
Setelah kejadian itu, Tasya benar-benar merasa takut dan menjauh dari Randi. Ancaman dan perlakuan Randi malam kemarin membuat Tasya tidak bisa melakukan apa-apa. Ia ingin mengatakan kepada Nabila dan Rafa tentang rencana jahat Randi. Tapi, ia terlalu takut, Tasya sangat takut jika Randi melakukan hal yang jahat lagi kepadanya.
Semenjak kejadian itu, Tasya pun berusaha menghindar dari Randi maupun Nabila. Ia tidak ingin ikut campur lagi tentang masalah mereka berdua itu. Tasya bersikap normal kembali seperti awal ia bertemu dengan Nabila dan seakan-akan ia tidak mengetahui apapun tentang rencana Randi.
Selama bekerja, Tasya hanya diam dan tidak berbicara sedikitpun dengan Randi. Bahkan menoleh dan melihat Randi pun tidak ada. Tasya hanya terlalu takut, Randi benar-benar mengancam Tasya dengan nyawanya. Bahkan, Tasya bertekad dia tidak ingin menjadi teman Randi lagi. Ia tidak ingin punya teman seperti Randi itu, yang punya niat jahat dan ancaman yang sangat begitu menakutkan.
Diruangan lain, tepatnya diruangan Nabila dan Rafa. Mereka tampak bersikap biasa saja, dan tidak terlalu banyak mengobrol. Akhir-akhir ini Nabila hanya ingin fokus dengan pekerjaannya dan tujuannya dulu. Ia tidak terlalu mendekati Rafa dulu untuk sementara waktu.
Luna juga sudah tau tentang keberadaannya saat ini, Luna juga sudah mulai curiga kalau dia dan Rafa mempunyai hubungan yang spesial. Nabila tidak ingin Luna mengetahui hal lain yang lebih mengejutkan lagi daripada ini.
Nabila tidak ingin Luna mengetahui tentang hubungannya dengan Rafa di masa lalu. Padahal, kenyaatannya Luna sudah tau akan hal itu. Randi lah yang mengatakan semuanya kepada Nabila. Ia benar-benar mengkhianati Nabila.
Karena itu Nabila lebih memilih diam, dan tidak terlalu banyak bicara dengan Rafa. Nabila tidak ingin Luna mengatakan hal-hal yang membuat perasaan hati Nabila tersakiti lagi.
Rafa juga lebih banyak diam, dia juga ingin menjaga perasaan Nabila. Saat ini ia berpikir sepertinya dia dan Nabila harus menjaga jarak dulu, agar Luna tidak terus mengatakan hal yang buruk tentang Nabila lagi.
"Rafa, ini laporan tentang semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk festival itu. Aku sudah merangkum semuanya dalam laporan ini." Kata Nabila. Saat ini Nabila sudah berdiri tepat didepan meja Rafa.
"Baiklah, akan aku periksa nanti." Kata Rafa. Ia hanya melihat Nabila sekilas dan setelah itu fokus ke layar laptopnya lagi. Nabila pun mengangguk dan kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Tak terasa setelah bekerja cukup lama, waktu istrahat makan siang pun tiba. Rafa berdiri dan meregangkan tangannya. Setelah itu ia melihat Nabila yang berdiri dan akan pergi keluar.
"Nabila, kita pergi makan sama, ya." Kata Rafa.
"Tapi, bagaimana kalau..." Kata Nabila sedikit ragu.
"Tenang saja, Luna tidak akan kesini. Hari ini sekretarisku mengatakan kalau Luna ada perjalanan keluar kota. Jadi, kau tidak perlu cemas dan takut." Kata Rafa tersenyum. Ia tau Nabila pasti cemas dan khawatir dengan Luna.
"Jadi begitu, baguslah. Aku juga tidak tenang jika dia tiba-tiba muncul seperti kemarin lagi. Aku hanya tidak ingin hati ini kembali terluka." Kata Nabila tersenyum tipis kearah Rafa.
"Tenang saja, itu tidak akan terjadi lagi. Selagi ada aku, kau akan baik-baik saja. Aku tidak akan biarkan Luna melakukan hal seperti itu lagi." Kata Rafa. Nabila pun tersenyum kearah Randi.
"Eh, tunggu sebentar Rafa. Hp ku ketinggalan. Aku akan mengambilnya sebentar." Kata Nabila. Setelah itu Nabila pun kembali ke mejanya dan mencari hpnya.
"Dimana hpku. Oiya, aku baru ingat kalau tidak salah tadi aku meletakkan hpku didalam laci meja." Kata Nabila. Ia pun membuka laci mejanya dan betul saja hpnya ada didalam laci itu. Tapi, pada saat itu Nabila juga melihat ada bubuk putih didalam sebuah plastik.
"Ahh, aku baru ingat, waktu itu Randi memberikan aku bubuk ini. Katanya ini sebuah vitamin untuk Rafa. Aku lupa, kalau sampai saat ini aku belum memberikan ini kepada Rafa. Aku bawa saja, nanti saat makan siang aku kasih ke Rafa." Kata Nabila. Ia mengambil bubuk itu dan menyimpannya didalam saku rok nya.
Nabila pun kembali menghampiri Rafa dan setelah itu mereka pun kembali jalan berdua ke kantin.
__ADS_1
Saat sudah dikantin, seperti biasa Nabila dan Rafa selalu mengambil tempat duduk di paling ujung agar karyawan lain tidak terlalu melihat Rafa yang selalu maka bersama Nabila.
Tak lama setelah itu, Nabila pun melihat Tasya yang baru saja masuk ke dalam kantin. Sontak Nabila pun langsung memanggilnya.
"Tasya!! aku disini." Kata Nabila sambil melambaikan tangannya. Sepert biasa Nabila dan Tasya selalu makan bersama, Randi juga. Karena itu saat melihat Tasya otomatis Nabila langsung memanggilnya.
Merasa ada yang memanggilnya, Tasya pun langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Ia langsung melihat kearah Nabila yang juga sedang melihat kearahnya. Seketika Tasya langsung mengalihkan pandangannya dari Nabila. Ia langsung duduk di meja lain dan bergabung dengan karyawan yang lain. Ia mengacuhkan Nabila. Tasya benar-benar tidak ingin lagi dekat lagi dengan Nabila, ia benar-benar tidak ingin ikut campur lagi dengan urusan mereka.
"Kenapa Tasya mengabaikanku? dia bahkan tak menghiraukan panggilanku sama sekali. Apa dia sedang marah denganku? sepertinya terakhir aku bertemu hubungan kami baik-baik saja." Kata Nabila heran. Ia masih melihat tasya.
"Mungkin saat kau memanggilnya tadi, Tasya tidak terlalu mendengarkanmu, dan juga sepertinya dia juga sudah sangat akrab dengan karyawan lain. Baguslah kalau begitu, kita bisa makan berdua saja." Kata Rafa tersenyum kearah Nabila.
"Tapi, tadi saat aku memanggilnya dia langsung menoleh dan melihatku. Aku benar-benar liat, tapi tiba-tiba dia langsung menoleh dan mengacuhkanku." Kata Nabila masih heran.
"Sudahlah, mungkin saat ini Tasya sedang ingin bergabung dengan karyawan lain. Kau jangan terlalu mencemaskan dia. Lebih baik Kita mulai makan saja, yuk." Kata Rafa. Nabila pun perlahan tidak melihat Tasya lagi dan menatap Rafa. Nabila pun mengganguk kearah Rafa, dan mereka pun lanjut makan bersama.
Setelah Nabila tidak melihatnya lagi, Tasya pun baru berani melihat Nabila. Ia tidak punya keberanian lagi untuk berada didekat Nabila maupun Rafa. Ia merasa benar-benar sangat bersalah dengan Nabila.
"Nabila, Rafa. Maafkan aku. Aku benar-benar cewek pengecut. Aku tidak berani mengatakan kebenarannya kepada kalian. Aku benar-benar merasa sangat takut dengan ancaman Randi itu. Aku tidak ingin kehilangan nyawaku ditangan Randi itu. Maafkan aku." Kata Tasya tertunduk lesu.
__ADS_1
Tasya pun kembali melihat Nabila, seketika ia langsung terkejut dan takut karena tiba-tiba Randi sudah duduk bersama mereka. Mereka tampak saling tertawa dan berbicara bertiga. Dan setelah itu Nabila pun tampak mengeluarkan sebuah bubuk bewarna putih. Randi pun menyadari kalau Tasya melihatnya. Ia menoleh ke Tasya, dan setelah itu ia tersenyum jahat.