Kamu Matahari Dan Aku Bulan

Kamu Matahari Dan Aku Bulan
Episode 29 Bantuan


__ADS_3

Setelah selesai ngobrol dengan Randi. Nabila memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya. Nabila tidak dapat informasi dari Randi terkait kecelakaan yang terjadi dengan Rafa di masa lalu waktu itu.


Padahal, Nabila berharap Randi tau sesuatu hal yang bisa membantunya untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Rafa. Sambil berjalan menuju ruangan kerjanya. Nabila terus memikirkan tentang kecelakaan Rafa itu. Nabila ingin tau siapa yang bisa memberikannya petunjuk terkait kecelakaan Rafa itu.


Sesampainya dirungan Rafa atau ruangan kerjanya Nabila masih saja melamun sambil tertunduk dan berjalan gontai. Rafa melihat Nabila yang masuk kedalam ruangannya dengan pandangan seperti melamun. Bahkan ia tidak melihat Rafa sama sekali dan hanya tertunduk sampai ia duduk di kursinya.


"Nabila, kau ada masalah?" Tanya Rafa.


Tapi, Nabila bahkan tak mendengar perkataan Rafa. Ia masih saja melamun dan termenung.


"Hei, Nabila." Tiba tiba Nabila tersentak karena Rafa sudah berada didepan mejanya.


"Ehh iya, iya, ada apa? ada sesuatu yang harus kukerjakan?" Tanya Nabila. Ia langsung berdiri seakan akan ada perintah yang diberikan Rafa untuknya.


Nabila baru tersadar Rafa bahkan tak ada menyuruhnya melakukan apapun. Nabila kembali ke tempat duduknya dengan perasaan malu.


"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?" Tanya Rafa. Kemudian ia tertawa melihat kelakuan Nabila itu.


"Ahh, maafkan aku. Sepertinya sedang tidak fokus." Kata Nabila malu.


"Apa ada masalah? atau kau memikirkan tentang rapat tadi? kau jangan terlalu ambil hati dengan omongan karyawan tadi. Diawal mereka emang seperti itu. Tapi, nanti mereka seduah terbiasa dengan kehadiranmu." Kata Rafa tersenyum.


"Sebenarnya bukan itu yang aku pikirkan. Tapi, yasudahlah, anggap saja seperti itu," Kata Nabila dalam hati.


"Ya, aku akan berusaha lebih baik kedepannya." Kata Nabila tersenyum kearah Rafa.


"Yasudah, kalau begitu kau lanjutkan pekerjaanmu." Kata Rafa berjalan kembali kearah mejanya.


Kemudian, Nabila membuka laptopnya dan bersiap melanjutkan pekerjaannya. Tapi, saat laptopnya sudah hidup. Tiba tiba, progamnya tak terbuka. Semua pekerjaan yang Nabila lakukan ada disitu. Nabila berusaha lagi untuk membuka programnya tapi tetap saja tak bisa


"Rafa, apa aku boleh meminta bantuanmu?" Tanya Nabila. Ini merupakan satu satunya cara yang bisa Nabila lakukan yaitu meminta pertolongan Rafa.


"Ada masalah apa?" Tanya Rafa.

__ADS_1


"Tiba tiba, program kerja aku tidak bisa dibuka. Semua hasil kerja aku ada disitu. Kalau hilang aku harus mengulangnya lagi dari awal." Nabila terlihat sedih.


Rafa berjalan kearah Nabila. Ia mendekat kerah Nabila. Awalnya, Nabila akan berdiri dan membiarkan Rafa memperbaiki laptopnya. Tapi, Rafa langsung berada dibelakang Nabila dan meletakan kedua tangannya disisi kiri kanan Nabila.


Akibatnya, Nabila tidak jadi berdiri karena ia berada di kekangan Rafa. Posisi Rafa seakan akan memeluk Nabila dari belakang. Bahkan, Nabila bisa merasakan nafas Rafa tepat disamping wajahnya.


Hati Nabila kembali berdebar begitu kencang. Ia tidak bisa mengontrol pipinya yang memerah karena Rafa begitu dekat dengannya. Nabila melihat Rafa begitu serius, ia sangat ahli dalam mengatasi bagian pemograman seperti itu. Rafa benar benar pintar. Tidak butuh waktu yang cukup lama. Akhirnya, Rafa selesai memperbaiki masalah itu, dan membuat program Nabila kembali.


"Wah, terimakasih banyak. Untung saja kau hebat dalam hal ini. Jika tidak, aku harus mengulang membuatnya lagi dari awal. Itu kan sangat melelahkan." Kata Nabila.


"Hal seperti ini sudah sering aku temui. Jadi, aku sudah terbiasa melakukanya." Rafa kembali ke tempat duduknya.


Mereka pun akhirnya kembali melanjutkan pekerjaan masing masing.


Toko Bunga


Ternyata, hari ini Arina dan William sepakat untuk tidak membuka toko. William menyarankan kepada Arina untuk mengubah tampilan tokonya karena menurut William toko Arina sangat terlihat kuno.


"Kau pindahkan dulu bunga bunga itu kesudut. Agar tidak kena debu saat kita membersihkan barang-barang ini." Kata William. Ia langsung menunjuk ketempat yang ia maksud


"Baiklah, siap bos." Kata Arina. Ia pun langsung memberi hormat kepada William seakan akan ia adalah bosnya. mereka pun tertawa bersama sama.


"Sebaiknya, kita ubah warna cat dindingnya. Kita pilih warna yang cerah. Sesuai dengan macam bunga disini yang beragam warna."


"Pasti toko ini akan terlihat lebih menarik. Orang orangbpun akan lebih tertarik untuk berkunjung kesini, ke tokomu ini" Lanjut William.


"Baiklah, seterahmu saja. Aku akan lakukan apapun yang kau suruh. Kau lebih ahli dibidang desain seperti ini." Kata Arina tersenyum melihat kerah William. Setelah William membeli cat ia dengan cepat kembali ke toko. Akhirnya mereka berdua pun memulai kegiatan mereka masing-masing.


William dan Arina terlihat sangat sibuk. William terus mendekor dan mendesain toko itu dan Arina pun membantu beberapa hal yang dibutuhkan William. Tak terasa, akhirnya mereka selesai memperbaharui dan mendesain toko itu. Arina terkagum melihat perubahan di tokonya. Benar-benar sangat berubah dan terkesan lebih indah daripada sebelumnya.


"Ternyata, kau emang seorang desainer yah. Kau emang hebat dan sangat berseni. Tak salah lagi jika profesimu seorang desainer." Kata Arina.


"Ya lah, aku gitu lho," Kata Wiliiam sambil tertawa.

__ADS_1


Setelah semua pekerjaan selesai. Arina dan William terduduk disalah satu kursi. Arina memberikan William minum dan mereka pun beristirahat sejenak.


"Apa aku harus membayarmu juga? karena telah mendesain tokoku ini?" Tanya Arina penasaran.


"Ya, kau harus membayarnya. Kalau dihitung hitung bayaran untuk desain ini sampai 500 juta." Kata William menjahili Arina.


"Apa!! sebanyak itu?" Arina terkejut dengan apa yang dikatakan William.


"Ditambah lagi yang melakukan semua ini adalah seorang desainer dari Korea." Kata William tertawa melihat ekspresi terkejut Arina.


"Kalau begitu rombak kembali tokoku ini. Aku tidak punya uang sebanyak itu." Kata Arina sedih.


"Terus, percuma saja kita melakukan ini." Kata William dengan tatapan lesu.


"Ya, aku tidak punya uang sebanyak itu." Arina terlihat sedih.


"Tapi, aku juga tidak enak denganmu. akau melakukan semua ini. Tapi, kau tidak diberi apapun untuk membalasnya." Lanjut Arina.


William hanya diam dan tersenyum tipis saat Arina berpikir seperti itu. Padahal dalam lubuk hati William. Ia tidak perlu bayaran apapun. Lagi pula toko ini adalah tempat William bekerja untuk sementara waktu. Jadi, William juga melakukan semua ini juga untuk kenyaman dirinya sendiri.


"Bagaimana, jika aku memberikan 3 permintaan gratis. Mau boleh meminta apapun ke aku dan aku akan mengabulkan permintaanmu itu." Kata Arina. Ia tetap bertekad untuk membalas jasa William.


Wajah Arina seketika berubah ceria dan tidak lesu lagi. Setelah ia menemukan ide yang bagus untuk membalas jasa dan pekerjaan William itu.


"Boleh juga, berarti aku boleh meminta apapun darimu kan? apapun itu?" Tanya William.


"Ya, apapun itu." Kata Arina. Ia lebih antusias daripada William.


"Baiklah, aku setuju." Kata William.


Arina tampak sangat bahagia. Ia menjabat tangan William dengan sangat erat. William tersenyum karena tingkah konyol Arina itu.


"Kenapa sekarang aku sudah semakin dekat saja dengannya ya." William tertawa dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2