
Selama diperjalanan Nabila hanya terdiam dan memikirkan tentang ibunya. Ia takut jika ada sesuatu yang terjadi yang menimpa ibunya. Tapi, ia tidak melihatkan kecemasannya itu kepada Arina dan Nabila tidak mau lagi merepotkan mereka berdua. Nabila ingin berusaha mengatasinya sendiri.
"Nabila, kau tidak makan makananmu? apa kau tidak lapar?" Tanya Arina. Ia melihat Nabila hanya memegang makanannya saja.
"Aku makan dirumah saja. Bersama ibu." Kata Nabila tersenyum.
"Owh gitu, apa ibumu sudah bisa dihubungi?" Tanya Arina.
"Belum, sepertinya ibu sedang sibuk menjahit dan hpnya biasa tertinggal dikamar dan kadang ibu tidak mendengar jika ada yang menelepon." Kata Nabila tersenyum tipis.
"Baiklah, bentar lagi kita sampai. William kita antar Nabila dulu ya." Kata Arina kepada William.
"Oke, sip." Kata William.
Tidak butuh waktu lama. Akhirnya mereka sampai didepan rumah Nabila. Dengan sigap Nabila langsung membuka pintu mobil William dan mengambil barang barangnya dan berpamitan dengan Arina dan William. Tak lupa Nabila juga berterima kasih untuk hari ini.
Arina dan William awalnya ingin mampir dulu dan menemui ibu Nabila. Tapi Nabila melarang karena hari sudah malam. Setelah mobil William pergi menjauh dari rumah. Nabila langsung bergegas mengetuk pintu rumahnya.
"Ibu, ibu, Nabila pulang." Kata Nabila sambil mengetuk pintu rumahnya.
"Ibu ... biasanya ibu tidak pernah tidur dulu sebelum aku pulang." Kata Nabila semakin penasaran.
"Oiya, untung saja aku bawa kunci serap." Kata Nabilla. Ia mencari cari kunci itu didalam tasnya. Setelah dapat ia membuka pintu rumahnya.
"Ibu ...kenapa tidak ada suara? kemana Ibu ya?" Nabila sangat cemas.
"Ya ampun, Ibu!" Nabila terkejut. Ia melihat ibunya yang tergeletak dilantai dekat dapur.
Nabila menghampiri ibunya. Ia meletakan kepala ibunya di pangkuannya. Nabila melihat ibu seperti pingsan.
"Ibu, kau bisa mendengarku? Ibu sadarlah," Nabila mulai menangis ia berusaha membangunkan ibunya. Ia takut jika ibunya kenapa kenapa.
"Nabila, kau sudah pulang?" Tanya ibu. Perlahan mata Ibu terbuka, ia sangat lemah. ibu Nabila mengusap air mata Nabila yang membasahi wajahnya.
"Ibu, ibu Sudah bangun? ibu kenapa?" Tanya Nabila. Ia memapah badan ibunya dan mendudukkan ibunya di sofa.
"Apa Ibu sakit? Ibu tidak apa apa? kenapa Ibu tertidur dilantai tadi?" Tanya Nabila. Ia sangat cemas sambil memegang tangan ibunya.
"Tiba-tiba tadi kepala ibu sakit. Ibu ingin meminum obat. Ternyata pas bu liat, stok obat ibu sudah habis. Lalu, kepala ibu rasanya semakin sakit dan pandangan Ibu perlahan mulai gelap. Ibu berusaha meneleponmu tapi kau tak mengangkat." Kata ibu dengan suara yang lemah.
"Ibu... maafkan aku, tadi aku pergi jalan bersama Arina. Aku tidak mendengar bunyi hp berdering. Maafkan aku ibu." Kata Nabila sangat bersalah kepada ibunya.
__ADS_1
"Sudahlah, tidak apa apa. Saat ini ibu hanya ingin beristirahat dulu." Kata ibu Nabila.
"Ibu, istirahat dikamar saja ya. Aku akan membeli obat dulu kerumah sakit." Kata Nabila.
"Tapi, hari sudah malam nak. Besok saja," Kata ibu Nabila khawatir.
"Aku tidak apa apa Bu. Kalau ditunda sampai besok pagi, aku takut ibu nanti pingsan lagi. Aku takut penyakit ibu semakin parah." Kata Nabila. Ia sangat takut jika hal itu terjadi.
"Baiklah, jangan lama-lama ya nak. Hati-hati juga dijalan." Kata ibu Nabila.
Setelah Nabila membawa ibu ke kamar. Nabila bergegas mengambil tasnya dan bersiap untuk membeli obat kerumah sakit. Nabila memberhentikan taxsi yang lewat didepan rumahnya. Ka berharap selagi dia pergi kondisi ibu tidak semakin memburuk.
Sesampainya di Rumah Sakit Nabila mengambil secarik kertas yang merupakan anjuran dokter untuk obat ibunya. Ia memberikan kertas itu kepada apoteker yang tugasnya memberikan obat obatan. Setelah melihat kertas itu, apoteker tadi memberikan obat-obatan yang dianjurkan dokter untuk ibu Nabila. Setelah selesai, Nabila mengambil obat itu dan melakukan pembayaran kepada apoteker itu. Nabila bersiap siap pulang, tapi ada seseorang yang memanggilnya.
"Nabila." Kata orang itu.
Nabila melihat kearah suara itu. Ia terkejut dengan siapa yang di lihatnya.
"Erick." Kata Nabila.
Nabila pun memutuskan untuk pergi keruangan Erick dulu. Awalnya ia ingin pulang karena tidak mau meninggalkan ibunya terlalu lama. Tapi Erick mengatakan ada sesuatu yang ingin disampaikannya.
"Lama tidak bertemu Nabila." Kata Erick. Ia berusaha untuk basa-basi.
"Benar, maaf waktu itu aku berpura pura tidak mengenalmu." Kata Erick. Wajahnya seperti merasa bersalah kepada Nabila. Kenapa kau begitu? apa kau lupa ingatan juga seperti Rafa?" Tanya Nabila seperti menyindir Erick.
"Tidak, ada sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan kepadamu." Kata Erick.
Nabila hanya terdiam melihat Erick. Dia tidak tau apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Erick itu.
"Baiklah, apa yang ingin kau sampaikan? hari sudah malam. Aku tidak punya waktu berlama lama." Kata Nabila.
"Kau akhirnya bertemu Rafa kan? setelah kecelakaan di masa lalu itu kau tidak pernah bertemu lagi dengannya. Tapi sekarang kau sudah bertemu dengannya." Kata Erick.
"Benar, aku bertemu lagi dengannya. Tapi tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan." Kata Nabila.
"Kenapa dia bisa lupa tentang diriku? aku rasa kau tau sesuatu." Tanya Nabila.
Erick melihat Nabila, ia memikirkan sesuatu. Apakah ini saatnya ia memberitahukan semuanya ke Nabila? atau dia tetap harus menyembunyikan kebohongan ini.
"Aku tidak tau, tapi ada sesuatu yang harus kau lakukan." Kata Erick.
__ADS_1
"Apa itu?" Tanya Nabila.
"Kau harus jauh jauh dari sisinya. Kau tidak boleh berada didekatnya. Kau hanya akan membuat ia sakit dan terluka." Kata Erick.
"Apa? kenapa? apa maksudmu? aku tidak mengerti." Kata Nabila.
Seketika Nabila terlihat ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa dia membuat Rafa sakit dan terluka.
"Rafa memang lupa ingatan tentang dirimu. Sudah 4 tahun ia tidak bertemu lagi denganmu. Tapi tiba-tiba kalian dipertemukan lagi dalam keadaan Rafa yang tidak mengingatmu. Kecelakaan dulu itu membuat Rafa mengalami sebuah cidera dikepalanya." Kata Erick.
Nabila terus menyimak apa yang dikatakan oleh Erick. Ia mendengar dengan teliti kalimat per kalimat yang dikeluarkan Erick.
"Cidera itu membuat kepalanya sakit saat ia melihat bayangan hitam dari masa lalunya. Masa lalunya itu adalah dirimu. Disaat tertentu secara tiba-tiba ia bisa melihat bayangan itu dan bayangan itu aku yakin bisa muncul jika kau selalu berada didekatnya. Bayangan itu juga bisa muncul jika kalian melakukan hal yang pernah kalian lakukan juga dimasa lalu." Kata Rafa.
Nabila teringat waktu dikantor, saat Rafa memakan kuning telurnya. Lalu juga saat Rafa berada di toko bunganya waktu pertama kali. Saat Nabila melakukan sesuatu yang pernah dilakukannya di masa lalu. Rafa terlihat menahan sakit di kepalanya. Rafa bahkan terlihat sangat kesakitan. Nabila juga teringat waktu dikantor Rafa meminum satu pil obat. Sesudah ia merasakan sakit kepala itu.
"Lalu, apa yang akan terjadi dengan Rafa?" Tanya Nabila sangat cemas.
"Jika, bayangan itu semakin banyak Rafa lihat. Rasa sakitnya akan semakin bertambah. Kemungkinan buruknya ia bisa pingsan dan koma lagi. Aku takut ia mengalami hal itu lagi. Aku takut Rafa tidak pernah sadar lagi." Kata Erick.
Seketika Nabila dibuat terkejut dengan apa yang dikatakan Erick. Ia memikirkan perkataan Erick tadi yang mengatakan kemungkinan buruknya adalah Rafa tidak pernah sadar lagi. Ia takut jika itu semua terjadi.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Nabila sangat takut dan ia tidak ingin itu terjadi.
"Bayangan itu tentang masa lalunya denganmu yang dia lupakan. Kau harus menjauhinya. Jika kau selalu berada disisinya perlahan dia akan mengingat masa lalunya. Hal itu akan membuat kepalanya akan bertambah sakit." Kata Erick.
"Tapi ... aku tidak bisa melakukan itu, aku juga harus mengungkap sebuah kebenaran tentang kenapa Rafa hanya lupa dengan diriku saja, itu tidak adil." Kata Nabila kesal.
"Sebenarnya ...." Ucapan Erick tergantung karena pada saat itu ada perawat yang masuk keruangannya.
"Pak, pak, tolong ada seseorang yang kritis. Ia butuh bantunmu pak. Pendarahannya terlalu banyak." Kata perawat itu tergesa gesa.
Erick langsung bergegas pergi keluar ia tidak melanjutkan perkataannya tadi.
"Tunggu dulu, sebenarnya apa." Nabila berusaha untuk menghentikan Erick.
"Setelah ia sadar dari kecelakaan itu. Ia sebenarnya tidak lupa denganmu, tapi ..." Ucapan Erick kembali terpotong.
"Pak, cepat pak, terlambat sedetik saja bisa membuat pasien itu meninggal." Kata perawat itu.
Erick lebih memilih lari bersama perawat tadi dan tidak melanjutkan perkataannya tadi.
__ADS_1
Nabila masih terdiam dan terkejut dengan apa yang dikatakan Erick. Semuanya membuat Nabila pusing dan satu kalimat Erick yang membuatnya tambah pusing saat Erick mengatakan sebenarnya saat itu Rafa tidak lupa ingatan dengan Nabila.
"Apa yang terjadi dengan Rafa? jika ia tidak lupa ingatan denganku setelah kecelakaan itu, tapi kenapa sekarang ia lupa denganku?" Tanya Nabila dalam hati.