Nabila yang malu-malu.
"Rafa, lepaskan aku. Ini dikantor. Bagaimana jika seseorang melihat kita seperti ini." Kata Nabila. Sambil melihat Rafa dengan wajah yang cemas.
Rafa bahkan tidak melepaskan pelukannya di pinggang Nabila. Rafa malah memajukan wajahnya sampai ke telinga Nabila dan membisikan sesuatu.
"Aku masih menunggumu, Nabila. Sampai kau mau menerimaku." Kata Rafa tersenyum.
Nabila tidak bisa lagi berkata-kata. Rafa membuat jantungnya hampir copot. Kata-kata Rafa berputar-putar dikepala Nabila. Saat ini Nabila belum bisa bersama Rafa. Masih banyak yang harus dilakukannya. Ini demi dirinya dan Rafa juga.
Tiba-tiba pintu Rafa terbuka dan sekretaris Rafa pun masuk. Sekretaris Rafa langsung terkejut melihat Rafa dan Nabila saling berpangkuan mesra seperti itu. Nabila pun langsung dibuat terkejut karena kehadiran sekretaris Kim. Nabila seperti tertangkap basah sedang bermesraan dengan atasannya.
Nabila pun melepas paksa pelukan Rafa dipanggangnya. Nabila langsung berdiri dan merapikan bajunya. Saat ini Nabila sangat takut jika sekretaris Rafa mengatakan kejadian ini kepada semua orang. Nabila takut jika ia akan diusir dari sini. Ini semua gara-gara Rafa.
Melihat ekspresi wajah Nabila yang ketakutan gitu, Rafa pun ikutan berdiri dan membisikan sesuatu kepada Nabila.
"Tidak usah takut, biar aku yang atasi. Kau balik saja ke meja kerjamu." Kata Rafa. Nabila langsung mengambil laptopnya dan berjalan dengan tergesa-gesa ke meja kerjanya. Ia tidak lagi melihat Rafa ataupun sekretarisnya.
Rafa pun melihat Nabila sekilas dan tersenyum karena sikap Nabila yang malu-malu itu. Ia berjalan kearah sekretarisnya. Mereka terlihat berbicara. Setelah itu, Rafa pun keluar mengikuti sekretarisnya. Saat pintu sudah tertutup.Nabila baru bisa bernafas lega. Karena akhirnya sekarang Nabila hanya tinggal sendiri diruangan itu.
__ADS_1
"Hahhhh, Ya ampun. Apa yang dilakukan Rafa itu. Dia benar-benar membuat jantungku hampir copot. Aduh, bagaimana ini. Nagapain juga Rafa harus memeluk aku seperti itu." Kata Nabila. Nabila langsung meletakkan kepalanya di atas meja dan pasrah. Nabila sangat malu. Karena seekretaris Rafa melihat mereka berdua tadi.
Rafa pun keluar berdua bersama sekretarisnya. Ternyata ada beberapa tamu yang ingin bertemu Rafa. Berbeda dengan Nabila. Rafa lebih terlihat santai dibanding Nabila tadi. Ia tidak cemas. Walaupun sekretarisnya melihat mereka berdua tadi berpelukan.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Rafa tiba-tiba kepada sekretarisnya.
"Maksud anda, Pak?" Tanya sekretaris Rafa heran.
"Saat kau melihat aku tadi, saat aku memeluk Nabila." Kata Rafa.
"Awalnya aku terkejut, pak. Tapi, kalau dilihat dari tatapanmu, pak. Sepertinya kau benar-benar menyukai Nabila ya, Pak." Kata sekretaris Rafa.
"Tidak hanya sekedar suka aku juga sangat mencintainya. Ia berhasil merebut hatiku." Kata Rafa sambil tersenyum mengingat wajah Nabila. Sekretaris Rafa pun ikut tersenyum karena ia lebih senang melihat atasanya bahagia seperti ini.
"Wuhh, lapar sekali. Hari ini energiku begitu terkuras tidak saja karena pekerjaan tapi juga gara-gara Rafa. Huhhh. Hari ini aku ingin makan di kantin kantor saja." Kata Nabila. Lalu ia berdiri dan keluar dari ruangan Rafa.
Saat Nabila sudah sampai di kantin. tiba-tiba ada yang menarik tangannya secara diam-diam. Dan ternyata itu Rafa.
"Hei, Nabila. Apa kau mau makan siang juga? kebetulan aku juga belum makan siang. Bagaimana kalau kita makan bersama?" Tanya Rafa dengan wajah yang tersenyum.
Karena kejadian tadi. Nabila masih masih malu dengan Rafa. Nabila masih teringat-ingat bagaimana Rafa memeluknya dan dia berada dipangkuan Rafa. Nabila tidak bisa makan dengan tenang jika ia bersamanya. Selain itu, Nabila tidak ingin makan bersama Rafa karena bisa-bisa nanti dia digosipin oleh semua karyawan yang ada disini.
Nabila langsung mencari-cari alasan untuk menolak Rafa. Tak disangka, Nabila pun langsung melihat Tasya yang berjalan kearahnya. Nabila langsung menemukan alasan yang tepat.
"Tapi... maaf Rafa. Hari ini aku sudah janji makan bersama karyawan lain. Itu dia. Namanya Tasya aku sudah janji makan bersamanya." Kata Nabila dan langsung menghampiri Tasya.
__ADS_1
"Hei, Tasya. Aku sudah menunggumu lama. Ayuk, tapi kita sudah janjian mau makan bersama." Kata Nabila berpura-pura dan langsung memegang tangan Tasya. Seakan-akan mereka sudah janjian. Padahal nyatanya Nabila hanya berpura-pura supaya ia bisa kabur dari Rafa.
"Hei Nabila. Kau disini juga. Ada apa? Maksudnya? Janjian apa Nabila?" Tanya Tasya heran. Karena Tiba-tiba Nabila menghampirinya dan mengatakan tentang janjian.
Nabila langsung menarik Tasya menjauh dari Rafa dan mereka pun jalan kesebuh meja yang ada disana.
"Hari ini aku ingin makan bersamamu, Tasya." Kata Nabila langsung saat mereka sudah duduk disalah satu meja.
"Owh, gitu. Tapi, tadi kenapa kau tiba-tiba muncul begitu didepanku. Kau membuatku terkejut." Kata Tasya sedikit tertawa. Nabila hanya bisa membalasnya dengan tawa juga. Karena, sebenarnya tadi Nabila ingin menjauh dari Rafa. Dan kebetulan Tasya lewat.
"Oiya, sebenarnya aku tidak makan sendiri. Di jam istirahat begini aku biasa makan dengan Randi. Nah, itu dia." Kata Tasya. Randi pun datang dan duduk disamping Tasya berhadapan dengan Nabila.
"Eh Nabila. Kau makan bersama kami juga? tumben. Biasanya kau tidak pernah makan di kantin ini kan?" Tanya Randi.
"Iya, hari ini aku ingin makan disini. Kebetulan aku bertemu Tasya. Jadi, aku ingin bareng makan aja sama kalian." Kata Nabila tersenyum.
Nabila sekarang sudah lega karena akhirnya ia tidak jadi makan bersama Rafa. Nabila sangat bahagia karena ia bisa makan dengan tenang. Nabila pun melihat kearah tempat Rafa berdiri tadi. Ternyata, Rafa sudah tidak ada lagi disitu. Nabila berpikir kalau Rafa sudah menyerah dan pergi keruangannya lagi.
"Hahaha, rasakan itu Rafa." Kata Nabila tertawa dalam hatinya
Mereka bertiga pun makan sambil berbincang satu sama lain. Kadang mereka pun tertawa karena beberapa obrolan mereka terlihat lucu. Tapi, tiba-tiba Nabila merasa ada yang seseorang yang duduk disampingnya. Nabila pun melihat wajah Tasya dan Randi. Mereka pun terkejut ketika melihat siapa yang duduk disamping Nabila.
Nabila pun langsung menoleh dan melihat ke samping kanannya. Ia penasaran siapa sebenarnya yang duduk disampingnya. Dan kenapa Tasya juga terkejut melihat orang itu. Nabila pun melihat kekanannya dan seketika Nabila pun dibuat kesal sekaligus terkejut lagi. Karena ternyata itu Rafa. Bahkan Rafa sudah duduk manis disampingnya dengan wajah yang santai.
"Ya ampun, Rafa. Kenapa kau lagi." Kata Nabila dengan wajah pasrah.
__ADS_1