
Tasya hanya melihat Nabila sekilas saat ia mengatakannya hal itu. Tasya tau betul siapa yang dimaksudkan Nabila sekarang pasti itu Luna dan Rafa. Tasya tau semuanya. Nabila tadi bersikap dingin kepada Rafa karena Luna juga. Tapi, Tasya hanya diam dan tidak terlalu banyak bertanya lagi ke Nabila. Ia takut nanti Nabila malah tambah sedih dan hatinya semakin sakit.
Tak terasa mereka sudah sampai dikantor dan mengambil mobil mereka masing-masing. Nabila dan Tasya tetap pulang bersama Randi dan Rafa pun pulang sendiri begitu juga dengan Luna. Karena hari sudah semakin malam tidak terlalu banyak perdebatan yang terjadi. Mereka saling berpamitan dan pulang. Sebenarnya, Rafa ingin mengantar Nabila pulang. Tapi, Rafa sadar sepertinya suasana hati Nabila sedang tidak baik. Dia pun membiarkan Nabila pulang bersama Randi.
Sesampainya dirumah. Nabila langsung membersihkan badannya. Setelah semua selesai Nabila pun langsung naik ke kasurnya. Ia benar-benar sangat lelah dan ingin segera tidur. Ia ingin melupakan semua kejadian hari ini. Hatinya benar-benar lelah hari ini. Tentu saja karena Luna.
Saat Nabila akan tidur, tiba-tiba hpnya berdering. Nabila pun kembali terbangun dan mengambil hpnya.
"Siapa yang meneleponku malam-malam begini." Kata Nabila. Saat ia membuka hpnya dan melihat layar hpnya ternyata itu panggilan dari Rafa. Seketika Nabila heran kenapa Rafa meneleponnya malam-malam begini.
Perasaan Nabila sedang tidak baik dengan Rafa sekarang. Saat ini Nabila benar-benar tidak ingin berbicara dengan Rafa. Ia pun memutuskan untuk tidak mengangkat panggilan dari Rafa. Nabila pun meletakan hpnya lagi dan kembali tidur. Tapi, perasaanya jadi tidak tenang. Disatu sisi Nabila tidak mau mengangkat telepon itu. Tapi, di satu sisi lainnya Nabila merasa bersalah karena tidak mengangkat telepon dari Rafa.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Lebih bak aku tidur." Kata Nabila. Ia berusaha tidur tapi tetap saja hatinya tidak tenang.
"Ya ampun, aku malah jadi gak bisa tidur gara-gara Rafa." Kata Nabila. Ia terbangun lagi dan mengambil hpnya.
Saat Nabila mengambil hpnya kebetulan ada pesan masuk dari Rafa. Nabila langsung membuka pesan itu. Rafa mengatakan kepada Nabila untuk mengangkat teleponnya sekali ini saja. Ada sesuatu yang ingin dikatannya.
"Apa yang ingin dikatakannya malam-malam begini." Kata Nabila heran. Pada saat itu juga muncul panggilan dari Rafa. Nabila pun akhirnya mengangkat panggilan dari Rafa. Ia juga tidak tega jika ia menolak panggilan Rafa lagi.
"Halo, Nabila." Kata Rafa.
__ADS_1
"Ya, halo. Ada apa? kenapa kau menelponku malam-malam begini?" Tanya Nabila. Ucapan Nabila masih dingin dan terlihat kesal.
"Nabila, apa kau marah denganku? ada apa?" Tanya Rafa. Suara Rafa begitu lembut membuat hati Nabila luluh seketika. Awalnya Nabila ingin marah-marah dengan Rafa tapi karena suara Rafa begitu menenangkannya. Nabila tidak jadi marah.
"Aku tidak apa-apa kok. Mungkin aku hanya sedih saja." Kata Nabila. Suara Nabila sekarang lebih tenang dan tidak dingin lagi.
"Kau kenapa? ceritalah kepadaku. Apa aku melakukan kesalahan kepadamu?" Tanya Rafa penasaran.
"Tidak, aku tidak menyalahkanmu. Tapi, hanya saja aku sedih saat melihat kau bersama Luna tadi." Kata Nabila. Ia pun mengatakan kepada Rafa apa yang sebenarnya yang membuat hati Nabila sedih.
"Jadi karena Luna. Apa kau cemburu dengannya?" Kata Rafa sedikit tertawa.
"Tidak, aku tidak cemburu. Hanya saja aku tidak suka melihatnya." Kata Nabila. Ia mengelak kalau dikatakan cemburu. Padahal, kenyataannya Nabila memang cemburu.
"Iya, aku memang menyuruhmu untuk membantunya. Aku juga melihat sepertinya dia benar-benar terluka. Kalau kau tidak membantunya apa kata karyawan lain nanti yang melihat kalau kau mengabaikannya. Pasti mereka berpandangan buruk kepadamu." Kata Nabila mengingat lagi tentang kejadian itu.
"Iya, sebenarnya setelah membantunya. Aku ingin langsung mengejarmu. Tapi, ia tidak bisa berjalan dan membutuhkan bantuanku. Dia juga mengancamku." Kata Rafa. Ia ingin menjelaskan kepada Nabila atas kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka.
"Mengancam? apa yang dilakukannya kepadamu? apa kau tidak apa-apa? kau baik-baik saja kan?" Tanya Nabila. Saat ini Nabila benar-benar khawatir dengan Rafa. Ia takut Luna mengancam Rafa dengan hal-hal yang buruk.
"Tidak tenang saja aku tidak apa-apa. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Ia mengancamku dengan membawa-bawa namamu. Aku sangat marah saat itu. Kau tidak bersalah tapi dia selalu membawamu kedalam hubungan kami ini. Aku benar-benar tidak ingin kau terluka." Kata Rafa. Ia benar-benar ingin melindungi Nabila.
__ADS_1
"Jadi dia mengancammu dengan cara yang seperti itu. Benar-benar wanita yang jahat." Kata Nabila.
"Tapi, tenang saja. Aku bisa mengatasinya dan melindungimu Nabila. Aku tidak akan biarkan siapapun menyakitmu dan membuat hatimu terluka." Kata Rafa. Ia benar-benar serius dengan perkataannya.
"Rafa, kau juga harus memikirkan dirimu. Kau tidak bisa selamanya hanya mempedulikan diriku saja. Kau juga punya kehidupan yang harus kau urusi. Begitu juga dengan diriku. Jadi, lebih baik kau juga harus lebih memperhatikan kehidupanmu. Aku biasa mengatasi dan mengurusi kehidupanku." Kata Nabila. Ia merasa Rafa terlalu menjaganya. Ia hanya takut Rafa kembali celaka hanya karena membantu Nabila lagi.
"Tidak, kau wanita spesial dihatiku. Kau sangat berarti didalam hatiku. Bagaimanapun, hidupmu adalah hidupku juga. Aku tidak akan tinggal diam jika sesuatu terjadi kepadamu. Karena itu, aku akan selalu melakukan apapun hanya untukmu." Kata Rafa.
Mendengar semua itu hati Nabila pun dibuat luluh. Ia tersentuh dengan ucapan Rafa itu. Apa saat ini Rafa benar-benar mencintainya. Padahal, Rafa belum seutuhnya mengingat Nabila. Tapi, hatinya sudah lebih dulu sadar bahwa Nabilah yang dicintai Rafa selama ini.
"Rafa, terimakasih untuk semuanya. Sejauh ini kau telah banyak membantuku. Kau banyak melakukan hal-hal baik untukku. Tapi, sampai sekarang aku belum bisa membalas semua kebaikanmu itu." Kata Nabila. Ia benar-benar merasa tidak enak dengan Rafa.
"Nabila, kau selalu berada di sisiku saja sudah membuat hatiku senang. Kau tidak perlu membalas apapun. Aku melakukan semua itu tulus dalam hatiku. Kau tidak usah merasa seperti itu lagi " Kata Rafa sambil tersenyum walaupun Nabila tidak bisa melihat itu.
"Tapi, sebenarnya ada satu yang aku harapkan darimu. Aku masih berharap kau mau menerimaku. Tidak lagi hanya sebagai rekan kerja tapi lebih dari itu. Aku ingin kita menjadi sepasang kekasih." Kata Rafa.
"Tapi.... Rafa aku..." Kata Nabila. Ucapannya terpotong.
"Tidak apa-apa. Aku tidak butuh jawabanmu. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja. Sepertinya, ini sudah terlalu malam. kau istirahatlah. Aku matikan teleponnya ya." Kata Rafa.
Pada saat itu juga panggilan dari Rafa terputus. Rafa langsung mematikan panggilannya karena ia tidak ingin mendengar penolakan dari Nabila lagi. Hatinya tidak ingin terasa sakit lagi.
__ADS_1
"Rafa, aku minta maaf, aku yakin ada waktu yang tepat untuk kita nantinya." Kata Nabila sambil memegang hpnya.